The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 29 - Kemunculan Sang Pembangkit!


__ADS_3

Izuru yang tengah berjalan menuju menara di tengah desa. "Desa ini lumayan besar, ini hampir seperempat kota." Kata Izuru sambil melihat sekeliling. Lalu ia melihat di depannya sudah terlihat menara itu. "Itu dia!" Izuru lalu segera berlari mendekat. Saat sampai ia mengintip ke dalam sedikit, di dalam tidak ada siapapun. "Halo..? Apa ada orang di sini?" Panggil Izuru agak pelan. "Mungkin mereka ada di atas, aku masuk saja." Izuru lalu masuk ke dalam, tapi waktu berjalan menuju tangga ia melihat sebuah tangga ke bawah tanah yang sedikit bercahaya. Izuru lalu penasaran dan turun ke bawah tanah dengan perlahan.


"Jadi bagaimana, apa pelindungnya bisa di nyalakan kembali?" Tanya Shun jongkok di dekat Iona yang tengah melakukan semacam sihir dengan sebuah batu tua besar di depannya. Sepertinya batu itu adalah tempat pedang legendaris milik Shun menancap.


"Belum, energi sihir pedang itu yang memberikan artefak sihir ini energi untuk memancarkan gelombang pelindung. Kita harus menemukan sumber energi yang besar dan tahan lama, lalu aku akan sesuaikan pemasukan energi ke dalam artefak agar tidak terjadi kerusakan." Jelas Iona lalu ia menghilangkan lingkaran sihir yang ada di telapak tangannya. "Maaf, kamu membawaku ke sini untuk membantu. Tapi, aku malah tidak bisa melakukan apapun." Kata Iona.


"Kamu sudah melakukan semampu mu, tidak apa-apa. Sekarang, aku harus bisa mengendalikan pedang legendaris ini!" Kata Shun.


"Iya, itu adalah tugasku untuk mendampingi yang terpilih." Kata Iona lalu mereka tersenyum satu sama lain.


Izuru mendengar semua pembicaraan mereka dari balik dinding. Izuru menggerakkan giginya dan mengepalkan tangannya. "Aku tidak merasa cemburu atau apapun. Karena yang kupikirkan sekarang adalah kemungkinan untuk seperti dulu lagi, sudah tidak ada. Aku hanya ingin berjuang bersama Iona dan Rin seperti waktu itu, karena bagiku teman adalah hal yang sangat berharga. Tapi, Iona memang ditugaskan untuk mendampingi, Shun dan Rin pasti akan memilih berjuang bersama pahlawan yang sebenarnya dari pada aku." Kata Izuru dalam hati, lalu ia kembali ke atas dan meninggalkan menara.


Izuru lalu berada di rumah yang tadi ia tempati. Ia tengah duduk di meja makan bersama beberapa orang, tapi Izuru hanya diam dan sama sekali belum menyentuh makanannya. Ia lalu melihat ke arah orang-orang tengah asik mengobrol satu sama lain. "Iona masih belum kembali dan Rin tampaknya punya kenalan baru. aku hanya bisa bicara pada Asura, tapi dia tidak ada di sini." Pikir Izuru sambil memainkan makanannya dengan sendok.


"Hey." Panggil seseorang dari samping. Izuru lalu melihat ke arah suara, itu adalah Kyoko. "Kau tidak makan makananmu? Aku mendengar perutmu bersuara beberapa kali tadi." Kata Kyoko duduk sendirian dan sedikit jauh dari tempat duduk Izuru.


"Apa peduli mu padaku?" Tanya Izuru.


"Suara itu sangat menggangguku." Jawab Kyoko.


"Bagaimana bisa kau dengar dari sana." Tanya Izuru tanpa melihat ke arah Kyoko.


"Aku bisa dengar semuanya, di sini sangat berisik." Jawab Kyoko.


"Kenapa kau tidak pergi saja sana?" Tanya Izuru lalu memakan makanannya.

__ADS_1


"Aku memang mau pergi." Kyoko lalu berdiri dan segera keluar dari tempat itu.


Izuru masih duduk di dalam dan memakan makanannya. Setelah itu Izuru pergi keluar dan duduk di sebuah bangku di pinggir jalan, sama seperti dulu saat ia tidak punya tempat menginap. Setelah beberapa saat, Izuru tertidur di sana.


"Monster-monster itu memang tidak bisa di harapkan, aku akan maju kali ini."


...*****...


"Hey bangun!"


Izuru langsung bangun. "Ada apa!?"


"Gelombang dua sudah datang! Ayo ke benteng!" Kata prajurit itu lalu berlari di ikuti oleh Izuru.


"Benar juga, bagaimana ini bisa terjadi? Apa mereka bisa membuat strategi?" Tanya salah satu prajurit di dekat Izuru.


Rin yang ada di atas sedang menembaki satu persatu monster yang muncul dari hutan. Namun ia melihat sesuatu yang aneh dari dalam hutan sedang mendekat. "Itu...? Ada seseorang di hutan...!" Teriak Rin.


"Apa ada seseorang di hutan!? Apa dia di serang?" Tanya panglima kemarin dari bawah, lalu ia naik ke atas untuk melihat orang yang di maksud Rin. "Di mana?" Tanya Panglima.


"Ada di sana tepat di depan kita!"


"Apa dia sedang di serang?" Tanya panglima.


"Tidak, di berjalan ke arah benteng. Para monster mengabaikannya!"

__ADS_1


"Semuanya! Hati-hati saat menyerang...! Ada seseorang di hutan, biarkan dia masuk!" Kata panglima.


"Ada seseorang?" Tanya Izuru lalu ia mencoba melihat ke dalam hutan dari benteng. Orang itu akhirnya keluar dari hutan dengan berjalan santai. "Kenapa kelihatannya aneh?" Tanya Izuru.


"Semuanya hati-hati dengan tembakan kalian! Untuk sementara jangan gunakan Katapel dulu!" Teriak panglima.


Orang itu berjalan semakin dekat dan mulai terlihat kalau dia adalah seorang gadis. "Kau cepat buka jendela untuk dia masuk!" Kata prajurit memerintahkan Izuru.


"Apa kau yakin? Bagaimana kalau monster nya juga ikut masuk?" Tanya Izuru.


"Kami akan menjagamu!"


"Baiklah!" Kata Izuru lalu ia membuka sebuah jendela di benteng. "Hey kau nona! Ayo cepat masuk!" Panggil Izuru. Gadis itu lalu datang menuju jendela yang sudah di buka. "Ayo cepat masuk! Kau akan aman di dalam! Ayo kepalamu dulu!" Kata Izuru menyuruh gadis itu masuk. Gadis itu hanya diam, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam lengan bajunya. Sebuah botol bulat berisi cairan berwarna biru di pegang nya, lalu gadis itu melemparkannya ke dalam melewati jendela yang Izuru buka. "Apa!?" Izuru menghindar dari lemparan gadis itu dan botol itu pecah di belakang benteng. "Apa yang kau lakukan!?" Tanya Izuru.


"Ehehehehe... Dasar bodoh!" Kata gadis itu tertawa lalu ia mengulurkan tangannya dan muncul lingkaran sihir di kedua tangannya. Cairan dari botol yang sudah menyebar itu bercahaya dan tiba-tiba dari tanah muncul banyak undead.


"Undead! Ada undead di dalam!" Teriak salah satu prajurit.


"Apa...!? Bagaimana mereka bisa masuk!?" Tanya Panglima segera turun dari menara pemanah.


Para undead menyerang semua prajurit yang tengah mempertahankan benteng. Lalu semuanya meninggalkan pos mereka untuk membunuh para undead yang berdatangan. Izuru meninggalkan gadis itu dan membantu membunuh para undead.


Izuru mengayunkan pedangnya dan menebas beberapa undead di sana. Tapi semakin lama, undead itu semakin banyak bermunculan dari tanah. "Tidak ada habisnya." Kata Izuru lalu ia melihat ke arah benteng yang sudah berlubang karena monster-monster yang ada di luar. "Jika seperti ini terus bisa-bisa bentengnya hancur! Gadis itu, apakah dia pemimpin monster-monster ini?" Tanya Izuru dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2