The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 93 - Asterion


__ADS_3

Beberapa minggu setelah penyerangan Kota Spanric, suasana damai kembali terlihat di sana. Orang-orang sibuk melakukan aktifitas sehari-hari, beberapa yang lain tengah memperbaiki rumah mereka.


Kedamaian seperti mudah untuk didapatkan di sini, tapi juga sangat rapuh. "Aku masih ingat pesan dari Gorden waktu itu. Hutan di pegunungan barat, ada apa di sana?" Batin Izuru yang tengah melamun di meja makan.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kediaman Keluarga Zergaken. Sebuah keluarga yang ditugaskan untuk membimbing orang-orang terpilih untuk melakukan tugas mereka.


Shun masih belum memiliki tugas sejak hari itu, ia sekarang tengah duduk sendirian di meja makan setelah sarapan.


*****


Untuk waktu itu Author pernah membuat cerita tentang Shun yang mengikuti Ibu Karin (pemimpin keluarga Zergaken) yang ingin pergi ke Kerajaan Claric, itu dilakukan untuk mencegah Ibu Karin menemukan Putri Clara yang terpilih menjadi pengguna Busur Legendaris.


Karena sesuai permintaannya pada Karin untuk merahasiakan hal ini agar Putri Clara tidak terpisah dari Ibunya, di akhir Arc ke 2.


Singkatnya Shun dan Karin datang lebih cepat dan memperingatkan Putri untuk menyembunyikan Busurnya. Akhirnya mereka berhasil mengelabuhi Ibu Karin, walau ada kecurigaan di matanya.


*****


"Aku sudah dengar tentang penyerangan di kota tempat Iona tinggal sekarang, kuharap di baik-baik saja." Batin Shun.


"Guru yang dijanjikan juga belum datang sampai sekarang. Aku harus bisa menjadi lebih kuat secepat mungkin, aku tidak bisa terus diam di sini." Sambung Shun lalu berdiri dari kursi.


"Aku tidak waktu untuk menunggu lagi! Lebih baik aku berlatih sendirian!" Kata Shun lalu berjalan pergi ke lorong di belakang.


Di depan rumah besar itu, sebuah kereta kuda mewah berhenti di depan pintu. Seseorang turun dengan di bantu para pelayan yang langsung menyambutnya.


Shun yang tidak sengaja melihat pintu depan terbuka menjadi penasaran akan keramaian di luar. "Siapa yang datang?" Tanya Shun.


Dari belakang Karin datang menghampiri Shun. "Dia adalah salah satu orang yang terpilih jauh sebelum kau datang." Jawab Karin.


"Aku pikir hanya aku yang baru di temukan?" Tanya Shun.


"Tidak, sudah ada beberapa. Tapi yang berada di rumah ini hanya kau dan dia."


Orang-orang di luar kemudian masuk dan berhadapan dengan Shun juga Karin. Shun memperhatikan orang yang berada di tengah-tengah mereka, seorang anak kecil yang tingginya hampir sama dengan bahu Shun.


"Asterion perkenalkan ini Shun, pemilik pedang legendaris. Dan Shun ini Asterion, penjaga kekuatan belati legendaris." Kata Karin memperkenalkan mereka satu sama lain.

__ADS_1


"Belati? Maksudmu senjata sebesar pisau itu?" Tanya Shun sambil memperagakan ukuran dengan tangannya.


"Benar, dia adalah salah satu orang terpilih yang paling muda." Jawab Karin.


"Salah satu? Apa ada yang lain?" Tanya Asterion dengan wajah datar.


"Aduh, maaf sepertinya aku salah bicara. Lupakan saja perkataan ku tadi! Oh ya, mungkin Shun ingin tahu beberapa tips untuk menggunakan senjatanya." Kata Karin gugup.


"Aku hampir bilang tentang Putri Clara." Batin Karin.


"Tentu saja, aku senang bertemu teman baru." Kata Asterion dengan nada rendah dan senyum ringan.


"Bagus kalau begitu!" Kata Karin lega.


"Kalian bawa barang-barang ku ke kamar." Kata Asterion pada para pelayan.


Karin juga ikut pergi meninggalkan Shun dan Asterion berdua di ruang tamu. Mereka lalu duduk berseberangan, wajah Asterion yang awalnya tersenyum kembali menjadi datar.


"Aku sudah dengar aksimu. Apa kau yakin kau pantas menjadi pemakai Pedang Legendaris itu?" Tanya Asterion menyindir Shun saat di Kerajaan Claric.


"Apa maksudmu!?" Tanya Shun marah dan berdiri dari kursi.


"Jangan sok tahu! Aku sendiri yang mengambilnya dari artefak sihir di desa kecil itu." Kata Shun menyangkal.


"Lalu kenapa kau sangat lemah? Dari semua cerita yang kudengar, pedang adalah yang terkuat. Melihatmu marah seperti itu saja sudah cukup untukku mengambil kesimpulan."


"Tenanglah! Dia sedang memancing emosiku, tapi apa yang dia inginkan dari hal itu?" Batin Shun.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Shun sedikit lebih tenang.


"Tidak ada. Aku sudah banyak bertemu penipu yang mengaku terpilih, tapi aku berhasil membongkarnya dan melempar mereka keluar dari sini." Jelas Asterion.


"Jadi kau mencurigai ku?" Tanya Shun.


"Kau sendiri yang mencurigakan. Dua tugas di berikan, tapi kau sama sekali tidak melakukan hal yang penting, tapi malah orang lain. Hal yang sama terjadi pada para penipu."


Shun merasa marah karena direndahkan. Ia lalu menunjuk ke arah Asterion dan berkata. "Akan aku tunjukan, bahwa aku pantas! Kita akan bertarung di luar!" Kata Shun.

__ADS_1


"Hmph... Kau yakin?" Tanya Asterion sambil tersenyum menyeringai.


"Tentu saja! Apa kau takut?"


Asterion kemudian mengambil sesuatu yang tergantung di pinggangnya. Ia mengambil sebuah belati dan melemparkannya ke arah Shun. Belati itu jatuh menancap di meja tepat di depan Shun.


"Ini belati legendaris itu? Tapi, kenapa seperti tidak terawat?" Tanya Shun dalam hati, lalu ia berniat mencabutnya.


Saat Shun menyentuh belati itu, tiba-tiba tangannya langsung menggenggamnya dengan sangat kuat dan tidak bisa di gerakan.


"Apa ini!? Tanganku, tidak bisa melepaskannya!" Kata Shun terkejut.


"Kau tidak akan bisa melepaskannya sendiri tanpa izin dariku, inilah kekuatan dari Belati Legendaris." Kata Asterion berjalan memutar menuju tempat Shun.


Shun masih berusaha melepaskan genggamannya dengan tangannya yang lain, tapi tetap tidak bisa. Tiba-tiba saja tubuhnya bergerak sendiri mencabut belati itu dan menghadap ke arah Asterion yang sudah ada di dekatnya.


"Aku juga bisa menggerakkan tubuhmu tanpa ada batasan. Dan sekarang, aku akan membaca ingatanmu." Kata Asterion mengarahkan tangannya ke kepala Shun dan seperti menarik keluar sesuatu.


"Arggghhh....!!!! Kepalaku! Rasanya seperti di hancurkan dengan palu besar." Batin Shun kesakitan.


Asterion lalu mengambil belatinya dari tangan Shun seketika terjatuh kebelakang. Ia melihat ke arah belatinya dan muncul banyak tulisan.


"Hmm... Jadi kau berkata jujur." Kata Asterion tidak menunjukan rasa bersalah.


Beberapa saat kemudian Karin datang membawa nampan dengan dua cangkir di atasnya. Ia terkejut melihat Shun tergeletak di lantai.


"Astaga! Tuan Shun!" Kata Karin langsung meletakan nampan di lantai.


"Asterion! Apa yang kau lakukan!?" Tanya Karin.


"Aku hanya melakukan seperti biasanya."


"Sampai kapan kau akan terus curiga pada semua orang?" Tanya Karin.


"Aku tidak akan pernah percaya ada siapapun. Kalau begitu aku akan pergi ke kamar." Jawab Asterion lalu pergi dengan santai.


Karin mencoba membangunkan Shun, lalu memberikan dia teh yang ia bawa. Di belakang Asterion berhenti dan berbalik.

__ADS_1


"Oh ya, aku membaca sesuatu yang lain dari ingatannya. Kalian berdua menyembunyikan sesuatu tentang Pengguna Busur Legendaris, 'kan?"


Bersambung...


__ADS_2