The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 108 - Mimpi Buruk Part 2


__ADS_3

Cahaya jingga terang masuk melalui jendela, menyinari tepat di mata seseorang. Izuru perlahan membuka matanya dan bangun dalam posisi duduk.


Ia melihat telapak tangannya, lalu memegang kepalanya. Mengingat kembali mimpi itu membuat kepala Izuru terasa sakit.


Izuru beranjak dari bangku dan berjalan pelan keluar. Di luar angin dingin bertiup dan matahari bersinar berwarna jingga. Terlihat dari jauh orang-orang masuk ke dalam rumah masing-masing, beberapa juga menyalakan lentera di pinggir jalan dan rumah.


"Ini bukan pagi hari, ini sore. Aku tidur lama sekali." Ucap Izuru.


Seseorang menepuk pelan bahu Izuru dari belakang. Izuru segera berbalik. Penglihatannya sedikit buram, namun perlahan membaik dan terlihat Asura di hadapannya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Asura.


"Entahlah, aku rasa ada yang terjadi kemarin. Tetapi, aku tidak ingat dengan jelas." Jawab Izuru.


"Kemarin kamu tampak sangat ketakutan."


"Ketakutan? Itu sepertinya karena mimpi buruk yang benar-benar aneh." Ucap Izuru melihat ke arah Asura. Tiba-tiba ekspresi Izuru menjadi sangat terkejut.


"Hey, di mana tanduk mu...!?" Tanya Izuru memegang kedua pundak Asura dan melihat ke atas kepalanya.


"Ah itu, jangan cemas. Lauren menghilangkannya."


"Jawaban macam apa itu?"


"Dia menyembunyikan tanduk ku dengan sihir, agar tidak terjadi masalah seperti kemarin." Jelas Asura.


"Oh begitu ya? Ngomong-ngomong di mana yang lain?"


"Mereka sedang di bar lantai bawah."


"Kalau begitu ayo kita ke sana juga!" Ucap Izuru.


"Kalau masih sakit lebih baik istirahat saja dulu. Aku yang akan membelikan makanan."


"Aku sudah tidak apa-apa kok."


"Baiklah kalau begitu."


Mereka berdua segera menyusul yang lain ke lantai bawah. Melewati jalan yang sama dengan yang mereka lalui kemarin. Tetapi, jalanan sudah sepi, mau di atas ataupun di bawah tidak ada seorang pun berlalu-lalang.


Mereka berdua sampai di bar dan selalu ramai seperti biasa. Izuru dipilihkan tempat duduk di pojok, jauh dari akuarium Siren.

__ADS_1


"Pesanlah apapun. Aku akan segera kembali." Ujar Asura lalu pergi meninggalkan Izuru di sana. Tidak berselang lama seorang pelayan datang membawa daftar menu.


Asura lalu mendekat ke akuarium Siren, kemudian mengetuk kaca dari luar. Wanita Siren itu muncul dan melihat Asura dari atas. Asura kemudian melemparkan beberapa keping koin dan langsung di tangkap oleh Siren itu.


"Wah, aku kira kau benci padaku? Ternyata dugaan ku itu salah." Tanya Siren itu.


"Ini bukan berarti aku menyukaimu."


"Jadi kau mau aku menyanyi?"


"Tidak, itu bayaran untuk diam. Jangan melakukan apapun dan juga jangan menerima permintaan apapun sebelum aku pergi dari sini." Jelas Asura.


"Permintaan aneh. Yah, karena sudah di bayar, aku akan melakukannya." Jawab Siren itu.


Asura kembali ke meja Izuru yang masih belum menentukan pesanannya.


"Ah, datang juga. Kau mau pesan apa?" Tanya Izuru.


"Aku tidak usah. Izuru saja yang pesan." Jawab Asura.


"Kalau begitu daging panggang, sepotong roti, dan air putih. Semuanya dua ya." Kata Izuru juga memesankan Asura. Pelayan itu segera pergi setelah mendapat pesanan Izuru.


"Ehh tunggu! Tapi, Izuru!" Ucap Asura terlihat panik.


Asura lalu mengambil sesuatu di dalam sakunya dan terlihat beberapa keping uang koin perak. "Tapi, uangku...."


"Tidak perlu. Aku akan membayar semuanya." Ucap Izuru.


"Aku masih punya banyak uang kok. Semua hasil kerja keras kami, jadi sia-sia kalau tidak digunakan." Sambung Izuru.


"Maaf, niatnya tadi ingin mentraktir mu. Tetapi, malah Izuru yang membayar semuanya."


"Tabung saja uangmu itu. Aku lihat dulu kamarmu hanya ada meja, kursi, tempat tidur, dan lemari baju. Mungkin kamu juga harus membeli barang yang kamu suka."


"Izuru, bahkan kamu peduli pada hal kecil seperti itu." Ucap Asura sambil terkejut dan menutupi kedua mulutnya dengan tangan.


"Karena kamu juga butuh hiburan kan?"


"Sebenarnya aku punya hiburan saat waktu luang. Aku suka memberi makan tupai di pohon besar di dekat sumur. Tetapi, mereka tidak pernah mau turun saat aku ada di dekat sana, walaupun aku sudah sembunyi tatap saja mereka tidak mau turun. Jadi, aku melihat dari kejauhan. Walau hanya melihat mereka turun lalu kembali ke atas membawa kacang yang kuberikan, itu tetap menyenangkan." Ucap Asura bercerita.


"Uhh... Apa tidak ada selain itu?" Tanya Izuru dengan wajah prihatin.

__ADS_1


"Selain itu sepertinya tidak ada yang bisa di sebut hiburan."


"Kau tidak punya teman, selain aku, Iona, dan Rin?"


"Ada! Apa Fiel termasuk teman? Tapi, dia sudah ku anggap saudari." Tanya Asura berpikir sambil menyentuh dagunya dan melihat ke atas.


"Ya ampun. Dia lebih parah dari aku yang duku." Ucap Izuru pelan.


"Tetapi itu dulu!" Ucap Asura.


Izuru yang mendengarnya langsung mengangkat pandangannya ke arah Asura.


"Karena sekarang aku sudah bertemu denganmu dan yang lain. Jadi semuanya menjadi lebih menyenangkan dari sebelumnya! Aku sudah pergi ke berbagai tempat dan bertemu banyak orang karena kalian semua. Aku tidak tahu apakah hal ini mungkin terjadi jika aku tidak bertemu dengan teman-teman?" Asura mengucapkan seluruh isi hatinya pada Izuru.


Izuru kagum sekaligus iri pada Asura. Di saat kesendirian dia mampu terus bertahan sampai takdirnya berubah. Berbeda dengan Izuru yang dulu memilih untuk menyerah.


"Aku dulu juga sepertimu. Hanya saja tidak berakhir dengan indah." Ucap Izuru.


"Apa maksudmu? Bukankah kita sama sekarang? Jika Izuru pernah sendirian juga dulu dan sekarang kita mendapat banyak teman, itu artinya kita mendapatkan takdir yang sama kan?" Ucap Asura dengan tersenyum manis pada Izuru.


"Seandainya saja aku bisa menceritakan segalanya padamu. Jadi ada orang yang menyadari semua yang kurasakan dulu. Tapi, benar kata Asura! Pada akhirnya aku mendapatkan banyak teman, itu artinya roda takdir sudah berputar dan aku merasakan kebahagiaan ini!" Batin Izuru.


"Aku harus melupakan semua yang terjadi di masa lalu dan fokus pada kehidupan baru ini. Aku sudah tidak memiliki hubungan dengan dunia itu lagi, kecuali semua ingatan pahit itu." Sambung Izuru.


"Terima kasih Asura! Berkat kata-katamu itu aku jadi bersemangat lagi!"


"Senang bisa membantu."


Makanan yang di pesan kemudian sampai, dan Mereka berdua makan dengan lahap. Keduanya memang sama-sama kelaparan. Setelah menghabiskan semuanya, Izuru dan Asura bersantai sesaat di sana.


Izuru lalu memulai kembali pembicaraan. "Sepertinya memang aku harus menceritakan mimpi itu padamu." Ucap Izuru.


"Mimpi? Jadi yang membuatmu bersikap aneh kemarin itu karena mimpi!?" Tanya Asura.


"Bersikap aneh? Memangnya kemarin aku seperti apa?" Tanya balik Izuru.


"Ah itu, lebih baik nanti bertanya pada yang lain saja. Sekarang ceritakan tentang mimpi itu!" Jawab Asura berusaha menutupi kejadian kemarin.


"Aku bermimpi tentang sebuah peperangan, intinya di sana banyak sekali darah dan orang-orang mati dengan mengerikan. Dan yang terakhir adalah sesosok perempuan yang kemudian di penggal oleh seseorang. Benar-benar mimpi yang aneh."


"Wah, terdengar menarik." Ucap seseorang dari belakang. Izuru dan Asura lalu menoleh ke arah orang itu.

__ADS_1


Terlihat seseorang dengan tudung yang menutupi matanya berdiri di belakang kursi Izuru. Dia membawa sebuah tas selempang dan memakai banyak sekali cincin di tangannya.


Bersambung...


__ADS_2