The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 101 - Penyusup


__ADS_3

Di langit yang biru, burung-burung terbang tinggi membentuk barisan dengan kawanannya. Dari belakang Asura menyusul dan langsung mendahului membuat barisan kawanan burung itu menjadi rusak.


Iona, Destra, dan Meiro. Mereka sedang menikmati duduk di punggung Asura, sementara Izuru terlihat sedikit pucat.


"Ternyata tempat itu lebih tinggi dari yang aku lihat dari bawah." Kata Izuru dalam hati.


"Kau kenapa huh?" Tanya Destra dengan suara keras sambil menoleh ke belakang.


"Aku tidak baik-baik saja." Izuru langsung menutup mulutnya dan terlihat seperti ingin muntah.


"Ayolah Izuru, lawan ketakutan itu! Karena nanti saat turun akan lebih mengerikan lagi!" Batin Izuru bicara dengan diri sendiri.


"Fhsyle nya! Mulai tertutup awan lagi!" Kata Iona.


"Aku harus terbang cepat, kalian semua pegangan yang kuat!" Kata Asura.


Mereka sudah melihat dataran Fhsyle di depan, tapi awan datang dan menutupi pandangan mereka. Asura tanpa melambat langsung masuk menembus awan.


Saat ini di sekitar mereka hanya berwarna putih seperti kabut, rasanya juga sedikit dingin dan basah. Izuru tampak sedikit lebih baik saat berada di dalam awan, karena dia tidak bisa melihat kebawah lagi.


Perlahan muncul cahaya di depan mereka dan kemudian menembus awan. Terlihatlah bentuk Fhsyle yang sebenarnya, jauh lebih jelas dari pada melihatnya dari bawah.



Sebuah kota dengan berbagai bangunan yang indah di atas sebuah batu yang melayang di angkasa. Tampak banyak sekali malaikat yang berterbangan dari rumah ke rumah. Peradaban mereka terlihat jauh lebih moderen dari kota-kota manusia. Rumah-rumah di bangun dengan batu berwarna putih, struktur yang unik, serta tersusun rapi dengan banyak pohon yang di tanam di sekitar rumah.


Ada juga sebuah bangunan seperti istana dengan sebuah kristal besar di atasnya. Terlihat sangat megah, bahkan tidak ada istana yang seindah itu sebelumnya.


"Itu dia Fhsyle..." Kata Destra melihat dengan sangat kagum.


"Ini jauh lebih indah dari sebelumnya." Kata Iona.


"Hulpp....!!" Izuru terlihat mual lagi, ia kembali menutup mulutnya dengan tangan.


"Di mana kita akan mendarat?" Tanya Iona.


"Aku melihat ada sebuah lapangan kosong di dekat menara kecil." Jawab Asura.


Mereka lalu terbang ke sebelah kiri menuju sebuah menara kecil, dengan sebuah jendela kaca besar di puncaknya.


Asura mendarat cukup keras sampai-sampai membuat lantai sedikit retak. Mereka kemudian turun dari punggungnya, dan Asura berubah kembali menjadi bentuk setengah manusia.


Destra melihat retakan itu dan berkata. "Apa tidak bisa pelan sedikit?"


"Kalau bisa aku akan terbang memutar sebentar untuk mengurangi kecepatan, tapi aku takut ada yang lihat." Jawab Asura.

__ADS_1


"Hah.... Akhirnya kita sampai." Kata Izuru berbaring di sana.


"Bahkan semua tempat di lapisi dengan batu putih ini, luar biasa." Kata Iona melihat lantai di sekitar sana. Setiap ruangan terbuka tidak terlihat ada yang beralaskan tanah, namun hampir semuanya tertutup lantai batu.


Destra melihat ke arah menara di dekat mereka itu. Tanpa sengaja ia melihat seseorang mengintip dari pintu dan langsung menutupnya saat Destra melihatnya.


"Oi, ada orang yang melihat kita dari sana!" Kata Destra sambil menunjukkan jari.


"Benarkah!? Apa reaksinya?" Tanya Iona.


"Dia terlihat ketakutan."


"Gawat, kita bisa dalam masalah kalau dia memberitahu Ras Malaikat lain!" Kata Asura.


"Ayo kita bungkam dia!" Kata Destra segera berlari ke arah pintu menara itu.


Terlihat Malaikat itu masih mengintip melalui jendela dan segera menutupnya saat melihat Destra yang datang ke arahnya.


Destra berlari kencang ke arah pintu dan kemudian menabrakkan diri ke pintu sampai jatuh, tapi pintunya tidak terbuka sama sekali. Destra kemudian berdiri dan membuka pintunya ke arah luar.


"Ini perampokan! Diam atau mati!" Teriak Destra masuk kedalam rumah. Ia kemudian melihat seorang gadis berambut pirang yang menatap ketakutan di pojok ruangan.


"Hiyaaa...! Serahkan uangmu!" Kata Destra berlari ke arah gadis itu.


Izuru dan yang lain masuk ke rumah itu dan melihat Destra sudah mengikatnya di kursi, juga membungkam gadis itu dengan kain.


"Lihatlah tangkapan ku!" Seru Destra dengan bangga. Dan dari belakang Meiro memukulnya dengan vas bunga sampai hancur. Destra langsung jatuh pingsan di sana.


"Apa kau sudah gila...!?" Tanya Iona.


"Aku tahu dia gila." Jawab Meiro melemparkan sisa vas yang ia pegang.


"Kau juga gila!" Kata Iona.


"Sudah kuduga ini ide buruk!" Kata Asura.


"Hey diam kalian semua!" Teriak Izuru membuat suara keributan itu hilang seketika.


"Kesan yang baik akan menghasilkan hubungan yang baik juga. Siapa yang tidak mau punya kenalan dari Ras Malaikat?" Izuru berjalan melewati yang lain ke arah Gadis itu.


Izuru kemudian duduk di depannya dan mulai bicara sopan. "Kami bukan orang jahat. Aku akan melepaskan mulutmu dan kamu harus diam ok." Izuru kemudian membuka kain yang mengikat mulut gadis itu dan...


"AAAAA......!!! SESEORANG TOLONG AKU....!!!"


Izuru seketika langsung menutup kembali mulut gadis itu. "Sialan kau tidak tahu di untung...!" Teriak Izuru di depan wajah gadis itu yang menatap dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Huftt... Baiklah itu tidak berhasil. Sekarang apa?" Tanya Izuru.


Tiba-tiba Destra mengangkat tangannya dalam keadaan tubuhnya yang masih tengkurap. "Bagaimana kalau kita meracuni tenggorokannya?"


Meiro kemudian kembali memukul kepala Destra dengan vas lain. "Tidak ada yang bertanya padamu."


"Hey hentikan itu!" Tegur Izuru.


"Apa!? Dia ingin membunuh gadis itu." Kata Meiro berdiri di atas Destra.


"Kau juga ingin membunuh Destra!" Kata Izuru. Ia kemudian menarik nafas panjang sambil menutup mata.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan dengannya?" Tanya Izuru.


Semetara mereka semua berdiskusi, gadis itu mencoba untuk melarikan diri. Dia menggeliat di lantai menuju ruangan lain saat semuanya menghadap ke arah lain. Saat mencapai pintu, tiba-tiba ia langsung di tarik kembali oleh Izuru.


"Mmhhmmmmhhh....!" Gadis itu terus mencoba kabur, tapi Izuru tetap memeganginya.


"Bagaimana kalau kita menyembunyikannya di ruang bawah tanah."


"Memangnya kau tahu di mana ruang bawah tanahnya?"


"Karena itu ayo kita cari dulu!"


Dari luar seseorang masuk melalui pintu depan dan menyapa ke dalam. "Lauren! Aku ingin pinjam teleskop lagi." Kata seorang Laki-laki dengan rambut coklat yang terikat kebelakang.


"Hmmm.... Berantakan sekali. Apa kau habis begadang tadi malam?" Tanya Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam.


Meja di dekatnya tiba-tiba bergerak, dia kemudian memeriksa kebawah meja dan melihat gadis itu terikat di sana.


"Lauren!? Kenapa kau ada di situ?" Tanya Laki-laki itu.


Tiba-tiba dari belakang Izuru muncul dengan tali dan diam-diam ingin menangkapnya juga. Tapi, hal itu langsung di sadari dengan cepat oleh Laki-laki itu.


"Siapa kau!? Apa yang kau lakukan di sini?"


Izuru kemudian menarik pedangnya, dan laki-laki itu mengambil sebuah batang besi di dekatnya.


"Kau ingin bertarung? Akan kuberikan yang kau mau! Hiyaaa....!!!" Teriaknya melompat ke arah Izuru.


Beberapa saat kemudian...


Gadis Malaikat itu di lemparkan ke sudut ruangan, kemudian dengan temannya juga yang sudah terikat. Mereka berdua melihat ke arah Izuru dan yang lainnya menatap dengan kejam dan perlahan menutup pintu, kemudian menguncinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2