The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 113 - Malam Penyerangan part 2


__ADS_3

Seorang anak dalam keadaan ketakutan berada di kamar sendirian. Dari jendela terdengar suara ketukan lembut, ia melihat ke arah jendela dari jauh dengan perasaan takut.


Tanpa peringatan, kaca jendela pecah dan muncul tangan seseorang yang masuk kedalam membuka kunci jendela itu, lalu perlahan membuka jendela. Ia adalah anak buah Nathasia yang bertugas untuk menculik target mereka.


"Tidak! Jangan mendekat!" Teriak Anak itu.


...*****...


"Red Mist...!" Ucap Nathasia yang sekarang di sekujur tubuhnya muncul kabut merah tebal dan di dalam kabut itu terlihat mata yang menyala.


Nathasia merendahkan tubuhnya dan kedua tangan di tanah. Dengan kecepatan tinggi ia melesat ke dalam dan melewati laser-laser dari artefak sihir.


Melompat ke sana kemari dalam wujud berkabut merah. Laser terus mengejarnya, ia lalu melompat ke dinding sudut ruangan ke sudut yang lain terus menerus sampai mendapatkan celah.


Kadang juga terkena sedikit serangan saat menghindar, dan gadis pelayan itu juga ikut menembaki Nathasia dari atas. Di saat ia menggantung di lampu gantung, terlihatlah celah untuk menyerang gadis pelayan itu.


Nathasia berayun beberapa kali sebelum laser datang kepadanya. Lalu dengan cepat melesat ke arah gadis itu.


Gadis itu terkejut saat Nathasia mendapatkan celah dan tengah berada beberapa langkah darinya. Saat itulah gadis itu tersenyum seperti sudah merencanakan semua kemungkinan. Gadis itu menembakan energi yang menghempaskan Nathasia sebelumnya, namun jauh lebih kuat lagi. Sementara itu di belakang sudah terlihat laser-laser tersusun seperti pola jala ikan.


Tidak ada jalan keluar lagi. Di depan energi yang akan menghempaskan tubuh Nathasia dengan mudah dan di belakangnya laser-laser dari artefak sudah bersiap menangkapnya. Tentu saja Nathasia terhempas ke arah laser-laser itu dan muncul asap dari tubuhnya yang terbakar.


Gadis itu tersenyum lega karena berhasil melindungi Tuan mereka. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Terlihat hanya ada kain setengah terbakar di lantai tanpa tersisa tubuh seseorang sedikit pun.


Gadis pelayan itu seketika kembali waspada. Ia melihat sekeliling ruangan itu dan dari luar seseorang berjalan masuk dengan santai. Dia adalah Nathasia, ia terlihat tidak terluka sedikit pun. Padahal gadis itu melihat dirinya terkena serangan artefak sihir dengan kedua matanya.


"Kau pasti bingung sekarang kan?" Tanya Nathasia berjalan mendekat dengan santai.


"Jadi kau menipuku? Tapi, itu bukanlah masalah!" Teriak Gadis itu mengarahkan semua artefak sihirnya ke arah Nathasia.


Tetapi, Nathasia masih terus berjalan. Sementara tidak ada satupun serangan yang terjadi.

__ADS_1


"Apa ini!? Kenapa tidak ada respon!?" Tanya Gadis itu terkejut. Ia lalu melihat ke arah artefak sihirnya, ada sebuah benda hitam yang perlahan menggerogoti bagian dalam artefak itu.


"Yang jadi masalah itu adalah Artefak sihirmu. Tanpa itu kau sama sekali tidak berdaya, bukan?" Ucap Nathasia mulai menaiki tangga.


"Aku masih bisa menghempaskan dirimu jatuh dari Fhsyle!" Balas Gadis itu bersiap menyerang dengan kristal di tangannya.


Saat ingin menyerang, Nathasia mengambil salah satu pelayan yang ada di tangga. Ia menggunakannya untuk tameng hidup. Gadis itu menahan serangannya, karena sadar temannya sendiri bisa terbunuh.


"Ayo, kenapa kau hanya diam?" Tanya Nathasia.


"Beraninya kau menggunakan temanku untuk....!?" Teriak gadis itu marah. Tapi sebelum ia menyelesaikan perkataannya, Nathasia sudah lebih dulu mencekik lehernya.


Nathasia perlahan mengangkat tubuh Gadis itu, ia lalu mengambil kristal di tangan gadis itu dan langsung membantingnya ke dinding sampai pecah berkeping-keping.


"Sayang sekali, tugas mulia mu akan berakhir sampai di sini." Ucap Nathasia.


"Kuh...! Bawa Tuan muda pergi...!" Teriak gadis itu terdengar samar-samar.


Nathasia menghindarinya dengan mudah, lalu menggunakan tubuh gadis pelayan di tangannya untuk pelindung. Pelayan terakhir di atas memilih untuk menyerang dari pada membawa lari Tuannya.


Dengan wajah yang penuh dengan keringat, ia mengatakan dengan lantang. "Lepaskan temanku...!"


"Cepat pergi! Jangan pedulikan aku!"


"Tidak akan! Aku tidak akan pergi tanpamu dan yang lain!"


"Kalau begitu ambilah." Ucap Nathasia datar. Ia melemparkan gadis di tangannya ke arah temannya yang berada di atas. Tetapi, gadis itu tidak sampai ke lantai atas dan jatuh kembali setelah menabrak pagar pembatas.


Temannya langsung menangkap tangannya. "Aku menangkap mu! Bertahanlah!" Ucap Pelayan di atas. Perlahan ia mengangkat temannya itu.


"Kalian benar-benar sahabat sejati, aku terharu."

__ADS_1


Tiba-tiba pelayan itu tersadar, Nathasia sudah berada di belakangnya. Pelayan itu menoleh dan keduanya langsung di lempar jatuh ke lantai satu. Nathasia lalu melemparkan kursi di dekatnya ke arah lampu gantung, rantai lampu itu putus dan jatuh menimpa kedua pelayan di bawah.


"Sahabat sehidup semati, hidup bersama lalu mati bersama." Ucap Nathasia.


Ia lalu menuju salah satu pintu di dekat sana. Sebelum membuka pintu itu, ia mencoba terhubung sesaat dengan anak buahnya. Sebelumnya anak buah Nathasia bisa mengirimkan semua yang ia lihat kepada Nathasia itu sendiri. Tetapi, kali ini tidak ada satu pun informasi yang ia terima.


"Tidak ada respon. Tapi, dia bilang sudah menemukan target." Ucap Nathasia. Ia kemudian membuka pintu di depannya dan melihat anak buahnya sudah terbaring di lantai dengan luka tusukan di dada.


Di sudut ruangan terlihat seorang anak laki-laki, bajunya terkena bercak darah dan ia juga membawa belati.


"Apa... apa yang kau lakukan...!?" Teriak Nathasia terlihat panik. Ia langsung duduk dan melihat keadaan anak buahnya itu.


"Boneka ku rusak! Aku sengaja memberikan tugas ringan agar tetap terlihat bagus, tapi kenapa tetap berakhir rusak...!!?" Keluh Nathasia.


Nathasia lalu berdiri dan menatap tajam ke arah anak itu. "Kau harus membayarnya..." Ucap Nathasia. Ia mengangkat kakinya dan menghancurkan kepala bonekanya yang telah mati.


Salah satu bola mata yang memiliki banyak pupil terlempar ke atas dan langsung di tangkap olehnya.


Ekspresi ketakutan anak itu semakin kuat saat perlahan bayangan Nathasia mendekatinya. Lalu terdengarlah suara jeritan singkat mencapai hampir seluruh tempat di pulau kecil itu, walau hanya terdengar samar-samar.


Nathasia membawa pergi anak itu. Saat perjalanan kembali, salah seorang pelayang yang masih hidup memanggil semua pasukan di sana dengan panggilan darurat.


Nathasia yang sudah menyebrangi jembatan melihat sekelompok pasukan terbang ke arahnya dari pulau kecil itu. Tidak kehilangan akal, ia meledakan rantai dan jembatan yang menghubungkan pulau kecil itu dengan pulau utama.


Para tentara memang tidak terganggu dengan itu karena mereka bisa terbang. Tetapi, pulau kecil yang tidak terhubung dengan pulau utama, perlahan mulai berjalan menjauh. Kalau dibiarkan mungkin akan hilang entah ke mana.


Karena itu semua pasukan berhenti mengejar dan memilih untuk memperbaiki rantai penghubung. Hal itu memberikan waktu yang cukup untuk Nathasia kabur dan memulai tahap kedua.


"Anak ini adalah satu-satunya harapanku. Dia pasti bisa membangkitkan Senjata Legendaris ini..!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2