
"kenapa kau pergi sendirian?" Tanya Rin berjalan di jalanan kota bersama Izuru dan Iona.
"Kenapa? Itu karena kalian terlalu sibuk bersama Shun." Jawab Izuru.
"Maaf, sepertinya aku terlalu antusias dengan pedang itu." Kata Iona.
"Bagus kalau kau sadar."
"Jawabanmu seperti itu, padahal aku sudah minta maaf."
"Sekarang bagaimana dengan senjataku?" Tanya Izuru.
"Ini kami sudah beli." Kata Rin memberikan pedang yang masih terbungkus kain pada Izuru. Izuru menerimanya dan langsung membuka bungkusannya. "Itu yang paling malah kau tahu? Jadi kualitasnya lebih bagus dari pada pedang yang sebelumnya." Kata Rin.
Izuru menarik keluar pedang itu dari sarungnya, lalu melihat bilah pedang yang mengilat itu. "Ini lebih ringan dari yang sebelumnya." Kata Izuru.
"Tentu saja, kualitas terbaik." Kata Rin menyombongkan diri.
"Mentang-mentang punya duit, beli yang mahal-mahal."
"Di beliin gak terima, ngajak gelud?" Kata Rin. Tapi tiba-tiba Izuru berhenti dan membuat Iona menabrak Izuru.
"Aduh! Hey kenapa berhenti mendadak?" Tanya Iona sambil memegangi hidungnya.
"Itu mereka lagi!" Jawab Izuru menunjuk Shun dan anggot party nya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Rin.
"Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Ayo kita lewat jalan lain saja!" Kata Izuru lalu berlari pergi ke arah gang kecil di samping mereka.
"Hey, kau mau ke mana lagi?" Tanya Rin lalu mengejar Izuru bersama dengan Iona.
Izuru terus berlari menyusuri gang itu, sampai berhenti di gang depan rumah-rumah warga yang saling berdempetan. "Aduh, ini di mana?" Tanya Izuru terlihat bingung.
"Hey! Kau mau berlari sampai mana?" Tanya Rin datang dari belakang bersama Iona.
"Di mana ini?" Tanya Iona.
"Sepertinya aku pernah lewat sini. Ah benar, ayo lewat jalan ini!" Kata Rin lalu berlari di ikuti oleh Izuru dan Iona.
Saat berlari mengikuti Rin, Izuru tampak teringat sesuatu yang sangat penting. "Tunggu sebentar!" Kata Izuru menarik tangan Rin agar berhenti berlari.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Rin.
"Apa kau yakin pernah ke jalan ini. Beberapa hari lalu saja kau sampai salah masuk ke gua yang penuh dengan kelabang."
"Tenang saja, aku benar-benar pernah lewat sini." Jawab Rin meyakinkan Izuru.
"Sepertinya aku tidak yakin dengannya." Bisik Iona di telinga Izuru.
"Kau kira aku percaya dengannya?" Bisik balik Izuru. Mereka lalu mulai berjalan atas pimpinan Rin.
Beberapa jam kemudian matahari sudah berada di ujung barat, Izuru dan kawan-kawan masih berada di tempat yang entah apa namanya.
"Hah... Hah... Kenapa belum sampai-sampai?" Tanya Izuru.
"Sepertinya ini bukan jalan yang kuingat." Kata Rin gugup.
Izuru langsung menarik kerah baju Rin dan berkata. "Apa kau bilang!!?" Kata Izuru sambil menatap Rin dengan tajam.
"Sudah kuduga ini akan terjadi." Kata Iona sambil jongkok dan memainkan kerikil kecil di bawah.
"Uhh... Maaf, aku lupa."
"Lupa!? Sudah kubilang ingat-ingat dulu." Kata Izuru sambil mengguncangkan Rin.
"Tapi bagaimana kita bisa pulang? Aku sudah tidak ingat jalan yang tadi kita lewati." Kata Izuru melepaskan Rin.
"Bagaimana jika kita tanya warga di sekitar sini saja?" Tapi..." Iona melihat sekeliling yang hanya ada mereka bertiga. "Sejak tadi tidak ada satupun orang selain kita di sini." Sambung Iona.
"Jadi bagaimana?" Tanya Izuru.
"Aku sebenarnya bisa menggunakan elemen tanah untuk melihat dari atas jalan keluarnya. Tapi, itu bisa merusak jalan ini."
"Masa bodoh dengan jalan, yang penting kita bisa keluar dari sini. Lagipula tidak ada selain kita yang melewati jalan ini, jadi tidak apa-apa." Kata Izuru lalu membawa Rin ke tengah jalan, kemudian meninggalkannya di sana. Izuru kembali ke dekat Iona yang sudah bersiap dengan buku sihirnya di pinggir jalan. "Ok, ayo mulai!" Kata Izuru.
Buku Iona mulai bercahaya dan tanah di sekitar sana mulai bergetar, lalu tanah di bawah Rin menjulang ke atas dengan cepat sampai melebihi ketinggian bangunan di sana.
"Bagaimana, apa kau bisa melihat jalannya..!?" Teriak Izuru.
"Iya, aku bisa melihatnya..!" Jawab Rin dari atas.
"Bagus, cepat hafalkan! Awas saja sampai kau lupa lagi." Teriak Izuru, tapi di jalan ada sesuatu yang bergerak. "Apa itu?" Tanya Izuru dalam hati. Ternyata itu adalah sebuah kerikil, tapi ada sesuatu yang membuatnya bergerak. Izuru penasaran dan ingin melihat sedikit lebih dekat. Tapi saat Izuru mendekat. Tiba-tiba kerikil itu tertarik dengan cepat ke sebuah gang kecil di sana. "Apa!? Kejadian yang sama seperti tadi?" Kata Izuru terkejut dalam hati. Ia lalu berniat mengikuti kerikil itu.
__ADS_1
"Hey Izuru! Kau mau ke mana?" Tanya Iona tetap berdiri di tempat.
"Hanya melihat-lihat sebentar, aku tidak akan jauh." Kata Izuru lalu masuk ke gang tempat kerikil itu tertarik. Saat Izuru sampai, di sana tidak hanya ada jalan buntu. Izuru melihat ke bawah dan melihat sebuah koin perunggu di tanah. "Ini...?" Izuru lalu mengambilnya dan yang benar saja, ternyata di koin itu ada benang-benang tipis persis seperti koin miliknya tadi. "Apa!? Bagaimana bisa ada di sini?" Tanya Izuru terkejut.
"Hey! Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Iona datang dari belakang.
"Bukan apa-apa." Jawab Izuru, lalu mereka kembali ke jalan tadi.
"Aku sudah menghafalnya!" Kata Rin melompat turun dari tanah menjulang yang sudah kembali turun menjadi pendek.
Mereka sampai di rumah saat malam. Izuru yang tengah duduk di kursi ruang tamu dan mengipasi dirinya dengan telapak tangan. "Aduh panas, Rin lama sekali mandinya." Kata Izuru mengeluh panas. Saat itu tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari depan. "Siapa yang datang malam-malam." Tanya Izuru lalu membukakan pintu. Dan ternyata yang ada di luar adalah Shun, orang yang Izuru benci. "Apa kau lagi!? Apa mau mu, bagaimana kau bisa tahu rumah kita?"
"Aku di sini mencari Iona, bukan kau." Jawab Shun.
"Tidak sopan bertamu ke rumah orang."
"Siapa yang datang?" Tanya Rin keluar dari ruangan lain dengan memakai handuk. "Ternyata kau lagi?"
"Permisi, apa Iona ada di rumah?" Tanya Shun memaksa masuk melewati Izuru.
"Woy! Siapa yang mengijinkan mu masuk!?" Tanya Izuru kesal.
"Iona ada di atas, di kamarnya." Jawab Rin, lalu Shun berjalan menuju tangga tanpa permisi sama sekali.
"Dia itu apa-apaan? Masuk rumah orang tanpa izin." Tanya Izuru.
"Mungkin ada hal penting yang harus ia lakukan. Aku juga penasaran, ayo ikuti dia." Jawab Rin lalu mengikuti Shun ke atas, di ikuti oleh Izuru.
"Ada apa?" Tanya Iona berdiri di depan pintu kamarnya.
"Anu, ini tentang yang waktu itu di toko senjata." Jawab Shun.
"Begitu, ayo cepat masuk!" Kata Iona masuk ke kamarnya bersama Shun.
"Apa!? Dia memperbolehkan orang asing masuk ke kamarnya. Padahal aku sendiri tidak boleh melihat ke dalam kamarnya." Kata Izuru.
"Yah, kalau di bandingkan dengannya, kau itu kalah tampan darinya." Kata Rin.
"Dasar wanita itu hanya pandang fisik saja."
"Ngomong-ngomong aku ingin mengintip ke dalam, kira-kira apa yang sedang mereka lakukan?" Kata Rin mendekat ke pintu kamar Iona dan mulai mengintip dari lubang kunci. "Wooaah...!!? Tidak mungkin, mereka melakukannya..!" Kata Rin.
__ADS_1
"Apa!? Apa yang mereka lakukan!? Minggir aku juga mau lihat!" Kata Izuru menarik Rin menjauh dari pintu, lalu giliran ia yang mengintip. "Apa..? Tidak mungkin..." Batin Izuru tampak sangat terkejut. Kira-kira apa yang Iona dan Shun lakukan di dalam? Nantikan Chapter selanjutnya!
Bersambung...