
"Jika aku beritahu, kau pasti akan menatapku sebagai seorang penjahat terburuk." Kata Crgoshiro.
"Sepertinya kau belum mempercayaiku, tapi itu adalah hal yang wajar. Maaf sudah memaksamu mengatakannya." Kata Pria tua itu.
"Terima kasih untuk makanannya, aku akan pergi." Kata Crgoshiro berjalan ke arah pintu.
"Nak, jika kau mau, kau bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Kau tidak akan bisa bertahan di kota ini tanpa uang, aku juga akan carikan pekerjaan untukmu."
"Kota ini sepertinya tidak banyak yang terlibat dengan kejadian GoldWar dan aku juga menemukan orang baik yang mungkin tidak kutemukan di tempat lain." Batin Crgoshiro.
"Aku mau! Terima kasih banyak tuan!" Kata Crgoshiro.
"Panggil saja aku Larden."
"Terima kasih, Tuan Larden." Kata Crgoshiro.
...*****...
Sementara itu kereta kuda kelompok Izuru sudah keluar dari hutan dan sekarang tengah menuju sebuah kota di depan.
Izuru mengeluarkan kepalanya untuk melihat kota itu. "Kelihatannya ramai sekali." Kata Izuru.
"Ramai? Eh, kita sedang menuju ke mana?" Tanya Destra kemudian bergantian mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"Rin! Kita pergi ke desa kecil di sebelah barat dulu!" Teriak Destra.
"Kau bilang kita pergi ke kota terdekat!?" Tanya Rin.
"Kota Easter terlalu ramai di malam hari, akan sulit mencari Crgoshiro di sana. Dia bisa ada di mana saja, karena itu kita cari dulu di desa kecil itu." Jawab Destra.
"Baiklah!" Kata Rin membelokkan arah kudanya.
...*****...
Sekarang kita beralih ke karakter yang sudah lama tidak terdengar kabarnya, yaitu Shun. Setelah akhir Arc kedua : String of Distance, Shun kembali ke kediaman keluarga Zergaken, keluarga yang bertugas membimbing pahlawan terpilih untuk menjalankan tugasnya dan menghindari terjadinya kegilaan kekuatan.
Di akhir pertemuannya dengan Izuru, Shun mengatakan bahwa dia akan jadi lebih kuat saat pertemuan selanjutnya.
Izuru dan teman-temannya pulang dengan senyuman di wajah mereka, sementara Shun dengan kecewa. Ia merasa tidak melakukan apapun waktu itu.
Karin berjalan di samping dan melihat Shun yang terlihat sangat kecewa. "Tuan Shun, tersenyumlah. Anda sudah berhasil melaksanakan tugas dari Ibuku, kita pasti akan di sambut nanti."
"Bukan aku yang menyelesaikannya, tapi Izuru dan teman-temannya. Aku tidak melakukan apapun yang membantu di sana." Kata Shun
"Aku yakin kita sudah cukup membantu."
"Apa kau tidak ingat? Pedangku di ambil, dan sepertinya pria itu menggunakannya lebih baik dariku, sampai bisa menghancurkan sebuah istana."
__ADS_1
"Ternyata kemampuanku menggunakan pedang ini masih belum cukup. Atau malah aku yang tidak pantas menggunakan pedang ini." Sambung Shun.
"Itu tidak benar Tuan Shun! Aku yakin kau bisa menjadi hebat dengan latihan. Aku akan minta Ibu untuk mencarikan pelatih hebat untukmu!" Kata Karin.
Setelah malam tiba, Shun dan Karin sampai dikediaman Keluarga Zergaken. Mereka langsung di sambut oleh beberapa pelayan di sana, tanpa menanggapi para pelayan itu, Shun segera menghadap ke pemimpin keluarga yaitu Nona Arcilust Zergaken, alias Ibu kandung dari Karin dan Iona.
"Apa yang terjadi? Anda sudah kembali, tapi saya belum menerima kabar dari Kerajaan Claric." Tanya Nona Arcilust.
"Sebenarnya Ibu, kami sudah menyelesaikan semuanya, tapi mereka sudah tidak bisa mempertahankan kerajaan. Jadi semuanya setuju untuk membubarkan kerajaan." Jelas Karin.
"Jadi seperti itu? Bagaimana dengan keadaan Raja?"
"Raja sudah meninggal di tangan dua pelaku sebelum kita sampai. Kami bisa mengalahkan mereka dengan bantuan petualang dari kota Spanric, tapi mereka berhasil kabur." Jelas Karin.
"Apa mereka sangat kuat sampai kalian perlu bantuan petualang?" Tanya Nona Arcilust.
"Sudah pasti! Mereka jauh lebih kuat dari kami. kalau saja tanpa bantuan, kita pasti akan kalah." Jawab Karin.
"Baiklah, aku akan mengirim orang untuk mencari tahu. Kalian boleh istirahat."
"Ibu, ada satu lagi! Bisa Ibu mencarikan guru untuk melatih Tuan Shun? Ini atas permintaannya sendiri." Kata Karin.
"Benarkah itu, Tuan Shun?" Tanya Nona Arcilust.
"Benar, aku ingin menjadi lebih kuat lagi." Jawab Shun.
"Baik Ibu." Kata Karin. Kemudian mereka berdua pergi ke kamar masing-masing.
Shun duduk di atas tempat tidur dengan perlengkapan bertarung yang tergeletak di sampingnya. Ia sekarang memandangi sekeliling pedangnya terukir pola yang indah.
"Apakah, aku pantas menggunakan pedang ini? Kenapa pedang ini memilihku?" Tanya Shun pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Karin masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru. "Gawat!" Kata Karin seperti sedang panik. Ia segera berlari ke depan Shun setelah menutup pintu.
"Ada apa Karin?" Tanya Shun.
"Apa anda dengar perkataan Ibu? Ibu bilang akan mengirimkan orang untuk menyelidiki kejadian di Kerajaan Claric."
"Lalu? Tunggu..." Kata Shun tiba-tiba menyadari sesuatu. "Itu artinya, Ibumu akan tahu tentang senjata legendaris Putri!" Sambung Shun.
"Itu yang aku maksud!"
"Bagaimana ini, kita sudah janji tidak akan memberitahu Ibumu soal ini?" Tanya Shun.
"Putri Clara bilang ingin merahasiakan semua itu agar bisa terus bersama dengan Ibunya. Jika Ibu tahu, dia pasti akan dipaksa tinggal di sini." Kata Karin.
"Kalau begitu kita ke sana sebelum suruhan Ibumu sampai!" Kata Shun.
__ADS_1
...*****...
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah desa kecil. Di lihat dari depan gerbang tampak sangat sepi di dalam, semuanya turun dari kereta dan segera mendekat ke gerbang.
Suara ketukan besi terdengar berkali-kali. "Halo...! Apa semuanya sudah tidur...?" Teriak Destra sambil mengetuk gerbang dengan sebuah batu.
Plakk....! Meiro memukul kepala Destra dengan keras. "Apa yang kau lakukan bodoh!?"
"Apa? Bagaimana kita masuk jika mereka tidur?" Tanya Destra.
"Bukannya kau bisa mencari dari sini? Lagi pula desa ini tidak terlalu besar." Tanya Meiro.
"Kenapa harus aku?" Kata Destra beralasan.
"Dasar kau ini, selalu saja begitu!"
"Apa Destra punya sihir untuk mencari orang?" Tanya Izuru.
"Tidak!" Jawab Destra.
"Iya, dia punya. Bahkan sangat efektif, tapi dia saja yang pemalas." Jawab Meiro.
"Mendesain bangunan dan memahat ratusan patung, apa itu yang kau sebut pemalas?" Tanya Destra.
"Sama saja... Kau hanya mau melakukan apa yang kau suka." Kata Meiro.
"Siapa kalian!?" Teriak seorang pria dari dalam gerbang. Semuanya terkejut karena pria itu berteriak tiba-tiba.
"Nah ini dia orangnya datang." Kata Destra berjalan mendekat ke gerbang.
"Boleh kami masuk pak? Kami punya urusan sebentar." Kata Destra.
"Tidak boleh! Orang luar tidak boleh masuk malam-malam!" Jawab pria itu.
"Kenapa begitu?" Tanya Destra.
"Di hutan dekat sini ada monster yang sangat mengerikan, dia suka memperkosa wanita dan lalu memakannya, dia juga bisa menyamar menjadi orang-orang seperti mereka. Karena itu kami tidak mengizinkan orang luar datang saat malam hari." Jelas Pria itu.
"Ternyata monster bejat." Kata Izuru.
"Hayo... Kalian berdua bisa di tangkap loh..." Kata Destra menakut-nakuti Meiro dan Rin. Wajah Meiro dan Rin berubah pucat setelah mendengar kata-kata Destra.
"Jadi kita harus menunggu sampai pagi?" Tanya Izuru.
"Kyaaaaa.......!!!!!!" Sebuah teriakan terdengar dari dalam desa dan mengalihkan perhatian semuanya.
Bersambung...
__ADS_1