
Di tengah hujan deras, Nona Reshieka berjalan di sebuah tempat luas bersama Fiel. Seluruh tempat itu hanya tanah kosong luas dengan rumput liar yang tumbuh di beberapa tempat.
"Jadi, ini tempat terjadinya GoldWar?" Tanya Fiel.
"Aku juga baru pertama kali kemari." Jawab Nona Reshieka.
Saat berjalan, Fiel menginjak sebuah benda tipis. Itu ternyata adalah sebuah pedang berkarat yang digunakan untuk perang. Fiel lalu mengambil pedang itu dan melihatnya dari dekat.
"Sebenarnya kenapa ada perang di sini?" Tanya Fiel kembali berjalan mengikuti Nona Reshieka.
"Apa aku harus cerita sekarang?" Tanya Nona Reshieka terus berjalan menerjang hujan deras.
Mereka lalu sampai di tengah dataran luas itu, dan di sana ada sebuah bekas galian yang cukup dalam.
"Kenapa tidak ada orang di sini? Aku sudah meminta mereka menunggu kita." Kata Nona Reshieka setelah melihat tidak ada orang di sini. Nona Reshieka sebenarnya sudah membuat janji dengan rekannya yang menemukan sebuah ruangan kubus di dalam bekas galian itu.
"Dasar, orang itu memang tidak pernah tepat waktu." Kata Nona Reshieka, lalu mereka pergi berteduh di bawah pohon sebari menunggu rekan Nona Reshieka.
Hujan deras tak kunjung berhenti, sama seperti rekan Nona Reshieka yang tak kunjung datang. Nona Reshieka lalu menutup satu matanya dan melihat menggunakan teropong kecil ke arah awan hitam tebal di timur.
"Sebentar lagi fajar, aku juga ada janji lain nanti sore." Kata Nona Reshieka melepas teropongnya.
"Fiel, kita langsung berangkat ke tempat berikutnya saja." Kata Nona Reshieka berjalan menuju kereta kuda yang terparkir di belakangnya.
"Baik, Nona." Fiel lalu mengikuti Nona Reshieka.
Mereka berjalan tepat ke arah kereta kuda, sampai Nona Reshieka menghentikan langkahnya. Ia melihat ke atas dan tidak terlalu terkejut mendapati bahwa ada sesuatu di atas kereta kudanya.
"Wah... Wah... Wah... Tidak kusangka kita akan bertemu kembali." Kata seseorang di atas kereta kuda.
"Apa mau mu?" Tanya Nona Reshieka kembali berjalan ke arah kereta, tepat saat Nona Reshieka hampir sampai di depan pintu orang itu melompat turun tepat di depan Nona Reshieka.
"Jangan mendekat!" Kata Fiel di belakang hendak menyerang.
"Tidak apa-apa, Fiel! Aku kenal orang ini. Jadi, apa yang kau inginkan?" Tanya Nona Reshieka.
"Aku hanya ingin kau tidak menginjakan kaki di tempat ini lagi." Jawab orang itu.
...*****...
"Hooaamm... Sudah pagi...?" Tanya Izuru baru saja bangun. Ia lalu berjalan lemas keluar dari kamarnya, kemudian pergi ke ruang tamu. Izuru melihat keluar jendela dan melihat bahwa di luar masih hujan deras.
"Masih hujan? Kalau dipikir lagi, udara jadi sangat dingin semenjak aku keluar dari tempat tidur." Kata Izuru gemetar kedinginan.
Izuru melihat sekeliling ruang tamu yang masih sepi. Ruangan itu masih sedikit gelap, karena sinar matahari belum bersinar cukup terang. Di pojok ruangan Izuru melihat seseorang di lantai, itu Asura yang tertidur di sana.
__ADS_1
"Hehe sedang apa dia?" Tanya Izuru lalu mendekatinya.
Asura tampak sangat pulas dengan sedikit air liur menetes di dekat bibirnya, di dekatnya juga ada tongkat pel yang tergeletak di sebelahnya. Tampaknya ia tertidur saat sedang menyelesaikan pekerjaannya.
"Oi... Asura..." Panggil Izuru sambil menyentuh-nyentuh pipi Asura.
"Emm..." Asura bergerak seperti akan bangun, tapi tiba-tiba ia menggigit jari Izuru.
"Akkhh sakit woy...!!" Teriak Izuru menarik jarinya. Asura jadi terbangun karena suara Izuru.
"Hah... Ada apa...?" Tanya Asura masih setengah bangun.
"Kenapa kau menggigitku?" Tanya Izuru sambil memegangi jarinya yang sakit.
"Hah? Apa kenapa di mana siapa?" Tanya Asura tampak bingung, lalu ia menggosok kedua matanya dan kemudian melihat ke arah Izuru.
"Izuru? Hooaamm... Ada apa malam-malam begini?" Tanya Asura meregangkan tubuhnya.
"Lupakan saja. Ngomong-ngomong kenapa kau tidur di sini?" Tanya Izuru.
"Aku sedang mengerjakan tugas-tugasku yang kemarin aku tinggal. Aku harus selesai sebelum pagi." Jawab Asura.
"Bukannya ini sudah pagi?"
"Benarkan!? Aduh aku bahkan belum membersihkan kamar mandi!" Kata Asura panik dan langsung berdiri.
"Oh Iona? Pagi." Sapa Izuru.
"Aku lapar, di mana ruang makannya?" Tanya Iona.
"Aku juga lapar. Asura, bisa tunjukan di mana ruang makannya?" Tanya Izuru.
"Ayo lewat sini." Kata Asura memimpin jalan.
Mereka lalu masuk ke dapur utama. Ada dua tempat makan, yang pertama ada di ruang jamuan, ruangan itu besar dan di gunakan untuk tamu penting atau sebagainya. Dan yang satu lagi ada di dekat dapur, simpel tidak perlu susah payah membawa makanan, cukup makan di tempat.
Asura membuka rak dengan dua pintu, ia tampak tengah mencari sesuatu. Asura lalu menutup kembali rak itu, dan membuka rak lainnya.
"Ini aneh, biasanya Fiel sudah memasak makanan saat subuh." Kata Asura sambil menutup pintu rak yang ia buka.
"Bukannya Fiel sedang pergi bersama dengan Nona Reshieka?" Tanya Izuru berdiri di samping Iona yang tengah menguap.
"Aduh, aku sampai lupa itu! Kalau begitu aku beli makanan dulu!" Kata Asura berlari keluar dari dapur.
Izuru dan Iona lalu duduk di meja makan dapur, menunggu Asura kembali. Izuru tampak melihat-lihat sekeliling dapur itu dan Iona sedang mencoba menahan kantuk di meja.
__ADS_1
"Di mana Rin?" Tanya Izuru.
"Dia masih tidur." Jawab Iona.
"Biasanya dia yang bangun paling pagi."
"Entahlah, sepertinya dia sangat lelah."
"Aku kembali!" Kata Asura dari luar dapur.
Asura lalu datang ke dapur dengan membawa banyak makanan dan semuanya di letakan di atas meja sekaligus.
"Banyak sekali, apa ini tidak terlalu banyak?" Tanya Izuru.
"Aku tidak tahu apa yang kamu suka, jadi aku beli semuanya." Jawab Asura.
"Lebih baik aku membangunkan Rin." Kata Iona bangun dari tempat duduknya.
"Rin? Lebih baik jangan bangunkan dia dulu." Kata Asura.
"Kenapa?" Tanya Izuru.
"Aku tadi malam melihatnya waktu sedang bersih-bersih. Dia berjalan-jalan di seluruh lorong rumah, awalnya aku takut ada hantu atau semacamnya, tapi ternyata itu Rin." Jawab Asura.
"Berjalan-jalan? Di tengah malam? Aneh..." Kata Izuru.
"Yah, ini bukan pertama kalinya Rin bersikap aneh. Dia juga sering bicara sendiri waktu di kamar mandi tengah malam, aku saja sampai merinding mendengarnya." Kata Iona.
"Lalu apa lagi yang ia lakukan?" Tanya Izuru.
"Dia hanya berjalan-jalan sih, tapi aku juga sempat memanggilnya beberapa kali, namun tidak ada respon. Aku sebenarnya ingin menghampirinya, tapi masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan tadi. Dan satu lagi, rute berjalannya tampak sedikit aneh."
"Aneh bagaimana?" Tanya Izuru.
"Rin selalu berjalan dengan rute yang sama berkali-kali. Pertama ia mengelilingi ruang jamuan, lalu berjalan ke lorong dan berhenti sebentar di dekat jendela. Kemudian ia pergi ke depan kamar Nona Reshieka, kemudian pergi ke teras halaman belakang dan memperhatikan sumur tua di belakang taman. Aneh bukan?"
"Kenapa aku jadi takut setelah mendengar itu?" Kata Izuru dengan wajah pucat.
"Aku jadi menyesal sudah bertanya hal itu." Kata Iona juga dengan wajah pucat.
"Selamat pagi!" Sapa Rin tiba-tiba muncul dari pintu di belakang mereka.
"Waaa....!!!!??? Rin...!?" Teriak Izuru terkejut.
"Kenapa?" Tanya Rin tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Bersambung...