The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 58 - Masa Lalu Asura


__ADS_3

"Apa... yang terjadi...?" Tanya seorang wanita muda dengan wajah terkejut.


Ia melihat sebuah pemukiman yang telah hancur dan hanya menyisakan puing-puing rumah yang terbuat dari batu.


"Aku pernah dengar kalau ada perang saudara. Apa sebaiknya kita pulang Nona?" Tanya seorang kusir turun dari kereta kuda di belakang wanita itu.


"Ada informasi yang harus kucari di desa ini. Kau tetaplah di sini!" Kata Wanita itu lalu berlari menuju puing-puing desa.


"Tidak ada, tidak ada, tidak ada!" Kata wanita itu duduk dan mengais-ngais buku-buku di sebuah bangunan yang juga sudah hancur. "Semuanya terbakar! Kenapa harus ada perang saudara? Dasar bodoh!" Kata Wanita itu memukul tanah.


"Tidak ada gunanya aku di sini." Kata wanita itu bangun dan hendak pergi.


Tapi, tiba-tiba ia mendengar sesuatu di dekatnya. Ia pun mencari arah suara itu dan ternyata suara itu berasal dari dalam pintu bawah tanah. Dia lalu masuk ke dalam ruang bawah tanah yang sudah runtuh sebagian itu.


Saat ia turun ke bawah, suara itu semakin jelas. Terdengar seperti suara tangisan anak perempuan. "Halo! Apa ada orang di sini?"


Tapi tidak ada jawaban dan tiba-tiba saja suara tangisan itu berhenti. Ia lalu berjalan melihat-lihat ruangan itu dengan cahaya putih di tangannya. Wanita itu terus berjalan sampai ia merasakan ada sesuatu yang baru saja mengenai kakinya, cahaya di tangannya di arahkan di bawah dan terlihat sebuah tangan seseorang yang penuh dengan bercak darah. Tapi tubuhnya sudah tertimpa reruntuhan ruang bawah tanah itu.


Suara barang terjatuh terdengar dari ujung ruangan itu. Wanita itu segera menuju ke arah suara untuk memastikan apa yang ia dengar, tapi di sana hanya ada sebuah meja di sudut ruangan. Ia lalu melihat ke bawah meja itu dan terlihat seorang anak perempuan yang ketakutan setengah mati. Eksepresi ketakutan, pakaian yang lusuh, dan tubuh yang penuh dengan luka. Hanya itu yang bisa di sadari saat melihatnya pertama kali.


"Anak ini, pasti putri pemilik perpustakaan ini. Dia pasti tahu sesuatu tentang informasi yang kucari." Batin wanita itu.


"Ayo keluarlah, jangan takut." Kata wanita itu mengulurkan tangannya ke dalam.


Anak itu justu semakin ketakutan dan berusaha menjauh dari tangan wanita itu.


"Tidak apa-apa, aku berusaha membantumu di sini. Ayo, jangan takut." Kata wanita itu. Tapi tidak berpengaruh untuk anak itu. Ia lalu melihat ke tas selempangnya dan kemudian melepas sebuah hiasan tas berbentuk boneka berbentuk beruang kecil.


"Ini tuan beruang kecil, ta tara tara ta ta..." Kata wanita itu memainkan boneka kecil itu, lalu mengulurkannya ke arah anak itu.


"Ini untukmu, ambilah."


Anak itu mulai mendekat perlahan dan lalu mengambil boneka yang ada di tangan wanita itu. Anak itu lalu melihat-lihat boneka di tangannya.


"Aku masih punya banyak boneka seperti ini di suatu tempat. Dari pada kamu sendirian di sini, lebih baik ikuta denganku, di sana juga ada anak perempuan sepertimu. Bagaimana, apa kamu mau ikut?" Tanya Wanita itu.

__ADS_1


"......."


"Hmm...." Anak itu mengangguk setelah dia beberapa saat.


"Bagus, ayo keluarlah."


Anak itu keluar dari kolong meja dan berdiri dengan tubuh gemetaran. Wanita itu segera melepas mantel putihnya dan segera memakaikannya pada anak itu. Ia lalu menggendongnya dan membawanya keluar dari desa dengan terus menutupi pandangannya, agar anak itu tidak melihat keadaan desa dan beberapa mayat penduduknya.


Wanita itu masuk ke dalam kereta kuda dan duduk di kursi, lalu menurunkan anak itu di sebelahnya. "Jangan khawatir, aku akan segera mengobati semua lukamu." Kata wanita itu.


"Ayo jalan!" Kata wanita itu, lalu kereta berjalan pergi dari desa hancur itu.


"Kita akan ke mana, Nona Reshieka?" Tanya kusir itu dari jendela di belakang tempat duduk kusir.


"Kita cari kota atau desa terdekat untuk bermalam dan langsung pulang esok harinya."


"Baik Nona!"


...*****...


"Ah Ibu datang!" Kata salah satu anak menoleh ke belakang. Lalu mereka berdua segera berlari ke arah ibunya yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Ayo pulang, sudah hampir malam." Kata ibu mereka.


"Iya, ayo pulang bersama!" Kata salah satu anak itu.


Mereka lalu pergi sambil bergandengan tangan. Seorang anak duduk di tanah dengan rambut panjang terurai oleh angin, ia melihat ke arah ibu dan anak-anak itu dari jarak yang cukup jauh. Anak itu memeluk kedua kakinya dengan raut wajah sedih.


Seorang wanita menghampirinya dari belakang, lalu duduk di sampingnya. Dia adalah Nona Reshieka saat masih muda. "Kamu masih di sini? Ini sudah hampir malam." Kata wanita itu.


"...." Anak itu hanya terdiam.


Nona Reshieka lalu melihat apa yang di lihat anak di sampingnya. Seorang ibu dan dua orang anaknya berjalan menjauh ke arah matahari terbenam.


"Aku rindu mereka, Ayah dan Ibu." Kata anak itu.

__ADS_1


"Rindu itu normal, tapi lebih baik kamu tidak terlalu memikirkan itu. Karena mau bagaimana pun kamu tidak bisa bertemu dengan mereka, kecuali saat kamu mati."


Wajah anak itu menjadi lebih sedih setelah mendengar perkataan Nona Reshieka.


"Yang terpenting kamu masih punya aku dan saudari mu." Kata Nona Reshieka.


"Tapi, dia bukan saudari asli ku."


"Memang apa bedanya? Keluarga adalah sekumpulan orang di mana mereka semua saling menjaga satu sama lain, tidak perlu memiliki hubungan darah untuk memiliki keluarga. Kamu mengerti?" Tanya Nona Reshieka.


"Hmm..." Anak itu mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita pulang! Fiel pasti mencari-cari kita sekarang." Kata wanita itu bangun lalu menggandeng tangan anak itu.


Mereka lalu berjalan bersama membelakangi matahari terbenam.


"Kuharap, aku bisa menggantikan sosok Ibu bagimu... Asura..."


...*****...


A.... Sura... Asura.... Asura! Jangan lupa pekerjaanmu di rumah, ya! Kau sudah janji loh, besok gantikan aku saat libur.


"Akhirnya selesai juga." Kata Dramist di depan Asura yang tersandar di dinding bersama dengan pedang yang menebas ke bahunya hampir mencapai leher.


"Belum... Ini belum berakhir!"


"Sial kau masih hidup ternyata!?" Kata Dramist terkejut, lalu menarik pedangnya dan mengangkatnya ke atas. "Kenapa kau sulit sekali mati!?" Tanya Dramist mengeluarkan energi dari pedangnya dan langsung menebas kembali ke arah Asura.


Asura segera menepis bagian samping bilah pedang yang meluncur ke arahnya. Tebasan Dramist meleset dan malah mengenai dinding.


"Aku tidak akan mati sekarang...!" Teriak Asura memukul perut Dramist dengan keras sampai terpental cukup jauh.


"Ternyata kau masih bisa menyerang ku." Kata Dramist masih berdiri setelah terkena pukulan Asura.


"Harapan ini, bagaikan api yang abadi seperti matahari! Akan terus membara selamanya...!" Kata Asura berdiri dengan luka tebasan dalam di lengannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2