The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 106 - Di bawah Ribuan Bintang


__ADS_3

"Apa Profesor juga benci dengan kami Ras Malaikat, seperti yang lain?"


"Kalau kau tanya pada siapapun, tentu saja semua orang benci pada orang-orang rasis seperti mereka." Profesor membuang pecahan kaca keluar jendela.


Lauren yang mendengar jawaban itu menjadi merasa sedih. Tapi, Profesor berbalik dan melanjutkan perkataannya.


"Tapi, bukan berarti semua orang seperti itu. Jika kita menyamakan semua orang seperti itu, bukankah kita sama saja dengan rasis?"


"Jadi, apa kita bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan semua ini? Aku ingin banyak orang dari berbagai ras datang ke sini. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa belajar tanpa melakukan perjalanan jauh." Kata Lauren.


"Aku takut tidak bisa memberikan jawaban yang pasti padamu. Satu-satunya yang bisa mencari tahu adalah kau sendiri. Bertanyalah pada temanmu itu, bagaimana perasaannya dan apa yang membuatnya menaruh kebencian." Perkataan itu terus terngiang di kepala Lauren.


Saat ini ia sedang pergi bersama dengan yang lain kembali ke rumahnya. Kamar penginapan di area bawah tiba-tiba saja menjadi sangat mahal, karena itu mereka terpaksa tidur di tempat Lauren.


"Kau sudah tidak apa-apa?" Tanya Iona pada Izuru.


"Iya aku sudah baik-baik saja. Pasti aku tadi benar-benar merepotkan ya?" Jawab Izuru.


Lauren hanya diam sambil memandang kebawah, tidak melihat ke mana ia berjalan.


"Aku sebenarnya sudah tahu apa yang dirasakan Gabriel saat ini. Dulu Ras Naga memang sangat mengerikan dan menyebabkan bencana di mana-mana. Dulu kota ini juga pernah di serang, tapi beruntung aku tidak pernah merasakan hal mengerikan itu."


...*****...


Ruangan rumah yang sunyi di malam hari, hanya cahaya bulan yang menerangi dari jendela. Terlihat Izuru sedang tidur di bangku dan Destra berada di bawah dengan menggunakan selimut. Asura tidur berdekatan dengan Meiro.


di atas menara tempat mengamati bintang, Iona berbaring bersebelahan dengan Lauren. Mereka tidur di lantai dengan beralaskan kain tipis dan berbagi selimut.


Iona melirik ke arah Lauren yang masih tampak sedang bimbang. "Hey... Apa yang kau pikirkan?" Tanya Iona dengan suara rendah.


"Huh..?" Lauren sedikit terkejut, lalu menoleh ke arah Iona.


"Aku memikirkan tentang masalah yang ada di tempat ini." Jawab Lauren.

__ADS_1


"Jangan memikirkan itu terlalu keras sendirian. Karena kau bukan orang yang harus bertanggung jawab atas hal ini."


"Awalnya aku juga membiarkan saja, tapi semakin lama aku tidak bisa terus mengabaikannya. Walaupun aku terlihat peduli pada orang lain, tapi nyatanya hal ini juga demi kepentingan diriku sendiri. Aku selalu merasa bersalah kalau memikirkan harus menentang orang lain demi alasan pribadi."


"Aku juga pernah mengalami hal itu. Aku ingat dulu pernah mencoba membunuh seseorang demi alasan pribadi." Kata Iona sambil melihat ke atas.


"Aku sejak dulu sudah di bebani dengan tanggung jawab yang besar. Bertahun-tahun mencoba untuk menerima semuanya, tapi dari lubuk hati terdalam, aku tidak pernah mau melakukan semua itu." Sambung Iona.


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Yah, ini memang sedikit rumit. Dulu aku selalu ingin melihat dunia luar, seluruh tempat di dunia yang indah. Tapi semua impian itu terhalang oleh tanggung jawab dari keluargaku.


Sekarang, aku memilih untuk membuang segala yang mengikatku dan berlari menjalani impian lama itu."


Kata-kata dari Iona itu membuat Lauren merasa kagum. Ia melihat ke arah Iona dengan mata berkilat cahaya dan sekali lagi merasa dirinya sendiri buruk. Lauren lalu duduk sambil menekuk lututnya ke atas dan mendekapnya.


"Aku tidak pernah punya keberanian sepertimu. Impianku juga hampir sama sepertimu, Iona. Aku ingin tahu banyak hal, dari yang diciptakan Ras-ras lain ataupun dari tuhan itu sendiri."


"Sayangnya, aku tidak sepertimu. Kau pergi dari semua yang mengikatmu, tapi aku malah memaksa semua orang untuk mendapatkan apa yang ku impikan. Aku bukan apa-apa di bandingkan orang sepertimu." Sambung Lauren.


"Sepertinya aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa bertarung, tidak bisa bertahan sendirian, bahkan aku tidak bisa terbang."


"Kau tidak bisa terbang?"


"Iya, aneh sekali kan? Bagaimana bisa ada seorang malaikat yang masih memiliki kedua sayapnya, tapi tidak bisa terbang."


"Kenapa? Apa sayap mu terluka? Atau memang sejak lahir?" Tanya Iona.


"Sayap ku normal sama seperti yang lain. Tapi, karena sejak dulu aku hanya tinggal di rumah ini sendirian, jadi aku tidak pernah belajar terbang. Karena itu aku ingin lebih banyak Ras lain datang ke Fhsyle, aku ingin mendengar semua cerita mereka. Jadi aku tidak perlu pergi dari rumahku untuk mencapai impian. Benar-benar egois kan?" Kata Lauren lalu tertawa kecil di akhir dengan senyum palsu.


"Itu memang egois."


"Tapi, menghentikan semua kebencian antar Ras ini bukanlah hal yang egois." Kata Iona sambil menggenggam tangan Lauren.

__ADS_1


Sekali lagi Lauren memperlihatkan wajah yang sama seperti tadi, tapi kali ini terlihat berbeda. Bagaikan mendapat setetes harapan di gurun keputusasaan.


"Jika kau bisa menghentikan kebencian yang ada di Ras mu. Kau harus mendapat balasan untuk semua kebaikan yang kau lakukan, termasuk keinginan egois itu." Kata Iona sambil menatap ke mata Lauren.


"Iona, terima kasih banyak. Aku tidak pernah bertemu orang sepertimu sebelumnya, aku sangat beruntung kau ada di sini." Kata Lauren menggenggam kedua tangan Iona dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sama-sama. Ngomong-ngomong langit malam ini pasti sangat indah, aku ingin keluar sebentar dan melihatnya."


"Tidak perlu. Kita bisa melihatnya dari ini." Jawab Lauren sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.


Lauren berdiri kemudian mengulurkan kedua tangannya ke depan dan membaca sebuah mantra sihir. Beberapa saat muncul sebuah lingkaran sihir di tangannya yang lalu melayang. Lingkaran sihir itu terpecah menjadi percikan cahaya dan langit-langit menara itu menjadi tembus pandang.


Bintang-bintang terlihat dari dalam ruangan. Bagaikan jutaan permata dilemparkan ke atas secara bersamaan, membuat sebuah pemandangan gemerlap dari bawah.


"Sihir kreasi? Keren! Apa kau yang membuatnya?" Tanya Iona.


"Profesor yang mengajarkannya padaku." Jawab Lauren kembali duduk di samping Iona.


Mereka berdua duduk melihat ke angkasa yang penuh dengan bintang-bintang. Langit tampak cerah seperti menit pertama fajar bersinar, tapi jauh lebih tenang dengan keindahan yabg luar biasa.


"Salah satu alasan kenapa aku tidak mau meninggalkan tempat ini. Aku juga ingin semua orang bisa melihat keindahan ini, walau hanya melihat reaksi mereka saja sudah membuatku sangat senang. Betapa indahnya Fhsyle jika semua orang hidup berdampingan dengan baik." Kata Lauren sambil tersenyum melihat ke atas.


"Aku pasti akan membantumu! Saat mendengar kata-katamu itu, aku tidak bisa menyebut impianmu itu hanya untuk kepentingan pribadimu." Kata Iona menggenggam tangan Lauren.


Mereka berdua lalu tersenyum satu sama lain di bawah bintang-bintang.


Bersambung...


......Seandainya saja Author bisa melihat apa yang Author tulis sendiri, tapi sayangnya langit di atas Author tidak terlihat apapun.......


Ok mungkin kalian pernah baca ini di komentar, untuk memudahkan kalian yang kelewatan akan author salin di sini.


...Author pantau dari dulu sampai sekarang, kebanyakan kalian sering like di awal2 tapi tiba-tiba aja hilang entah ke mana. kalian itu udh bosen pas di awal-awal lalu pergi, apa kalian terlalu seru baca sampai lupa like?...

__ADS_1


...kalau iya sejelek dan membosankannya eps awal kenapa malah makin naik favoritnya, kenapa gk turun?...


...dari dulu mikir terus kayak gitu, ini mereka cuma favorit terus lupa atau gimana sih. kasih tahu author, terlebih lagi kalian yang jarang aktif di kolom komentar...


__ADS_2