
Beberapa jam sebelum pertarungan dengan Nathasia. Izuru, Iona, Destra, dan Meiro tengah menelusuri lantai terbawah Fhsyle untuk mencari keberadaan Artefak Sihir yang menyimpan wujud Senjata Legendaris.
Tetapi, mereka tidak mendapatkan hasil apapun. Tentu saja karena Nathasia sudah mengambilnya jauh sebelum mereka datang.
Namun, sebuah keberuntungan jatuh dari langit dan memecahkan kaca jendela di dekat mereka. Anak bangsawan itu yang jatuh di depan Iona.
"Huaaa....!? Apa itu?" Tanya Iona melompat karena terkejut dengan suara kaca jendela yang pecah. Kebetulan hanya Iona satu-satunya yang ada di sana.
Sadar benda jatuh itu adalah seseorang yang masih hidup. Iona lalu menghampirinya dan melihat keadaannya. "Hey, kau tidak apa-apa?" Tanya Iona.
"Ugghhh.... Tolong..."
"Apa, ada apa?"
"Aku, di culik ke sini oleh dua orang wanita..." Ucap anak itu lemas.
"Di culik..? Apa kau anak bangsawan yang orang-orang maksud!?"
"Benar..."
"Apa kau tahu siapa yang menculik mu? Mungkin namanya atau ciri-cirinya."
"Dia wanita dewasa berambut putih, hanya itu yang kuingat." Jawab anak itu.
"Itu juga yang dikatakan para prajurit di atas. Ah iya, kau pasti kesakitan, akan aku bantu melepas tali ini." Ucap Iona membantu melepas tali yang mengikat anak itu.
Tepat setelah percakapan itu Izuru dan yang lain tengah berjalan ke tempat Iona. Iona berteriak memanggil mereka. Setelah semuanya berkumpul, Iona mulai menceritakan semua yang ia dengar dari anak bangsawan itu.
"Itu artinya Nathasia sudah mendapatkan Senjata Legendaris itu...!?" Tanya Izuru terkejut.
__ADS_1
"Apa kau tahu bentuk senjata itu?" Tanya Iona pada anak bangsawan itu.
"Aku hanya sekilas melihat cahaya terang saja. Aku tidak tahu kalau itu adalah sebuah senjata." Jawab anak itu.
"Keluarga yang menampung para orang-orag terpilih itu kan? Kalau begitu tinggal sebutkan senjata apa saja yang belum di temukan." Tanya Destra pada Iona.
"Setahuku sudah ada Pedang, Belati, Busur, Tongkat sihir, Sarung tangan, Palu, dan Zirah. Jadi yang belum di temukan itu Kapak, Tombak, Tameng, Sabit, Buku sihir."
"Ada 5 kemungkinan, semuanya ingat itu!" Ucap Destra.
"Kita harus cepat mengambil senjata itu dan memberikannya ke pemilik seharusnya." Ucap Izuru.
"Nanti dulu Izuru, kita butuh rencana untuk itu." Ucap Iona.
Setelah mereka saling berdiskusi singkat, akhirnya terbentuk sebuah rencana sederhana. Sergap, ambil, kabur.
"Ingat Izuru! Tujuanmu hanya untuk mengambilnya dan pergi!" Ucap Iona.
"Tujuanku hanya untuk mengambil Senjata Legendaris dan membawanya pergi sejauh mungkin! Aku juga yakin ini adalah senjata legendaris itu, karena energi besar yang di pancarkan." Ucap Izuru dalam hati. Ia berlari secepat mungkin menjauh dari Nathasia.
Nathasia yang mulai geram dengan keadaan saat ini menggertakkan giginya dan seketika menghancurkan es yang menahannya. Tangan di angkat ke arah Izuru yang sudah berada cukup jauh di depan.
"Dark Rebirth!"
Tempat itu tiba-tiba berguncang keras, lantai dan dinding juga mulai retak. Izuru yang berlari dengan cepat tidak bisa menghentikan langkahnya dan berakhir jatuh akibat guncangan. Dari bawah terdengar suara gemuruh kencang yang terasa semakin dekat.
Dan keluarlah ular hitam besar yang hampir memakan Izuru di sana. Ular itu melihat ke bawah ke arah Izuru dan kembali menyerang. Izuru melompat menghindari serangan ular besar itu. Ia berlari dari ular itu meninggalkan senjata legendaris tadi. Ular itu terus mengejar Izuru, tubuhnya sambil berkali-kali menabrak dinding di sekitarnya karena lorong itu sedikit terlalu sempit untuk hewan besar itu.
"Bodoh, jangan dia! Kejar penyihir di sana!" Ucap Nathasia memerintahkan ular itu.
__ADS_1
Ular itu segera berbalik arah dan melesat ke arah Nathasia. Nathasia memberikan jalan pada ular itu, setelah melewatinya giliran Izuru yang menghadapi Nathasia. Iona yang melihat hewan besar itu datang ke arahnya segera melarikan diri.
Ular itu menghancurkan dinding ujung lorong dan membawa masuk seluruh tubuhnya ke area pemukiman bawah. Semua orang yang melihat ular besar di tengah area besar itu berlarian masuk ke dalam rumah masing-masing. Iona berhenti karena tidak tahu harus lari ke mana, ia menoleh kebelakang dan terlihat ular besar itu tengah menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Iona dengan sigap langsung mengeluarkan sihir pelindung dan ditabrak dengan kuat oleh ular itu. Iona terpental ke atas menuju salah satu jendela rumah, kaca jendela itu pecah dan Iona terlempar masuk ke dalam.
"Arghh... Punggungku..." Ucap Iona tersungkur di lantai yang penuh dengan pecahan kaca. Ia menoleh ke arah lain, terlihat seorang ibu dengan anaknya tampak tengah berlindung di pojok ruangan saling berpelukan.
Ular besar itu kembali menyerang, ia menerobos masuk ke dalam rumah itu. Beberapa saat kemudian kepalanya kembali keluar dan terlihat banyak prajurit kegelapan milik Iona yang menusuk kepala ular itu dan ikut terbawa keluar.
"Kalian ayo pergi dari sini! Gunakan jalan lain untuk ke atas! Ajak yang lainnya juga, ayo ayo!" Ucap Iona membantu anak dan ibu itu bangun.
Setelah orang-orang itu pergi, Iona membuka rak di dapur rumah itu dan tampak sedang mencari sesuatu. Ia melempar beberapa botol keluar dan mengambil sebuah botol kecil.
"Ini bukan ramuan pemulihan Mana, tapi lebih baik dari tidak." Ucap Iona lalu membuka tutup botol kaca itu dan meminumnya habis.
Iona lalu keluar melewati lubang besar di rumah itu, terlihat prajurit kegelapan yang ia keluarkan masih bisa menghambat ular itu. Sampai sekarang ular itu masih kesulitan menyerang satu per satu para prajurit kegelapan itu. Iona mengucapkan mantra dan mengeluarkan lebih banyak prajurit kegelapan untuk menyerang ular itu.
Suara gemuruh dari kiri, Iona melihat ke arah suara itu dan nampak ekor ular itu mengibas ke arahnya sambil menghancurkan satu per satu rumah-rumah di sana.
"Apa...!?" Teriak Iona terkejut, ia langsung melompat ke bawah untuk menghindari kibasan ekor ular itu.
Rumah-rumah hancur berserta bagian dalamnya akibat serangan ular itu. Suara bergemuruh memenuhi area itu, getaran juga dirasakan sampai kota di atas. Iona jatuh ke tanah dengan keras sampai melukai pergelangan kakinya. Tapi tidak ada waktu untuk diam, karena puing-puing mulai berjatuhan ke arahnya. Dengan menahan rasa sakit di kakinya ia berlari menjauh dari puing-puing bangunan yang berjatuhan.
"Arrghhh...!" Iona tersandung dan jatuh. Ia lalu melihat ke arah pergelangan kakinya yang mulai membengkak.
Sementara ular itu menemukan Iona yang sedang tak berdaya di bawah. Iona melihat ular itu dengan ekspresi panik. Ular itu langsung membuka mulutnya dan melesat ke arah Iona di bawah.
Ular itu lalu mengangkat kepalanya dan terlihat Iona dengan setengah badannya berada di dalam mulut ular itu.
__ADS_1
Bersambung...