
"Aku akan mengakhiri semua ini...!" Teriak Nathasia.
Kilatan muncul di lingkaran sihir itu, kemudian menembakan ledakan sihir yang luar biasa dahsyat. Akibatnya hampir semua bagian kota berjatuhan ke area bawah, Fhsyle juga mengalami guncangan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Izuru menutup kedua matanya, menyangka dirinya yang sudah tamat terkena ledakan dasyat itu.
"Seluruh tubuhku panas dan terasa seperti terbakar... Aku hanya bisa berharap diriku selamat di sini." Batin Izuru dalam keadaan nyawa di ujung tenggorokannya.
"Angle Shield!"
Mendengar suara itu Izuru seketika membuka matanya dan melihat sebuah penghalang sihir di sekitarnya. Kedua tangannya yang setengah terbakar masih dengan kuat menggenggam tombak. Izuru lalu menoleh ke kiri dan melihat Azrael dan Iona berada bersamanya. Mereka bertiga bertahan di dalam inti ledakan yang belum kunjung berakhir.
"Iona dan kau juga!?" Ucap Izuru terkejut.
"Kau masih bisa menciptakan senjata lagi?! Aku melihatmu melakukannya! Dan itu juga yang akan menjadi kunci kita!" Ucap Kapten Azrael dengan lantang. Ia masih terlihat bertenaga meski dengan luka bakar di seluruh tubuhnya dan setengah wajahnya.
"Aku belum menguasainya! Semuanya akan hancur hanya dengan sekali serang! Bagaimana itu bisa menjadi kunci kita!?" Balas Izuru.
"Senjataku hanya bisa menahan ledakan ini dan setelah itu tidak ada lagi kesempatan untuk menyerang menggunakannya!"
"Aku juga akan memberikanmu sihir blessing! Dan setelah itu Mana ku akan habis!" Ucap Iona.
"Kalian memberikan tanggung jawab besar itu pada seseorang sepertiku?"
"Dengar! Bagian ujung tombak adalah bagian yang paling rapuh, tetapi juga yang paling berbahaya!" Ucap Kapten Azrael meyakinkan Izuru.
Izuru seketika terdiam mendengar kata-kata itu. Perlahan membangun rasa percaya diri walau tetap terdapat keraguan di dalam hati Izuru.
"Blessing! Aku serahkan padamu, Izuru!" Ucap Iona.
Tubuh Izuru yang awalnya terlihat sedikit kelelahan menjadi bertenaga. Ia lalu berkonsentrasi untuk menguatkan tombak ciptaannya.
__ADS_1
Nathasia yang berada di bawah masih memandang ke arah cahaya terang di atas. Sementara retakan di seluruh dinding dan lantai terus menjalar. Semua orang yang masih bertahan di area bawah mulai berlarian ke atas, karena lantai paling bawah sudah mulai berjatuhan dan meninggalkan lubang besar.
"Aku bisa merasakan energinya semakin dekat! Bersiaplah!" Ucap Kapten Azrael melesat melewati udara yang terbakar bersama dengan Izuru dan Iona.
Hanya dengan hitungan detik mereka keluar dari kobaran api, hal itu mengejutkan Nathasia. Nathasia dengan cepat menyerang mereka dengan sihir kegelapan yang sangat kuat. Kapten Azrael dengan tombak rapuhnya menahan sihir itu.
Suara kecil terdengar menjalar dengan cepat. Dan... Braakk! Tombak milik Kapten Azrael berubah menjadi kepingan besi berkilau di hadapannya. Izuru lalu muncul dari balik punggung Azrael, dengan membawa tombak yang bersinar terang.
"Untuk pertama kalinya, ini adalah saat aku mengerahkan segalanya demi bertahan hidup! Setelah segala kegagalan di masa lalu, aku harus berhasil kali ini, hanya untuk kali ini...!" Batin Izuru saat ingin menebaskan tombaknya ke arah Nathasia.
"AKU TIDAK AKAN BERHENTI, MESKI SEMUA PERSENDIANKU HANCUR SEKALI PUN! GYAAAAHHHGGGG....!!!"
Izuru menebas dengan kekuatan penuh bersama dengan teriakannya. Nathasia menangkis dengan kedua tangannya, walau ia tampak seperti kesulitan untuk menahannya dalam waktu yang lama.
"Sial, tenagaku mulai habis! Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" Batin Nathasia sambil menggertakkan giginya.
Tidak berlangsung lama sampai Tonbak Izuru retak dan kemudian hancur sebelum bisa memberikan luka serius pada Nathasia.
"Apa!? Hanya seperti itu? Benar-benar menyedihkan. Huh...!?" Nathasia tiba-tiba saja terdiam melihat tangan lain Izuru yang masih berada di atas membawa pedang besar.
Saat kedua tangan Nathasia patah, tubuhnya langsung terdorong kebawah sampai wajahnya membentur lantai dengan sangat keras. Bersama dengan itu pedang itu melepaskan energi yang lebih besar sampai bisa menghancurkan dinding tebal di sekitar sana.
"Arrrggggghhhh....!!! Di sudutkan oleh orang sepertimu...?!" Teriak Nathasia mengangkat wajahnya yang sudah setengah hancur itu.
Darah berceceran di lantai dan terlihat tubuh Nathasia sudah terbelah menjadi dua bagian. Izuru di sana berdiri dengan pandangannya kebawah, tangannya masih berada di atas membawa pedang besar. Ia lalu menjatuhkan pedangnya dan tepat sebelum mengenai lantai, pedang itu hancur.
Saat Izuru hampir jatuh karena kehabisan tenaga, Iona dan Kapten Azrael datang menangkapnya. Nathasia yang terbaring dengan darah mengalir keluar dari lukanya.
"Aku... Sudah cukup jauh..." Ucap Nathasia dengan suara yang pelan.
Semua menoleh ke arah Nathasia yang berbisik sembari merintih. Tubuhnya perlahan memucat dan darah berhenti mengalir keluar. Di saat sunyi itu hanya berlangsung sebentar, guncangan besar kembali terjadi tanpa henti.
__ADS_1
"kita harus pergi ke tempat aman!" Ucap Kapten Azrael.
Di tengah guncangan itu terdengar suara warga meminta tolong di sekitar sana.
"Anda pergilah. Aku akan membantu Izuru, kau pergi tolong yang lainnya!" Ucap Iona yang lalu merangkul Izuru.
Azrael pergi untuk menolong orang-orang yang masih berada di bawah. Di tengah bebatuan yang berjatuhan, Iona berjalan merangkul Izuru dengan perlahan. Sebuah kemenangan di raih dengan segala pengorbanan, semua berakhir di tengah kemegahan yang perlahan hancur menjadi tak bernilai lagi. Diskriminasi yang selalu ada di tengah perbedaan, kesombongan atas anugerah kalian, bahkan mereka yang tergerak hatinya tidak mampu melakukan apapun.
"Izuru, kau juga harus ikut menggerakan kakimu." Ucap Iona.
"Maaf... Aku tidak bisa merasakan kakiku sekarang." Jawab Izuru.
"Sepertinya aku harus memberimu sihir blessing lagi."
"Kenapa kau tidak coba sihir penyembuh?"
"Jangan meledekku. Aku tidak bisa melakukan sihir tingkat tinggi seperti itu."
"Kita mengobrol seakan semua baik-baik saja. Apakah mereka berhasil memperbaiki inti Fhsyle ini?" Tanya Izuru dalam hati.
Di ruangan lain yang tampak sangat berdebu, Lauren dan Gabriel berdiri berseberangan. Profesor Jawberg berada di antara mereka, tengah memperhatikan sebuah kristal yang bersinar redup, dan perlahan tidak ada lagi cahaya yang tersisa.
Dengan tatapan kosong Profesor Jawberg berkata. "Tidak ada yang bisa di lakukan."
"Apa...? Apa maksud anda?" Tanya Gabriel dengan ekspresi terkejut.
Profesor Jawberg bangun, lalu berbalik ke arah Lauren dan Gabriel yang berada di belakangnya. Bersama dengan menghilangnya seluruh cahaya yang menerangi ruangan itu.
"Semuanya... Telah berakhir. Aku tidak bisa menyelamatkan rumah kalian."
"Maafkan aku." Ucap Profesor Jawberg dengan kedua matanya memantulkan wajah Lauren dan Gabriel.
__ADS_1
150 detik sebelum Fhsyle membentur tanah. Pemberhentian terakhir adalah Hutan Pegunungan Utara.
Bersambung...