
Beberapa menit telah berlalu bahkan Alfaro sudah keluar meninggalkan loby hotel untuk mencari keberadaan Simi, namun Simi masih saja di tempat nya dan dengan wajah yang sama, wajah yang sangat kecewa dengan apa yang di alami nya barusan.
Ya Alfaro tidak menemukan Simi di sana karena saat Alfaro mendekati tempat Simi, Simi langsung bergerak ke sisi pilar yang lain nya sehingga Alfaro tidak bisa menemukan keberadaan nya.
Lama Simi termenung di balik pilar itu dengan tatapan kosong nya, dalam kepala nya terus berputar kejadian tadi saat dia melihat Alfaro yang memeluk gadis itu dengan wajah yang terlihat bahagia. Simi juga teringat setiap perlakuan manis Alfaro selama mereka menjalin hubungan yang di paksakan Alfaro kepada nya. Sungguh semua itu membuat kepala Simi sakit dan pusing karena memikirkan nya.
" Aish, lebih baik aku kembali ke kamar dan tidur. Kalau aku terus memikirkan nya, aku bisa jadi gila" Simi mengacak rambut nya frustasi. " Semoga saja setelah aku bangun tidur aku akan melupakan semua nya" gumam Simi seraya melangkahkan kaki nya kembali menuju kamar nya.
Tak lama Simi pun tiba di kamar tempat nya akan menginap, Simi pun dengan langkah gontai nya memasuki kamar yang masih tampak gelap itu dengan malas. Perlahan Simi langsung masuk ke dalam kamar itu tanpa menyalakan lampu yang ada di sana, Simi fikir akan langsung tidur saja karena hari juga sudah mulai gelap.
Simi yang sangat merasa lelah pun langsung merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur nya, Simi yang memang terbiasa memeluk boneka nya kalau sedang tidur tampak meraba - raba ke arah samping nya untuk mencari guling agar dia bisa memeluk nya. Setelah di rasa dia menemukan nya. Simi pun menarik nya untuk dia peluk, tapi tunggu kenapa ada yang aneh dengan guling itu ya?
" Kenapa guling ini berat sekali?" Gumam Simi seraya tangan nya menarik kain yang dia yakini adalah bungkus guling yang ada di atas tempat tidur nya.
Simi yang tidak mau ambil pusing pun langsung mendekati guling itu dan langsung memeluk nya. " Hangat, guling ini nyaman sekali" gumam Simi lagi seraya mendusel - dusel kan wajah nya pada guling yang kini sedang dia peluk. " Mungkin ini beda nya guling Indonesia dan guling Singapura, guling di sini sangat hangat dan nyaman" Simi terkikik geli sendiri saat mengatakan nya.
Tak lama Simi pun terlelap karena rasa nyaman yang dia rasakan dari benda yang sedang dia peluk saat ini. Benda yang dia fikir itu adalah guling Singapura yang super nyaman.
Beberapa jam telah berlalu, Simi yang merasakan ada yang berat menindih area perut nya pun merasa terganggu dan membuka mata nya. Gelap, itu yang di lihat Simi saat ini karena lampu kamar itu tidak di nyalakan oleh Simi tadi. Hanya cahaya rembulan dan lampu dari luar kamar hotel nya saja yang terlihat masuk dari celah gorden kamar yang terpasang di sana. Simi pun meraba bagian perut nya yang terasa berat itu dan dia menemukan sesuatu yang terasa keras melingkar dengan sempurna di atas perut nya.
__ADS_1
" Apa ini?" Simi sangat kaget dan takut saat menyadari ada sesuatu yang melingkar di tubuh nya dan langsung menyingkirkan dengan cara menghempaskan nya dengan sangat keras " Aaakh!" Simi menjerit seraya turun dari tempat tidur nya dan menjauh dari sana.
" Ada apa? Apa yang terjadi?" Terdengar suara yang tidak asing di telinga Simi dari arah tempat tidur nya. Simi yang merasa penasaran pun langsung meraba saklar lampu yang ada di sana dan menyalakan nya.
Trek
Lampu pun mulai menyala dan Simi pun mengerjapkan mata nya beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk pada mata nya dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
Mata Simi langsung membola dengan sempurna saat melihat seseoarang yang ada di atas tempat tidur nya. Seorang pria yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana panjang nya saja tampak menggulung diri nya sendiri dengan selimut milik Simi.
" Aaaakh" Simi kembali berteriak dengan kencang seraya menutup mata nya dengan tangan nya. " Apa yang sedang om lakukan di kamar ku?" Simi masih berteriak.
Ya, yang ada di kamar itu adalah Alfaro. Alfaro yang menunggu kedatangan Simi di kamar yang di tempati Simi itu malah ketiduran saat menunggu, mungkin karena dia merasa kelelahan setelah perjalanan yang cukup jauh dari Jakarta ke Singapura. Apa lagi Alfaro merebahkan dan membungkus tubuh nya sendiri dengan selimut saat di kamar Simi membuat tubuh nya semakin nyaman saja untuk terlelap.
Alfaro yang mengejar Simi ke luar hotel tiba - tiba mengurungkan niat nya saat dia berfikir kalau lebih baik menunggu nya di kamar yang di tempati gadis nya itu saja dari pada mencari tak tentu arah, bagaimana pun Simi baru datang ke negara ini dan tidak tahu jalan di sini jadi Alfaro berfikir mungkin Simi tidak akan jauh - jauh dari hotel tempat mereka menginap dan akan kembali ke kamar nya kalau sudah merasa lelah. Jadi Alfaro pergi ke meja receptionis dan meminta kunci cadangan kamar yang di tempat Simi tadi.
" Apa yang sedang om lakukan di kamar ku?" Simi masih menutup mata nya.
" Tentu saja menunggu mu, tapi seperti nya aku ketiduran sampai - sampai tidak tahu saat kamu datang" jawab Alfaro dengan santai nya. " Kenapa kamu menutup mata mu hem?" Alfaro mengerutkan kening nya.
__ADS_1
" Pakai baju om! Itu sungguh sangat memalukan tahu?" Simi masih dalam posisi yang sama.
" Ish, ini baru baju yang aku buka. Bagaimana kalau aku buka yang lain nya? Bukankah kamu harus terbiasa setelah kita menikah nanti" Alfaro terkekeh saat mengatakan nya. Alfaro perlahan turun dari atas tempat tidur dan menghampiri Simi yang masih menutup mata nya.
" Siapa yang mau menikah dengan mu, menikah saja sana sama cewek yang tadi" Simi mendengus kesal.
" Apa kamu cemburu" Alfaro berbisik tepat pada telinga Simi seraya menurunkan ke dua tangan Simi yang sedang menutupi mata nya sendiri.
Tubuh Simi menegang seketika dengan detak jantung yang berdetak sangat cepat di sertai wajah yang sudah sangat merona saat wajah Alfaro sudah berada tepat di depan mata nya.
" Si siapa yang cemburu?" Simi memalingkan wajah nya dari Alfaro. " Lagi pula aku tidak perduli kalau om mau berpelukan kek mau berciuman kek" bohong Simi dengan nada yang sudah terdengar emosi.
" Kata nya tidak perduli, tapi kenapa nada bicara mu seperti orang ngambek begitu hem?" Alfaro malah menggoda Simi.
" Cih, siapa juga yang ngambek" Simi masih tidak mau melihat wajah Alfaro.
" Lihat aku!" Alfaro memegang dagu Simi dan menggerakan nya agar Simi mau melihat nya. Simi pun menurut dan kini mata mereka saling bersirobok dengan jarak yang lumayan dekat.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1