
Keharuan masih terjadi di antara mereka semua, Celin yang belum mengetahui apa - apa karena sejak tadi sibuk menyambut para tamu yang datang bersama Denis pun tampak menghampiri keluarga nya dengan dahi yang mengkerut karena melihat mama dan tante nya sedang menangis sambil saling berpelukan. Dan Celin tidak tahu apa sebab nya, apa lagi kini tante Dena nya tampak sedang memeluk Yemi sambil terisak juga.
" Ada apa ini? Kenapa semua nya menangis?" Celin tampak panik.
" Celin, maafkan kami di hari bahagia mu kami malah menangis" Cecil menarik tangan Celin dengan lembut seraya menghapus air mata yang sedari tadi mengalir dari mata nya.
" Apa yang terjadi ma? Kenapa kalian menangis?" Celin terlihat bingung begitu pun Denis yang ada di belakang nya.
" Kamu ingat tante Dinda sayang?" Cecil bertanya dengan lembut. Ya Celin sedikit banyak mengenal Dinda karena Celin sudah remaja saat Dinda pergi dan menikah dengan Davin, tidak seperti Devan yang tidak mengingat nya karena dia masih sangat kecil saat Dinda pergi dari rumah
" Ya, aku ingat. Apa tante Dinda datang ke sini?" Celin tampak mengembangkan senyum nya. Dia senang bila itu terjadi berarti keluarga mereka akan kembali utuh.
" Tante Dinda ternyata ibu nya Yemi sayang" Cecil tampak muai berkaca - kaca kembali.
" Apa? Tapi, tapi ibu dan ayah Yemi sudah meninggal. Apa maksud mama, tante Dinda sudah meninggal?" Celin tampak menutup mulut nya sendiri dengan wajah yang tampak syok. " Tidak mungkin!" Celin menggeleng - gelengkan kepala nya dengan tubuh yang mulai lemas dan limbung. Untung saja Denis dengan sigap menahan tubuh istri nya itu.
" Tante Dinda Den" Celin malah terisak dalam pelukan suami nya. Dan Denis hanya bisa mengusap kepala dan punggung Celin untuk menenangkan nya.
" Kamu yang sabar ya sayang" bisik Denis tepat di telinga Celin yang masih terisak dalam pelukan nya.
Sungguh Celin sangat terpukul saat menerima kenyataan ini, karena sampai detik ini Celin sudah berusaha untuk menemukan tante nya itu. Namun Celin juga merutuki kebodohan nya karena sampai tidak pernah bertemu dengan Dinda selama ini padahal Dinda berada dekat dengan nya. Ternyata tante nya adalah orang yang selalu di ceritakan dan di kagumi sahabat nya Kenzi selama ini.
" Jadi Yemi adalah adik sepupuku?" Devan berkata setelah semua nya mulai tenang dan isakan dari bibir mereka sudah berhenti.
Kini mereka duduk di satu meja dan pesta pernikahan sudah selesai beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
" Ya, bapak benar. Aku senang ternyata aku tidak hidup sebatang kara" Yemi tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya yang putih pada semua nya.
" Aku tidak menyangka punya saudara senakal dan sebar - bar diri mu" Devan berkata dengan nada mengejek nya.
" Hey, yang kamu bilang bar - bar itu adalah istri ku!" Kenzi menatap tajam pada Devan seraya tangan nya tak lepas merangkul tubuh mungil Yemi.
" Ya, semua orang juga tahu tanpa kamu mengatakan nya beberapa kali" Devan mendengus kesal.
" Ish, sudahlah kalian berdua hentikan itu. Yang pasti aku senang mempunyai saudara perempuan yang manis seperti mu" Celin menarik Yemi agar menjauh dari Kenzi dan memeluk wanita hamil itu dengan senyum bahagia mengembang di bibir nya.
" Aku juga senang punya saudara seperti kak Celin" Yemi pun tak kalah bahagia.
" Mulai sekarang, kalau kamu terkena masalah datang lah pada kami. Kita adalah keluarga" Ivan tampak berbicara serius.
" Ya, kita keluarga" Yemi sangat bahagia setiap kali mengucapkan dan mendengar kata keluarga. Karena yang dia tahu bahwa diri nya hidup sebatang kara setelah kepergian ke dua orang tua nya dan hanya Kenzi lah yang dia miliki di dunia ini, tapi sekarang dia tidak sendiri lagi dan ternyata mempunyai keluarga yang sangat baik dan ramah. Dan yang terpenting mereka sangat menyayangi diri nya.
Yemi dan Kenzi yang memang tidak menyiapkan apa pun untuk menginap di sana, akhir nya memesan pakaian yang di jual di toko baju yang ada di lobi hotel itu. Untung saja hotel itu sangat besar dan fasilitas nya lengkap sehingga mereka mudah mendapatkan apa pun yang mereka butuh kan di sana.
" Akhir nya kita jadi nginep di sini ya uncle" Yemi merebahkan tubuh nya yang lumayan lelah setelah yang dia lewati hari ini pada tangan Kenzi yang sudah bersiap menjadi bantal kepala nya.
" Ya sayang, sudah terlalu larut untuk kita pulang ke apartemen" Kenzi mendekap tubuh mungil Yemi. Dan Yemi pun dengan senang hati masuk ke dalam dekapan suami nya itu.
" Sayang, kita belum pernah lo, ngelakuin itu di kamar hotel kayak gini" Kenzi berkata seraya tangan nya sudah mulai nakal menelusup masuk pada baju tidur yang di kenakan Yemi saat ini dan langsung memegang benda kenyal yang selalu menjadi favorit nya.
" Uncle, aku sangat lelah" Yemi merengek manja.
__ADS_1
" Kamu cukup diam dan aku yang bekerja kalau kamu lelah" Kenzi mengerlingkan mata nya membuat Yemi memutar bola mata nya malas.
" Ish, uncle ini menyuruh ku diam dan uncle yang bekerja. Tapi tetap saja aku juga kelelahan karena harus mendesah nik mat saat uncle bekerja" ucap Yemi seraya mengerucutkan bibir nya.
" Tidak apa - apa yang penting kamu menik mati nya kan?" Kenzi terkekeh saat mendengar apa yang di katakan oleh istri kecil nya itu.
Tak menunggu lama Kenzi pun langsung menautkan bibir nya dan bibir istri kecil nya itu dengan tangan nya yang masih setia memain kan mainan favorit nya. Tangan Kenzi perlahan meremas dan memainkan ujung berwarna merah muda itu dengan jari - jari nya membuat tubuh Yemi menggelinjang tak karuan.
Perlahan Kenzi membuka baju tidur Yemi dan membuang nya ke sembarang arah, sehingga tubuh Yemi kini hanya tertutup oleh kain segi tiga yang menutupi bagian bawah nya.
Bibir Kenzi perlahan turun dari bibir Yemi menuju leher Yemi dan sedikit meninggalkan jejak kepemilikan nya di sana.
" Aaahk" de sahan demi de sahan terdengar merdu di lantunkan bibir Yemi yang terdengar oleh Kenzi membuat Kenzi semakin bersemangat untuk melakukan hal yang lebih.
Puas menyesap leher jenjang Yemi, kini bibir Kenzi turun pada dua gundukan favorit nya dan mulai menyesap dan menggelitik ujung berwarna merah muda itu dengan lidah nya sehingga membuat Yemi kembali menggelinjang dan mengeluarkan suara de sahan nya. Tangan Kenzi pun kini sudah mulai bermain di bawah sana, entah sejak kapan kain penutup itu pun sudah menghilang entah ke mana. Tangan Kenzi terus bermain dengan lincah nya dengan jari yang keluar masuk dengan sesuka hati nya di bawah sana sampai Yemi akhir nya sampai pada puncak nya.
" Aku akan memasukan nya sekarang!" Kenzi pun dengan sangat bersemangat melepaskan pakaian nya sampai keadaan nya dan Yemi sama - sama polos saat ini. Yemi tidak berkata apa - apa hanya mengangguk pasrah dengan wajah yang sudah di penuhi kabut gai rah.
Kenzi pun langsung menautkan kembali bibir mereka dan mulai memasukan belut albino milik nya pada milik Yemi, perlahan tapi pasti dengan beberapa kali hentakan akhir nya sang belut albino berhasil masuk pada sarang nya.
Dan benar saja Yemi harus kembali merasa kelelahan karena harus mende sah nik mat setiap kali Kenzi melakukan pekerjaan nya.
Di malam itu suara de sahan dan era ngan kembali terdengar bersahutan menemani malam mereka di sebuah kamar hotel yang mereka sewa.
**Hujan dan dingin, autor kasih yang bikin hareudang sedikit. Selamat membaca 😘😘
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini.Terima kasih 🙏🙏**