
Simi dan Alfaro masih dalam posisi mereka saat tadi, masih saling tatap dan saling menyelami mata satu sama lain.
" Ish, om ini apa - apaan sih?" Simi mendorong dengan cukup keras tubuh Alfaro yang sedang mengungkung nya saat ini sesaat setelah dia menyadari keadaan mereka saat ini. Setelah Alfaro bergeser karena dorongan Simi, Simi pun langsung memanfaatkan nya untuk menjauh dari Alfaro saat ini.
" Jangan lari, aku akan menjelaskan semua nya pada mu!" Alfaro merasa lelah karena setiap kali diri nya mendekati Simi maka saat itu Simi akan pergi menjauhi nya. Simi terus saja menghindari Alfaro dengan terus melangkahkan kaki nya memutari seluruh ruangan kamar hotel yang kini sedang di tempati oleh mereka.
" Aku tidak mau mendengar penjelasan mu! Dasar om mesum menyebalkan!" Simi masih terus melangkah begitu pun Alfaro yang mengikuti nya.
" Tapi kau harus mendengar nya, jadi berhentilah bergerak dan diam duduk di sini!" Alfaro yang sudah lelah pun mendudukan diri nya di tepi tempat tidur.
" Kalau begitu katakan lah! Aku akan mendengarkan nya." Simi melipat ke dua tangan nya di atas dada nya seraya menatap Alfaro dari jarak yang cukup jauh dari nya.
" Baiklah, dengarkan aku! Jadi yang tadi kamu lihat adalah Anaya, dia adik kandung ku satu - satu nya. Seperti nya dia langsung datang ke sini setelah mendengar kedatangan kita hari ini" jelas Alfaro dengan gaya datar nya.
" Adik? Ish, memang nya aku akan percaya begitu saja pada mu?" Simi mendengus kesal.
" Dia memang adiku, kalau kamu tidak percaya kita bisa menemui nya sekarang!" Alfaro melangkah mendekati Simi yang kini sedang berdiri cukup jauh dari tempat nya duduk sekarang.
" Cih ini sudah malam dan dia pasti sudah tidur, lagi pula aku tidak mau pergi ke rumah mu malam - malam begini" Simi berkata dengan ketus.
__ADS_1
" Kita hanya perlu ke kamar ku, Anaya tadi menunggu ku di sana. Dan kalau tidak salah, jam segini dia masih menonton drakor kesukaan nya" Alfaro melihat jam yang melingkar pada tangan nya dan waktu menunjukan pukul sepuluh malam. " Ayo!" Alfaro pun menarik tangan Simi saat dia sudah berada tepat di depan nya.
" Tunggu - tunggu, apa om akan keluar seperti ini?" Simi menunjuk penampilan Alfaro saat ini. Alfaro yang kurang mengerti akan maksud gadis yang ada di hadapan nya itu pun langsung melihat tubuh nya sendiri.
" Ah pantas saja dari tadi aku merasa kedinginan" batin Alfaro saat melihat tubuh nya yang sedang tidak memakai baju nya. " Kenapa dengan penampilanku hem? Kita hanya pergi ke kamar sebelah saja" Alfaro menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal seraya berkata dengan gaya sesantai mungkin untuk menutupi ke bodohan nya.
" Jadi om ingin berpenampilan seperti itu dan membiarkan gadis itu melihat tubuh om begitu?" Simi memutar bola mata nya malas. " Kalau begitu, aku tidak mau pergi!" Simi mendengus kesal. Enak saja Alfaro ingin keluar dengan seperti itu, Simi tidak ingin orang lain apa lagi wanita ikut menikmati roti sobek milik kekasih nya itu. Apa lagi mereka akan menemui gadis tadi yang kata nya adik kandung dari Alfaro, namun Simi masih meragukan hal itu.
" Baiklah, aku akan memakai bajuku! Kamu tunggu di sini!" Alfaro pun melangkahkan kaki nya .
" Aku akan menunggu om, tenang saja. Lagi pula aku akan pergi ke mana?" Simi memutar bola mata nya malas sedangkan Alfaro yang sudah sampai di dekat tempat tidur langsung menyambar kemeja milik nya dan langsung memakai nya.
" Sekarang sudah bisa kan? Ayo kita pergi!" Alfaro pun langsung memegang tangan Simi dan menarik nya keluar dari dalam kamar Simi menuju ke kamar nya sendiri. Alfaro dengan mudah nya masuk ke sana karena kamar itu tidak di kunci oleh Anaya.
Anaya tersenyum senang melihat Alfaro yang sudah datang dengan membawa calon kakak ipar nya, namun Anaya merasa aneh saat melihat wajah masam yang di tunjukan oleh calon kakak ipar nya. " Seperti nya kakak ipar ku itu masih cemburu pada ku" batin Anaya tersenyum menyeringai menatap kakak nya dan calon kakak ipar nya.
" Sayang, kamu sudah datang? Kenapa kamu lama sekali, apa kamu tidak tahu aku sangat merindukan mu?" Anaya menunjukan sikap manja nya seraya menghampiri Alfaro dan langsung bergelayut manja pada tangan Alfaro yang satu nya lagi.
Alfaro dan Simi sama - sama membulatkan ke dua bola mata mereka dengan eksfresi yang berbeda.
__ADS_1
" Anaya, apa yang kamu katakan ha?" Alfaro terlihat sangat panik sedangkan Simi sudah muncul ke dua tanduk di atas kepala nya. Kilatan api amarah juga sudah tergambar pada ke dua bola mata nya menatap nyalang pada pria yang kini masih menggenggam tangan nya dengan erat walau Simi sudah memberontak sedari tadi.
" Apa maksud mu sayang? Aku hanya mengatakan isi hatiku saja" Anaya merengek manja. " Oh ya, bukankah kamu gadis yang tadi?" Anaya menatap Simi dengan wajah tanpa dosa nya.
" Ya, maaf karena sudah mengganggu waktu berdua kalian" Simi berusaha sesantai mungkin.
" Ah ya, tidak apa - apa. Oh ya, apa hubungan mu dengan sayang ku?" Anaya masih bersikap sok polos di hadapan mereka berdua.
" Anaya!" Alfaro sudah melayangkan tatapan tajam nya pada Anaya namun Anaya bersikap seolah tidak perduli.
" Ssstt, sayang ku diam dulu ya!" Anaya meletakan telunjuk nya pada bibir Alfaro membuat Alfaro semakin geram saja bahkan sepasang tanduk sudah tumbuh di kepala nya kalau kalian bisa melihat nya saat ini.
" Kamu tenang saja , aku dan om ini tidak ada hubungan apa - apa. Jadi kamu bawa pergi sayang mu ini jauh - jauh!" Simi mendorong tubuh Alfaro ke arah Anaya, namun tangan Alfaro masih tidak mau lepas dari tangan Simi sekarang. " Sekarang lepaskan aku, kamu pergi sana bersama dengan sayang mu yang cantik itu!" Simi berusaha melepaskan tautan tangan nya dengan tangan Alfaro yang malah semakin kencang setiap kali Simi berusaha melepaskan nya.
" Apa maksud mu, sayang ku hanya dirimu" Alfaro tampak panik
" Cih, aku tidak akan percaya lagi pada mu! Sekarang lepaskan aku!" Simi menatap nyalang pada Alfaro dengan mata yang sudah mulai berkaca - kaca. Sedangkan Anaya tampak mengulum senyum nya melihat pasangan yang ada di hadapan nya.
" Aku tidak akan melepaskan nya" Alfaro masih keukeuh.
__ADS_1
" Ha ha ha" tiba - tiba terdengar suara tawa yang pecah dari arah samping Alfaro membuat Simi menatap dengan dahi yang mengkerut sedangkan Alfaro memutar bola mata nya malas dengan nafas lega nya karena dia tahu bahwa peemainan adik nya sudah berakhir saat ini. Alfaro tidak bisa membayangkan bagaimana dia harus menghadapi Simi karena ulah jail adik nya itu.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏