
Dira kini menatap heran pada bos tampan nya itu saat melihat Devan memasang badan nya hanya untuk membela seorang pelayan kafe saja.
" Maaf pak, tapi kenapa bapak membela nya padahal tadi dia sudah mengganggu bapak dengan memaksa bapak untuk memesan kembali" Dira menatap tak suka pada Mia yang ada di belakang Devan saat ini.
" Siapa yang menyuruh mu menyakiti nya ha?" Devan berbicara dengan nada tinggi nya membuat Dira menunduk ketakutan.
" Sa saya hanya ingin_ " belum sempat Dira melanjutkan kata - kata nya Devan sudah memotong nya.
" Sudah lah, kamu sekarang kembali ke kantor saja" Devan mengibaskan tangan nya mengusir Dira. " Dan ingat dengan baik wajah ini, jangan sampai kamu bersikap kurang ajar pada nya ingat itu!" Tambah Devan lagi.
" Ba baik pak" Dira pun berlalu dari sana dengan wajah bingung nya. " Sebenar nya siapa pelayan itu sampai pak Devan membela nya seperti itu" gumam Dira seraya melangkah keluar dengan perasaan kesal nya.
Mia tampak tersenyum penuh kemenangan menatap punggung Dira yang keluar dengan perasaan kesal nya. Sampai sepersekian detik kemudian suara seseorang menghilangkan senyum di bibir nya.
" Ekhem, sekarang katakan pada ku! Apa yang kamu lakukan di sini ha?" Devan menatap Mia dengan tatapan intimidasi seraya melipat ke dua tangan nya pada dada nya.
" Mampus, bagaimana aku bisa lupa kalau pak Devan tidak tahu kalau aku bekerja di sini" batin Mia merutuki kebodohan nya sendiri.
" Kenapa kamu diam ha? Cepat katakan!" Devan kembali mengulang perkataan nya dengan suara yang sedikit di tekan seraya diri nya mendudukan diri nya kembali di atas kursi yang tadi dia duduki karena tidak mau menjadi pusat perhatian para pengunjung di sana yang saat ini sedang melihat ke arah mereka.
" Aku bekerja di sini pak" Mia akhir nya mengatakan yang sebenar nya.
" Bagus , bagus" Devan menepukan tangan nya dengan senyum sinis tercetak di bibir nya. " Katakan! Kenapa kamu tidak mengatakan nya pada ku? Bukan kah aku calon suami mu yang berhak tahu apa yang di lakukan oleh calon istri nya. Katakan apa sebegitu tidak berarti nya aku di mata mu?" Devan tersenyum miris menatap Mia yang berdiri di samping nya dengan wajah yang menunduk.
__ADS_1
" Kenapa bapak berkata seperti itu? Aku hanya bosan berdiam diri di rumah dan aku takut bapak tidak mengizinkan ku kalau aku berbicara tentang hal ini pada bapak" Mia mendudukan tubuh nya di atas kursi yang ada di samping Devan. Mia tidak menyangka kalau calon suami nya itu akan berkata seperti itu.
" Baiklah, sekarang katakan sudah berapa lama kamu bekerja di sini dan mau sampai kapan kamu bekerja di sini?" Devan tidak mengerti dengan apa yang di fikirkan oleh calon istri nya itu. Devan bahkan sudah memberikan salah satu kartu ATM milik nya namun tidak ada tanda - tanda Mia menggunakan kartu itu selama kartu itu berada di tangan gadis itu dan ternyata Mia malam memilih untuk bekerja jadi seorang pelayan di kafe itu.
" Aku" Mia terlihat ragu
" Mia di sini membantu saya sampai dia menikah dengan bapak, setelah itu Mia akan berhenti bekerja dari sini" Dika tampak menghampiri Mia dan Devan yang sedang berbicara serius
" Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" Devan tampak mengerutkan kening nya menatap seorang pria yang dia sangat tahu persis siapa itu. Sahabat pria dari calon istri nya yang sering membuat nya marah karena pria itu sering seenak nya memegang tangan atau merangkul pundak calon istri nya itu.
" Saya pemilik kafe ini pak, dan Mia membantu saya di sini. Tapi bapak tenang saja, Mia saya bayar kok" Dika terkekeh saat mengatakan nya.
" Ish, aku tidak peduli itu. Sekarang aku hanya ingin Mia berhenti bekerja sekarang juga!" Devan berkata dengan nada tidak ingin di bantah. " Aku tidak bisa membiarkan Mia terus berada di dekat si kunyuk ini" batin Devan menatap tak suka pada Dika.
" Kamu kan bisa main ke perusahaan ku atau main ke rumah Yemi, dia juga sendirian kan di apartemen nya karena kak Kenzi juga bekerja" jawab Devan dengan santai nya.
" Ish, mana mungkin setiap hari aku pergi ke perusahaan bapak. Memang nya aku karyawan di sana apa?" Mia mendengus kesal.
" Ide bagus, mulai besok kamu bekerja sebagai asisten pribadi ku! Dengan begitu kamu tidak akan bosan dan aku tidak akan cemas memikirkan mu yang selalu berdekatan dengan si kunyuk ini" Devan menunjuk Dika dengan senyum mengejek nya.
" Apa tadi dia bilang, seenak nya saja aku yang tampan ini di sebut kunyuk oleh guru BK ini" batin Dika mendengus kesal. Sedangkan Mia tampak tidak percaya akan apa yang dia dengar barusan dari mulut calon suami nya itu. Bisa - bisa nya dia dengan mudah nya menyuruh nya bekerja di perusahaan nya.
" Ish, lagian apa yang akan aku lakukan dengan Dika pak? Apa bapak takut aku berselingkuh dengan nya begitu?" Mia memutar bola mata nya malas.
__ADS_1
" Memang kamu bisa menjamin, kalau kamu dan dia tidak akan melakukan nya?" Devan tak mau kalah.
" Ish, bapak tidak perlu khawatir. Aku tidak menyukai tipe gadis seperti Mia dan Yemi, jadi bapak tenang saja" Dika tampak berkata dengan percaya diri.
" Aish, apa yang kamu katakan huh?" Satu jitakan mendarat di kepala Dika dari Mia.
" Aw, kenapa kau memukul kepala ku? Aku bisa bodoh kalau terus seperti ini, tidak kau, tidak Yemi sama saja. Sama - sama suka kdrt pada ku" Dika mengerucutkan bibir nya.
" Tadi kau bilang tipe seperti ku dan Yemi, maksudmu tipe seperti apa huh?"
" Tipe penyuka pria tua, kalian sama - sama menikah dengan pria yang jauh lebih tua dari kalian" jawab Dika dengan nada mengejek nya sehingga satu jitakan kembali melayang pada kepala nya.
Pletak
Kali ini terasa lebih sakit karena itu bukan dari tangan Mia melainkan tangan Devan.
" Apa kamu bilang? Aku bukan tua, aku hanya sedikit lebih dewasa dari Mia" Devan mendengus kesal dengan mata yang menatap tajam pada Dika.
" Aw, bapak ini kenapa ikut memukul kepala ku?" Dika mengusap kepala nya yang terasa panas. " Ya, aku setuju bapak lebih dewasa dari Mia tapi kalau sedikit, aku tidak setuju. Bapak hitung saja sendiri 30 di kurangi 18 itu berarti 12 pak. Itu lumayan banyak" Dika mendengus kesal.
" Kau!" Devan hendak kembali menjitak kepala Dika namun Mia menghentikan nya.
" Sudah - sudah, hentikan! Kenapa kalian jadi membahas usia sih?" Mia menggelengkan kepala nya menatap Dika dan Devan secara bergantian.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏