
" Kenapa kamu tertawa?" Simi mengerutkan kening nya menatap Anaya dengan penuh tanda tanya.
" Maaf, aku hanya merasa lucu saja" Anaya berusaha menghentikan tawa nya seraya menyeka air mata yang ke luar dari sudut mata nya karena terlalu banyak tertawa. " Kamu tahu? Baru kali ini aku melihat wajah datar kak Alfa sepanik itu saat melihat mu marah" Anaya kembali tertawa.
" Aku seperti ini juga karena ulah mu!" Alfaro mendengus kesal.
" Anggap saja ini balasan karena kakak tidak memberikan kabar kedatangan kalian ke sini" Anaya tersenyum penuh kemenangan.
" Cih, tapi kau hampir saja membuat ku kehilangan calon istri ku dua kali hari ini" Alfaro menatap tajam pada Anaya, namun yang di tatap hanya nyengir kuda dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
" Tunggu - tunggu, jadi kamu benar adik om Alfa? Dan tadi kamu hanya mengerjai kami?" Simi menggeleng - gelengkan kepala nya menatap kakak beradik itu secara bergantian.
" Maafkan aku kakak ipar!" Anaya menyatukan ke dua tangan nya di hadapan simi. " Aku hanya ingin sedikit memberi pelajaran pada pria muka datar ini" Anaya teekekeh seraya tangan nya menunjuk pada wajah Alfaro yang masih menunjukan wajah kesal nya.
" Ish, aku setuju kamu mengerjai om ini. Tapi aku tidak suka karena kamu juga membuat ku kesal" Simi mengerucutkan bibir nya.
" Kau kesal karena kamu sangat mencitai kakak muka datar ku ini iya kan?" Anaya tersenyum menggoda pada Simi membuat wajah Simi merona seketika. " Tapi tunggu, kamu memanggil kakak ku apa? Om?" Anaya mengulum senyum di bibir nya.
" Ish, mana ada" Elak Simi seraya memalingkan wajah nya dengan salah tingkah. " Ya aku memanggil nya om kenapa, apa itu aneh?" Simi menaikan alis nya sebelah.
" Kalau kamu tidak benar - benar mencintai kak Alfa, tidak mungkin kamu akan sekesal itu kan? Dan mengenai panggilan mu, tentu saja itu aneh. Seharus nya panggilan antar kekasih itu sayang, honey, cinta atau apa lah, tapi kamu memanggil nya om. Itu sangat lucu" Anaya terkekeh saat mengatakan nya.
" Kamu benar, Simi memang sangat mencintai ku. Begitupun sebalik nya, aku sangat mencintai nya" Alfaro merangkul pundak Simi dengan mesra. " Dan mengenai panggilan om itu, itu adalah panggilan kesayangan Simi kepada ku" Alfaro berkata ponggah.
__ADS_1
" Cih, apa perlu kakak memamerkan kemesraan kalian di depanku" Anaya mendengus kesal.
" Makan nya cepat cari pacar sana!" Alfaro berkata dengan santai nya. " Eh tunggu, aku salah bicara. Kamu tidak boleh pacaran dulu sebelum menyelesaikan kuliah mu!" Alfaro berkata dengan nada yang tidak mau di bantah.
" Ish, bagaimana bisa aku mendapatkan pacar kalau kakak, mommy dan daddy melarangku" Anaya menberengut kesal.
" Oh ya kakak ipar, apa aku bisa tidur dengan mu malam ini? Aku malas pulang ke rumah malam ini" Anaya merengek manja seraya memegang tangan Simi dan menggoyangkan nya.
" Tentu saja boleh" Simi tersenyum manis begitu pun Anaya yang tersenyum senang.
Pada akhir nya malam itu Anaya dan Simi tidur bersama di kamar yang di tempati Simi saat ini sedangkan Alfaro di kamar nya sendiri.
Keesokan pagi nya semua nya berkumpul di lantai bawah untuk sarapan bersama. Anaya yang baru pertama kali bertemu dengan Yemi dan yang lain nya pun tampak mudah berbaur dengan yang lain nya karena sifat ceria dan fleksibel nya.
" Tentu saja, kak Alfa itu dingin seperti es balok, wajah nya juga datar. Aku tidak mau meniru nya, sungguh membosankan" Anaya terkekeh saat mengatakan nya.
" Anaya, aku bisa mendengar ucapan mu" Alfaro memutar bola mata nya malas. Adik nya itu memang seperti itu bila bersama dengan orang yang sudah membuat nya merasa nyaman. Anaya memang sangat membanggakan kakak nya itu, tapi dia juga tidak jarang mengejek sifat datar kakak nya itu.
" Aku tadi nya berfikir kalau adik kak Alfa juga akan berwajah serius seperti itu, tapi ternyata kamu sangat menyenangkan" Yemi ikut terkekeh.
" Ish, aku iri pada kalian. Kalian masih seumuran dengan ku tapi kalian sudah mendapatkan pasangan kalian masing - masing, sedangkan aku punya teman pria saja tidak punya" Anaya mengerucutkan bibir nya.
" Tenang saja, nanti aku akan mengenalkan mu pada teman ku. Aku punya banyak teman pria di kampus" Simi berbisik pada Anaya seraya terkikik geli.
__ADS_1
" Kamu yang terbaik kakak ipar" Anaya ikut berbisik seraya mengacungkan jempol nya pada Simi.
" Aku bisa mendengar nya sayang, awas saja kalau kalian macam - macam" Alfaro menatap tajam pada ke dua nya.
" Cih, kak Alfa tidak seru" Anaya mengerucutkan bibir nya sedangkan Yemi, Mia, dan Simi tampak terkekeh melihat Anaya. Kenzi dan Devan hanya mendengarkan saja ocehan para istri nya dengan teman - teman sebaya nya. Maklum saja ke dua pria itu sudah lumayan matang dan tidak begitu mengerti dengan urusan para gadis muda itu.
Setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka, seperti rencana awal Alfaro akan mengajak Simi menemui keluarga nya untuk meminta restu hubungan mereka sedangkan Devan dan Mia memutuskan untuk pergi jalan - jalan berkeliling kota itu dan mencicipi berbagai kuliner yang ada di sana. Begitu pun Kenzi dan Yemi yang juga akan jalan - jalan, namun bila Devan dan Mia ingin pergi menggunakan MRT dan berjalan kaki, Kenzi dan Yemi akan pergi menggunakan mobil yang di sediakan Alfaro untuk mereka mengingat keadaan Yemi yang kini sedang hamil muda. Menginjak usia kandungan yang sudah memasuki 4 bulan lebih Yemi memang sudah tidak mengalami mual muntah di pagi hari, namun bumil itu sekarang sering mudah merasa lelah.
Beberapa menit telah berlalu dan mobil yang di kendarai oleh Alfaro kini sudah sampai di depan bangunan yang bisa di sebut mansion yang sangat besar dan terlihat megah. Bahkan gerbang utama gedung itu sangat besar dan lumayan jauh dari mansion nya. Perjalanan dari gerbang utama membutuhkan waktu beberapa menit dengan taman bunga yang terlihat sangat indah di kanan dan kiri jalan.
" Apa kita tidak salah memasuki gerbang om?" Simi merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
" Tidak kakak ipar, ini memang jalan menuju rumah kami" Anaya terkekeh melihat eksfresi wajah Simi saat ini.
" Tapi itu bukan rumah Ay, tapi istana" Simi memandang takjub pada bangunan megah yang sudah terlihat sangat megah dari jarak yang sudah mulai mendekat.
Tak lama mobil Alfaro pun berhenti tepat di depan teras yang terdapat pintu utama yang terlihat sangat besar dan megah dengan gaya Eropa.
" Selamat datang tuan dan nona muda, tuan dan nyonya besar sudah menunggu kalian" Seorang pria dengan pakaian formal nya tampak membukakan pintu mobil Alfaro seraya membungkuk hormat pada mereka.
" Tuan muda?" Simi mengerutkan kening nya menatap Alfaro yang sedang berbicara dengan pria itu dari dalam mobil. Simi masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Tentu saja Simi tidak menyangka kalau kekasih nya Alfaro yang dia kenal hanya seorang asisten di perusahaan yang di pimpin oleh Kenzi ternyata memiliki tempat tinggal semegah ini di negara asal nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1