
Sementara Simi yang merasa sangat sedih langsung pergi meninggalkan pesta dengan menggunakan mobil nya entah pergi ke mana. Di dalam pesta tampak Alfaro yang masih terdiam di tempat nya tadi seraya memikirkan perkataan Simi pada nya barusan.
" Apa kata - kata ku sudah keterlaluan ya?" Alfaro memijat pangkal hidung nya yang terasa berdenyut.
Lumayan Lama Alfaro dalam posisi seperti itu di kursi yang masih sama dengan kursi yang tadi dia duduki dengan Simi.
" Maaf, apa paman melihat gadis yang tadi duduk di sini?" Tiba - tiba terdengar suara seorang pria yang bertanya pada Alfaro. Alfaro pun mendongakan kepala nya untuk melihat siapa yang menghampiri nya itu.
" Bukankah dia pria yang datang bersama Simi tadi?" Batin Alfaro menatap Demi dengan tatapan menyelidik. " Dia sudah pulang" jawab Alfaro ketus.
" Apa ? Pulang?" Wajah Demi terlihat panik dan juga pucat. Bagaimana tidak, Demi datang kesana diajak oleh Simi menggunakan mobil yang di bawa oleh kakak nya itu, dan sekarang apa tadi kata pria di hadapan nya itu. Simi sudah pulang? Lalu bagaimana nasib nya, dia akan pulang dengan siapa. Hari sudah sangat larut malam dan tempat pesta di adakan cukup jauh dari jalan raya dan sudah di pastikan tidak akan ada angkutan umum yang melintas.
" Kamu kenapa?" Alfaro mengerutkan kening nya menatap pria yang ada di hadapan nya tampak berwajah panik.
" Kakak ku itu memang sudah gila, kak Simi ini bagaimana kenapa dia malah meninggalkan ku?" Demi yang panik langsung mengeluarkan ponsel nya dari dalam kantong celana nya untuk menghubungi Simi tanpa menghiraukan pertanyaan dari Alfaro pada nya.
" Kakak? Tunggu - tunggu, kenapa kamu memanggil nya kakak?" Alfaro tampak bingung.
" Cih, dia selalu lupa akan segala nya kalau sedang kesal. Bahkan dia sampai lupa mengaktifkan ponsel nya" Demi menatap ponsel yang ada di tangan nya dengan wajah yang sangat kesal. " Tentu saja aku memanggil nya kakak, memang aku harus memanggil nya oma begitu?" Demi memutar bola mata nya malas melihat paman yang dia pikir sok akrab pada nya.
" Maksudku, apa hubungan mu dengan gadis gila, maksudku Simi itu" ucap Alfaro.
__ADS_1
" Hey, jangan bicara sembarangan ya! Hanya aku yang boleh memanggil nya gila " Demi mendengus kesal saat pria asing di hadapan nya menyebut kakak sepupu nya gila, walaupun dia fikir yang di katakan oleh paman itu ada benar nya karena dia juga suka menyebut kakak sepupu nya itu dengan sebutan yang sama. "lagi pula siapa kau? Apa paman mengenal kakak ku?" Demi menatap Alfaro dengan tatapan menyelidik.
" Kakak mu?" Alfaro mengerutkan kening nya.
" Ya, kak Simi adalah kakak sepupuku" jawab Demi acuh. " Aih, aku harus memikirkan cara agar aku bisa pulang" gumam Demi dengan wajah yang tampak berfikir.
" Kakak sepupu? Jadi dia bukan pacar nya?" Gumam Alfaro dengan senyum tipis di bibir nya.
" Hey paman, kenapa kamu malah tersenyum?" Demi brigidig ngeri melihat Alfaro yang malah tersenyum sendiri. " Kenapa banyak sekali orang aneh di sekitar ku?" Batin Demi menatap aneh pada pria yang ada di hadapan nya.
" Kamu bilang, kamu bingung bagaimana mau pulang? Biar aku yang mengantarkan mu!" Alfaro menepuk pundak Demi dengan cukup keras dengan senyum di bibir nya. Entah kenapa perasaan nya saat ini menjadi lega setelah mendengarkan pengakuan dari Demi barusan.
" Ya, aku akan mengantar mu pulang. Kenapa, apa kamu tidak mau?" Alfaro menaikan sebelah alis nya.
" Bukan nya begitu, paman bukan orang yang memperdagangkan manusia kan? Aku ini memang tampan dan sangat imut, jadi aku takut paman akan menjual ku" Demi berkata dengan penuh percaya diri seraya menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada nya.
" Aish, kenapa kamu sama gila nya dengan kakak mu itu. Kalau aku memang pedagang manusia, aku tidak akan memilih mu untuk di jual. Bisa - bisa pelanggan ku kabur semua karena ulah gila mu" Alfaro mendengus kesal. " Cepat katakan, kamu mau aku antarkan atau tidak?" Alfaro hendak pergi dari hadapan Demi namun Demi mencegah nya.
" Iya - iya, aku ikut paman saja." Putus Demi pada akhir nya. " Ini lebih baik dari pada aku harus pulang jalan kaki" gumam Demi dengan bibir yang mengerucut seraya melangkah mengikuti langkah Alfaro menuju ke mobil nya.
Sementara Alfaro mengantarkan Demi, pesta pernikahan Devan, Mia dan Kenzi, Yemi berjalan dengan lancar. Pesta berjalan dengan sangat meriah apalagi dengan penampilan dari para bintang tamu yang merupakan artis ternama ibu kota membuat acara pesta semakin meriah saja.
__ADS_1
Hari semakin lama semakin larut dan pesta pun akhir nya sudah berakhir, ball room hotel yang tadi nya sangat ramai dengan hingar bingar pesta kini sudah tampak sepi dan juga gelap.
Kini Mia dan Devan sedang sama - sama di kamar pengantin mereka yang sudah tampak cantik dengan hiasan dari beberapa bunga berwarna merah dan putih di seluruh ruangan.
Mia dan Devan kini baru saja memasuki kamar mereka dan sedang duduk di pinggir tempat tidur untuk menetralisir rasa lelah yang mereka rasakan saat ini.
" Kamu pasti sangat tidak nyaman memakai semua itu?" Tanya Devan sambil menunjuk gaun Mia yang terlihat lumayan berat dengan hiasan kepala dan berbagai pernak - pernik yang seperti nya juga lumayan berat.
" Ya, lumayan" Mia nyengir kuda sambil beranjak kedepan meja rias yang ada di dekat nya.
Perlahan Mia melepaskan satu persatu pernak - pernik yang ada di tubuh nya dan di kepala nya terlebih dahulu. Devan yang melihat Mia sedikit kesusahan saat melepas nya pun langsung mendekat dan berniat untuk membantu nya.
" Biar aku bantu" Devan pun mulai melepaskan mahkota kecil yang ada pada rambut Mia dan melepaskan beberapa jepit rambut yang di pasang di sana dengan sangat lembut dan berhati - hati. Mia hanya tersenyum melihat Devan yang sedang melakukan itu dari dalam cermin yang ada di hadapan nya. " Selesai" Devan pun tersenyum lega seraya menatap pantulan wajah istri nya di dalam cermin saat sudah menyelesaikan pekerjaan nya.
" Terima kasih, aku tidak tahu kalau bapak sangat ahli melakukan itu" Mia terkekeh saat mengatakan nya. " Apa jangan - jangan bapak sering membantu wanita melepaskan tatanan rambut nya? " Mia mengngkat sebelah alis nya.
" Asal kamu tahu, hanya untuk mu aku bisa melakukan apa pun" Devan mendekatkan wajah nya pada telinga Mia. " Dan untuk mu aku bisa memberikan segala nya" ucap Devan kembali tepat pada telinga Mia membuat wajah Mia merona seketika dengan tubuh yang meremang dan jantung yang berdetak dengan kencang.
" A aku mau membersihkan diri ku dulu!" Mia pun mencoba untuk menghindari Devan dengan pergi ke kamar mandi dengan tergesa - gesa. Sungguh bila sebentar lagi saja Mia berada di dekat Devan , mungkin dia kan kehilangan kesadaran diri nya saat itu juga karena rasa gugup yang di rasakan nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1