
Wajah Mia kini merona karena malu saat mendengar perkataan Devan barusan. Mia pun langsung menutup wajah nya dengan selimut yang sedang dia pakai untuk menyembunyikan wajah nya yang sudah memerah. Namun Mia malah mendapatkan kejutan lain saat dia melihat sesuatu di bawah selimut, dia melihat tubuh nya dan tubuh suami nya yang sama - sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
"Aaaahk!" Mia berteriak dengan kencang seraya keluar dari dalam selimut nya.
" Kamu kenapa sayang?" Devan pun menjadi panik saat mendengar teriakan dari istri kecil nya itu. Untung saja kamar mereka saat ini kedap suara sehingga tidak akan ada yang mendengar teriakan Mia barusan, kalau tidak itu pasti akan membuat heboh satu lantai di mana kamar mereka berada dengan teriakan Mia yang seperti itu.
" Ti tidak ada" Mia menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal saat teringat kembali kejadian semalam.
" Tidak apa - apa kenapa kamu berteriak?" Devan mengerutkan kening nya.
" I itu, cacing Alaska" Mia semakin menenggelamkan kepala nya kedalam selimut sedangkan Devan tampak terkekeh saat mendengar nya.
" Apa kamu mau lagi hem?" Devan menaik turunkan alis nya lucu.
" Ti tidak, ini saja masih sakit" Mia mengerucutkan bibir nya lucu. " Eh tunggu - tunggu!" Mia menggerak - gerakan tubuh bagian bawah nya dan memang terasa ngilu dan sedikit perih bekas semalam, tapi Mia merasa ada yang mengganjal dalam fikiran nya. " Kenapa sakit ya?" Mia tampak berfikir.
" Tentu saja sakit sayang, ini kan yang pertama kali. Nanti juga lama kelamaan tidak akan sakit lagi, malah akan terasa sangat nik mat" Devan mengerlingkan mata nya.
" Yang pertama?" Mia membulatkan ke dua bola mata nya menatap Devan.
" Iya, yang pertama. Memang kamu fikir ini yang ke berapa kali nya?" Devan terkekeh saat mengatakan nya.
" Bukan kah ini yang ke dua?" Mia masih menatap Devan dengan pandangan yang sama.
__ADS_1
" Yang ke dua?" Devan mengangkat alis nya sebelah dengan wajah yang terlihat bingung, seperti nya dia belum menyadari maksud perkataan dari Mia barusan.
" Iya, bukankah yang pertama saat aku mabuk malam itu? Tapi kenapa saat itu aku tidak merasakan apa - apa ya, maksud ku area bawah ku waktu itu tidak sakit seperti ini?" Mia memandang Devan dengan tatapan menyelidik.
" Ah itu" Devan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. " Aku lapar, apa kamu juga lapar sayang? Aku akan memesankan makanan untuk kita dulu!" Devan berusaha mengalihkan pembicaraan dan hendak beranjak dari atas tempat tidur mereka.
" Jangan bergerak!" Mia berkata dengan nada yang tidak mau di bantah membuat Devan yang baru saja akan turun dari tempat tidur menghentikan gerakan nya. " Kalau bapak berani turun dari sini, aku pastikan bapak tidak akan bisa merasakan lagi Bikini Bottom milik ku ini lagi!" Tambah Mia lagi dengan nada ancaman membuat Devan kembali menaikan kaki nya lagi. Mia sudah mengira kalau suami nya itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari nya karena sejak semalam suami nya itu selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali Mia membahas soal itu.
" Jangan ya sayang, ampun!" Devan merapatkan ke dua telapak tangan nya di hadapan Mia dengan tatapan memohon nya.
" Ish, kalau begitu cepat katakan apa yang terjadi sebenar nya pada malam itu? Bisa - bisa nya bapak terus mengancamku untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan" Mia mendengus kesal seraya memalingkan wajah nya dan melipat ke dua tangan nya di depan dada nya.
" Baiklah, akan aku ceritakan! Tapi aku tidak sepenuh nya berbohong karena kamu memang mau mencoba untuk memperkosa ku waktu itu, kalau aku tidak kuat iman dan berlari menghindari mu. Sudah di pastikan keperjakaan ku kamu renggut saat itu" Devan mengerucutkan bibir nya lucu.
" Tentu saja, apa kamu mau melihat cctv yang ada di ruang tamu ku itu? Aku masih menyimpan nya lho" Devan tersenyum menggoda.
" Apa? Ada cctv nya? Aih itu pasti akan sangat memalukan" Mia menutup wajah nya sendiri dengan ke dua telapak tangan nya.
" Oh ya, bukankah aku sudah jujur sekarang? Itu berarti cacing Alsaka miliku bisa kembali memasuki Bikini Bottom milik mu ini lagi, iya kan?" Perlahan Devan mendekati Mia dengan seringai di wajah nya.
Glek
" Seperti nya aku sudah salah bicara" batin Mia menatap ngeri pada suami nya yang kini sudah mulai mendekati nya. Devan pun langsung menautkan bibir mereka tanpa memberi kesempatan Mia untuk berbicara terlebih dahulu, dan mereka pun kembali mengulangi apa yang telah mereka lakukan semalam di sepanjang pagi itu. Mia pun hanya menik mati apa yang di lakukan oleh suami nya itu, karena dia fikir akan percuma bila dia melakukan protes pun.
__ADS_1
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Satu minggu telah berlalu hari ini Alfaro terlihat sangat tidak bersemangat melakukan pekerjaan nya di perusahaan, entah kenapa fikiran nya saat ini dipenuhi oleh Simi dan Simi.
Sejak pertemuan terakhir mereka di pesta pernikahan Mia dan Devan satu minggu yang lalu, Alfaro belum pernah bertemu kembali dengan gadis gila nya itu dan entah kenapa dia merasa tidak tenang akan hal itu. Apa lagi pertemuan terakhir mereka tidak begitu menyenangkan, Alfaro sudah mengatakan beberapa hal yang membuat Simi sedih dan juga marah saat itu.
" Alfaro, katakan pada ku! Kenapa pekerjaan mu satu minggu ini selalu saja ada yang salah?" Kenzi melemparkan sebuah map pada Alfaro yang hanya menghela nafas nya dalam.
Ya, saat ini Alfaro sedang berada di ruangan Kenzi karena Kenzi memanggil nya untuk sebuah urusan pekerjaan.
" Maafkan aku bos, seperti nya kali ini kepala ku yang rusak." Jawab Alfaro dengan tidak bersemangat.
" Apa maksud mu? Apa aku perlu membawa mu ke rumah sakit?" Kenzi menatap Alfaro dengan wajah yang mulai cemas.
Kenzi memang tegas dan keras terhadap Alfaro, tapi dia juga mempunyai hati yang lembut yang akan merasa cemas dan khawatir kalau terjadi apa - apa pada asisten kepercayaan nya itu. Kenzi teringat akan diri nya di masa lalu yang datang le Indonesia seorang diri untuk merintis karir di sini. Begitu pun Alfaro yang beberapa tahun yang lalu di temui Kenzi baru beberapa hari datang dari Singapura dan hanya memiliki bekal yang sedikit. Jadi Kenzi mengajak nya untuk bekerja dengan nya mengembangkan perusahaan yang dia rintis dari nol dengan bantuan Davin, yang kini perusahaan nya itu menjadi kantor cabang perusahaan mendiang ayah mertua nya yang kini dia pimpin.
" Seperti nya aku tidak perlu ke rumah sakit. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Alfaro masih terlihat lesu.
" Apa maksudmu?" Kenzi menatap Alfaro dengan dahi yang mengkerut. " Ah, apa kepala mu rusak karena gadis di biang lala itu?" Akhir nya Kenzi menyadari sesuatu.
" Kenapa bos bisa tahu?" Alfaro menatap Kenzi dengan tatapan menyelidik.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1