
Yemi dan pria yang ada di hadapan nya sama - sama saling memandang dengan wajah yang terkejut saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan nya.
" Om menyebalkan, kenapa om ada di sini? Oh aku tahu, apa om akan melaporkan masalah kemarin pada guru ku? Ish, om ini ternyata sangat pendendam" Yemi menatap tidak suka pada pria yang ada di hadapan nya sekarang.
Ya orang yang ada di ruangan itu tak lain dan tak bukan adalah om menyebalkan yang Yemi temui kemarin di jalan. Siapa lagi kalau bukan Devan.
" Kalau ia kenapa? Lagi pula aku tidak bisa melepaskan dirimu begitu saja setelah apa yang kamu lakukan pada ku kemarin." Devan menyandarkan diri nya pada kursi yang sedang dia duduki seraya melipat tangan nya di dada nya menatap gadis yang ada di hadapan nya dengan tatapan penuh arti.
" Ish, om ini benar - benar menyebalkan." Yemi mendengus kesal. " Oh ya, dimana bu Gina. Bukankah tadi dia memanggilku?" Yemi merasa heran karena guru yang selalu ia temui di ruangan itu tidak kelihatan di sana.
" Apa namamu Yemi Arsyafina?" Bukan nya menjawab pertanyaan Yemi, Devan malah balik bertanya.
" Ya, memang kenapa?" Yemi menjawab dengan cuek.
" Tidak, hanya saja ini hari pertama ku bekerja sebagai guru BK di sini. Dan tugas pertama ku adalah menghukum siswa yang bernama Yemi Arsyafina, aku tidak menyangka kalau itu adalah kamu" Devan tersenyum penuh arti menatap Yemi yang raut wajah nya kini berubah.
" Mampus, apa yang tadi om itu bilang? Dia guru BK baru di sini. Ish, kenapa pak Bambang tidak mengatakan nya pada ku" batin Yemi merutuki kebodohan nya sendiri.
" Tapi kebetulan kalau begitu, aku jadi bisa sekalian memberikan hukuman atas apa yang telah kamu lakukan pada ku kemarin" Devan tersenyum menyeringai menatap Yemi.
" A apa yang akan om lakukan pada ku ha?" Yemi memberanikan diri nya untuk bertanya.
" Pertama - tama, panggil aku bapak karena aku ini guru mu bukan om mu! " Devan berdiri dari duduk nya.
__ADS_1
" Baik pak, hanya itu saja?" Yemi menaikan sebelah alis nya.
" Tentu saja tidak, mari kita fikirkan! Apa hukuman yang pantas untuk siswa yang suka membolos dan suka melemparkan kaleng sembarangan pada orang lain." Devan berjalan mendekati Yemi dengan tangan yang ia letakan di dagu nya seperti orang yang sedang berfikir.
" Ish, bapak ini sudah ku bilang kalau itu tidak sengaja" Yemi mengericutkan bibir nya lucu.
" Sengaja atau tidak, tetap saja kamu harus di hukum" Devan tersenyum menyeringai
"Baiklah, sekarang katakan ! Apa bapak akan menyuruhku berlari keliling lapangan, atau membersihkan toilet sekolah, atau juga menyapu lapangan yang luas? Coba bapak pilih , apa yang akan bapak berikan pada ku?" Yemi tamak memberikan saran nya dengan nada bicara yang enteng.
" What? Apa aku tidak salah dengar, bagimana ada siswa yang malah menawarkan hukuman apa yang akan dia terima. Bukankah seharus nya mereka meminta maaf dan memohon agar memberikan hukuman yang ringan atau bahkan mengampuni mereka ?" batin Devan menatap tidak percaya pada gadis yang ada di hadapan nya.
" Hey, pak! Kenapa bapak diam saja, apa bapak tidak jadi memberi saya hukuman? Kalu begitu terima kasih, saya permisi dulu" Yemi tersenyum senang seraya bersiap melangkahkan kaki nya untuk ke luar dari ruangan itu. Namun sebuah tangan memegang kerah baju bagian belakang nya sehingga dia tidak bisa melangkahkan kaki nya lagi.
" Eits, mau kemana kamu?" Enak saja kamu mau lolos dari hukuman" Devan tersenyum menyeringai menatap wajah Yemi yang terlihat mengerucutkan bibir nya.
" Aih, apa - apa an lagi ini? Kenapa gadis ini begitu ajaib? Tapi dia benar, dia memang cantik dan imut" batin Devan memandang Yemi dengan tatapan tak percaya.
" Ish, si bapak bengong lagi" Yemi memutar bola mata nya malas melihat Devan yang selalu melamun.
" Saya sudah putuskan hukuman untuk kamu" putus Devan pada akhir nya. " Malam ini kamu harus menemani saya ke pesta ulang tahun perusahaan salah satu kolega perusahaan saya, bagaimana?" Devan tersenyum penuh arti menatap gadis yang ada di hadapan nya.
" Ish, tidak bisa begitu pak. Hukuman macam apa itu tidak ada hubungan nya dengan sekolah, saya menolak" Yemi berkata dengan tegas.
__ADS_1
" Oh ya, kamu yakin akan menolak nya? Baiklah kalau begitu, aku akan memanggil orang tua mu untuk datang ke sekolah saja. Bagaimana?" ancam Devan seraya bersikap acuh
" Ish, bapak tidak bisa seenak nya seperti itu dong pak." Yemi jelas sangat keberatan kalau sampai pak Devan ini menghubungi uncle Ken nya untuk datang ke sekolah nya. Bisa - bisa dia terkena omelan dan hukuman dari uncle yang berstatus sebagai suami nya itu. Dan yang paling Yemi takutkan adalah Kenzi akan semakin ilfil pada nya dan harapan Yemi agar Kenzi bisa membalas cinta nya akan semakin jauh.
" Saya bebas melakukan apa pun, karena di sini saya guru nya dan kamu murid nya" Devan tersenyum penuh kemenangan membuat Yemi ingin kembali menimpuk kepala nya dengan kaleng yang kemarin dia tendang.
" Tidak bisakah hukuman nya di ganti dengan apa gitu? Apa pilihan hukuman yang tadi saya sebutkan tidak ada yang cocok di mata bapak?" Yemi menatap Devan dengan tatapan memohon nya.
" Tidak bisa, itu hukuman yang paling cocok untuk kamu. Pilihan nya hanya dua, pergi ke pesta atau panggil orang tua mu datang ke sekolah" Devan melipat ke dua tangan nya seraya kembali mendudukan diri nya di atas kursi kebesaran nya.
" Bagaimana ini, kalau aku pergi ke pesta nanti malam aku harus membuat alasan apa pada uncle, lalu kalau uncle harus di panggil juga tidak mungkin. Aku bisa di hukum mijit lagi sampai tangan ku keriting" batin Yemi merasa dilema dengan keputusan yang dia ambil. Karena ke dua nya sama - sama akan berdampak buruk untuk Yemi dari Kenzi.
" Baiklah, saya akan pergi bersama bapak" putus Yemi pada akhir nya. Yemi akan memikirkan cara yang baik untuk meminta izin pada Kenzi dari pada nanti nya Kenzi malah jadi ilfil pada nya karena Yemi kembali berurusan dengan guru BK di sekolah.
" Keputusan yang bagus!" Devan mengacungkan ibu jari nya pada Yemi.
" Sekarang katakan aku harus datang ke mana, jam berapa dan memakai baju apa!" Yemi berkata seraya mendengus kesal sambil mengulurkan tangan nya meminta sesuatu.
" Aku akan menjemput mu, katakan saja dimana alamat rumah mu. Kalau masalah pakaian kamu dandan saja yang cantik dan pakai baju pesta terbaik kamu"
" Tidak, biar aku datang sendiri ke sana. Kalau tidak aku tidak jadi pergi"
" Ish, baiklah - baiklah! Ini alamat nya dan datanglah jam 8 malam" Devan akhir nya mengalah dari pada Yemi tidak jadi pergi dengan nya, fikir nya.
__ADS_1
" Baiklah, sampai ketemu nanti malam" Yemi pun menerima kertas yang di berikan Devan dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini.Terima kasih 🙏🙏