
Yemi dan Devan akhir nya sampai juga di tempat yang mereka tuju, yaitu tempat mereka akan bertemu dengan kolega bisnis dari Devan setelah menempuh waktu beberapa menit saja. Yemi dan Devan tampak masuk ke dalam kafe itu dan mulai mendudukan diri mereka pada meja yang sudah Devan pesan sebelum nya.
" Apa mereka belum datang pak?" Yemi tampak celingak - celinguk melihat sekitar.
" Seperti nya belum, kta tunggu saja!" Devan pun memanggil pelayan untuk memesankan minuman untuk nya dan juga Yemi.
" Iya pak, mau pesan apa?" Seorang pelayan tampak berbicara dengan sopan dan juga ramah
" Kamu mau minum apa?" Devan bertanya pada Yemi karena dia belum mengetahui apa yang di sukai oleh gadis yang ada di hadapan nya.
" Jus mangga saja, dan kalau boleh aku ingin makan juga" Yemi nyengir kuda ke arah Devan. Jujur saja Yemi merasa lapar saat ini.
" Boleh, pesanlah apa yang kamu mau!" Devan lagi - lagi di kejutkan dengan tingkah ajaib Yemi. Bila biasa nya seorang gadis akan jaim bila bersama seorang pria tapi Yemi malah sebalik nya.
" Aku mau steak dan kentang goreng ya mbak, bapak mau?" Yemi tampak bertanya pada Devan.
" Saya kopi saja" Devan memang sedang tidak lapar saat ini.
" Baiklah, silahkan menunggu pesanan nya!" Pelayan itu pun berlalu dari hadapan mereka untuk menyiapkan pesanan yang sudah di pesan oleh Yemi dan juga Devan.
Tak lama pesanan mereka pun sampai namun kolega bisnis Devan belum juga kelihatan batang hidung nya.
" Apa mereka tidak jadi datang? " Yemi dengan cuek nya melahap semua makanan yang sudah dia pesan tadi.
" Tentu saja mereka akan datang, mereka adalah orang yang terhormat dan sangat penting di dunia bisnis. Jadi tidak mungkin mereka mengingkari janji mereka." Devan menyeruput kopi yang sudah tadi pesan.
__ADS_1
" Ish, justru itu dia. Biasa nya orang yang penting itu suka seenak nya" Yemi berbicara dengan mulut penuh.
" Habiskan dulu makanan yang ada dalam mulut mu, apa kamu tidak pernah di ajari kalau jangan berbicara dengan mulut yang penuh" Devan menggeleng - gelengkan kepala nya melihat kelakuan gadis yang ada di hadapan nya itu.
" He he" Yemi nyengir kuda setelah menelan makanan yang ada dalam mutlut nya. " Pak tunggu sebentar, aku akan ke toilet dulu" Yemi berdiri dari duduk nya setelah meminum minuman nya karena merasa perut nya yang kurang enak saat sedang memakan makanan nya.
" Tunggu! Ini bukan alasan mu saja untuk kabur kan?" Devan menatap Yemi dengan tatapan menyelidik. Devan teringat saat kejadian di pesta beberapa bulan yang lalu, Yemi saat itu berkata ingin ke toilet, namun setelah Devan menunggu nya selama satu jam Yemi tidak juga kembali ke acara pesta. Dan saat Devan mencari nya, ternyata Yemi tidak ada di toilet maupun di mana pun. Devan tidak mau itu terulang kembali pada diri nya, mencari seorang gadis seperti orang gila yang bahkan tidak memikirkan nya sama sekali.
" Ish, si bapa aku serius. Perutku tidak enak pak, aku janji tidak akan kabur lagi" Yemi mengankat ke dua jari nya membentuk huruf V. " Lagi pula saat itu keadaan nya berbeda, saat itu hari sudah larut malam. Nah sekarang kan masih siang pak" Yemi mendengus kesal seraya menhempaskan tangan Devan dengan kasal karena dia sudah tidak kuat lagi ingin ke belakang.
" Maaf kami terlambat!" Dua orang pria tampak menghampiri Devan yang masih terbengong melihat punggung Yemi yang sudah menghilang di balik tembok.
" Ah, tidak apa - apa. Lagi pula saya dan asisten saya belum lama menunggu kalian" Devan menyambut ke dua tamu nya dan menjabat tangan ke dua nya secara bergantian.
" Tidak usah pak Devan, lebih baik kita langsung saja membicarakan kerja dama kita" ucap salah satu dari mereka. Sedangkan pria yang satu nya tampak menatap makanan yang belum habis di makan yang ada di atas meja di hadapan nya dengan muka datar nya.
" Baiklah tuan Alfaro dan tuan Kenzi. Seperti yang aku dengar ternyata kalian ini memang selalu to the point" Ya, yang menjadi kolega bisnis Devan adalah Kenzi dan Alfaro.
" Anda bisa saja" Alfaro terlihat tertawa kikuk sedangkan Kenzi masih melihat sisa makanan dengan wajah datar nya
" Ini semua menu kesukaan Yemi kalau datang ke tempat ini" batin Kenzi memgingat kembali saat - saat di mana bila diri nya mengajak Yemi untuk makan di sini. Yemi selalu saja memesan menu yang sama yaitu steak dan kentang goreng dengan minuman nya jus mangga.
" Pak Kenzi, maaf apa ada yang menggangu fikiran anda?" Devan merasa aneh dengan tamu nya itu karena sejak tadi hanya diam dan meunjukan wajah datar nya.
" Makanan ini?" Kenzi menunjuk makanan yang ada di atas meja.
__ADS_1
" Oh itu tadi asisten ku yang memakan nya, apa ini mengganggu anda? Biar saya suruh pelayan untuk membereskan nya" Devan pun memanggil pelayan yang ada di sana dan menyuruh nya untuk membereskan nya.
" Pasti yang menyukai menu seperti itu bukan hanya Yemi saja, Kenzi come on apa yang kamu fikirkan" batin Kenzi merutuki kebodohan nya sendiri.
" Baiklah, bisa kita mulai sekarang?" Devan bertanya kembali setelah pelayan membereskan sisa makanan Yemi tadi yang masih berada di atas meja.
" Apa kita tidak menunggu asisten anda dulu? Bukankah anda bilang datang bersama dengan asisten anda?" tanya Alfaro.
" Tidak usah, biar aku sendiri saja" Devan tentu saja tidak perlu menunggu Yemi terlebih dahulu, orang Yemi juga tidak tahu apa - apa tentang pekerjaan yang sedang di kerjakan oleh nya.
Sementara di toilet, Yemi tampak baru saja menyelesaikan apa yang tadi dia lakukan di toilet. Yemi kini tampak mematut diri nya di depan cermin sebelum dia kembali menghampiri guru nya yang gila dan menyebalkan itu.
" Ck ck ck Yemi - Yemi, kenapa kamu sangat cantik hem" Yemi tampak memuji diri nya sendiri saat melihat pantulan diri nya di depan cermin dengan penuh percaya diri. " Tapi sayang uncle Ken mu tidak tergoda oleh kecantikan mu, sungguh kasihan" Yemi kembali berbicara dengan nada mengejek pada diri nya sendiri. Untung saja keadaan dalam toilet sangat sepi, tidak ada orang lain di sana selain diri nya. Kalau tidak, sudah di pastikan mereka akan menganggap Yemi orang gila.
Setelah puas mematut diri nya di depan cermin, Yemi pun keluar dari toilet untuk kembali menemui guru BK nya yang menyebalkan itu.
Yemi terus melangkakan kaki nya dengan cuek menuju ke meja Devan tadi
" Tamu pak Devan seperti nya sudah datang" gumam Yemi saat melihat dua orang pria yang duduk membelakangi nya sedang berbicara dengan guru gila nya Devan.
" Maaf pak, saya terlambat" Yemi dengan cuek nya mengampiri Devan tanpa melihat ke dua orang yang kini menatap nya dengan wajah yang sama - sama terkejut ke arah nya.
Maaf buat hari ini baru bisa up satu bab, karena autor harus mengantar mama kontrol ke rumah sakit dulu 🙏🙏🙏
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini.Terima kasih
__ADS_1