
Keesokan pagi nya di meja makan mansion terlihat lebih ramai dari biasa nya karena pagi ini orang tua Simi, Demi serta Kenzi dan yang lain nya ikut sarapan bersama di sana sebelum nanti siang mereka kembali ke Indonesia.
" Kakak ipar dan kak Alfaro kok belum turun sih mom?" Tanya Anaya saat belum melihat keberadaan dua orang yang dia maksud.
" Pasangan pengantin kita pasti kelelahan setelah malam pengantin mereka" Shopia terkekeh saat mengatakan nya.
" Ya Anaya, lebih baik kita makan duluan. Mereka pasti akan bangun kesiangan" Yemi ikut terkekeh di ikuti kekehan dari semua nya.
" Ish, memang semalam mereka melakukan apa saja sih sampai bangun kesiangan seperti itu" Anaya mengerucutkan bibir nya.
" Itu urusan orang dewasa dan kamu masih kecil, jadi tidak perlu tahu" Archilles berkata dengan nada datar nya.
" Ish, aku dan kakak ipar kan seumuran dad" protes Anaya.
" Ah ya, daddy lupa kalau kakak mu itu menikahi gadis kecil" Archilles menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal membuat semua orang terkikik geli.
" Tapi setidak nya Simi sudah menikah dan kamu belum Anaya" Demi ikut menimpali.
" Benar apa katamu, tapi kamu juga sama Demi. Kamu masih kecil sama seperti Anaya" ucap Dion dan di ikuti tawa semua nya sedangkan Anaya dan Demi memberengut kesal.
" Sudahlah, lebih baik kita mulai sarapan nya! Bukankah semua nya sudah berkumpul" ucap Shopia
" Benar, lebih baik kita mulai sarapan nya! Kalian pasti sudah lapar" tambah Sinta dan semua nya mengangguk.
" Itu kak Simi dan om Alfa" Demi menunjuk ke arah tangga.
" Ah iya ya, kenapa mereka bisa bangun pagi ya?" Mia mengerutkan kening nya.
" Tidak mungkin kan kalau Alfaro tidak tahu cara melakukan nya?" Ucap Devan asal namun berhasil membuat semua mata melihat ke arah nya. " Apa? Aku hanya asal bicara saja" Devan menjawab dengan santai nya.
__ADS_1
Archilles dan Shopia saling melempar pandangan mereka saat mendengar ucapan Devan barusan.
" Tidak mungkin!" Gumam ke dua nya dengan wajah yang terlihat ragu.
" Widih, pengantin baru udah bisa bangun pagi aja!" Ucap Devan dengan nada mengejek nya dan di angguki oleh Kenzi pertanda setuju dengan apa yang di katakan Devan barusan.
" Bagaimana semalam, apa berjalan dengan lancar?" Mia ikut menimpali.
" Oh ya, gol berapa kali?" Yemi ikut berbicara.
Yang lain nya tampak terkekeh mendengarkan pertanyaan - pertanyaan itu sedangkan Anaya dan Demi tampak bingung dengan apa yang mereka katakan, namun tidak berani untuk bertanya karena pasti itu urusan orang dewasa. Sedangkan pengantin baru kita tampak berwajah masam. Bagaimana tidak masam, mereka gagal melakukan malam pertama mereka dan kali ini apa? Semua nya seolah mengejek mereka, benar - benar menyebalkan.
Alfaro dan Simi langsung duduk di kursi yang masih kosong tanpa menghiraukan ucapan semua nya yang membuat semakin kesal saja.
"Sudah - sudah, lebih baik kita makan dulu" Archilles mengalihkan topik pembicaraan karena melihat wajah masam dari ke dua nya.
" Ya, aku setuju! Mari kita makan dulu" Dion ikut menimpali dan akhir nya mereka pun memakan sarapan mereka dengan tenang di pagi itu.
" Jadi kalian belum melakukan nya?" Yemi berkata dengan wajah terkejut nya saat Simi menceritakan tentang kedatangan tamu bulanan nya malam tadi.
Saat ini Simi, Yemi dan Mia sedang duduk di kursi tunggu Bandara sedangkan yang lain nya tampak mengobrol agak jauh dari mereka.
" Ish, pantas saja kalian bisa bangun pagi" Mia tampak berfikir. " Aku dan pak Devan saja saat itu sarapan hampir waktu jam makan siang" Mia terkekeh saat mengatakan nya.
" Aku juga" Yemi ikut terkekeh.
" Separah itu kah?" Simi mengerutkan kening nya menatap Mia dan Yemi secara bergantian.
"He em" Mia dan Yemi mengangguk secara bersamaan.
__ADS_1
" Oh ya, nanti saat kamu selesai datang bulan. Kamu harus memberikan kode pada kak Alfa, kasihan dia harus puasa di malam pertama nya" Yemi kali ini berbicara serius.
" Kode? Bagaimana?" Simi memasang wajah yang bingung.
" Sini aku beri tahu!" Yemi pun membisikan sesuatu pada telinga Simi, Mia pun ikut mendengarkan nya dan mereka pun terlihat terkekeh bersama saat mendengarkan ucapan Yemi pada mereka sedangkan Simi kini wajah nya sudah merona.
Tak lama Yemi dan yang lain nya pamit karena pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera lepas landas. Setelah semua nya masuk, Simi dan Alfaro pun langsung kembali ke mansion. Dalam perjalanan Simi masih kefikiran dengan apa yang tadi di bisikan oleh Yemi pada nya.
" Aish, apa aku harus melakukan nya?" Batin Simi seraya ke dua tangan nya menangkup pipi nya sendiri yang terasa memanas.
" Ada apa?" Alfaro yang melihat kelakuan aneh istri nya pun mengerutkan kening nya.
" Ah, tidak ada apa - apa" Simi menggeleng cepat dengan senyum kikuk di bibir nya.
Perjalanan pun terus berlanjut dengan keheningan menemani sepanjang perjalanan mereka ke mansion. Ke dua nya sama - sama sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Lima hari telah berlalu, hari ini masa datang bulan Simi sudah berakhir dan itu arti nya saat nya Alfaro untuk membuka puasa nya.
Malam ini Simi terlihat gelisah, mondar mandir di dalam kamar mandi dengan sesuatu di tangan nya. Sesuatu yang seharus nya dia pakai malam ini untuk memberikan kode pada suami nya. Tidak mungkin juga kan Simi langsung berkata kalau malam ini diri nya sudah selesai datang bulan dan sudah siap untuk melakukan hal yang iya - iya dengan suami nya secara langsung. Itu pasti akan sangat memalukan bila di lakukan oleh Simi sekarang. Sedangkan kalau Simi hanya diam, Simi juga tidak tega membuat Alfaro berpuasa lebih lama lagi, Simi pasti berdosa akan hal itu.
" Hais, aku harus bagaimana? Apa aku lakukan seperti apa yang di katakan Yemi waktu itu" Simi menggigit kuku jari nya seraya berjalan mondar mandir karena rasa gugup yang di rasakan nya.
Simi baru saja selesai melakukan ritual mandi nya dan kini dia tinggal menunggu kedatangan Alfaro yang belum pulang dari perusahaan nya untuk bekerja.
" Kalau seperti ini, nanti om Alfa keburu datang" Simi kini memegang benda yang tadi dia pegang dan melebarkan nya pada bagian depan tubuh nya sambil melihat nya di depan cermin. " Apa tidak akan memalukan kalau aku memakai ini" Simi brigidig ngeri menatap apa yang sedang dia pegang sambil membayangkan jika diri nya memakai nya malam ini.
Ya, saat ini Simi sedang memegang pakaian dengan kain tipis menerawang yang saat itu di berikan oleh Yemi dan Mia di hari pernikahan nya. Sebuah lingeri berwarna merah menyala kini berada di tangan Simi dan membuat dilema pada hati nya.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏