
Sementara di Kamar Kenzi dan Yemi kini sedang panas - panas nya, maka berbeda lagi dengan kamar yang sedang di tempati Mia saat ini. Saat ini Mia sedang memainkan ponsel nya sebelum dia tertidur, ya itu sudah menjadi kebiasaan Mia yang suka membaca novel online di ponsel nya sebelum dia tidur.
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu yang di ketuk dari luar, membuat Mia mendengus kesal karena merasa terganggu dengan orang yang sedang mengetuk pintu.
" Siapa sih, gak tahu apa ini udah malam dan waktu nya untuk tidur. Lagian kalau layanan kamar masa tengah malam begini sih?" Mia bergumam sendiri sambil melangkah kan kaki nya untuk membukakan pintu kamar nya yang sejak tadi di ketuk oleh seseorang.
Ceklek
Pintu pun di buka oleh Mia dan ternyata di sana sudah berdiri Devan dengan wajah yang sulit untuk di artikan
" Kenapa kamu lama sekali membuka pintu nya?" Devan langsung nyelonong masuk saja tanpa di persilahkan sama di empunya kamar. " Kamu sedang apa sih?" tanya Devan setelah dia mendudukan diri nya di pinggir tempat tidur Mia.
" Sedang apa? Hello... Pak Devan ini jam berapa? Dan menurut pak Devan apa yang di lakukan orang - orang di jam segini?" Mia memutar bola mata nya malas seraya melipat ke dua tangan nya di depan dada nya
" Ah iya, orang biasa nya tidur di jam segini" Devan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
" Pak Devan sudah tahu? Kalau begitu sedang apa bapak di sini, cepat pergi ke kamar bapak dan cepat tidur! Aku juga ingin tidur" Mia melangkahkan kaki nya mendekati tempat tidur nya.
__ADS_1
" A aku ingin membicarakan sesuatu pada mu" ucap Devan tergagap, sebenar nya itu hanya alasan nya saja. Entah kenapa Devan rasa nya ingin selalu bersama dengan calon istri nya itu.
" Bicara? Bicara apa pak, apa tidak bisa bapak membicarakan nya besok pagi?" Sungguh Mia tidak habis fikir dengan pemikiran pak guru mesum menyebalkan nya itu.
" Tentu saja tidak bisa, aku harus membicarakan ini sekarang karena ini sangat penting" Devan terlihat sangat meyakinkan.
" Baiklah, katakan!" Mia berdiri tepat di hadapan Devan.
" Duduk lah" Devan menarik tangan Mia sehingga gadis itu jatuh terduduk di pangkuan nya.
Sesaat mata mereka saling bersirobok dengan jarak wajah yang sangat dekat dan saat ini detak jantung ke dua nya sama - sama berdetak dengan sangat cepat sampai - sampai mereka merasa bahwa jantung mereka akan melompat dari tempat nya saat ini.
Mia memberontak dan berusaha turun dari pangkuan Devan saat diri nya mulai tersadar dengan keadaan mereka saat ini, namun tangan Devan menahan nya bahkan saat ini ke dua tangan Devan sudah melingkar dengan sempurna pada pinggang ramping milik Mia.
" Biarkan seperti ini dulu, sebentar saja!" Devan menjatuhkan kepala nya pada pundak Mia membuat jantung Mia semakin betdetak dengan sangat cepat.
" Jangan bergerak! Atau kamu mau membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur di bawah sana!" Devan berkata dengan nada yang tak ingin di bantah membuat Mia diam mematung seketika.
Sungguh ini juga adalah hal yang berat untuk diri nya. Devan adalah pria normal yang akan terang sang gai rah nya jika berdekatan dengan seorang wanita apa lagi ini adalah gadis yang dia cintai dan sebentar lagi akan menjadi istri nya.
" Kenapa kami tidak menikah tadi saja bersamaan dengan kak Celin? Mungkin saat ini aku bisa tidur berasa dengan nya". Batin Devan
" Katakan! Apa yang ingin bapak katakan" Mia kembali berucap dengan wajah yang menunduk tidak berani menatap pria yang kini paha nya sedang dia duduki.
__ADS_1
" Oh, itu" Devan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. " Aih, aku hampir melupakan nya. Sekarang apa yang harus aku katakan" batin Devan merasa bingung.
" Apa?" Mia menaikan sebelah alis nya seraya mendongakan kepala nya untuk melihat wajah calon suami nya itu.
" I itu, aku hanya ingin mengatakan kalau mulai saat ini kamu tidak boleh berdekatan dengan pria lain selain diri ku! Kamu harus ingat bahwa kamu adalah calon istri ku" Devan berkata dengan agak tergagap dan nada yang tak ingin di bantah.
" Sudah, itu saja?" Mia menatap Devan dengan tatapan menyelidik. Mia tidak habis fikir bahwa pria di hadapan nya itu mengganggu nya malam - malam begini hanya untuk mengatakan hal yang Mia sudah tahu tanpa Devan memberitahukan nya lagi. Sungguh Mia tidak tahu apa yang sedang di fikirkan oleh pria yang ada di hadapan nya itu.
" I iya hanya itu, baiklah aku harus kembali ke kamar ku" Devan semakin gugup saat Mia menatap nya seperti itu dalam jarak yang sangat dekat, sehingga dia berdiri dengan terburu - buru dan melupakan bahwa Mia kini sedang duduk di pangkuan nya sehingga membuat Mia terjatuh dengan lumayan keras di atas marmer yang sangat dingin dan keras.
Blugh
" Aw!" Pekik Mia seraya mengusap bokong nya yang terasa sakit. " Bapak ini apa - apa an sih, sakit tahu" Mia meringis kesakitan membuat Devan kaget , panik sekaligus merasa bersalah.
" Maaf, apa kamu tidak apa - apa?" Devan pun membantu Mia untuk berdiri dari posisi terjatuh nya.
" Tidak apa - apa bagaimana, apa bapak tidak lihat? Bokong ku rasa nya sakit sekali!" Mia mendengus kesal seraya tangan nya masih mengusap bagian belakang nya.
" Maaf!" Devan menatap Mia dengan tatapan memohon nya.
" Sudah lah, lebih baik bapak pergi! Aku mau tidur. Lagi pula ini sudah sangat malam" Mia mendorong tubuh Devan menuju pintu keluar agar keluar dari kamar nya. Sungguh dia merasa sangat kesal pada pria yang berstatus sebagai calon suami nya itu.
" Baiklah aku akan pergi" Devan menahan dan menggenggam tangan Mia yang mendorong tubuh nya. " Selamat istirahat, dan mimpikan calon suami mu ini!" Devan mengerlingkan mata nya membuat Mia membulatkan bola mata nya karena terkejut dengan sikap pria yang ada di hadapan nya itu yang menurut nya sangat aneh. " Selamat malam!" Devan mencium kening Mia sebelum dia benar - benar pergi dari kamar Mia dan menutup pintu kamar itu meninggalkan Mia yang terlihat syok mendapatkan perlakuan itu dari pria yang kini berstatus sebagai calon suami nya itu.
__ADS_1
" Apa tadi yang dia lakukan? Apa ini hanya mimpi" Mia mengedipkan mata nya berkali - kali seraya memegangi kening nya yang baru saja di kecup oleh Devan. " Aw, sakiit" Mia terpekik saat diri nya mencubit pipi nya sendiri karena ingin memastikan bahwa ini bukan lah mimpi. " Jadi ini bukan mimpi? Oh God, apa berarti pak Devan juga mempunyai perasaan kepada ku? Yeeey!" Mia berteriak tertahan seraya tubuh nya dengan lincah melompat dan berjoget saking senang nya. Mia pun menjatuhkan tubuh nya pada tempat tidur yang ada di sana dengan perasaan yang sulit untuk di artikan. Dan tak lama setelah itu Mia pun terlelap dalam tidur nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini.Terima kasih 🙏🙏