Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Hal Aneh


__ADS_3

Aku yakin sekali dengan ini semua, pasti ini akan segera berakhir cepat ataupun lambat. Dengan dukungan yang sedikit seperti ini sudah cukup untukku. Karena sedikit demi sedikit orang-orang akan mulai percaya lagi kepada ku, seperti dulu.


"Hei... Peter, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanyaku.


"Iya? tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, aku pasti akan menjawabnya" kata Peter dengan tersenyum.


Wajah tersenyum yang sudah hilang itu, kembali lagi, "Ngomong-ngomong... apa kau yang menyebarkan ke media tentang rumor buruk ku?" tanyaku.


"Eh!? a-apa maksudmu?..." kata Peter yang tiba-tiba terkejut.


"Siapa yang berkata kalau aku akan menjawabnya?" kataku.


"Hah... baiklah aku akan menjawabnya, apa kau akan marah?..." tanya Peter ragu-ragu.


"Sesuai jawaban mu..." kataku.


"...Kau benar, hehe" kata Peter sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Aku sudah menduganya, Peter... kau harus merasakan buku sakti ini, balikan badanmu" kataku sambil memegang sebuah buku.


"Eh!?... ba-baiklah..." kata Peter menurut.


Lalu aku melayangkan buku yang ku pegang tepat ke bokong Peter. Peter mu berteriak kesakitan, dan semua orang yang di kantin melihat aksi ku. Mereka semua menertawakan Peter dengan terbahak-bahak.


"Hei... apa yang kau lakukan? kau membuatku malu saja, dan rasanya sakit tahu" kata Peter dengan berbisik padaku.


"Aku baru saja menghukum mu, ah... lebih baik kita kembali ke kelas. Sepertinya 5 menit lagi akan mulai kelas, dan kapan-kapan mampirlah ke rumahku untuk belajar bersama" kataku.


"Wah be-benarkah? aku tak pernah menyangka ini. Padahal waktu dulu kau orangnya begitu tertutup, dan hanya teman-teman dekat mu saja yang di perbolehkan datang ke rumahmu" kata Peter.

__ADS_1


"Ya tentu saja, tapi sekarang aku sudah banyak berubah. Ajak teman-teman mu sekalian untuk belajar bersama" kataku.


Lalu kami semua kembali ke kelas kami, dan mulai untuk pembelajaran berikutnya. Namun di pelajaran berikutnya aku sama sekali tak menyangka, kalau ada guru baru lagi yang akan mengajar kelas kami.


Sebenarnya ada apa ini? kenapa tiba-tiba banyak sekali guru baru di sekolah ini. Aku juga mendengar dari kelas lain kalau ada guru baru juga yang mengajar kelas mereka. Lalu dimana guru-guru yang lama, apa mereka juga menjadi korban dalam kasus yang sedang terjadi?.


Ah untuk apa aku memikirkan hal ini, lebih baik aku fokus, dan belajar. Ngomong-ngomong sudah lama sekali rasanya aku tak berkomunikasi lagi dengan Glasya. Dia menjadi lebih pendiam, dan tak memiliki teman.


Saat dia sedang berjalan pun, dia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Apa aku telah membuatnya kecewa? maafkan aku jika telah membuatmu kecewa Glasya. Aku juga minta maaf, karena aku tak bisa menyampaikan permintaan maaf ku kepadamu.


Aku hanya seorang laki-laki pengecut, yang meminta maaf dalam hati. Itu juga karena aku takut kalau Glasya akan lebih terluka, dan tak mempercayai ku. Padahal aku ingin mengatakan yang sebenarnya padanya.


Seharusnya saat itu juga aku tak mengatakan yang tidak-tidak. Aku sangat bodoh sekali sudah berbohong pada diriku sendiri saat itu, dan membuat Glasya benci padaku. Seharusnya saat itu juga aku menceritakan yang sebenarnya pada Glasya, bahwa aku tak melakukan apapun pada Yaomi.


"Hei... laki-laki bodoh, lihatlah ke depan, dasar aneh" kata Yaomi dengan suara kecil.


"Hei Robin... kemana perginya guru baru itu?" tanyaku kepada Robin yang sedang sibuk membaca.


"Tadi dia bilang kalau ingin pergi ke toilet" kata Robin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.


Dia ternyata sangat bersungguh-sungguh untuk menjadi ranking satu. Sial... tidak boleh seperti inilah, aku juga harus mulai belajar. Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi banyak pikiran, dan tak bisa fokus untuk belajar.


Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, guru baru itu pun kembali lagi ke kelas, dan membawakan sebuah kotak. Entah apa isi di dalam kotak itu, dan anehnya kenapa aku sangat penasaran sekali! sehingga aku tak bisa fokus untuk belajar.


"Anak-anak! perhatikan bapak sebentar, ada yang ingin bapak sampaikan kepada kalian!" kata guru baru itu.


Lalu semua murid mengalihkan pandangannya ke guru itu, "Dua bulan lagi sekolah kita akan mengadakan wisata. Kita akan pergi keluar kota dengan bus, wisata ini berlangsung selama 5 hari termasuk saat berangkat nanti.


Kita akan menginap di sebuah hutan, dan membuat tenda masing-masing. Lalu akan di bagi menjadi 4 kelompok perkelas, 2 kelompok untuk putri, dan 2 kelompok lagi untuk putra. Lalu setiap kelompok harus memilih ketuanya masing-masing.

__ADS_1


Pembagian kelompok akan di bagikan sekitar satu bulan lagi. Hanya itu saja yang ingin bapak sampaikan, mari kita ke pelajaran selanjutnya" kata guru baru itu.


Semua murid sepertinya terlihat senang sekali di dalam hati mereka. Mereka ingin berteriak jika tidak ada guru yang menjaga kelas. Aku juga tak sabar ingin berwisata seperti ini, karena aku tak pernah pergi berwisata bersama keluarga ku.


Jika aku pergi berwisata, itu pun hanya acara sekolah saja. Walau bersama teman-teman pun aku sangat senang sudah bisa pergi berwisata. Semoga saja, tak ada hak yang menyeramkan terjadi saat berwisata nanti.


"Pak... bolehkah saya tidak ikut untuk berwisata nanti?" tanya Yaomi di tengah keheningan.


"Ya? ini adalah acara sekolah, semua murid di wajibkan untuk pergi. Jadi sebisa mungkin kalian harus bisa untuk ikut" kata guru itu.


Lalu ku lihat raut muka Yaomi berubah, entah apa yang dipikirkannya. Akhir-akhir ini dia terlihat sangat aneh, dan serius sekali. Ngomong-ngomong aku juga tidak tahu tentang latar belakang Yaomi.


Mungkin sudah saatnya aku harus mencari tahu siapa sebenarnya Yaomi ini, dan apa yang dia sembunyikan dari anak-anak lainnya. Hatiku berkata, kalau dia itu sangat mencurigakan, dan bisa membahayakan orang-orang.


Lalu akhirnya pulang sekolah pun tiba. Aku, dan Robin pergi ke perpustakaan terlebih dahulu sebelum pulang. Karena Robin mengajakku untuk belajar di perpustakaan, agar aku bisa fokus untuk belajar.


"Hei kenapa kau tiba-tiba mengajak ku ke perpustakaan? padahal kau bilang sendiri saat itu padaku, kalau perpustakaan itu seperti neraka" kataku.


"Berisik... ini juga demi kebaikan kita bersama, kau sama sekali tak fokus di kelas. Apa masih ada hak yang menggangu pikiran mu? kau belum pernah seperti ini sebelumnya" kata Robin.


"Oh... jadi kau memperhatikan ku? ku kira kau hanya sibuk dengan buku mu itu. Aku memang masih banyak pikiran, dan sulit sekali untuk dihilangkan" kataku.


"Apa yang membuatmu memikirkan sesuatu?" tanya Robin.


"Tentang kejadian yang sedang terjadi ini" kataku yang membuat Robin terdiam.


Lalu tiba-tiba saja di tengah perbincangan ku, Peter, dan teman-temannya datang ke perpustakaan juga. Aku sangat bingung, kenapa akhir-akhir ini banyak anak yang ingin belajar? yang padahal mereka tidak suka belajar.


Mungkin mereka ingin menebus kesalahan mereka selama disekolah yang sudah mengkhianati buku pelajaran mereka. Dan ini adalah saatnya orang-orang pemalas seperti mereka untuk menebus kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2