
Aku tak bisa berhenti untuk memikirkan kejadian tadi. Mungkin hanya ada satu solusinya yang membuat pikiranku tenang dari hal yang tak berguna. Aku mengambil buku-buku yang ada di tasku untuk ku baca, dengan begitu aku merasa sangat tenang.
Rasa tenang ini bisa ku dapat setelah aku membaca buku, apapun buku itu dapat membuatku tenang. Buku tetaplah buku, aku seperti bergantung kepada buku. Haha mungkin ini sangat konyolnya sekali.
"Kalau kau memang benar-benar tak bisa menceritakannya, yasudah" kata Peter.
"Tapi... kenapa kau tertawa tadi?" tanyaku yang membuat Peter terdiam, dan mulai tertawa terbahak-bahak lagi.
"Ah... maaf, terkadang aku tak bisa mengendalikan emosiku. Haha, sudahlah tak ada yang perlu di pikirkan, aku akan membantumu memasak" kata Peter.
"Memangnya kau bisa apa?"
"Aku akan menangani hal yang mudahnya saja" kata Peter.
Lalu pada akhirnya aku, dan Peter lah yang membuat makanan bersama untuk satu tenda. Aku melihat dari luar kalau Yaomi masih menutupi dirinya sendiri selimut. Apa mungkin dia sudah tertidur ya? sedangkan yang lain saling mengobrol kecuali Rubby.
Dia berdiam diri saja sambil menundukkan wajahnya. Aku berpikir ada apa dengannya? apa dia tidak memiliki teman?. Kalau aku pikir-pikir selama ini teman yang menerimanya hanya Yaomi, tapi sepertinya dia tidak di benci oleh yang lain.
Kalau begitu itu artinya kalau Rubby pada akhirnya menemukan teman yang cocok dengannya, yaitu Yaomi. Aku jadi merasa kasihan dengannya karena tidak memiliki teman, apa mungkin aku harus mengajaknya untuk berteman denganku, dan juga teman-temanku ya.
Dengan begitu perkumpulan teman milikku bisa jadi lebih banyak. Tanpa sadar aku jadi terus menatapinya, Rubby pun akhirnya sadar kalau ada seseorang yang menatapnya daru tadi. Begitu dia melirikku, dia langsung terkejut, dan membalikkan badannya.
"Ada apa?" tanya Peter yang sedang sibuk mengurusi kangkungnya untuk di potong-potong.
"Tidak ada, astaga! kau masih saja memotong-motong kangkungnya? kau lambat sekali. Bahkan ikan yang ku masak hampir selesai" kataku yang sedang mengaduk-aduk masakan ku.
"Oh ayolah, biarkan aku belajar memasak dari yang ahlinya" kata Peter terus memotong-motong kangkungnya.
__ADS_1
"Hah... terserah kau saja, tapi bisakah kau lebih cepat lagi" kataku.
"Kau tenang saja kalau soal kecepatan aku ahlinya, akan ku mulai dalam hitungan ketiga" kata Peter.
Satu... dua... tiga... begitu hitungan tiga di ucapkan olehnya. Seketika dia langsung memotong-motong kangkungnya dengan sangat cepat, sampai mataku tak dapat melihat gerakannya yang sangat cepat itu.
Gerakannya... seperti sebuah gerakan yang sudah dia latih. Gerakan pemotongan yang tak pernah kulihat, seperti sedang menyerang lawan, dan bukannya memotong-motong kangkung. Dari gerakannya saja aku sudah bisa menilainya, bahwa dia sangat ahli dengan pisau, tentunya pisau dapur.
"Selesai! haha... bagaimana menurutmu? sangat cepat, dan juga sangat rapih kan?" kata Peter yang membanggakan dirinya hanya karena memotong kangkung.
Kemudian aku melihat hasilnya, aku sedikit terkejut karena seperti bukan seseorang yang memotong-motong kangkungnya. Akan tetapi seperti sebuah mesin pemotong kangkung, setiap irisannya sangat rapih sekali.
"Yah... kau memang cukup bagus untuk memotong kangkung ini" kataku memberikan tepuk tangan padanya untuk membuat dia senang.
"Haha... tepuk tangan lebih keras, apa kau tidak mendengar ku? tepuk tangan lebih keras" kata Peter.
Entah kenapa di sekelilingku terdapat orang yang aneh, dan mencurigakan. Seperti Yaomi, Peter, dan mungkin yang baru-baru ini adalah Robin. Semoga saja ini hanya perasaanku saja, entah kenapa aku selalu memikirkan yang buruk.
Aku juga hampir lupa dengan dua orang aneh sebelumnya. Tapi... sikap ayah yang saat itu juga sangat aneh sekali. Kenapa aku selalu memikirkan hal yang seperti ini? apa ini tandanya harus aku sendiri yang mengungkapkan kebenarannya?.
Akhirnya setelah beberapa lama kemudian masakan yang kami buat pun jadi. Aku menggelar tikar yang di bawa oleh William, tikar yang dia miliki cukup besar, dan cukup untuk enam orang beserta dengan makanannya.
Di bantu dengan yang lainnya, seperti Robin membantu meletakan peralatan untuk makan, dan Peter menyiapkan hidangannya. Sementara itu Rubby, dan Yaomi masih di dalam, dan melihat kami para lelaki yang menyiapkan hidangannya.
Kami seperti budak istana kerajaan saja, "Tunggu sebentar... apa kalian melupakan sesuatu yang penting?" tanya William tiba-tiba.
"Sesuatu yang penting seperti apa maksudmu?" tanya Robin yang sedang memakan coklat.
__ADS_1
"Entahlah... rasanya ada sesuatu yang kurang, tapi aku tidak tahu" kata William yang berpikir keras.
Kemudian Rubby, dan Yaomi keluar dari tenda, dan berkumpul bersama kami di. atas tikar. Aku melihat Yaomi yang duduk tanpa ekspresi, entah apa yang membuatnya seperti itu. Apa karena kejadian tadi ya? dia jadi merasa tidak enak padaku, atau dia masih kesal.
Tapi kenapa Peter tertawa kecil kepada Yaomi, dan Yaomi pun tak mempedulikannya. Mungkin aku perlu berbicara berdua saja dengan Yaomi untuk meminta maaf. Dengan begitu masalah ini bisa selesai, dan juga masalahku.
"Nasi..." kata Yaomi tiba-tiba berbicara dengan keras tanpa ekspresi.
"Hei apa maksudnya? kenapa tiba-tiba dia berteriak nasi?" tanya Robin padaku.
Akhirnya aku mengerti tentang sesuatu yang penting seperti apa yang dikatakan oleh William. Aku jadi mengerti karena perkataan Yaomi tadi, kalau di antara kita semua tidak ada yang memasak nasinya.
"Apa!? bagaimana cara kita memakannya jika tidak ada nasinya? kenapa kalian di tim memasak lupa untuk memasak nasi!" kata William yang tiba-tiba membuat tim sendiri.
"Lalu sementara itu apa saja yang kalian lakukan tim pemalas?" balas Peter. yang tidak terima.
"Ah..." William pun terdiam.
"Hei jangan lupakan aku yang sudah membangun tenda ini" kata Robin tiba-tiba yang merasa dirinya di perlukan.
"Kalau begitu apa boleh buat... kita harus meminta nasi kepada orang lain. Kalau begitu... ayo berpencar" kataku.
Lalu kami semua berpencar untuk meminta nasi kepada orang lain. Ada juga yang tak mau memberikan nasinya karena jumlahnya sudah cukup untuk kelompoknya. Lalu pada akhirnya tidak ada yang mendapatkan nasi sedikit pun.
Kami semua pun kembali duduk di tikar dengan kelelahan karena sudah berputar-putar untuk meminta sebuah nasi. Sebenarnya di antara kami sudah ada yang membawa beras, dan tungku untuk memasak nasi.
Tapi jika kami memasak nasinya sekarang, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama, dan bukan hanya itu saja. Masakannya pun mungkin sudah tidak segar karena menunggu sampai nasinya jadi.
__ADS_1
Tapi hanya Peter yang belum kembali, aku sudah melihat ke sekitar tapi Peter tidak ada. Karena banyak sekali orang di sekeliling kami, aku jadi kesulitan untuk menemukan Peter. Namun dari kejauhan akhirnya Peter datang membawa bakul yang besar.