Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Tangguh


__ADS_3

Hari esok telah tiba, pagi ini aku harus bersiap-siap untuk pergi ke stasiun tv ku. Hatiku sangat berdebar sekali, rasanya lebih baik aku mati saja. Banyak orang yang akan menonton, dan akan segera mengetahui kebenarannya.


"Nona Gillie... kenapa wajahmu terlihat pucat begitu?" tanya Akai.


Ah benar juga aku hampir lupa tentang Akai, dia, dan aku sudah memperbaiki hubungan pertemanan kami yang rusak semenjak dia ikut serta dalam membantuku. Awalnya dia ingin pergi, dan mengasingkan diri dariku. Namun karena aku sudah tak masalah lagi dengan apa yang terjadi saat itu.


Dan berbincang-bincang dengan Akai, akhirnya Akai tak jadi pergi. Tapi di balik rasa takutku saat ini, aku ingin mengetahui seperti apa nantinya ekspresi Akai saat mengetahui ku kalau aku adalah seorang laki-laki. Mungkin aku akan tertawa keras, atau merasa malu, ah entahlah aku tidak tahu!.


"Apa karena kau ingin menunjukkan sesuatu pada semua orang saat siarannya di mulai?" tanya Akai, sebelumnya aku memberi tahu dia kalau aku ingin menunjukkan sesuatu pada seluruh penonton.


"Ya... begitulah... kau mungkin akan terkejut, aku sangat menantikannya" kataku tertawa kecil.


"Hmm? entah apa itu... tapi aku berjanji aku tak akan terkejut" kata Akai dengan yakin.


"Aku sudah selesai... jadi kita langsung berangkat saja?" tanya Yudo yang tiba-tiba datang, setelah dia bersiap-siap.


"Baiklah... aku sudah siap ayo" kataku dengan tubuhku yang bergemetar.


"Haha! siap apanya sampai tubuhmu bergemetar ketakutan begitu haha!" tawa Yudo.


"Berisik! baiklah ayo kita berangkat" kataku yang segera masuk mobil yang dikendarai oleh Kajo yang sebagai supir pribadi kami.


"Oh ya, kalian akan menyusul untuk menonton acara kami kan?" tanya Yudo pada Akai, dan Carlo yang sudah siap-siap dengan pakaian yang mempesona.


"Tentu saja kami sudah siap nona Yaomi" serentak kata mereka dengan pose sok jantan.


Setelah itu akhirnya kami pun segera berangkat, aku masih sangat gugup sekali. Tubuhku masih bergemetar, dan menjadi lemas karena saking takutnya. Tapi kemarin ayah bilang padaku, kalau ayah akan ikut serta sebagai penonton di acara ku secara langsung.


Tapi tetap saja, meski ayah berkata begitu aku masih merasakan ketakutan yang luar biasa. Karena selama ini aku hidup terus bersembunyi, dan menghilangkan identitas tentang diriku yang sebenarnya. Aku juga telah mengundang Glasya untuk ikut menonton acara siaran langsung kami.


"Nona nona, kita telah sampai di tujuan kita" kata Kajo yang segera keluar, dan membukakan kami pintunya.

__ADS_1


Aku terkejut kalau ternyata kami sudah sampai, waktu terasa berjalan cepat sekali bagiku karena terus memikirkan apa yang akan terjadi saat aku di panggung nanti, dan mengatakan tentang diriku yang sebenarnya. Aku sangat takut sekali, lalu tiba-tiba saja Yudo menepuk pundak ku dengan tersenyum sambil mengedipkan matanya.


"Tenanglah... kau tidak perlu merasa takut, karena setelah ini... kau bisa hidup dengan bebas seperti apa yang kau inginkan. Kau tidak perlu lagi menutup-nutupi siapa kau sebenarnya seperti saat ini" kata Yudo yang membuatku yakin akan kata-katanya.


Kemudian aku segera keluar mobil, dan berjalan, "Terima kasih... sahabat ku" kataku.


"Haha apa sih... kata-kata mu membuatku geli" kata Yudo.


"Apa!? kau duluan yang mengatakan kata-kata seperti itu barusan. Kau pikir aku tidak geli mendengarnya!" kataku yang kesal.


"Hahaha... tapi aku tidak ingat sebelumnya aku berkata apa tuh" kata Yudo.


"Dasar kau ini..." kataku yang geram padanya.


Begitu kami masuk, kami di sambut dengan hangat, dan lembut seperti biasanya oleh para staf kami. Sebelum siaran langsung dimulai, kami bersiap-siap lagi. Acara kali ini aku akan di tanyai tentang apa yang ingin kukatakan sebelumnya, seperti acara talk show.


Aku sangat tegang sekali, begitu tampil di siaran langsung kali ini. Tak terasa kalau acara talk show sudah berlangsung selama 20 menit lamanya. Awalnya kami hanya berbincang-bincang saja, dan sepertinya sudah waktunya perbincangan ini di mulai dengan apa yang ingin ku katakan kepada publik.


"Baiklah aku akan menunjukkannya saat ini juga, tunggu aku sebentar ya..." kataku meninggalkan panggung.


Kemudian aku pergi ke ruang ganti dengan rasa takut hantu menyelimuti ku. Aku sangat takut sekali, dan gugup, rasanya jantungku tidak berdetak. Apakah aku sudah siap... untuk... menunjukkan diriku kepada dunia, tentang siapa aku yang sebenarnya?.


Aku menatap cermin, dan melihat wajahku dengan seksama. Kemudian tiba-tiba saja aku mendengar suara kecil di dalam hatiku, "Lakukanlah". Kata-kata itu membuatku memiliki keberanian walau hanya sedikit, setidaknya itu cukup untukku.


Tapi tiba-tiba saja aku mendengar suara keributan, yang entah apa yang terjadi di luar. Lebih baik aku memikirkan diriku sendiri, tentang bagaimana aku mengatakannya nanti saat di panggung. Namun aku mendengar sesuatu dari kegaduhan itu.


"Maaf pak, anda tak boleh berada disini, meskipun anda bilang kalau anda adalah orang penting disini" kata seseorang di luar sana.


"Ada yang ingin saya tunjukkan, jadi mohon biarkan saja memasuki panggung" kata seseorang yang suaranya tak asing ku dengar.


"Maaf pak tapi anda tidak..."

__ADS_1


Lalu tiba-tiba datang bos yang mengatur acara ini, "Biarkan dia... sepertinya ada sesuatu yang ingin dia lakukan di atas panggung"


"Apa!? tapi bos..."


"Terima kasih... aku pergi dulu" kata seseorang yang suaranya tak asing ku dengar itu.


Aku mencoba mengingat-ingat suara siapa itu? rasanya tak asing, sepertinya aku sering mendengar suara orang itu. Lalu tiba-tiba setelah itu ada seseorang yang berbicara di panggung yang menggantikan ku berbicara. Aku tidak tahu siapa dia, apa dia orang yang dikirim ayah untuk mengatasi masalah ini?.


"Hai semuanya... ada yang ingin saya katakan kepada kalian semua" kata orang itu yang suaranya sampai terdengar ke ruang ganti pakaian. Tentu saja suaranya terdengar karena ini adalah tempat yang sangat besar, dan di penuhi banyak orang dengan menggunakan mikrofon, dan speaker yang bekerja membuat suara terdengar lebih keras, dan meriah.


"Suara ini! tidak salah lagi!" aku langsung segera membersihkan make up yang ada di wajahku, dan mengganti pakaian ku dengan pakaian pria, dan segera berlari memasuki panggung. Orang-orang yang berada di sekitar ku terkejut, kalau yang keluar bukan nona Gillie, akan tetapi seorang laki-laki.


"Sebenarnya saya adalah..."


"Tunggu... Yudo..." kataku yang ngos-ngosan, Yudo tak terkejut begitu melihatku, dan malah tersenyum. Sepertinya dia sudah merencanakan semua ini, kalau dia akan mengungkapkan jati dirinya pada dunia. Tapi mengapa? bukankah dia akan hidup dalam wujud Yaomi untuk waktu yang lama, atau mungkin selamanya?.


Tentu semua orang yang melihat kami sangat terkejut, dan terjadi kegaduhan. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi disini, dan dimana nona Gillie. Suara keramaian, dan sangat bising di telinga ku, membuat tubuhku bergemetar kembali.


Kemudian Yudo menghampiri ku dengan tersenyum, layaknya seorang sahabat yang selalu membantuku di kala aku sedang kesulitan. Setiap aku tak tahu jalan mana yang akan ku pilih, Yudo selalu ada bersama ku membantu ku memilih, dan berjalan bersama dengan jalan yang kami putuskan.


"Jangan takut layaknya seorang wanita... harus kau ingat kalau kau adalah seorang laki-laki yang kuat, tangguh, dan juga pemberani" kata Yudo yang mencoba menguatkan hatiku.


"Apa... aku bisa melakukannya... melihat ke para penonton saja... sudah membuatku ketakutan begini" kataku yang masih ragu, dan bergemetar.


"Ada aku yang selalu bersama mu disini, kita adalah sahabat bukan. Tugasku sebagai sahabat mu adalah untuk selalu mendukungmu, apapun yang terjadi" kata Yudo.


"Kau selalu saja seperti ini... sementara aku tak bisa memberikan apapun kepada mu" kataku yang kecewa pada diriku karena aku selalu mengandalkan Yudo.


"Kau sudah membuatku merasakan hangatnya keluarga..." kata Yudo yang tersenyum lebar padaku, yang membuatku sedikit terkejut, dan perlahan-lahan ketakutan ku pada dunia sedikit menghilang. Tatapannya... itu adalah tatapan seorang pria yang tangguh, meski diberikan berbagai penderitaan.


Meski begitu, dia tetap juga tangguh, dan tak pernah terjatuh. Dia terus mengejar apa yang dia inginkan, itulah yang kulihat dari sudut pandang ku pada Yudo saat ini. Apakah aku harus mengatakannya sekarang juga? aku... akan kukatakan sekarang juga!.

__ADS_1


__ADS_2