Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Perjalanan (4)


__ADS_3

Pertarungan pun berakhir dengan penuh lebam di tubuh, dan darah akibat benturan yang keras. Seluruh isi ruangan lantai satu begitu berantakan akibat perkelahian yang hebat. Akhirnya kami menang, walau kajo, dan Carlo terluka cukup parah dengan kepala yang bocor, dan pergelangan kaki yang patah.


Sementara aku hanya mimisan, dan lebam di seluruh wajahku, seperti sebelumnya, Akai masih saja hebat dalam sebuah pertarungan. Dia masih dapat berdiri tegak seperti itu setelah mengalami luka yang cukup parah. Dia sama sekali tak berani menatapku, Akai terus saja berusaha untuk menghindari ku.


Kemudian aku menghampirinya, dan menepuk pundaknya, "Terima kasih karena telah ikut menyelamatkan ku" kataku tersenyum padanya yang membuat wajahnya merah seperti tomat, lagi-lagi dia membuatku merasa jengkel.


"Aku minta maaf karena telah melanggar janji yang ku buat sendiri untuk tidak masuk lagi ke kehidupan mu" kata Akai.


"Sudahlah... aku sudah tak peduli lagi dengan masa lalu. Aku hanya sedang memikirkan masa depan, tentang bagaimana... aku dapat mengatakannya yang sebenarnya kepada semua orang yang telah ku bohongi" kataku merenungkan perkataan ku barusan.


Yudo yang mendengar perkataan ku barusan sangat terkejut, dan segera menghampiri ku, dan membawaku ke tempat sepi untuk membicarakan perkataan ku tadi. Benar juga aku belum bilang soal ini kepada Yudo, akh tidak tahu dia setuju apa tidak denganku.


Biarkan dia memilih jalannya sendiri untuk di tempuh, aku tak akan menghalangi jalan yang dia inginkan. Meskipun dia menjadi Yaomi untuk selama-lamanya, aku tak akan menghalanginya, karena mungkin itu adalah yang terbaik untuknya.


"Apa maksud dari perkataan mu barusan?" tanya Yudo kepadaku dengan tatapan serius. Karena melihat tatapan Yudo, membuatku menjadi bimbang dengan apa yang telah ku tetapkan.


"Apa kau tidak lelah hidup penuh dengan kepalsuan seperti ini?" tanyaku yang hanya untuk memastikan dia berpikir hal yang sama denganku atau tidak.


"Kalau boleh jujur, awalnya aku memang tidak suka dengan kehidupan yang penuh dengan kepalsuan seperti ini. Tapi begitu aku tahu bahwa hidup seperti ini persis seperti kehidupan yang aku inginkan. Aku mulai merasa nyaman dengan kehidupan ku yang seperti ini" kata Yudo yang terlihat masih bingung dengan jalan mana yang akan dia pilih.

__ADS_1


"Jadi... apa kau akan terus hidup penuh dengan kepalsuan seperti ini... untuk selama-lamanya?" tanyaku untuk memastikan lagi dengan apa yang dikatakan Yudo sebelumnya.


"A-aku... aku tidak tahu... tolong beri aku waktu untuk memikirkan kembali perkataan mu. Sebelum aku memberikan jawaban ku kepada mu, tolong jangan tunjukkan jati dirimu yang sebenarnya kepada dunia. Karena mungkin saja... saat itu aku akan berada di pihak yang sama denganmu" kata Yudo.


"Baiklah kalau begitu, tapi jangan terlalu lama untuk memikirkannya... yasudah untuk rencana terakhirnya, kau harus menyuruh mereka kembali. Karena rahasia ini hanya kita berdua saja yang tahu, walaupun sebenarnya ini adalah masalah ku sih. Tapi kau adalah sahabat yang terbaik yang pernah ku temui" kataku dengan tersenyum sambil mengangkat kedua tanganku dengan lega.


Setelah pertarungan itu, Yudo meminta semuanya untuk kembali lagi. Untuk para berandalan yang sedang pingsan itu, mereka membawanya ke kantor polisi untuk menjelaskan apa yang terjadi. Agar mereka bisa di amankan, dan tak lagi membuat keributan.


Lalu yang terakhir untuk tuan Kyura, kamu menggotongnya menuruni ruang bawah tanah. jantungku berdegup begitu kencang, dan aku merasa begitu gugup saat berdiri di depan pintu yang amat mencurigakan ini. Mungkin... aku akan sangat terkejut sampai pingsan, atau... ada sesuatu yang lainnya.


Yudo menutup mulut kyura dengan lakban karena sedari tadi dia berisik sekali berteriak-teriak sambil mengatakan akan membunuhku. Entah kenapa dia memusatkan amarahnya hanya padaku, tapi tidak dengan Yudo yang padahal dia juga secara tidak langsung ikut dalam masalahnya.


"Baiklah... tapi apa kau tidak ingin masuk untuk melihatnya?" tanyaku.


"Sepertinya aku tidak perlu ikut campur dalam masalahmu lebih dalam lagi. Karena aku bukanlah siapa-siapa atau seseorang yang spesial bagimu" kata Yudo yang peka terhadapku.


Lalu dengan perlahan aku memegang gagang pintunya. Jantungku berdegup begitu kencang sekali, dan aku semakin gugup. Menyebalkan sekali di saat-saat seperti ini aku menjadi gugup seperti ini. Lalu tak lama lagi aku segera mendobrak pintunya dengan kencang dari pada aku membukanya perlahan karena itu membuatku semakin gugup.


Teriakan tuan kyura semakin keras saja, padaku mulutnya sudah di tutup rapat dengan lakban oleh Yudo. Aku belum sempat melihat apa yang ada di dalam, karena di dalam sana gelap sekali. Tapi sepertinya ada tombol lampu di dalamnya, tapi sebelum itu karena teriakan tuan Kyura membuatku goyah dengan apa yang ingin ku lakukan.

__ADS_1


Akhirnya aku kembali menghampiri Kyura, dan Yudo, "Yudo... sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tolong buka lakban yang ada di mulutnya" kataku.


"Baiklah... walau agak menyebalkan, tapi sepertinya dia ingin mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya" kata Yudo sambil membuka lakban itu dengan sangat cepat hingga mengeluarkan suara.


Begitu di buka lakban yang ada di mulutnya, Kyura terengah-engah sambil batuk-batuk. Aku tak sadar kalau sedari tadi dia menangis, sampai segitunya dia menangis karena tidak ingin ada seorangpun yang tahu apa yang ada di balik pintu ruang bawah tanahnya itu.


"Tolong... hiks... jangan lihat... huhu ruangan itu" kata tuan Kyura yang menangis sampai tersengal-sengal. Anehnya suara tangisannya terdengar aneh di telingaku, seperti suara yang berbeda dari suara Kyura yang ku kenal. Apa selama ini dia juga menyembunyikan suara yang sebenarnya, atau suara di saat dia menangis menjadi berbeda.


"Memangnya ada apa di dalam sana? apa kau pikir setelah kau menangis seperti ini aku akan mengasihani mu? berhentilah terlihat payah seperti itu setelah apa yang kalian lakukan semuanya terhadap ku dasar penjahat!" teriakku dengan sangat keras sambil menahan air mataku supaya tak jatuh.


"Tunggu... apa maksudmu dari kata mereka?" tanya Yudo padaku.


"Aku memiliki pemikiran kalau masalah ini ada sangkut-pautnya dengan Robin. Mungkin mereka juga yang telah membunuh ayahku... aku... benar-benar... ingin membunuh kalian" kataku yang tetap menahan air mataku dengan sekuat tenaga.


"Kau yang memulainya!...." tiba-tiba kata Kyura sambil berteriak, namun anehnya dia langsung menghentikan perkataannya yang belum selesai dikatakan. Aku menjadi curiga dengan apa yang ingin dia katakan tadi, dan apa maksud dari perkataannya.


"Aku yang... memulainya?" bukankah kalau seperti itu aku yang telah berbuat sesuatu terhadapnya sehingga dia terus-terusan mencelakai ku seperti ini. Tapi kalau begitu dia tidak perlu sampai membunuh banyak orang seperti ini, sampai-sampai ayahku juga di bunuh olehnya.


Memangnya kesalahan apa yang pernah ku lakukan sebelumnya? aku benar-benar tidak ingat. Apa dia hanya membual saja untuk mengalihkan waktu. Aku sudah tak peduli lagi, kebenaran akan terungkap begitu aku masuk ke dalam pintu itu!.

__ADS_1


__ADS_2