
Rasanya keadaannya lebih memburuk begitu aku tiba di rumah, dibandingkan dengan di hutan dengan si pembunuh. Rasanya kepalaku akan meledak karena terus-terusan di tanyakan oleh mereka, tapi aku tahu ini adalah salah satu kekhawatiran mereka terhadapku.
"Apa benar kalau kamu jatuh dari pohon, Claude?" kata ibuku yang matanya berkaca-kaca.
"Iya ibu... aku kan sudah mengatakannya selama seratus kali tadi" kataku.
"Memangnya pohon itu setinggi apa, sampai-sampai tulang mu hancur seperti ini?" tanya ayahku yang ikut khawatir kepada ku.
"Entahlah ayah, aku tidak ingat" kataku yang berpura-pura lupa.
"Baiklah kalau begitu, bapak akan mengantarkan mu ke rumah sakit" kata ayahku.
Akhirnya aku lega sekali permasalahan kekhawatiran orang tuaku sudah selesai. Kepalaku sakit sekali mendengar perkataan ibu yang diulang-ulang meski aku sudah mengatakannya berulang-ulang juga. Aku di bawa ke rumah sakit terdekat, dan itu adalah rumah sakit yang paling bagus menurut ayahku.
Beberapa bulan berlalu, aku mendengar kabar tentang sekolahku. Kalau saat aku, dan teman-temanku pulang, para polisi mengurus tempat kejadian itu. Aku sangat rak percaya ini, bagaimana bisa para polisi itu percaya dengan kata-kata anak kecil seperti kami.
Dan lagi seharusnya mereka menganggap cerita yang disampaikan oleh Fred, dan Peter sepertinya sebuah kebohongan. Tapi tak ku sangka sama sekali kalau mereka percaya begitu saja dengan kata-katanya.
Aku mendapat kabar ini dari teman-temanku, yang pasti ada mereka berdua, yaitu Peter, dan Fred. Lalu para polisi juga telah berhasil menangkap semua pembunuh itu, dan menyelamatkan beberapa murid yang tersisa di sana. Awalnya aku sempat khawatir kalau teman-temanku yang masih ada disana sudah mati terbunuh.
Tapi syukurlah semua temanku selamat, namun hanya ada satu temanku yang tak selamat dari kejadian itu. Yaitu... Rubby, dia di temukan hanya dengan bagian kepalanya saja. Para pembunuh itu benar-benar kejam sekali, mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal dengan apanya telah mereka lakukan.
Kemudian aku mendapat kabar juga dari teman-temanku, kalau para pembunuh itu mendapat hukuman mati. Fred juga telah memastikan kalau tidak ada satu pembunuh pun yang berada di hutan itu melarikan diri.
__ADS_1
Karena kejadian ini aku jadi mengerti tentang kejadian yang sama yaitu telah berlalu sekitar 30 tahun yang lalu. Kalau para pembunuh, dan penculik itu adalah para guru, atau petugas yang ada di sekolah. Tapi kejadian yang dahulu terjadi, mereka sangatlah hebat.
Karena tidak diantara mereka yang ketahuan, mereka benar-benar sangat misterius. Lalu dengan bodohnya pihak sekolahku ingin melakukan hal yang sama seperti kejadian 30 puluh tahun itu. Lalu yang merupakan dapatkan adalah kegagalan, mereka melakukan tidak sempurna seperti kejadian yang lalu.
Dari 300 murid lebih yang ikut berwisata, hanya sekitar 70 orang saja yang selamat. 300 murid itu adalah murid-murid yang seangkatan denganku. Lalu bagaimana dengan orang tua mereka? tentu saja mereka semua menangisi kepergian anak-anaknya.
Di dalam hatiku yang kecil, rasanya aku masih tidak terima dengan para pembunuh itu. Seharusnya mereka di siksa sampai mental mereka rusak, lalu setelahnya mereka di bunuh dengan kejam. Aku sangat kesal sekali sekaligus sedih dengan kepergian teman-teman seangkatan ku.
Aku sangat menyesal, dan merasa bersalah karena selama ini aku telah mengabaikan mereka. Seharusnya aku menerima permintaan pertemanan mereka. Seharusnya aku menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Namun sudah tidak ada yang bisa kulakukan, karena semuanya telah berlalu.
Karena terjadi kejadian seperti ini, orang-orang yang selamat termasuk aku sendiri. Tidak di perbolehkan masuk sekolah lagi sampai satu tahun lamanya. Ini semua dengan tujuan untuk menyembuhkan mental murid-murid yang telah menjadi korban.
Dan jika satu tahun telah berlalu, kami akan langsung di naikan ke kelas 3 SMA. Yang bisa kulakukan saat ini hanya terbaring kaku di rumah sakit. Tapi sepertinya beberapa anggota tubuhku sudah bisa ku gerakan, walau masih bergemetar.
Tak hanya itu saja, teman-temanku juga datang menjengukku, namun sayangnya tidak semua di antara mereka datang menjengukku. Karena mereka masih harus menyesuaikan diri dari tragedi yang kejam itu. Ada beberapa di antara murid yang selamat, kehilangan pola berpikirnya, akhirnya mereka pun menjadi gila, dan tidak terkontrol.
Pada akhirnya orang tua mereka menyerahkan anaknya yang sakit jiwa itu ke rumah sakit jiwa, dan berharap kalau anak-anak mereka dapat menjalani kehidupannya dengan normal. Hanya ada tiga temanku yang terkadang datang untuk menjengukku di rumah sakit. Mereka adalah, Peter, Fred, dan Robin.
Klek! seseorang datang ke ruangan ku, "Hai Claude, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Peter sambil membawakan makanan.
"Seperti biasa, keadaan ku perlahan semakin membaik. Walau sampai saat ini aku masih belum bisa bergerak sesuai keinginan ku" kataku yang terbaring seharian di kasur.
"Sabarlah... mungkin beberapa bulan lagi kau akan segera sembuh. Jangan patah semangat begitu, lihat ini... aku membelikan buku baru untukmu" kata Fred memberikan sebuah buku padaku.
__ADS_1
Kemudian aku meraihnya dengan tangan kiri ku yang bergemetar, dan juga di bantu dengan tangan kananku. Sementara itu ada satu temanku lagi yang datang, seperti yang kukatakan sebelumnya, dia adalah Robin. Buku yang diberikan oleh Fred berjudul, "Penjahat yang patah tulang".
"Apa-apaan buku yang kau belikan untukku ini? apa kau menyindirku" kataku kesal.
"Haha... maaf, aku asal mengambil buku dan membelinya di toko buku" kata Fred.
"Apa kau membelinya di toko buku yang saat itu kita pernah bertemu?" tanyaku.
"I-iya, kau benar..." kata Fred yang tiba-tiba jadi ragu-ragu menjawabnya.
"Oh ya Claude, ini aku bawakan buah-buahan segar untukmu" kata Robin meletakan keranjang buah itu di meja.
"Terima kasih... terima kasih semuanya. Akhirnya... berkat kalian semua, aku dapat menyadari sesuatu yang berharga bagiku" kataku yang tiba-tiba membuat suasana ini menjadi canggung.
Seperti itulah kehidupan ku selama di rawat di rumah sakit ini. Terasa sangat menyenangkan jika ada seseorang yang menjengukku, maupun teman ataupun keluarga. Akan terasa sangat membosankan, dan kesepian jika hanya sendirian berbaring di atas kasur.
Yang hanya bisa menonton televisi seharian, acara televisinya pun sangat membosankan. Tidak ada satupun acara televisi yang sangat menghiburku. Hari-hari pun berlalu begitu saja, hingga beberapa bulan berikutnya, aku bisa pulang ke rumah.
Karena aku sudah sembuh, walaupun kata dokter aku tidak diperbolehkan banyak bergerak, atau mengangkat sesuatu yang berat. Karena tulang-tulang ku yang baru terbentuk kembali, masih membutuhkan penyesuaian.
Dan tiba saatnya aku mendaftarkan diri untuk masuk ke sekolah. Masih tersisa 1 bulan untuk kami semua yang menjadi korban untuk masuk sekolah. Aku menghubungi semua teman-temanku untuk bersekolah bersama, di tempat yang sama.
Obrolan grup chat kami pun bertambah, kami pun menjadi semakin akrab, dan mental kami semuanya telah kembali normal. Namun anehnya begitu aku sembuh, aku tak lagi mendengarkan kabar dari Fred. Dia menjadi orang asing lagi bagiku, sama seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1