Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Hutan


__ADS_3

"Kenapa kau menatapku terus sih!" teriak Rubby dengan keras yang mengejutkan ku yang sedang melamun.


Kemudian semua orang yang sibuk pada dirinya sendiri langsung melihatku. Sial padahal tadi tanpa sadar aku menatapnya terus-terusan karena melamun memikirkan kesalahan ku.


Ternyata Rubby tidak semenyebalkan yang aku kira, yang tadi itu salahku sih karena menatapnya terus-terusan yang membuat orang lain menjadi khawatir. Padahal dulu kalau di ingat-ingat dia itu cukup menyebalkan walau hanya sebentar.


Mungkin aku menganggap dia menyebalkan saat itu karena aku sedang marah besar, jadi ku anggap semua orang sama saja. Oh ya, ngomong-ngomong soal Yaomi, kira-kira dia ada di bua nomor berapa ya?.


"Permisi Rubby... aku ingin lewat sebentar" kata seseorang yang suaranya tak asing bagiku.


Kemudian aku melihat ke arah kananku, dan ternyata aku baru sadar kalau yang duduk di sebelah Rubby adalah Yaomi!. Perempuan menyebalkan itu... padahal baru saja aku memikirkannya dia langsung muncul di hadapanku.


Tapi apa yang ingin dia lakukan? kenapa dia pergi ke depan, apa dia ingin ganti tempat duduk. Karena aku penasaran, jadi aku melihatnya dengan setengah berdiri. Ternyata dia hanya ingin mengambil kembali earphone yang dia pinjamkan kepada orang lain.


Kemudian begitu Yaomi balik lagi ke arah tempat duduknya, aku langsung segera duduk kembali, dan pura-pura tak melihatnya tadi. Di sepanjang perjalanan berikutnya aku berhenti membaca buku, dan hanya melihat pemandangan begitu sampai di pemberhentian.


Kami semua berhenti di suatu tempat parkir, tempat parkir ini adalah jalan terakhir yang ada di hutan ini. Jadi kami semua harus berjalan masuk ke dalam hutan. Lalu kami semua turun, dan mengambil barang-barang kami.


Sebelum masuk ke dalam hutan, kami di suruh untuk berbaris terlebih dahulu untuk mengulang absen. Begitu absen selesai, di lanjutkan dengan informasi yang terkait dengan hutan ini, dan apa saja yang akan di lakukan selama di hutan ini.


Yang pertama adalah mendirikan tendanya masing-masing, yang berisikan maksimal sekitar 6 orang kurang lebih. Pemilihan orang untuk tendanya bebas, atau bisa di bilang murid yang menentukannya sendiri.


Dan juga tidak ada peraturan untuk anak kelas lain bersama dengan kelas lainnya. Jadi dari kelas mana saja murid bisa berkumpul bersama. Lalu kami mulai menentukan pemilihan tentang siapa saja yang ikut di tenda kami.


"Hei! apa aku boleh ikut bergabung?" tanya William yang baru saja datang.


"Tentu saja! kami juga sedang kekurangan anggota untuk tenda kami" kata Peter.

__ADS_1


"Memangnya siapa saja yang ada di tenda?" tanya William yang masih kelelahan karena sepertinya dari tadi mencari-cari kami.


"Aku, kau, Claude, Rubby..."


Aku terkejut begitu mendengar nama Rubby, "Apa!? Rubby? yang benar saja! masa iya laki-laki, dan perempuan berada di tenda bersamaan" kataku yang tak menyangka.


"Lagi pula kan tidak ada peraturan yang seperti itu" kata Peter.


"Tapi tetap saja itu agak... ah sudahlah, tapi bagaimana jika di antara kita ada yang tak bisa menahan diri?" tanyaku.


"Hah? menahan diri untuk apa maksudmu?" tanya Peter yang berpura-pura polos.


"Ah sudahlah aku malas berbicara denganmu, oh ya lalu dua lagi siapa?" tanyaku.


"Yaomi..." lagi-lagi aku dikejutkan dengan perkataan Peter.


Apa mungkin... Peter lah yang mengajak Rubby, dan Yaomi di tenda yang sama. Sialan Peter, tapi bagaimana dengan Yaomi? seharusnya dia masih berpura-pura takut denganku. Kenapa dia malah satu anggota tenda bersamaku.


Ini aneh sekali, hanya ada dua kemungkinan yang membenarkan. Yang pertama adalah, Yaomi tidak tahu kalau ternyata satu tenda denganku karena di ajak Peter, lalu yang kedua Yaomi merencanakan sesuatu.


Oleh karena itu Yaomi ingin satu kelompok denganku, kalau seperti itu aku harus berwaspada terhadapnya. Bisa-bisa dia melakukan sesuatu padaku, atau temanku yang lainnya, ini gawat sekali. Lagi pula kenapa tidak ada larangan untuk memisahkan lawan jenis dari tenda!.


"Kalau begitu totalnya ada lima dong, lalu yang terakhir siapa?" tanya William yang dari tadi menghitung menggunakan jarinya.


"Benar juga ya... satu lagi siapa ya? aku jadi lupa karena kau bertanya padaku. Mungkin anggota di tenda kita hanya lima saja, lagi pula kalau kebanyakan akan semakin sempit, dan panas" kata Peter.


"Tapi... apa kalian tak merasakan ada yang kurang? atau yang aneh?" tanyaku.

__ADS_1


"Hmm... ngomong-ngomong... dimana Robin?" tanya William yang membuat perkumpulan ini menjadi hening.


"Astaga! aku lupa membangunkan dia! sepertinya dia masih berada di dalam bis. Kalian tinggu saja di sini, aku akan segera kembali" kataku berlari menuju bus nomor 7, yaitu bus yang kami tempati.


Begitu aku masuk ke dalam bus, aku tak menemukan Robin di tempatnya. Kemudian aku melanjutkan mencari-cari Robin di dalam bus yang gelap dengan menggunakan lampu senter dari ponselku.


Namun... aku sudah mencarinya ke semua tempat yang ada di bus ku, aku tidak menemukan dimana Robin berada. Tiba-tiba terbesit di pikiranku tentang, "Pembunuhan" aku tiba-tiba berpikir kalau para pembunuh itu membuntuti bus sekolah kami.


Lalu dengan di tempat yang sepi, dan gelap seperti ini sangat mudah untuk mereka melakukan aksi pembunuhan. Hatiku menjadi gentar, dan berkata, "Ini semua tidak akan pernah terjadi".


Aku yakin Robin masih berada di suatu tempat yang tak jauh dari area hutan ini. Apa mungkin dia sudah di bawa kabur, lalu di bunuh? tidak! aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Kemudian aku berlari kencang menuju William, dan Peter yang menungguku dari tadi di tempat yang sama.


"Ada apa Claude? kenapa kau berkeringat seperti itu?" tanya Peter.


"Hah... Robin... Robin menghilang!" kataku dengan berteriak yang mengejutkan kedua temanku.


"Apa!?"serentak mereka yang terkejut.


"Lalu kita harus bagaimana!? apa kita harus lapor kepada para guru?" tanya Peter yang ikut panik, dan gelisah.


"Ya... kita harus melaporkan kehilangan Robin kepada para guru. Sebelum semuanya terlambat" kataku dengan serius.


Lalu kami semua berpencar ini melaporkan kejadian ini kepada para guru satu-satu. Sehingga para guru menginformasikan kepada semua peserta didik untuk berkumpul kembali di lapangan, dan absen lagi satu-persatu.


Namun begitu nama Robin di panggil... tidak ada siapapun yang menjawabnya, yang berarti Robin sudah tidak ada. Aku, dan teman-temanku menjadi semakin gelisah. Begitu juga dengan murid-murid lain yang menjadi ketakutan, dan ada yang ingin pulang.


Namun karena terlanjur kita semua berada disini, jadi tidak di perbolehkan pulang. Karena tidak ada kabar lagi mengenai Robin, kami semua melanjutkan wisata kami. Kami semua di suruh masuk ke hutan, dan membuat tenda masing-masing untuk berisikan 6 orang.

__ADS_1


__ADS_2