
Kemudian aku melakukan apa yang tertulis di surat itu. Tentang sesuatu yang ada di balik kasurnya untuk mengungkapkan kebenaran tentang hilang ingatan ibu ini. Begitu aku mengangkat kasurnya aku sangat terkejut begitu melihat apa yang ada di balik kasur milik Robin.
Ada sebuah pil obat, begitu ku periksa pil obatnya sudah habis. Tapi apa maksudnya ini? apa benar petunjuknya adalah pil obat ini yang di maksud Robin untuk mengungkapkan kebenaran tentang hilangnya ingatan ibu ini. Kalau begitu apa mungkin... pil obat ini adalah obat yang membuat ibu ini hilang ingatan?.
Begitu pil obat ini sudah habis, dia langsung segera pergi dari sini. Tapi begitu ku periksa lagi ternyata ada lebih banyak pil obat di balik kasurnya yang kutemukan. Semua pil obat itu sudah habis, tidak ada satupun yang tersisa dari sekian banyaknya botol pil itu.
Brengsek! Robin! kenapa kau melakukan semua ini kepada orang yang tidak bersalah padamu!. Kalau kau sangat membenciku, seharusnya kau tidak melakukan hal ini kepada orang lain! lampiaskan saja kebencian mu padaku! jangan pada orang lain.
"Obat-obatan apa ini?" tanya ibu itu yang terkejut begitu melihatnya.
"Menurut dugaan saya... obat ini adalah obat yang membuat selama ini ibu hilang ingatan. Obat ini seperti obat halusinasi kepada penggunanya. Sehingga berhalusinasi memiliki keluarga yang sangat indah" kataku.
"Apa!? memang benar kalau selama ini aku tidak memiliki siapapun sekarang. Aku pindah kesini tiga tahun yang lalu karena ingin menjalani hidup yang baru" kata ibu itu sedih.
Kemudian tanpa sadar saat aku sedang mengecek semua botol obatnya. Aku menemukan sebuah surat di dalam botol obat itu, mungkin ini adalah surat lainnya yang di tulis oleh Robin. Hanya sebuah kertas yang dilipat-lipat, dan aku pun membacanya...
"Tara! selamat kau berhasil menemukan surat kedua Claude. Ini bukan surat petunjuk seperti sebelumnya, dan ini adalah surat terakhir ku untukmu. Pasti saat ini kau sudah mengetahui kebenaran yang terjadi pada ibu itu kan.
Yap! kau benar, semua dugaan mu itu benar, tapi seharusnya ibu yang mengurusku itu harus berterima kasih padaku. Karena obat yang ku gunakan padanya telah membuat bahagia selama dua tahun ini"
Aku semakin marah, dan kesal begitu membaca surat ini. Aku berkata dalam hatiku, apanya yang telah kau buat bahagia kepada ibu ini. Kebahagiaan yang kau berikan hanya kepalsuan! kau pikir bahagia yang seperti itu layak di sebut sebagai kebahagiaan?.
__ADS_1
Kau salah Robin... kebahagiaan itu tidak berasal dari obat, atau apapun. Kebahagiaan itu hadir dari hati orang-orang yang ada disekitar kita, bagaimana cara merawat memperlakukan kita dengan baik. Itu adalah sebuah kebahagiaan yang nyata! bukan kebahagiaan yang kau buat! itu semua palsu brengsek!.
"Nak? ada apa denganmu..." tanya ibu itu.
"Aku tidak apa-apa kok bu, ini... lebih baik ibu baca surat ini. Aku ingin meminta maaf pada ibu, karena ini semua salahku" kataku memberikan kedua surat yang di tulis oleh Robin.
Aku bisa melihat raut wajah ibu itu, dia terlihat sangat kesal. Aku rela kalau diriku di pukul habis-habisan oleh ibu itu, karena ini semua salahku. Kalau saja saat itu... aku matu bersama Eren, sudah pasti ibu ini tidak akan mengalami hal seperti ini.
Seharusnya aku tidak pernah ada... seharusnya aku tidak pernah dilahirkan. Karena aku selalu saja melakukan hal yang salah, dan itu akan berdampak kepada orang lain. Mungkin juga... kematian ayah... itu karena ku, rasanya aku ingin menangis saja.
"Kenapa kau menangis seperti itu? kau tidak salah. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, ibu tidak akan memarahi mu kok" kata ibu itu memberikan senyum hangat padaku.
"Ibu... huwa!" tangis ku dengan tersedu-sedu. Aku pun memeluk ibu itu, dan menangis dengan kencang. Sampai semuanya tenang kembali, aku berhenti menangis, dan mengusap air mataku.
"Tentu saja tidak... kau tidak perlu merasa bersalah, karena kau tidak bersalah. Kau bisa berbicara santai saja dengan ibu, anggap saja ibu adalah ibumu sendiri" kata ibu itu mengelus-elus kepala ku.
Kemudian setelah itu aku kembali pulang ke rumah ku, tak ada yang bisa ku temukan mengenai Robin. Dia benar-benar telah menyembunyikan identitasnya dengan sempurna. Karena hal tadi... membuat tekad ku tergoyahkan, aku jadi berpikir untuk tidak tidak.
Apa suatu saat nanti aku dapat menemukan kebenaran yang disembunyikan Robin?. Aku jadi ragu akan hak itu... padahal tadi aku sudah sangat bertekad kalau aku akan segera mengetahui kebenaran yang disembunyikan Robin.
Tapi nyatanya tidak ada yang bisa kulakukan, karena aku terus membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Aku tidak cukup pintar, dengan bodohnya selama ini aku menganggap diriku adalah orang jenius yang melebihi siapapun.
__ADS_1
Tapi begitu aku bertemu dengan orang yang lebih pintar, dan hebat dariku... rasanya harga diriku telah runtuh, dan semangat yang membara itu telah padam karena mereka. Aku juga selalu berpikir kalau aku tidak mungkin untuk melampaui mereka.
Padahal aku sudah berusaha dengan bersusah payah untuk menjadi yang terbaik selama ini. Tapi kenapa dari semua jerih payahku yang kulakukan selama ini tak cukup untuk melampaui mereka?. Sepertinya ayah berbohong kalau keluarga kita terlahir sebagai keluarga yang jenius.
Karena teman-temanku Peter, dan Yaomi... dan juga orang asing yang sudah tak bertemu lagi denganku, Fred... pun mereka lebih jenius dariku. Mungkin aku hanya orang biasa, dan bukanlah jenius, karena kebenarannya tentang keturunan dari keluarga jenius adalah mereka, bukan keluarga kita ayah.
Kita hanya orang biasa... sama seperti orang biasa lainnya. Tidak ada kesempatan untuk orang biasa seperti kita melampaui mereka yang terlahir sebagai jenius. Karena kita... hanyalah keluarga biasa, jauh dari kata jenius.
"Ibu... apa benar yang dikatakan ayah... kalau keluarga kita adalah keturunan jenius?" tanyaku dengan lesu.
"Hmm? ibu tidak tahu nak, karena ibu hanyalah orang biasa, dan bukan dari keturunan jenius. Ibu dahulu hidup sederhana dengan kedua orang tua ibu, yang bahkan kerjaannya hanya sebagai nelayan saja" kata ibuku.
"Lalu bagaimana dengan latar belakang keluarga ayah dahulu?" tanyaku.
"Kalau soal itu... ibu tidak tahu nak... ayah tak pernah menceritakannya sedikitpun tentang keluarganya. Begitu ibu menanyakan sesuatu tentang keluarganya, dia merasa terganggu, dan saat itu juga ibu tidak pernah menanyakan hal yang sama pada ayah" kata ibu.
"Lalu bagaimana bisa ibu menerima ayah? padahal ibu tidak tahu dia orang seperti apa? dan bahkan sampai saat ini juga kita tidak tahu ayah bekerja sebagai apa" kataku.
"Haha... itu karena cinta... kau tidak perlu menjadikan cinta itu sebagai hal yang rumit. Kalau kau mencintainya, maka kau harus mengejarnya, dan dapat menerimanya dengan baik" kata ibuku yang lalu pergi ke kamarnya.
Apa maksud dari kata ibu? mungkin saat ini aku masih tidak mengerti dengan kata-kata ibu barusan. Tentang cinta? selama ini aku hanya berpikir kalau cinta itu dari rasa suka terhadap seseorang yang kita sukai.
__ADS_1
Tapi kenapa... begitu aku mendengar kata-kata ibu barusan... rasanya malah menjadi rumit. Padahal tadi ibu berkata kalau cinta itu bukanlah hal yang rumit. Tapi kenapa begitu aku memikirkannya... malah menjadi semakin rumit? aku masih tidak mengerti.