
Apa yang harus kulakukan... kalau saja aku tak mendengar cerita dari Yudo. Sudah pasti aku akan tetap dalam pendirian ku, yaitu untuk membunuh Robin. Tapi menemukannya saja sudah sulit sekali, mungkin dia sudah pergi jauh dari sini, dan benar dengan perkataannya lewat surat itu.
Kalau aku tidak akan mungkin lagi dapat menemukan Robin. Ah... aku baru ingat, kalau pembunuhan di murid di sekolah itu masih berlanjut. Kalau begitu Robin masih belum pergi jauh, kalau begitu waktuku tersisa sampai semua murid di bunuh habis.
Tapi... siapa saja yang sudah dia bunuh? apa dia sudah membunuh Glasya?. Kalau saja dia membunuh Glasya... ah, benar juga... untuk apa lagi aku memikirkan dia. Pasti dia tak akan menerima ku, dan tak mungkin lagi mempercayai ku.
"Yudo... bagaimana keadaan di sekolah, apa Glasya sudah di bunuh?" tanyaku.
"Dia belum di bunuh... tapi William... dia sudah di bunuh" kata Yudo yang membuatku sedikit terkejut.
Entah kenapa rasanya satu-persatu teman terdekat ku semakin menghilang karena mati. Yang tersisa saat ini teman dari sekolah hanya Glasya, Yudo, dan Robin. Aku tidak tahu apakah Robin masih layak ku sebut sebagai teman. Tapi di sini aku menemukan teman baru, yaitu Carlo, dan Akai.
Dia sangat baik sekali padaku, dan paling dekat dengan ku. Karena kami sering mengobrol, bukan berarti aku mengabaikan yang lain. Hanya saja yang lain masih canggung, dan ragu-ragu kepadaku karena masih menghormati ku sebagai pemimpin.
"Oh ya... apa yang akan kau lakukan setelahnya ini?" tanyaku.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? seolah-olah kau akan melepaskan ku" kata Yudo.
"Aku memang sudah melepaskan mu semenjak aku membuka ikatan itu darimu" kataku.
"Eh!? be-benarkah? baiklah kalau begitu... aku akan ikut bersama mu" kata Yudo.
"Baguslah kalai begitu... tapi ingat ini... mulai saat ini juga aku harus benar-benar menjadi perempuan seperti diriku" kataku.
"A-apa? bagaimana bisa seperti itu? beberapa jam saja menjadi wanita sudah melelahkan. Apa lagi banyak laki-laki mesum yang menatapku begitu aku menjadi wanita" kata Yudo.
"Kau pikir aku tidak seperti itu... sudah satu tahun aku bersikap, dan memakai pakaian perempuan. Sekali saja aku tidak pernah menjadi diriku yang sebenarnya, dan hidup di dalam bayang-bayang orang yang ku buat sendiri" kataku.
"Be-benarkah itu?" tanya Yudo.
__ADS_1
"Tentu saja... suatu saat nanti kau pasti akan terbiasa... Yaomi, haha!" candaku.
"Dasar... jangan panggil aku dengan nama itu kalau kau sudah tahu namaku yang sebenarnya" kata Yudo kesal.
"Haha! baiklah, maafkan aku... yasudah kalau tunggu disini sebentar" kataku yang berjalan pergi ke lemari ku.
"Kau mau apa?" tanya Yudo.
"Diamlah... akhirnya ketemu! ternyata masih ada" kataku yang mengambil kardus besar.
"Hah!? untuk apa kardus ini?" tanya Yudo.
"Tentu saja untukmu... kau masuk ke dalam kardus ini" kataku.
"Apa? untuk apa aku masuk ke dalam kardus? apa kau mau mengerjai ku?" tanya Yudo.
"Sudahlah masuk saja, nanti aku akan menceritakan lebih lanjut kepadamu. Percayalah padaku, saat ini kau tidak boleh terlihat oleh yang lain" kataku.
Begitu Yudo masuk ke dalam kardus, aku segera menutupnya, dan mengangkat kardus itu keluar dari bangunan tua ini. Begitu aku turun seperti biasanya aku di sambut dengan baik. Begitu sudah sampai di luar, dan tidak ada seorangpun di sekitar yang melihatnya.
Aku langsung membuka lagi kardusnya, dan mengeluarkan Yudo dari dalam kardus. Setelahnya aku mengajak Yudo ke toko pakaian wanita, dan perlengkapan wanita lainnya. Ini semua perlengkapan, dan persiapan untuk Yudo menyamar sama sepertiku.
"Hei kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini? apa kau tak malu?" tanya Yudo yang terlihat sangat malu.
"Haha tentu saja tidak... karena aku sudah terbiasa, dan ini adalah toko favorit ku. Kau tidak perlu malu, karena mereka melihat lita sebagai wanita cantik" kataku.
Biarpun saat ini Yudo masih tidak nyaman dengan wujud perempuannya. Tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan terbiasa sama sepertiku. Kemudian kami pergi untuk membeli beberapa pakaian lainnya.
"Apa kau gila! kau menyuruhku memakai bra?" tanya Yudo yang wajahnya memerah.
__ADS_1
"Tentu saja karena ini sangat di butuhkan untuk penyamaran" kataku.
Kemudian Yudo memukul kepalanya sendiri, "Memangnya saat ini kau sedang memakainya?" tanya Yudo.
"Tentu saja!" kataku yang merasa bangga sambil mengacungkan jari jempol pada Yudo.
"Astaga... baiklah, aku akan menuruti mu... huhu" kata Yudo.
Setelah itu kami pergi untuk membeli beberapa make up yang bagus. Yang tidak mudah luntur, dan tahan lama, dan juga yang kualitasnya sangat bagus. Karena make up yang seperti itu di butuhkan untuk penyamaran tingkat tinggi, hahaha! aku seperti seorang tutor yang mengajari penyamaran untuk murid amatir.
Setelahnya kami pun segera pulang setelah membeli semua barang yang di butuhkan. Untuk barang seperti lemari, kasur, dan lainnya untuk Yudo. Aku tinggal menyuruh anggota ku untuk mencurinya nanti, haha!. Mungkin aku memperbolehkan Yudo untuk tinggal di lantai 4 bersamaku.
Karena dia sedang menyamar, dan untuk seterusnya, "Hei jadi apa yang harus kulakukan saat pulang nanti?" tanya Yudo.
"Bersikaplah seperti wanita, jangan seperti Yaomi yang menyebalkan itu hahaha! lalu untuk namamu, tak perlu membuatnya lagi. Namamu saat ini adalah Yaomi, kau juga harus sering berbicara dengan mereka. Karena dapat meningkatkan kemampuan penyamaran mu" kataku.
"Baiklah aku mengerti... tapi kenapa tidak diriku yang sebenarnya saja yang di tampilkan. Kenapa harus berubah menjadi wanita?" tanya Yudo dengan wajah suramnya.
"Itu karena sebelumnya aku mengatakan akan membunuhmu. Kau kan tahu kalau mereka sangat membencimu, jadi mereka akan berpikir kalau aku benar-benar telah membunuhmu. Lalu begitu kita sampai, aku akan memperkenalkan mu pada kalian, kalau aku mendapatkan teman baru" kataku.
"Baiklah kalau begitu apa boleh buat, jadi Peter sudah kalian bunuh ya?" tanya Yudo yang bersikap biasa saja seorang tak peduli lagi dengannya. Mungkin ini adalah saatnya aku mengatakan yang sebenarnya kepada Yudo tentang Peter.
"Ya... kau benar, aku telah menyuruh untuk mereka untuk membunuh Peter. Apa kau marah?" tanyaku yang ragu-ragu dengan jawabannya.
"Tentu saja tidak... rasanya beban ku menjadi berkurang... hah" mata Yudo sambil menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu, kita sudah sampai... ingat dengan apa yang ku katakan tadi" kataku.
"Dasar cerewet! aku mengerti tahu!" kata Yudo.
__ADS_1
Aku sedikit terkejut dengan ekspresi Yudo barusan kalau dia tahu Peter telah di bunuh. Ekspresinya terlihat seperti sedikit senang sesuai dengan perkataannya. Beban hidup yang dia tanggung menjadi berkurang, seperti Yudo tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya sebelumnya.
Tapi memangnya apa yang terjadi padanya selama ini. Ku kira hidupnya sangat enak karena dia bekerja di suatu organisasi. Walau aku masih tidak tahu organisasi seperti apa, tapi itu sudah tidak penting lagi. Jadi aku tidak perlu menanyakannya lagi, lagi pula Yudo akan tetap tidak mengatakannya.