
Lalu Peter menandai pohon yang kami temukan, dan memberi angka dua. Setelah itu kami duduk sementara, dan memikirkan rencana yang tepat untuk selanjutnya, agar kami tidak tersesat lebih jauh, dan tak bisa menemukan pohon yang kuberi tanda lagi.
Entah kenapa aku merasa Peter yang sekarang berubah drastis. Dia benar-benar telah berubah, seperti bukan Peter yang kukenal. Dia seperti menjadi lebih pintar dariku dalam hal seperti ini, dan lagi tatapannya berubah disaat seperti ini. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari semuanya orang... Peter.
"Apa kau memiliki rencana yang lain selain yang kau katakan tadi?" tanya Peter.
Entah kenapa tiba-tiba aku sangat membencinya, "Kenapa kau tanyakan padaku... kalau kau ternyata lebih pintar dariku" kataku beranjak berdiri, dan berencana untuk menemukan jalan keluarnya sendirian, tanpa Peter.
Aku tertawa kecil, dan memikirkan apa yang akan terjadi padanya. Semoga saja... kau... menghilang dari kehidupan ku... Peter. Aku berharap... kalau kau... akan di tangkap, dan mati di bunuh oleh pembunuhan itu. Karena aku sangat membenci... seseorang yang dapat mengalahkan ku, maaf... Peter.
"Hei... ada apa denganmu? kenapa kau pergi? ayo kita cari bersama saja!" teriak Peter.
"Diamlah! lebih baik kita mencari sendiri-sendiri seperti apa yang dikatakan oleh Yaomi. Cara ini lebih efektif, haha!" Tawaku dengan keras.
"Jangan pergi! dan tetaplah bersama-sama!" teriak Peter mengejar ku.
Kemudian aku berlari sejauh mungkin agar Peter tak dapat menemukan ku. Rasanya sangat senang, dan jantungku berdegup dengan cepat. Entah kenapa mulutku tersenyum, dan... mataku menangis.
Kemudian setelah beberapa lama aku berlari sendirian di tengah kabut. Aku berhenti untuk melepaskan lelah karena terus berlari dari tadi. Sepertinya aku sudah berlari cukup jauh dari Peter, lagi pula Peter tak akan mungkin bisa menemukan ku di tengah kabut seperti ini.
__ADS_1
Lalu aku tersenyum, dan menahan tawa sambil menutup wajahku. Kemudian tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seseorang yang di bunuh untuk ke empat kalinya. Seseorang itu berteriak sangat keras sambil meringis kesakitan, dan sepertinya aku tahu siapa yang di bunuh itu.
Aku mulai tersenyum, dan menahan tawaku dengan sekuat tenaga. Tapi aku tidak bisa menahannya, dan tertawa dengan sangat keras di tengah kabut. Aku merasa senang sekali begitu orang yang mengalahkan ku mati terbunuh... selamat jalan Peter.
Semoga hari mu menyenangkan di alam sana, hihi!. Kemudian tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat ke arahku. Aku terkejut, dan membuat bulu kudukku berdiri. Aku berpikir kalau yang akan datang itu adalah pembunuhan itu.
Sial! seharusnya aku menahan tawaku tadi, aku pun segera berlari menjauhi suara langkah kaki itu. Tapi orang itu mendekati ku dengan berlari, jadi benar kalau para pembunuh itu memiliki teknologi untuk melihat di tengah kabut seperti ini.
Aku berlari sambil merasa ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang pernah kurasakan beberapa tahun yang lalu. Ketakutan ini... tidak! aku tidak boleh takut! aku tidak boleh mati disini! aku akan tetao hidup, dan keluar dari hutan ini.
Aku membuat tekad yang kuat untuk tetap hidup disini. Aku tidak akan pernah mati, karena aku memiliki mimpi layaknya seorang manusia pada umumnya. Aku terus berlari, dan berlari tapi orang itu tetap juga berlari mengejar ku.
Aku meringis kesakitan, ternyata baru saja aku terjatuh ke jurang yang cukup dalam. Aku tak bisa melihat dengan jelas di tengah kabut seperti ini, dan lagi aku sedang berlari karena panik. Rasanya sakit sekali, hampir seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan.
Lalu tanpa sadar air mataku mengalir, entah karena apa. Air mata ini bukan air mata karena kesakitan, melainkan air mata yang tidak ku ketahui bagaimana bisa keluar. Rasanya aku akan segera mati, entah kenapa tiba-tiba kepalaku kosong.
Aku tak bisa mendengarkan apapun, dan penglihatan ku mulai memudar. Aku berpikir kalau aku akan segera mati, lalu aku melihat ada seseorang yang berdiri di atas jurang, sambil memegang sesuatu di tangan kanannya.
Aku berpikir sepertinya pembunuhan itu akan turun, dan membunuhku, atau mungkin tidak karena jurang ini sangat curam. Kalaupun dia turun, pasti dia akan terluka, dan mengalami hal yang sama sepertiku.
__ADS_1
Lalu orang itu membalikkan badannya, dan pergi menjauh. Aku sangat bersyukur karena aku mati bukan karena di tangan seseorang. Aku sangat membenci itu, dan syukurlah aku mati karena ulahku sendiri.
Mata ini semakin buram, dan semua rasa lelah, dan juga rasa sakit ini tiba-tiba menghilang. Jiwaku juga lebih tenang, dan tak ada yang bisa kupikirkan. Di akhir kehidupan ku, aku tertawa, dan... menangis dengan deras.
Akhirnya... kehidupanku sudah berakhir...
Sementara itu Peter sedang sibuk mencari pohon yang ku tandai itu. Begitu Peter sedang mencari pohon yang ku tandai, dia menginjak sesuatu yang keras. Kemudian Peter mengambil sesuatu itu, ternyata itu adalah sebuah pisau yang cukup besar.
"Pisau ini!? hah... sudahlah... tak ada yang bisa ku perbaiki lagi. Semuanya sudah terlanjut, ini semua karena aku sedikit menonjolkan sisiku yang sebenarnya... semoga kau baik-baik saja, Claude" gumam Peter.
Kemudian Peter menyimpan pisau itu di ransel yang dia bawa di punggungnya. Lalu Peter melanjutkan perjalanannya di tengah kabut yang tebal, dan juga udara yang sangat dingin menusuk tubuh.
Suara teriakan histeris terdengar lagi untuk yang kelima kalinya di telinga Peter, yang membuat Peter terkejut sekaligus sedikit ketakutan. Tapi Peter mencoba untuk menenangkan dirinya, karena di saat seperti ini dia tidak boleh panik sedikitpun.
Karena kepanikan adalah tindakan bodoh, Peter selalu bersikap tenang, agar dia bisa selalu memikirkan cara apa yang akan dia gunakan nantinya. Peter seseorang yang misterius, yang sedikit konyol, dan sangat aneh.
Selama ini dia selalu menunjukkan sisinya yang berbeda dari yang sebenarnya. Dirinya yang sebenarnya adalah disaat-saat seperti ini, selama ini dia hanya berpura-pura menjadi orang yang aneh, dan konyol. Sebenarnya Peter adalah orang yang terbilang lebih pintar dari Claude, karena Claude mengakuinya kalau dia dapat mengalahkan dirinya.
Sehingga rasa bencinya itu timbul, mungkin dapat dikatakan Peter adalah orang kedua yang dibenci Claude. Tapi bagaimana bisa Peter bisa selamat, bukankah tadi dia jelas-jelas sudah mati karena Claude mendengarkan suara teriakannya.
__ADS_1
Atau jangan-jangan Claude salah mendengar suara itu, dan ternyata suara itu adalah suara orang lain. Kemudian Peter berhenti di suatu tempat di depan pohon sambil terkejut. Akhirnya Peter menemukan pohon yang ketiga, Peter sangat senang hingga berteriak keras.