
Sial! padahal aku ingin mati karena diriku sendiri, tapi kenapa aku malah mati di tangan pembunuh. Sepertinya aku akan sangat menyesal begitu mati di tangan pembunuh ini. Lalu orang itu mengangkat goloknya, dan bersiap untuk membacok ku.
"Jika ku ayunkan golok ini... apa kau akan mati dalam sekali tebas? haha!" Tawa jahat dari pembunuh ini.
"Kalau kau ingin membunuhku, cepatlah bunuh... jangan kau buat aku semakin menderita di akhir hidupku" kataku dengan tegas.
"Haha! sepertinya kau sudah siap untuk mati... biar ku ingatkan padamu sebelum kau benar-benar akan mati di tanganku. Semua guru di sekolah..."
"Aku sudah tahu! kalian semua adalah para pembunuh!" kataku memotong pembicaraannya.
Lalu dia tertawa kecil, "Hihi... seharusnya aku tak perlu memberitahu mu. Karena kau adalah anak yang jenius, dan berbakat, semua kejeniusan milikmu akan berakhir disini... selamat... tinggal..." kata pembunuhan itu sambil mengayunkan goloknya.
Aku pun menutup mataku, dan merasa pasrah... sudah tak ada yang bisa kulakukan dengan kondisiku yang seperti ini. Meskipun kondisiku baik-baik saja, tetap tidak ada yang bisa kulakukan di tengah kabut ini merekalah yang lebih menguntungkan.
Karena mereka dapat melihat meskipun di tengah kabut ini. Lalu tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang yang jatuh. Kemudian aku membuka mataku, dan melihat ke depan, aku terkejut begitu melihat pembunuh tadi tidak berdiri di depanku.
Kemudian aku mendengar suara perkelahian di dekatku. Aku berpikir sepertinya ada seseorang yang menyelamatkan, tapi siapa... apa jangan-jangan laki-laki yang tadi datang untuk menyelamatkan ku untuk kedua kalinya?.
Aku hanya bisa mendengar perkelahian itu dari sini, dari yang kudengar perkelahian mereka sangat sengit. Kemudian aku mendengar suara teriakan histeris, dari yang kudengar sepertinya suara itu dari pembunuh itu. Apa jangan-jangan laki-laki aneh itu berhasil mengalahkannya di tengah kabut ini.
"Hei ayo kita pergi dari sini... tempat ini sudah tidak aman lagi. Sepertinya teman pembunuhan ini akan datang kesini karena teriakannya" kata laki-laki aneh itu yang memakai kacamata yang sama seperti pembunuh tadi, dan di sekujur tubuhnya terdapat cipratan darah.
Tapi dari yang kulihat, sepertinya laki-laki ini tidak terluka sama sekali, "Hei... dari mana kau mendapatkan kacamata itu? kalau kau punya kenapa tak memberikannya padaku" kataku sedikit kesal padanya.
"Kacamata ini? kacamata ini baru saja kudapatkan setelah aku membunuh pembunuh itu. Lalu jika kau yang memakai ini dengan kondisi seperti ini untuk apa?" balas laki-laki itu.
"Argh! sial perkataan mu benar juga, kalau begitu cepat gendong aku" kataku yang terpaksa mengatakan seperti itu, walau sebenarnya aku sangat malu sekali.
__ADS_1
"Apa!? kau sudah gila ya? apa jangan-jangan... kau..."
"Bukan seperti itu maksudku! dasar kau ini! semua badanku tidak bisa ku gerakan" kataku menjelaskannya.
"Ah... maaf... ku kira kau..."
"Diam!"
Lalu laki-laki itu menggendongku di belakang punggungnya. Kami berjalan ke suatu tempat yang tidak ku ketahui kemana kami akan pergi, tapi sepertinya laki-laki misterius yang membantuku ini tahu akan pergi kemana. Kartun dia mendapatkan kacamata untuk melihat di tengah kabut seperti ini.
Tapi bukan itu masalahnya... masalahnya adalah siapa orang ini, dan mengapa dia datang kesini. Kami terus berjalan sampai akhirnya dia berhenti di suatu tempat, dan menurunkan ku. Dia mengatakan padaku untuk tetap disini, dan jangan mengikutinya, kemudian dia berjalan ke depan, entah apa yang dia lakukan.
Kemudian dia kembali lagi, "Apa yang baru saja kau lakukan di depan? apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyaku yang sudah pasti dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Sudahlah jangan banyak bicara, fokus saja pada penyembuhan mu" kata laki-laki misterius itu menggendongku lagi.
"Apa aku boleh mengetahui namamu?" tanyaku.
"Aku tahu yang kau katakan itu bukan nama sebenarnya yang kau miliki. Tapi tidak apa jika aku tak mengetahui namamu yang sebenarnya, karena aku akan mencari tahu. Mulai sekarang untuk sementara aku akan memanggilmu Fred" kataku.
"Terserah katamu... yang pastinya kau tidak akan bisa mengetahui siapa diriku" kata Fred tersenyum seringai.
Aku membuat janji pada diriku, kalau aku akan mengungkapkan kebenaran tentangnya. Bukan! bukan hanya dia... tapi aku akan mengungkapkan kebenaran tentang semua orang yang mencurigakan bagiku. Itulah janjiku pada diriku, karena aku selalu di penuhi dengan rasa penasaran selama ini.
Kami terus berjalan lagi, dan terus berjalan. Lalu... lagi-lagi Fred menurunkan ku, dan berjalan ke depan lalu kembali lagi, namun kali ini dia terlihat kesal. Aku bingung apa yang membuatnya kesal, sebenarnya ada apa di depan itu.
Lalu kami terus melanjutkan perjalanan kami di tengah kabut yang sangat dingin. Sambil mendengarkan suara teriakan histeris dari para korban yang di bunuh. Sepertinya aku sudah mendengar yang ke empat puluh tiga tujuh kalinya mendengar suara teriakan dari mereka.
__ADS_1
Namun bisa jadi suara teriakannya lebih dari yang ku dengar. Karena sebelumnya aku pingsan sekitar satu hari kata Fred. Aku tidak tahu apakah aku masih dapat berjalan lagi atau tidak, karena baru pertama kalinya aku merasakan seperti ini
Tidak bisa menggerakkan semua organ tubuhku, mungkin saja aku lumpuh atau semacamnya. Tapi jika tulang ku patah, mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih kembali. Aku masih bersyukur kalau tulang ku hanya retak.
Tapi sepertinya dari yang kurasakan, sepertinya tulang ku hancur lebur. Kalau selamanya seperti ini lebih baik aku mati saja tadi, karena untuk apw hidup dengan keadaan seperti ini. Rasanya semua masa depan yang ku dambakan, hilang semuanya tanpa sisa, dan hanya ada rasa putus asa yang menyambut.
"Tenang saja kau tidak harus berpikir seperti itu" kata Fred yang dari tadi melihat wajahku tanpa sadar.
"Ah!? apa yang kau berikan? seolah-olah kau tahu apa yang sedang kupikirkan" kataku.
"Dari yang ku periksa beberapa jam yang lalu, bagian tulang mu hanya patah. Akibat jatuh dari jurang yang cukup tinggi, mungkin membutuhkan waktu sekitar 4 Minggu lebih untuk menyatukan tulang mu yang patah, dan..."
Kemudian aku memotong pembicaraan Fred karena aku sudah tahu semuanya, karena itulah aku di sebut jenius. Rasanya tidak ada yang tidak ku ketahui tentang pengetahuan. Tapi pertanyaan ku adalah... sampai kapan aku tetap berada di hutan ini?.
"Aku tahu! kau tidak perlu menjelaskannya panjang lebar" kataku dengan sombong.
"Ah... baiklah jika kau yang mengatakannya, dan sepertinya sebentar lagi kita akan segera keluar dari hutan ini" kata Fred dengan percaya diri.
"Haha... yang benar saja, kau pikir aku percaya dengan kata-katamu" kataku.
"Ternyata... kau menyenangkan juga" gumam Fred dengan suara kecil.
"Apa kau bilang?" tanyaku yang tak mendengar jelas suara Fred.
"Eh!? tidak kok... ah sudahlah, bagaimana selama perjalanan kau mendengarkan cerita tentang diriku" kata Fred.
"Terserah apa katamu, tapi sepertinya boleh juga, aku sedang bosan" kataku.
__ADS_1
Lalu Fred mulai menceritakan tentang hidupnya yang dia alami. Tanpa henti dia terus berbicara, lama-lama aku mulai bosan mendengarkan ocehannya. Tapi dari yang kulihat, dia terlihat sangat senang sekali bisa berbagi cerita tentang dirinya.
Terlihat dari senyumannya, senyuman yang terlihat sangat jelas dari hatinya. Tapi rasanya aku sepertinya pernah melihat senyumannya yang barusan. Apa aku salah lihat ya... mungkin ini hanya karena aku sering melihat perempuan tersenyum kepadaku saja.