
Kadang-kadang di hari Minggu, atau sabtu aku pergi mengunjungi makam ayah sendirian tanpa memberitahu yang lain. Karena aku tidak ingin waktuku dengan ayah di ganggu, aku hanya ingin sendirian di makam ayah, dan aku selalu bercerita kepada ayahku.
Kalau aku sudah berubah menjadi lebih baik, seperti apa yang ayah inginkan. Aku selalu bercerita tentang hari-hari yang ku lalui selama aku berubah. Lalu tak lupa juga untuk mendoakan ayah yang terbaik untuknya.
"Ayah... hari ini aku datang lagi untuk menemui ayah... maaf sudah membuat ayah menunggu. Seperti biasanya aku selalu berbuat baik kepada orang-orang. Tadi pagi aku memberikan makanan kepada anak kecil di jalanan, ayah.
Lalu dia tersenyum, dan mengatakan terima kasih padaku. Hatiku bisa merasakannya, hatiku tak sekeras diriku yang dulu. Tak hanya itu saja, aku juga selalu membantu orang-orang yang biasa ku bantu.
Mereka terlihat seperti selalu menunggu bantuan dariku. Tapi aku tak keberatan dengan itu semua, karena aku bukanlah diriku yang dulu lagi, ayah. Aku ingin tahu... apa ayah sedang mendengarkan perkataan ku?.
Apakah ayah bahagia di alam sana? aku selalu berharap yang terbaik untuk ayah. Semoga ayah selalu bahagia di alam sana, terima kasih ayah. Karena sudah mau mengobrol denganku, aku tak bisa lama-lama disini.
Karena masih banyak orang yang membutuhkan bantuan ku, sampai jumpa... ayah" kataku pergi meninggalkan makam ayah setelah aku menaburi bunga di makannya.
Lalu aku kembali pulang ke rumahku, selama dalam perjalanan pulang, aku selalu membantu orang-orang yang kesulitan. Begitu melihat ada seseorang yang seperti membutuhkan bantuan, aku langsung turun dari motorku, dan langsung membantu orang itu.
Begitu juga selama perjalanan ku untuk berangkat sekolah di pagi hari. Aku sering telat masuk sekolah karena terus membantu orang-orang di sekitar ku. Tapi begitu aku di tanya kenapa aku telat datang ke sekolah, aku selalu berbohong kepada guru.
Aku selalu menjawab berbagai kebohongan seperti, "Rumahku jauh dari sekolah, kehidupan ku sulit, buang air besar, telat bangun tidur, dan lain sebagainya". Aku selalu menutup kenyataan, dan mengubahnya menjadi kebohongan.
Saat aku sudah sampai di depan rumahku, aku melihat Robin yang sepertinya sudah menunggu ku dari tadi di depan pagar rumahnya. Kemudian Robin segera menghampiri ku, sambil membawa sesuatu untukku di balik tangannya.
"Ada apa Robin? apa jangan-jangan kau menungguku dari tadi?" tanyaku.
"Tentu saja..." kata Robin berjalan mendekat ke arahku.
"Apa yang kau sembunyikan di balik tanganmu?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Ini... aku membawakan mu buku yang sepertinya sangat kau sukai itu. Serial kedua dari novel, "Human Heart"..." kata Robin yang tersenyum sambil memberikan bukunya padaku, lalu aku mengambil buku itu.
Aku pun tercengang karena buku ini, bagaimana dia bisa tahu tentang buku ini pikirku. Tubuhku bergemetar begitu ada orang lain mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Eren. Jadi benar ya... kalau Robin ada hubungannya dengan Eren.
Tapi siapa dia? dia memiliki hubungan apa dengan Eren?. Lalu bagaimana dia busa mengetahui tentang buku ini. Jadi lukisan yang saat itu, dan film yang saat itu dia bicarakan, dan juga perlakuan dia yang sama persis dengan perlakuan Eren saat itu... bukanlah kebetulan.
Tapi sebenarnya Robin... ingin aku mengingatnya lagi, dan tak boleh untuk melupakannya. Dia hanya ingin aku terjebak lagi di masa laluku seperti dulu. Padahal selama ini aku selalu berusaha keluar dari kenyataan masa laluku.
"Robin..."
"Ya?"
"Sebenarnya... siapa kau?" tanyaku dengan menatap tajam Robin.
Lalu apa jawaban Robin saat itu? dia terlihat seperti orang kebingungan, dan tak menyimpan kebohongannya. Dia terlihat seperti tidak berbohong sama sekali, sepertinya dia sangat pandai berakting di depanku.
"Tentu saja kau adalah Robin yang ku kenal... tapi sikapmu selama ini terhadapku... itu benar-benar terlihat sangat mencurigakan" kataku dengan tegas.
"Apa!? kenapa kau seperti itu padaku? aku tidak mengerti kenapa kau seperti ini. Lebih baik aku pergi saja..." kata Robin segera meninggalkan ku.
"Tunggu! aku ingin tahu, bagaimana kau tahu kalau aku sangat menyukai buku ini?" tanyaku, yang membuat Robin menghentikan langkahnya
"Itu karena... aku tak sengaja melihatmu sedang membaca buku itu saat di perkemahan itu" kata Robin.
Lalu Robin masuk kembali ke rumahnya, dengan perasaan kesal terhadapku. Aku memandangi buku yang dia berikan, dan tetap berdiri disini karena aku masih merasa syok. Novel, "Human Heart 2" aku tidak tahu kalau novel ini memiliki serial kedua.
Padahal saat itu juga, dan sampai saat ini aku terus mencari-cari novel serial ke duanya. Tapi aku tak berhasil menemukan novel serial ke duanya. Padahal aku sudah mencari di semua toko buku yang ada, tapi tetap juga aku tak menemukan buku yang ku cari.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa tahu kalau novel ini memiliki serial kedua. Itu karena di akhir halaman tertulis kata, "bersambung" yang berarti novel ini memiliki serial kedua. Tapi pertanyaan ku adalah... bagaimana bisa Robin menemukan buku ini?.
Padahal sepertinya buku ini masih terlihat baru, dan belum pernah di buka, dan juga masih tersegel. Apa jangan-jangan serial kedua dari novel "Human Heart" tidak di publikasikan. Hanya itu satu-satunya perkiraan yang kumiliki saat ini.
"Claude... sebenarnya apa yang kau lakukan akhir-akhir ini di hari libur?" tanya ibuku.
"Tidak ada" kataku berjalan ke kamarku.
"Claude! dengarkan ibu! apa yang kau lakukan barusan!" teriak ibuku.
"Sudah ku bilang... tidak ada yang kulakukan. Aku hanya mencari udara sejuk saja tadi" kataku terus berjalan.
"Kenapa kau jadi mengabaikan ibu setelah ayah tidak ada Claude!" kata ibuku yang membuatku menghentikan langkahku.
Laku tiba-tiba saja nafasku menjadi sesak karena perkataan ibu. Kalau saja ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang ayah, biarpun itu hanya menyebutkan kata, "Ayah". Tiba-tiba saja nafasku menjadi sesak seperti ini.
"Claude!? ada apa denganmu?" tanya ibuku yang menghampiri ku yang sedang berlutut di depan tangga menuju lantai atas.
Lalu ibu membawakan ku air, dan aku segera menghabiskan air itu hanya dengan sekali teguk. Kemudian sesak nafas ku hilang begitu saja, dan suasana hatiku kembali normal. Lalu aku kembali berjalan ke kamarku, dan meninggalkan ibuku.
"Ibu... ada apa dengan kakak? kakak terlihat sangat aneh" kata adikku Elia yang melihat kejadian tadi.
"Ibu... tidak tahu nak... mungkin kakakmu sedang kelelahan saja" kata ibuku.
"Apa yang terjadi dengan kakakku?" gumam adikku Yohan sambil menatap tajam ke arahku.
Yang di katakan ibuku benar... aku selalu mengabaikan ibuku selama ayah tidak ada lagi di dunia ini. Sebenarnya aku tidak mengabaikannya, hanya saja aku takut... aku takut berbicara dengan ibu, dan membuat kesalahan walau hanya sedikit.
__ADS_1
Aku takut karena ku... ibu akan pergi seperti ayah, oleh karena itu aku selalu menghindari pembicaraan dengan ibuku. Aku sangat ketakutan, aku tak ingin lagi melihat darah yang keluar, darah yang mengalir dari siapapun itu. Aku sangat takut sekali.