Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Teman Masa Lalu (4)


__ADS_3

Tubuhku terdiam kaku di depan bus itu, lalu semua anggota ku ikut turun, dan menghampiri ku di belakang ku. Kemudian di saat yang bersamaan, Peter, dan Fred menghampiri ku, dengan tersenyum mencurigakan. Aku tak tahu apa maksud mereka datang ke sini? apa mereka ingin mencari masalah.


Atau seperti yang dikatakan Fred saat di bar, dia ingin menangkap pelakunya. Tapi bagaimana bisa mereka tahu tempat ini? apa jangan-jangan saat aku pulang aku di buntuti oleh Fred. Argh! sialan seharusnya aku lebih waspada kepada orang seperti mereka.


"Yo! jadi ini tempatnya ya" kata Peter.


"Ya, tentu saja... tak ku sangka nona cantik ini berada disini. Padahal mereka semua adalah laki-laki, dan kau adalah perempuan, apa kau tidak takut dengan mereka?" tanya Fred padaku.


Aku agak terkejut begitu mendengar kata-kata Fred barusan. Aku sedikit lega kalau ternyata mereka tidak tahu aku adalah Claude teman mereka di masa lalu. Tapi yang menjadi masalah besar untuk apa mereka datang kesini.


"Hmm... sepertinya aku tahu sesuatu tentang kekacauan yang terjadi di bar saat itu. Jadi kau adalah orang yang selalu membuat keributan di bar, bukan begitu nona cantik" kata Fred sambil menunjukku.


Kemudian Akai datang, dan berdiri di sebelah kanan ku, "Hei... siapa dua orang pria jelek ini, nona?" tanya Akai padaku dengan tatapan kebencian pada mereka.


Begitu juga Carlo maju, dan berdiri di sebelah kiri ku, "Tidak perlu tahu siapa mereka... kita hanya perlu menghabisi nya bukan" kata Carlo.


"Hoho... jadi begitu ya, aku jadi tahu sesuatu lagi. Kalau pemimpin geng, "Angel of Death" ada nona cantik ini ya, haha!" kata Fred dengan tawa yang menyeramkan. Aku belum pernah melihat sisi Fred yang seperti ini sebelumnya, jadi seperti ini sikap dia yang sebenarnya.


"Hah? bagaimana kau tahu soal itu?" tanyaku.


"Karena itulah kami datang kesini untuk menghabisi kalian semua. Karena kalian sudah membuat kekacauan yang besar di kota, seperti mencuri, melakukan perbuatan jahat, dan... membunuh" kata Fred tersenyum seringai.


"Sudahlah jangan menakut-nakuti nona cantik ini. Lebih baik kita segera menyelesaikan mereka dengan cepat" kata Peter mengepalkan kedua tangannya.


"Tapi... nona cantik ini tak akan ku biarkan di pukuli. Kau akan ku beri kesempatan untuk kabur dari sini nona" kata Fred.


"Hei..." kata Peter.


"Tidak... aku tak akan meninggalkan keluarga ku!" kataku dengan tegas.


"Wah wah... kau agak menyeramkan ya, padahal kau perempuan. Tapi kau menjadi tukang pukul di jalanan, baiklah ku beri kau satu kesempatan lagi. Cepat kabur dari sini kalau kau ingin selamat" kata Fred yang sudah geram.


"Kenapa kau membiarkan orang seperti dia lepas hah? apa kau sudah gila!. Dia adalah pemimpin dari geng ini, dia yang paling berbahaya" kata Peter yang tidak setuju dengan pendapat Fred.


"Aku tak akan pergi dari sini, sekalipun aku harus mati! aku akan bertarung bersama keluarga ku untuk menghabisi kalian" kataku yang sudah membulatkan tekad ku.


"Baiklah... kau sudah membuang kesempatan yang telah kuberikan padamu. Dasar bodoh! kami akan menghabisi kalian semua, dan membawa kalian masuk ke penjara, hahaha!" tawa Fred dengan keras.


Tapi untuk apa orang lemah seperti Peter ikut bertarung disini. Dia padahal pernah ku hajar sampai ingin menangis hanya dalam satu pukulan dia langsung kalah. Tapi untuk apa dia ikut? apa sebenarnya dia menyembunyikan kekuatan yang dimilikinya selama ini.


Atau dia ingin melakukan hal lain untuk membantu Fred menghajar kami. Tapi yang masih menjadi pertanyaan, sebenarnya untuk apa mereka mengurusi hal seperti ini?. Apa mereka mendapatkan perintah dari atasan mereka? eh!? kenapa tiba-tiba aku berpikir seperti ini?.


Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan surat dari Robin saat itu. Kalau semua yang ku curigai adalah benar, jadi kalau begitu mereka benar-benar ada yang menyuruh mereka. Tapi sepertinya perbuatan mereka bukan ilegal, seperti sebuah organisasi yang mengirim mereka untuk mengurus hal seperti ini.


Haha! aku jadi lebih tahu lagi... terima kasih Robin, dengan begini aku bisa cepat menemukan informasi. Kau salah Robin... tentang hal yang kau sembunyikan. Kau telah membantuku untuk mempercepat proses pencarian mu.


Meskipun aku masih tidak tahu kau sekarang ada dimana. Tapi aku yakin dengan kemampuan ku aku dapat menemukan mu suatu saat nanti, Robin. Tunggu lah aku, dan terima kasih sudah meninggalkan jejak untukku karena kau telah memberi tahu tentang kecurigaan ku adalah benar.

__ADS_1


"Hei... apa kalian di kirim dari sebuah organisasi untuk mengurus kami?" tanyaku dengan tatapan dingin.


Kemudian aku melihat wajah terkejut mereka walau hanya sekilas, "Apa maksudmu nona? apa itu berarti... mereka ada orang yang profesional. Ternyata nona kami sangat hebat, dan jenius!" kata Akai dengan kagum.


"Omong kosong macam apa itu hah? kami hanya berandalan yang di kirim untuk menghancurkan kalian, dan merebut tempat tinggal kalian" kata Fred mencoba menangkalnya.


"Lalu kenapa kau tadi berkata kalau tujuan kalian adalah untuk mengurus kami yang telah berbuat jahat. Kalau kalian memang berandalan sungguhan, sudah pasti kalian tak mempedulikan hal itu. Tapi kalian sangat mempedulikan hak itu" kataku tersenyum seringai.


"K-kau... akan ku habisi!" kata Fred maju menyerang kami. Lalu di susul dengan Peter, aku tak yakin kalau kami akan menang atau kalah. Bagiku persentase kemenangan kami adalah setengah persen.


Tapi mungkin bisa lebih tinggi karena Peter adalah orang yang lemah. Lalu di anggota kami, yang terkuat hanyalah aku, dan juga Akai. Kemampuan bertarung yang lainnya sangatlah buruk. Aku, Akai, dan Carlo menunggu di belakang, sementara yang lainnya maju untuk menghajar mereka.


Kami menyaksikan dari belakang pertarungan yang sangat mengejutkan itu. Gerakan-gerakan yang sangat luar biasa dari Fred, dia sangat tangguh dalam menghadapi lawan yang banyak. Tapi yang lebih mengejutkannya lagi adalah Peter.


Aku tak menyangka kalau dia lebih ganas daripada Fred. Hanya dengan satu pukulan, satu-persatu dari kami terpental hingga pingsan. Sebenarnya teknik apa yang dilakukan Peter sampai dia menjadi monster seperti itu. Apa selama ini dia berlarian bertarung, atau dia menyembunyikan kekuatannya.


10 menit berlangsung... tatapan Akai, dan Carlo yang percaya diri untuk menghabisi mereka pun menghilang setelah melihat pertarungan tadi. Fred, dan Peter penuh dengan darah di sekujur tubuhnya, mereka benar-benar terlihat seperti monster.


"Jadi... tinggal kalian bertiga ya? baiklah... maju kalian" kata Fred.


Kami terdiam sejenak, aku jadi sedikit takut dengan mereka. Tapi aku melihat Carlo, dan Akai berdiri, dan maju ke hadapan mereka. Mereka ada dua pria yang sangat pemberani, mereka mempertaruhkan nyawa mereka demi diriku. Aku harap mereka bisa mengalahkan Peter, dan Fred.


"Nona... cepat pergilah dari sini... kami akan menahan mereka walau aku yakin kami akan kalah" kata Akai menghadap ke belakang, dan tersenyum padaku.


"Cepat pergi nona! maaf karena aku tak sopan padamu! tapi ini demi kebaikanmu" teriak Carlo


Lalu tanpa sadar tubuhku bergerak, dan meninggalkan mereka berdua untuk menghadapi Peter, dan Fred. Aku segera pergi ke belakang, dan melompat tembok yang cukup tinggi, entah kenapa hatiku menjadi sakit begitu melihat mereka mempertaruhkan nyawanya hanya untukku.


Yah... walau selama ini mereka berkorban hanya karena mereka mengira aku adalah seorang wanita. Rasanya aku ingin menangis saja, aku adalah orang yang pengecut. Meninggalkan orang-orang yang berharga hanya demi keselamatan ku.


"Peter... cepat kejar dia... biarkan aku yang mengurus mereka berdua disini" kata Fred.


"Baiklah..." kata Peter yang segera berlari mengejar ku.


Saat Carlo ingin menghadang Peter yang berlari mengejar ku, tiba-tiba saja dia terkena serangan Fred dengan telak hingga terpental. Kemudian Akai yang melihat itu sangat marah sekali, dan segera menghajar Fred dengan amarahnya seperti saat dia bertarung dengan ku meluapkan semua amarahnya padaku.


Aku tidak tahu gaya bertarung seperti apa yang benar. Bertarung dengan kepala dingin, dan mencari solusi untuk mengalahkan lawan, atau bertarung bersama dengan amarah, dan tidak bisa berpikir dengan benar. Tapi amarah... bisa membuat seseorang memaksimalkan kekuatannya.


Karena dengan amarah... seseorang bisa bertambah kuat secara murni. Tapi jika bertarung dengan tenang, dan berpikir untuk mengalahkannya, itu juga lebih akurat untuk memenangkan pertarungan. Aku tidak tahu, mana yang akan menang di antara mereka.


"Hahaha! lemah sekali temanmu itu hahaha! ku kira dia kuat karena kalian berdua tidak ikut bertarung di pertarungan pertama tadi. Tapi kurasa kalian adalah orang yang lemah... eh!?" kata Fred yang terkejut dengan wajah Akai yang terlihat sangat marah.


"Kau... tak akan ku maafkan... kalian berdua... akan ku habisi!" teriak Akai dengan keras yang di penuhi amarah dalam dirinya.


Akai maju, dan meloncat dengan tinggi di udara, kemudian mengangkat kakinya, dan bersiap untuk menghantam kepala Fred sampai hancur. Akai langsung mengayunkan kakinya ke bawah dengan sangat cepat, tapi Fred berhasil menahannya dengan kedua tangannya yang menjadi pertahanannya.


Fred terlihat kesakitan begitu tangannya digunakan untuk menahan serangan kuat dari Akai. Setelah Akai melancarkan serangan itu, sebelum tepat dia mendarat, dia sudah di tendang dengan kedua kaki Fred. Fred memutar badannya, dan menjadikan kedua tangannya untuk menopang beban tubuhnya ke tanah.

__ADS_1


Kemudian dia melayangkan kedua kakinya untuk menendang Akai dengan sempurna hingga Akai terpental. Pertarungan pun terus berlanjut tiada henti, pertarungan yang sangat sengit, dari Fred, dan Akai.


Sementara itu aku sedang di kejar oleh Peter, kecepatan ku, dan Peter sangat jauh berbeda. Dia berlari sangat kencang sekali, apa mungkin ini karena pakaian yang ku pakai menghambat kecepatan kaki ku untuk berlatih. Kemudian setelah cukup jangkauan, Peter langsung menendang ku hingga aku terjatuh.


"Aw... ukh sakit sekali" kataku yang terjatuh.


"Kau sudah tidak bisa berlari lagi nona... lebih baik kau menyerahkan diri, dari pada ku hajar habis-habisan" kata Peter dengan tatapan yang menyeramkan seperti ingin membunuhku.


"Hahaha! dasar brengsek... kau pikir kau bisa mengalahkan ku" kataku.


"Entahlah, aku tidak tahu kalau belum di coba. Tapi sepertinya aku harus waspada terhadap mu nona, karena aku sedang berhadapan dengan pemimpin geng, "Angel of Death" yang ku dengar kau menguasai seluruh kota" kata Peter.


"Hihi... seharusnya kau saja yang pergi, karena kau tahu siapa aku. Kau bisa mati jika berhadapan denganku" kataku mencari alasan agar aku tidak bertarung dengannya. Karena aku tahu siapa yang akan menang.


"Jadi kau mengkhawatirkan aku ya... sudahlah hentikan omong kosong ini" kata Peter yang maju, dan melancarkan serangannya padaku.


Dia menghajar ku dengan kedua tangannya, dia menyerang ku dengan bertubi-tubi. Aku hanya bisa menahan serangannya dengan kedua tanganku sampai dia kelelahan. Lalu di saat aku lengah, dia menendang kepalaku menggunakan kakinya yang panjang.


Hingga aku terjatuh... saat aku ingin bangkit, aku di hantam oleh kakinya hingga wajahku terbentuk tanah dengan keras. Wajahku penuh dengan luka, dan hidung ku mimisan, karena terus di hajar seperti itu di saat aku ingin bangkit kembali.


Tidak hanya itu saja... dia terus menghajar ku habis-habisan sampai aku tak bisa bergerak. Pandangan ku menjadi buram, rasanya aku ingin pingsan. Lalu ada kesempatan dimana aku dapat berdiri tegak, dan membalas serangannya dengan bertubi-tubi dengan gerakan yang berbeda-beda.


Gerakan yang ada ku latihan, satu teknik yang berisi 1000 gerakan tanpa henti. Aku harus bisa melancarkan serangan ini dengan benar, dengan begitu Peter tak akan bisa berkutik. Satu pukulan, satu hantaman, dua tendangan, dan terus berbeda-beda.


Namun aku hanya berhasil sampai di gerakan ke 73 saja. Karena aku sudah terlalu lelah untuk bertarung karena serangan tadi, karena kelelahan, menjadi kan kesempatan untuk Peter agar dia bisa lolos dari serangan ku. Saat aku mengangkat kakiku untuk menendangnya.


Peter menangkap kakiku, dan membanting ku dengan berkali-kali, ke kanan, dan ke kiri. Dia terus mengulanginya seperti itu, hingga semua tubuhku penuh dengan luka, darah, dan juga memar. Serangannya lebih parah daripada serangan Akai saat itu.


Oh ya... bagaimana dengan keadaan mereka sekarang? ternyata kami kalah telak hanya dengan dua orang ini. Tak ku sangka mereka sangat kuat, dan sangat terlatih, seperti berhadapan dengan profesional.


"Hah sial... menyusahkan saja..." kata Fred yang kelelahan mengurus Akai.


Akai jatuh pingsan karena serangan telak dari Fred yang membuat kepalaku bocor. Darahnya terus mengalir, sementara itu Fred hanya membiarkan darahnya mengalir, dan segera menyusul Peter. Namun di saat yang bersamaan Carlo terbangun, dan merobek pakaiannya untuk dijadikan perban untuk Akai.


Agar dapat membantu darahnya berhenti mengalir. Fred yang melihat itu langsung kembali lagi menghampiri Carlo, "Apa dari tadi kau hanya pura-pura pingsan saja?" tanya Fred.


Kemudian Carlo membalikkan badannya, dan menghadap Fred dengan tatapan yang ingin membunuhnya. Carlo menggertakan giginya karena geram. Ternyata amarah dapat di kalahkan dengan orang yang berkepala dingin untuk berpikir bagaimana cara mengalahkan lawannya.


Tentu saja amarah tidak efektif untuk digunakan dalam pertarungan. Karena amarah hanya merugikan penggunaannya, sehingga membuat staminanya cepat habis karena serangan yang berat, dan juga tidak beraturan. Tapi bagaimana dengan pertarungan Carlo dengan Fred saat ini.


"Hmm... sepertinya kau akan sulit untuk di hadapi" gumam Fred.


Sementara itu...


"Sepertinya aku harus menelpon anak itu" gumam Peter sambil mengeluarkan ponselnya.


Kemudian di saat yang sama, aku bangkit kembali, dan memegang pundak Peter dengan keras. Aku bangkit kembali, dan tak akan terkalahkan. Aku tak akan kalah lagi, aku terus mengulangi kata-kata yang sama di pikiranku. Aku... sudah bosan dengan kekalahan yang hanya berujung dengan penderitaan.

__ADS_1


__ADS_2