Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Glasya


__ADS_3

Mulai saat itu dia selalu saja menggangguku, dan berbicara sendiri di depanku. Aku sama sekali tak menghiraukan dia, tapi aku menjadi kesal karena dia selalu saja berbicara di depanku, yang membuatku sangat marah.


"Hei kau bisa diam tidak!" kataku.


"Hmm... tidak, apa kau tertarik menjadi temanku?" kata Glasya lagi-lagi dia berbicara seperti itu karena tak memiliki teman sama sepertiku.


"Padahal masih banyak orang lain yang bisa dia ajak untuk berteman, tapi kenapa harus aku hah. Aku sama sekali tak tertarik padamu!" kataku dengan kesal.


"Kenapa tidak boleh?" kata Glasya mengulangi perkataan sebelum-sebelumnya.


"Aku tidak ingin berteman dengan siapapun, termasuk dirimu! mengerti? ku harap setelah mendengar kata-kata ku ini kau akan menyesal" kataku.


"Aku tidak mengerti kenapa kau tidak ingin berteman dengan orang lain" kata Glasya.


"Kau juga tidak ingin berteman dengan yang lain kan?" kataku.


"Tidak tuh, buktinya sekarang aku ingin bertemu denganmu" kata Glasya.


Dia pintar sekali berbicara, tapi aku tak akan membiarkan diriku dikalahkan oleh perempuan menyebalkan ini. Aku harus menyingkirkan dia dari hidupku, apa mungkin aku meminta kepada orang dalam untuk mengusirnya ya?.


"Apa yang sedang kau pikirkan? apa kau sedang memikirkan ku?" tanya Glasya.


"Memikirkan mu? hahaha buat apa? pergilah sana selagi aku masih menahan diri" kataku.


"Jahat sekali! tapi aku tak mau pergi, aku akan terus mengganggu mu sampai kau ingin menjadi temanku" kata Glasya.


"Dasar keras kepala! ini pertama kalinya aku menghabiskan banyak waktu untuk hal yang tidak berguna" kataku.


"Ini adalah hal yang berguna bagiku, dan juga dirimu. Hanya saja saat ini kau masih belum mengerti, tapi aku yakin mana yang lebih berguna bagimu. Buku itu, atau sesuatu yang lain" kata Glasya.


Dia berbicara seperti itu seolah-olah akan ada sesuatu yang lebih menarik perhatianku dari pada buku-buku indah ini. Namun aku tak mempercayai apa yang dia katakan, itu semua hanya omong kosong.


"Apa maksudmu? aku sama sekali tidak mengerti?" tanyaku bingung, ini pertama kalinya aku di buat bingung dengan seseorang.

__ADS_1


"Sudah ku bilang kau masih belum mengerti, tapi percayalah dengan kata-kataku ini" kata Glasya.


Begitu dia selesai berbicara seperti itu, dia langsung kembali ke bangkunya. Kenapa dia belum menyelesaikan kata-katanya dulu, kalau seperti ini aku kan jadi bingung sendiri. Ah sudahlah untuk apa aku memikirkan kata-kata orang yang tak ku kenal.


Kau harus ingat Claude, tidak ada sesuatu yang lain, yang bisa menarik perhatian mu dengan buku-buku ini. Karena bagiku, buku-buku ini lebih berharga dari apapun yang ku punya, karena dulu aku, memiliki masa lalu yang kelam.


Masa-masa yang tidak ingin terjadi kembali, bahkan aku tak pernah mengharapkan yang seperti itu. Tapi... siapa juga yang berharap seperti itu, tapi ada keuntungan tersendiri bagiku dengan melewati masa laluku.


Karena masa lalu yang buruk, aku bisa menjadi orang yang jenius seperti sekarang. Sudah waktunya pulang sekolah, seperti biasanya aku langsung pulang sekolah begitu sudah waktunya pulang, dan langsung kembali membaca buku di kamarku.


Namun ketika di saat aku sedang membaca buku, ibuku masuk ke kamarku, "Hei Claude anakku sudah besar rupanya... cepat keluar, dan suruh masuk pacarmu" kataku ibu tersenyum padaku.


"A-apa!? pacar? sejak kapan aku punya pacar ibu? mungkin dia orang gila yang mengaku sebagai pacarku. Usir saja dia, ibu kan tahu sendiri aku orangnya bagaimana, aku ingin melanjutkan belajar" kataku tak peduli siapa perempuan yang mengaku sebagai pacarku.


"Ah jangan berbohong seperti itu, pacar kamu cantik sekali loh" kata ibuku.


"Bu... sudah ku bilang dia bukan pacarku, aku saja tidak punya teman, bagaimana bisa aku memiliki pacar" kataku.


"Sudahlah kalau begitu, ibu akan menyuruh dia masuk, dan membiarkan kalian berduaan saja" Kata ibuku keluar kamarku.


"Tenang saja, ibu tidak akan menggangu kalian berdua kok" kata ibu dengan hati yang senang.


Sebenarnya siapa sih yang mengaku menjadi pacarku, dan lagi ibu menjadi seperti ini oleh perempuan aneh yang mengaku menjadi pacarku. Awas saja kau, begitu dia masuk ke kamarku, aku tak akan mempedulikannya.


Menyebalkan sekali, kenapa selalu saja ada yang mengganggu kehidupan ku. Padahal aku hanya ingin hidup tenang, dan sesuai dengan apa yang kuinginkan. Tapi kenapa malah menjadi seperti ini? kenapa terus saja ada orang yang menggangu kehidupan ku.


"Claude ini pacarmu datang, ibu pergi dulu sama ayah ya... ingat jangan melakukan hal yang aneh selama ibu, dan ayah pergi" kata ibuku.


Aku terkejut begitu melihat siapa orang yang mengaku sebagai pacarku. Ternyata dia adalah teman sekolah ku, dan lebih tepatnya sekelas dengan ku. Dia adalah Glasya, orang yang paling menyebalkan bagiku.


Beraninya dia mengganggu ku lagi, apa dia belum puas sudah mengganggu ku di sekolah, dan kini dia ingin mengganggu ku di rumahku. Waktu yang paling menyenangkan untuk membaca sebuah buku.


"Hai sayang!" kata Glasya berteriak dengan kencang.

__ADS_1


"Apa-apaan kau? pelankan suaramu, dasar tidak tahu malu" kataku.


"Ibumu saja setuju kalau kita berpacaran, kenapa kau tidak?" memasang wajah sedih.


"Setuju apanya? kau membohongi ibu dasar perempuan gila" kataku.


"Ah sudahlah... aku akan tetap disini" kata Glasya menutup pintu kamarku.


"H-hei apa yang kau lakukan? kau mau apa ha" tanyaku takut.


"Menurutmu... apa yang akan dilakukan oleh laki-laki, dan perempuan jika di satu kamar yang tertutup?" tanya Glasya mendekati ku.


"A-apa yang akan kau lakukan? a-aku masih polos, aku tidak ingin tercemar oleh perbuatan mu yang mesum" kataku.


"Kau manis sekali kalau ketakutan, tak seperti tampang mu yang sangat serius saat di sekolah" kata Glasya semakin mendekati ku.


"Berhenti! jangan mendekati ku!" teriakku.


"Apa yang terjadi di dalam? jangan melakukan hal yang nakal ya" kata ibuku dari luar.


"Dasar kau... jangan bergerak lagi, ku mohon" kataku memelas.


"Hahaha! kau lucu sekali Claude! haha... memangnya apa yang akan aku lakukan padamu. Haha, sepertinya hanya kau saja yang berpikiran mesum" kata Glasya.


"Hah? a-apa maksudmu? kau tak berniat melakukan itu padaku bukan?" tanyaku.


"Memangnya aku akan melakukannya hah? sudahlah aku hanya ingin tiduran di kasur mu, dan melihat kau belajar" kata Glasya.


"Be-benarkah? baiklah kalau begitu, aku akan tetap berwaspada... hah? su-sudah tidur rupanya, dasar, katanya ingin melihatku belajar, tapi yasudah deh" kataku.


Lalu aku pun terus melanjutkan membaca buku tanpa gangguan. Karena Glasya sudah tertidur di sampingku, aku sangat bersyukur bisa membaca buku dengan tenang. Tapi ngomong-ngomong, apa yang harus kulakukan padanya.


Bagaimana jika dia terus tidur sampai malam? apa reaksi ayah yang akan melihatnya nanti karena dia tidur di kamarku. Karena ayah, dan juga adik-adik ku sepertinya tidak tahu tentang kedatangan Glasya.

__ADS_1


Aku pun langsung beranjak untuk mengunci pintu kamarku. Karena takut ayah, atau adikku datang kemari, dan melihatnya. Tapi ngomong-ngomong, wajahnya yang sedang tertidur sangat manis.


__ADS_2