
Beberapa hari kemudian, hari dimana yang ditunggu-tunggu oleh semua murid sekolah. Yaitu hari liburan setelah ujian semester 1 telah selesai. Biasanya semua orang menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang.
Kebahagiaan seseorang pasti berbeda-beda, seperti halnya aku bersenang-senang untuk giat belajar. Itulah kebahagiaanku, mungkin sangat unik, dan aneh. Karena orang lain pasti akan menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul bersama keluarganya di saat hari libur seperti ini.
Aku sangat ingin cepat lulus dari SMA, sebenarnya aku ingin langsung bekerja di sebuah perusahaan, atau membangun perusahaan sendiri. Tapi karena masalah umur, mungkin itu tidak diperbolehkan.
Sebenarnya aku sangat benci sekali dengan peraturan yang seperti ini. Sayang sekali jika ada anak berbakat sepertiku menjalani kehidupannya untuk di sekolah. Padahal aku bisa melakukan sesuatu yang berbeda.
Tapi hanya karena umur, semua orang di anggap sama sesuai dengan umur mereka. Karena itulah aku ingin cepat-cepat dewasa, dan bisa bekerja. Untuk lulus SMA, aku masih harus menjalani 2 tahun setengah lagi untuk kuliah di suatu universitas.
Brak! suara pintu kamarku yang di dobrak oleh adik laki-laki ku, "Hei! apa yang kau lakukan dengan pintu kamarku? seharusnya kau mengetuk pintunya terlebih dahulu" kataku kesal.
"Kalau aku melakukan apa yang kakak suruh, kakak tidak akan membukakan pintunya untukku" kata Yohan.
"Argh! baiklah kau benar, kalau begitu cepatlah apa yang ingin kau katakan?" tanyaku.
"Kakak!"
"Ya?"
"Bertarunglah dengan..."
Plak! suara tamparan ku ke pipi adikku.
"Oke sudah, pertarungan ini dimenangkan oleh ku, jadi pergilah dari kamarku" kataku.
"A-apa!? bukan begitu maksudku! dasar kakak bodoh!" kata Yohan kesal.
"Apa! berani kau bilang kakakmu ya jenius ini bodoh!" kataku ikut kesal.
"Ya aku berani! karena aku akan melebihi mu kak, lihat saja suatu saat nanti" kata Yohan pergi keluar dari kamarku.
__ADS_1
"Hei tunggu... katanya kau ingin bertarung denganku? bertarung apa yang kau maksud?" tanyaku.
"Hah? tadi kakak bilang kepadaku untuk pergi dari sini" kata Yohan.
"Ah... yasudah pergilah" kataku.
Begitu dia pergi dari kamarku, aku pun melanjutkan untuk belajar lagi. Tapi sepertinya hari ini aku ingin membaca buku cerita fantasi. Aku tidak hanya menyukai buku pelajaran, tentunya aku menyukai buku cerita, itulah yang disebut kutu buku.
Entah kenapa aku bangga di beri panggil kutu buku, kadang juga ada yang memanggilku dengan sebutan jenius. Saat aku sedang mencari-cari buku cerita di rak buku ku, aku menemukan sebuah buku yang sepertinya sudah lama sekali.
Buku itu sudah lecek, kotor, dan berdebu, rasanya aku belum pernah melihat buku ini. Karena aku tak memiliki banyak buku cerita, jadi aku terkadang lupa. Tapi entah kenapa rasanya buku ini sangat familiar.
Buku itu berjudul, "Human Heart" yang berarti hati manusia. Kemudian muncul di pikiranku tentang ingatan masa laluku. Aku mengingatnya saat pertama kali aku mendapat buku cerita ini.
Tanpa sadar air mataku mengalir, dan hatiku merasa tenang begitu mengingat buku ini. Disini lain aku juga merasakan perasaan bersalah. Aku ingin jelas, kalau buku ini diberikan oleh Eren.
Saat itu dia pernah memberikan buku ini padaku, dan ini adalah hadiah pertamaku darinya. Saat itu aku masih belum bisa membaca, dan dia membacakan isi ceritanya kepadaku sampai akhir.
Rasanya... aku, dan dia masuk ke dalam cerita, dan cerita itu kudengar untuk pertama kali, dan terakhir kalinya. Setelah itu aku ingat, kalau saat itu aku menaruh buku ini di sudut bawah rak buku milikku, dan tak pernah ku ambil lagi.
Karena aku mulai melupakan buku yang dia berikan, dengan buku-buku baru yang ku beli. Hingga buku yang dia berikan tertutup oleh buku-buku lainnya. Sudah bertahun-tahun lamanya aku melupakan buku ini.
Kemudian... untuk kedua kalinya, akhirnya aku membaca buku yang dia berikan ini lagi. Setelah sekian lama, aku membuka buku ini, dan membaca setiap halamannya. Aku juga akan mengulangi hal yang sama yaitu dia lakukan padaku.
Aku akan menghabiskan buku ini dalam satu Minggu, dan di setiap harinya. Aku mengikuti dia membaca sampai mana, aku masih mengingat begitu jelas. Sampai mana dia membaca buku ini perharinya.
Krieeeet! suara pintu yang dibuka perlahan oleh seseorang. Namun aku tak menyadarinya jika ada seseorang yang mengintip ku. Adikku Elia menatapku dari balik pintu yang terbuka sedikit, lalu dia menghampiriku dengan lembut.
"Kakak... kakak kenapa?" tanya adikku masuk ke kamarku.
Aku terkejut, dan langsung mengusap air mataku, dan menyembunyikan sebuah buku yang ku baca. Entah kenapa aku tak ingin orang lain tahu tentang rahasia ku. Padahal adik-adikku tidak tahu apa-apa tentangku karena aku lahir lebih dulu.
__ADS_1
"Ah... kakak tidak apa-apa kok, seharusnya kau mengetuk pintu dulu kalau mau masuk" kataku mengusap kepala adikku.
"Iya kak... tapi kenapa tadi kakak menangis" Tanya Elia yang ikutan sedih.
"A-apa? haha... aku menangis? mungkin kau salah lihat" kataku.
"Aku sudah melihatnya dari tadi, kakak terus menangis sambil membaca buku yang di sembunyikan dibalik tangan kakak" kata Elia.
"Eh!? kenapa kau tidak bilang pada kakak... lain kali kau tidak boleh seperti itu lagi ya" kataku.
"Baik kak, tapi kenapa kakak tadi menangis?" tanya adikku mengulang pertanyaan yang sama.
"Hah... kau masih kecil, belum saatnya kau tahu kehidupan orang dewasa. Eh, bukannya hari ini kau ada les? cepat siap-siap dan berangkat" kataku.
"Ah! iya aku baru ingat kak, baiklah kalau begitu aku pergi dulu" kata adikku dengan penuh semangat.
Lalu aku menutup pintu kamarku, dan menguncinya supaya tidak ada yang masuk lagi ke kamarku. Kemudian aku melanjutkan membaca bukunya, sesuai saat itu dia membacakan bukunya perhari padaku.
Karena tekanan yang berat, aku jadi cepat mengantuk. Rasanya aku lelah sekali, karena sudah tak kuat lagi aku pun tertidur begitu selesai membaca buku itu. Aku tertidur dikelilingi oleh buku-buku yang berserakan.
...*****...
Beberapa hari kemudian, aku menerima notifikasi dari ponselku. Ternyata itu adalah notifikasi dari chat, aku dimasukkan ke sebuah grup chat. Grup itu terdiri dari empat orang termasuk aku, Glasya, Pete, dan William.
"Hei untuk apa buat grup seperti ini?" kataku lewat chat.
"Haha... untuk berjaga-jaga saja" kata Peter yang membuat grup chat.
Ngomong-ngomong, selama liburan ini kami belum ada berkomunikasi satu sama lain. Karena tak pernah bertemu, dan baru saat ini ada obrolan. Padahal kami saling berbagi nomor ponsel sudah lama.
Tapi aku tak masalah dengan adanya grup chat, lagi pula orang yang ada di dalam grup chat adalah orang yang ku kenal. Ngomong-ngomong sepertinya aku juga tidak pernah memakai ponsel ku selama liburan.
__ADS_1