
Kami terus menuruni gunung dengan kecepatan normal. Aku tak menyangka sama sekali kalau Peter bisa mengendarai kendaraan sebesar ini. Dari mana dia belajar mengendarai bus? tapi bukan itu masalahnya. Aku masih merasa khawatir dengan kondisi Fred.
Apakah tidak apw jika di biarkan seperti itu, meskipun hanya mencoba untuk menghentikan pendarahannya. Tapi tetap saja itu akan berbahaya, bergerak sedikit saja bisa robek dagingnya. Tapi untuk sekarang Fred tertidur dengan tenang bersandar di kursi bus, tepatnya di samping Peter.
"Hei... jangan terlalu kencang mengendarainya, bisa berbahaya untuk teman kita yang terluka" kataku memperingatkan Peter.
"Sejak kapan kau menyebutnya teman? tidak seperti dirimu saja. Tapi baiklah aku akan menurunkan kecepatannya sekitar 5 kilometer per jam. Karena pasokan makanan yang kita bawa hanya pas-pasan" kata Peter.
"Apa tidak ada yang membawa uang di antara kalian?" tanyaku.
"Tidak ada, lebih baik kau juga tidur saja... kau juga terluka kan?" kata Peter yang tetap fokus untuk mengendarai tanpa melirik ke sekitar.
"Baiklah aku akan tidur, hati-hati... Peter" kataku dengan suara kecil.
"Hah... hari ini kau banyak berubah... Claude" gumam Peter sambil menghela napas.
Kemudian aku menuruti kata-kata Peter untuk beristirahat. Sebenarnya sulit untukku beristirahat di kondisi seperti ini. Mobilnya terus bergoyang, dan tulang-tulang ku mengeluarkan suara aneh.
Apa aku akan baik-baik saja? aku pun tetap memaksakan untuk tidur, agar meringankan rasa sakitnya. Walaupun tidak akan kembali normal begitu aku bangun, tapi ini semua demi melupakan rasa sakitnya.
Mungkin ini pertama kalinya bagiku merasakan sensasi seperti ini. Entah kenapa rasanya sedikit menyenangkan, begitu kami bisa keluar, dan pulang dari hutan ini. Tapi bagaimana dengan teman-temanku yang masih berada di sana? apakah mereka semua akan baik-baik saja?.
Robin, Rubby, Glasya, William, Yaomi... aku sangat mengkhawatirkan mereka. Semoga begitu kami pulang, para polisi akan percaya dengan perkataan kami, dan segera menyusul ke gunung itu, dan menyelamatkan mereka. Hari ini cukup melelahkan, rasanya aku ngantuk sekali.
__ADS_1
Besoknya di pagi hari aku bangun, dan ku lihat di jendela bus ternyata kami sudah sampai di jalan tol. Syukurlah akhirnya kami bisa sampai di sini dengan selamat. Tapi bagaimana dengan keadaan yang lain? apakah Peter terus mengendarainya tanpa henti.
Apa dia tidak kelelahan? aku terkejut begitu melihat kalau Fred berada di sampingku. Dia sedang memasak air menggunakan kompor portabel, sepertinya dia ingin memasak mie cup. Kruyuk... tiba-tiba saja perutku bersuara seperti itu yang menandakan aku lapar.
"Tahan lapar mu, aku sedang memasak mie ini untukmu" kata Fred.
"Ah... baiklah, tunggu! bagaimana caraku untuk memakan mienya? sedangkan semua tubuhku tidak bisa digerakkan?" tanyaku.
"Soal itu... kau tidak perlu khawatir... aku..." kata Fred menatap tajam Peter
"Pfft! Hahaha! hahaha!" tawa Peter dengan suara keras.
"Dasar sialan! berhenti tertawa!" teriak Fred dengan kesal.
"Ah... maaf, aku sangat merepotkan kalian ya... seharusnya kalian tinggalkan saja aku di hutan, dengan begitu kalian tak kerepotan seperti ini. Luka di perutmu juga itu karena ku, kau juga Peter, seharusnya kau bisa beristirahat" kataku yang merasa bersalah karena tak bisa melakukan apapun, dan hanya menjadi beban.
Seharusnya mereka tidak membawaku, seharusnya aku mati saja tadi. Tapi lagi-lagi aku di selamatkan oleh mereka. Aku di selamatkan oleh Fred begitu aku terjatuh dari jurang, dan lagi Fred menyelamatkan ku saat ada pembunuhan yang datang untuk kedua kalinya.
Lalu untuk yang ketiga kalinya saat nyawaku terancam, Peter datang untuk menyelamatkan ku. Kalau saja... kalau saja Fred membiarkan aku terjatuh di jurang itu, dan mati. Mungkin mereka tidak akan kesulitan seperti ini, rasanya aku ingin mati saja.
"Hei jangan merasa terbebani seperti itu... keberadaan mu saja sudah cukup untuk kami. Makan lah ini..." kata Fred menyuapiku dengan mie yang baru dia masak.
Kata-katanya sangat lembut sekali di dengar, rasanya aku ingin menangis. Mataku mulai berkaca-kaca tapi aku tetap menolak untuk menangis. Karena malu tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Tapi kenapa mereka... mereka tetap ada untukku yang tidak berguna ini.
__ADS_1
Aku jadi teringat dengan perkataan perkataan yang pernah kudengar sebelumnya. Tentang hati manusia, kebaikan hati manusia, kepentingan bersama, dan lainnya. Ternyata itu benar ada, kukira itu hanya omong kosong, karena aku tak pernah merasakannya.
Mungkin itu karena aku tidak ingin berteman dengan siapapun karena itulah mengapa aku tak merasakan hal yang seperti itu. Tapi begitu aku mulai membuka hatiku untuk seseorang, dan berteman dengannya. Akhirnya aku mengerti, aku sudah mengerti, dan dapat memahaminya.
Tentang apa yang dikatakan saat itu oleh Glasya, tentang mana yang lebih penting dari sebuah buku. Jadi maksud Glasya saat itu adalah manusia, manusia yang mementingkan orang lain ketimbang dirinya. Aku bisa merasakan perasaan itu, ini adalah perasaan mereka, Fred, dan Peter.
Mereka lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya atau sesuatu yang lain. Tapi apa aku ini? dari dulu aku tak mempedulikan siapapun, yang ku pedulikan hanya sebuah buku. Tapi... sejak kapan aku terus mempedulikan buku? aku sama sekali tak mengingatnya.
Namun tiba-tiba saja ada sesuatu yang memberiku petunjuk tentang itu semua. Aku mulai mengingatnya lagi, kejadian-kejadian yang terjadi di masa laluku. Aku bisa mengingatnya lagi mengapa aku begitu egois, masa-masa saat aku bersama dengan... Eren.
Dia adalah satu-satunya orang yang dapat merubahku, aku tidak tahu dia merubahku menjadi lebih baik atau tidak. Saat itu dia hanya mengajarkan ku untuk selalu membaca buku, hingga aku kecanduan untuk membaca buku. Jika sehari saja aku tak membaca buku, aku akan merasa khawatir akan diriku karena tak melakukan apa yang dia suruh.
Semenjak saat itulah mungkin aku mulai tak mempedulikan orang lain. Kehidupan sosialku mulai menghilang, aku hanya berbicara kepada orang lain saat orang lain berbicara padaku, atau aku sedang ada keperluan. Setelah selesai urusanku dengan seseorang, aku mulai membaca buku lagi.
"Apa kau masih lapar? kalau kau lapar katakan saja, makanan yang kita bawa masih sangat banyak" kata Fred tersenyum hangat padaku, layaknya seorang ayah.
"Benarkan? sebenarnya aku masih lapar sih, tapi apa kau sudah makan sebelumnya?" tanyaku.
"Kau tak perlu memikirkannya, akan ku buatkan satu mie cup lagi, tunggulah" kata Fred mulai memanaskan air lagi.
"Padahal persediaan makanan pas-pasan, dan dia juga belum makan semenjak dia bangun. Tapi kenapa kau terus bersikap baik terhadap orang lain? aku ingin sekali menjadi orang baik sepertimu" kata Peter di dalam hatinya melihat kebaikan Fred.
Aku merasa sangat senang sekali, dan terharu... karenanya, semua beban pikiranku mulai menghilang. Ternyata dia adalah anak yang baik, walaupun kata-katanya itu sedikit kasar, dan wajahnya juga terlihat mencurigakan.
__ADS_1
Aku bisa merasakan kebaikannya yang jujur itu, kebaikan yang berasal dari hati. Bukan kebaikan yang di buat oleh pikiran, dan tak mengharapkan apapun. Itulah kebaikan yang ada pada Fred, tapi... ngomong-ngomong kenapa setiap kali aku melihatnya dia selalu bersama dengan orang dewasa di sekelilingnya.
Lalu... untuk pertama kalinya dia berada sendirian disini, tanpa ada orang dewasa yang menemaninya. Aneh sekali...