
S.M.F? itu apa ya? sepertinya aku baru mendengar kata-kata aneh yang para pembunuh itu ucapkan. Tapi... sepertinya mereka takut dengan yang namanya, "S.M.F" itu. Aku harus menyelidiki para pembunuh itu lain kali.
"A-apa!? jadi kau melihat para pelaku yang bersangkutan tentang menghilangkannya anak-anak sekolah kita?" kata Peter yang terkejut mendengar cerita ku.
"Ya tentu saja, aku tidak mungkin berbohong kepada kalian" kataku.
"Ta-tapi... motorku..." kata Peter yang masih belum merelakan motornya.
"Hah sudahlah, besok saja kita mengambil motornya" kataku.
"Tapi rumahku kan jauh dari sekolah, aku harus bagaimana?" tanya Peter.
"Hei kau pikir kita hidup di zaman kapan hah? kau kan bisa naik ojek, atau kendaraan umum kan" kataku.
"Ah, iya ya... kau benar juga, baiklah kalau begitu ayo kita pulang bersama" kata Peter.
"Ya aku ingin pulang cepat, kalau tidak aku akan dimarahi ibuku" kata William.
"Baiklah... tapi... apa kalian tahu tentang organisasi yang di sebut S.M.F?" tanyaku.
"Hah? S.M.F? apaan itu?" kata mereka serentak.
"Ah... jadi kalian tidak tahu ya, baiklah kalau begitu ayo kita pulang" kataku.
Lalu akhirnya kamu semua pulang dengan menaiki kendaraan umum. Lalu begitu aku sudah sampai pulang dengan selamat di rumahku. Aku segera menyalakan komputer ku, untuk mencari tahu tentang organisasi S.M.F.
Karena mungkin saja organisasi yang disebut para pembunuh itu bersangkutan dengan organisasi mereka. Tapi... sepertinya dari perkataan mereka, organisasi S.M.F bagi mereka adalah organisasi yang menggangu kegiatan gelap mereka.
Tapi lebih baik aku langsung mencari tahu saja lewat internet. Begitu aku mencari lewat internet, aku terkejut kalau ternyata yang aku cari tidak ketemu. Berarti kemungkinan organisasi S.M.F itu adalah organisasi yang disembunyikan identitasnya.
__ADS_1
Tapi kata para pembunuh itu, katanya ada satu orang dari organisasi S.M.F yang menyamar menjadi murid di sekolah ku. Kira-kira siapa orangnya? bagiku orang yang paling mencurigakan adalah Yaomi.
Tapi masa iya Yaomi adalah salah satu dari organisasi yang di sebut. Entah kenapa aku merasa yakin kalau Yaomi adalah salah satu dari anggota organisasi tersebut. Karena sikap dia yang sangat aneh, dan mencurigakan.
Dan yang lebih anehnya lagi kenapa hanya aku yang tahu kalau sikap Yaomi itu sangat aneh. Sementara murid lain tak ada yang merasa aneh dengan Yaomi. Apa mungkin mereka terlalu bodoh jadi tidak tahu apa-apa ya.
"Hei! untunglah kau pulang dengan selamat!" kata Robin yang tiba-tiba datang masuk ke kamarku.
"Astaga! aku terkejut di buat oleh mu, dasar kau! lagi pula kau kan tahu kalau aku pulang dengan selamat, rumah kita kan sebelahan" kataku.
"Haha iya iya, tapi apa yang sedang kau pikirkan? sampai-sampai kau tak tahu kalau ada orang masuk ke kamarmu? aku sudah melihatmu berdiam diri memikirkan sesuatu sejak 20 menit yang lalu loh" kata Robin.
"A-apa!? kau sudah menungguku selama 20 menit? dan kau tak bilang padaku, dan hanya melihatku dari belakang?" kataku.
"I-iya... memangnya kenapa? dan sudah berapa lama kau merenung seperti itu?" tanya Robin.
Aku melirik ke arah jam dinding, dan sudah menunjukkan pukul 8 lewat, "Astaga! aku baru sadar kalau aku merenungkan diri begitu lama" kataku.
"Kira-kira selama 1 jam lebih"
"Apa!? sa-satu jam lebih? memangnya apa yang kau pikirkan selama itu?" tanya Robin.
"Haha sudahlah... oh ha ngomong-ngomong kau datang ke rumahku pasti untuk belajar bersama kan?" tanyaku.
"Tidak kok, untuk hari ini aku ingin beristirahat dari belajar seharian. Ayo kita bermain game sampai mati!" teriakan semangat Robin.
"Astaga yang benar saja bermain game sampai mati. Tapi syukurlah Robin yang dulu kembali, haha" kataku.
Lalu kami bermain game bersama hingga tengah malam. Robin pun pulang begitu sudah tengah malam, rasanya menyenangkan juga bermain game untuk menghilangkan penat. Mungkin besok akan terjadi hal yang sama lagi, tentang menghilangkannya seorang murid di sekolah ku.
__ADS_1
Oh ya ngomong-ngomong selama ini aku bekum tahu dimana rumah Yaomi. Apa besok aku tanyakan saja kepadanya langsung ya, ah... benar juga. Aku tahu bagaimana reaksi dia nantinya, lebih baik aku tanyakan saja kepada orang lain, mungkin mereka tahu.
Lalu tiba-tiba aku dikejutkan dengan adanya sebuah batu yang masuk lewat jendela luar ku. Hingga jendela luarnya pecah berantakan, aku pun langsung berlari ke arah jendela dengan hati-hati karena banyak serpihan kaca yang berserakan.
Begitu aku melihat keluar siapa yang melakukannya, ternyata aku tak melihat siapapun di bawah. Kamarku berada di lantai dua, lalu aku melihat ada sesuatu yang terikat dengan batu yang dilemparkan itu.
Ternyata ada sebuah kertas, yang bertulis.
"Maaf untuk jendela yang ku hancurkan, ini demi kebaikan mu juga. Setelah kau baca ini, aku hanya mengingatkan mu untuk tidak masuk sekolah besok" isi surat itu.
Kemudian orang tua ku datang ke kamarku karena suara berisik yang berasal dari kamarku. Orang tuaku terkejut begitu melihat apa yang terjadi di kamarku. Lalu orang tuaku bertanya-tanya bagaimana kaca jendelanya bisa pecah.
"Apa yang terjadi sampai kaca jendela kamarmu pecah?" tanya ayahku.
"Tadi ada seseorang yang melemparkan sebuah batu, dan ada sebuah kertas yang menempel di batu ini" kataku memberikan buktinya kepada ayahku.
"Kamu bercanda? pasti kamu kan yang memecahkan kaca jendela kamarmu?" kata ibuku masih tak percaya.
"Bu, kali ini kita harus percaya pada anak kita" kata ayahku tiba-tiba.
"Hah!? memangnya ada apa yah? dan ayah menuruti isi kertas itu supaya anak kita tidak sekolah walau hanya satu hari?" kata ibuku.
"Ya... ayah sangat yakin kalau yang tertulis di kertas ini benar" kata ayahku.
"Tapi ayah!"
"Sudahlah bu, lebih baik ayo kita ke kamar" kata ayahku.
Lalu ayah, dan ibuku kembali ke kamarnya, sementara aku disuruh membersihkan kacanya. Tapi kira-kira apa yang membuat ayah begitu yakin dengan isi suratnya itu?. Dan besok aku tidak boleh sekolah, itu sih tidak masalah bagiku.
__ADS_1
Walau aku menginginkan bertemu dengan teman-temanku di sekolah. Tapi siapa yang mengirim kertas itu, aku sama sekali tak melihatnya. Tapi ngomong-ngomong dimana kertas tadi ya.
Ah... mungkin tadi di bawa ayahku, yasudah lah, biarkan saja. Lagi pula itu hanya sebuah surat, aku harus cepat-cepat tidur, dan besoknya aku harus belajar di rumah seharian sebagai hukuman aku tak masuk sekolah.