
Mungkin ini hanya keberuntungan yang tidak di sengaja saja. Tidak mungkin ada seseorang yang selalu beruntung dalam hidupnya, karena dia selalu kalah dalam permainan kartu. Tapi itupun karena dia tidak mengerti cara bermainnya.
"Berikan dadunya... akan ku tunjukan kepada kalian bagaimana cara bermain ulat tangga dengan benar" kata Peter dengan tersenyum seringai.
Begitu Peter mengeluarkan dadunya, dia mendapatkan angka empat. Angka empat itu ternyata lagi-lagi menuju gambar tangga. Kami lagi-lagi di kejutkan dengan kemampuan Pete r yang hebat dalam bermain ular tangga.
"Bagaimana bisa!? apa kau menggunakan orang dalam!" tanya William yang kesal karena dia berada di posisi terakhir.
"Hahaha! orang dalam? yang benar saja hanya karena sebuah permainan aku memakai orang dalam" kata Peter tertawa dengan puas.
"Sudahlah... lebih baik kalian semua menyerah saja" ledek Peter.
"Kau pikir aku akan menyerah!" serentak aku, dan Yoanita. Kami terkejut begitu berbicara bersama, wajah kami saling bertatapan, dan kemudian Yaomi langsung memalingkan mukanya, dan melanjutkan permainannya.
Aku berada di posisi ketiga untuk saat ini, sementara Yaomi berada di posisi kedua. Sedangkan Peter berada jauh dari kita semua karena keberuntungannya. Aku, dan Yaomi masih tetap pada pendirian kita untuk tidak akan pernah menyerah.
Kami bermain ular tangga begitu lama, sepertinya untuk saat ini sudah ronde ke 13. Aku, Peter, dan Yaomi masih bermain, sedangkan yang lain sudah berhenti di ronde ke 3 karena kalah telak.
Selama bermain ular tangga, Peter selalu memenangkan permainan. Tak ku sangka dia sangat hebat sekali bermain ular tangga. Mungkin dia bisa ikut lomba ular tangga untuk mewakili sekolah kami.
"Sudahlah kalian menyerah saja... Hoaaaam, aku sudah sangat mengantuk nih" kata Peter yang sudah tak sanggup untuk membuka matanya.
"Aku tidak akan menyerah, kau pasti akan kalah di permainan kali ini!" kataku dengan semangat membara yang tak ngantuk atau kelelahan sama sekali. Sedangkan Yaomi sepertinya dia sudah mulai mengantuk, tapi dia. masih menahannya karena ingin menang.
"Sial! aku menyerah! dari dulu sampai sekarang aku tak pernah menang melawan mu jika permainannya mengandalkan keberuntungan!" kata Yaomi berteriak keras.
__ADS_1
"Hah!? dulu?" gumamku.
"Eh!? itu karena kami teman sejak kecil yang terus bermain ular tangga. Hingga sekarang" kata Peter menjelaskannya padaku.
"Oh... baiklah kalau Yaomi menyerah aku juga akan menyerah" kataku karena sudah putus asa karena sudah kalah telak.
"Syukurlah akhirnya permainan ini bisa di selesaikan. Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang, tapi ngomong-ngomong kenapa kau tidak terlihat kelelahan sama sekali, Claude?" tanya Peter sambil membereskan permainannya.
"Aku sudah terbiasa begadang, karena aku selalu belajar di malam hari. Terkadang aku tidak tidur seharian, oleh karena itu aku tertidur di sekolah hampir setiap harinya" kataku.
Akhirnya mereka semua pun tertidur kecuali aku sendiri yang masih sibuk dengan membaca buku yang ku bawa. Aku membaca buku Humam Heart, terkadang aku selalu membacanya di malam hari.
Ini adalah buku penutup bagiku, karena setelah aku membaca buku ini aku biasanya selalu tidur. Sebenarnya aku tak ingin membawanya karena takut hilang, atau rusak. Tapi aku tak bisa melepaskan buku ini, karena sudah memiliki banyak kenangan yang berharga bagiku.
Begitu aku sudah selesai membacanya, tiba-tiba aku mulai mengantuk. Sebelum aku tertidur aku menyimpan buku itu di tempat yang aman di tasku. Lalu dengan begitu aku bisa tidur dengan tenang.
Sebentar lagi jam 10, kami harus berkumpul karena akan ada tantangan yang akan di berikan oleh para guru seperti yang sudah diberitahukan tadi malam. Kami memiliki waktu 4 jam untuk bersiap-siap sebelum tantangan itu akan di mulai.
Aku masih belum tahu tantangan seperti apa yang diberikan oleh para guru untuk para murid nanti. Tapi sepertinya selama lima hari kami berada disini, kami tidak bisa mandi. Karena disini tidak ada kamar mandi, jelas sekali tidak ada kamar mandi di tengah hutan ini!.
Sepertinya bau busuk sudah mulai tercium dari seseorang. Lalu untuk sarapan paginya kami tidak perlu memasak lagi, karena makanan di pagi hari di siapkan oleh para guru. Sejak tadi pagi para guru membagikan makanannya kepada semua orang si luar tenda.
"Hei menurutmu tantangan seperti apa yang akan diberikan nanti?" tanya William yang menggigil kedinginan.
"Entahlah aku juga tidak tahu... semoga saja tantangannya mengandalkan keberuntungan, haha" kata Peter yang sedang meminum teh hangat dari pemberian guru.
__ADS_1
"Aku tak akan membiarkan orang lain menang!" kataku dengan serius untuk membuat orang lain terkejut.
"Haha! sebegitu kah kamu ingin menang, Claude? karena kau sudah kalah telak tadi malam, hahaha" tawa Peter yang membuatku kesal.
"Kau menang karena dadunya berpihak padamu, kawan"
"Sudahlah jangan ribut, lebih baik kita memikirkan bagaimana cara kita mandi. Karena disekitar sini tidak ada air" kata Rubby yang baru saja keluar dari tenda.
"Kau benar sekali, sial sekali aku benci hutan. Oh ya... ngomong-ngomong dimana Robin? apa dia lagi-lagi tertidur?" tanyaku.
"Ya, dia sedang tertidur pulas... tapi tadi dia mengigau aneh sekali" kata Rubby.
"Hah? memangnya dia mengigau seperti apa!?" tanya kami serentak yang penasaran.
"Entahlah, suaranya sedikit tidak jelas... tapi yang jelas aku mendengar dia mengucapkan namamu, Claude" kata Rubby.
Seketika aku terdiam, dan memikirkan kenapa Robin menyebutkan namaku. kalau begitu dia sedang bermimpi yang berhubungan denganku. Karena dia menyebutkan namaku, tapi apa yang membuatnya bermimpi ada aku di dalam mimpinya.
Andai saja aku bisa lebih mengetahui apa yang dia bicarakan saat tidur tadi. Mungkin aku bisa tahu apa yang sedang dia pikirkan, karena terkadang mimpi yang tak sengaja kita ucapkan saat tertidur itu adalah isi hati kita.
Apa lagi dia menyebutkan nama seseorang di dalam mimpinya. Yang berarti dia telah mengungkapkan isi hati yang sebenarnya secara tidak sengaja. Aku tidak tahu antara senang, atau merasa aneh ketika aku tahu kalau Robin menyebutkan namaku.
Yang berarti dia sangat senang, dan bergantung padaku sebagai teman, atau mungkin aku harus menganggapnya sebagai sahabatku sekarang. Lalu disini lain, bisa saja Robin sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
Lebih tepatnya dia menyembunyikan isi hati yang sebenarnya kepadaku. Tapi semoga saja ini hanyalah perasaanku saja, entah kenapa kalau ada sesuatu yang aneh menurutku, aku selalu memikirkannya seperti ini.
__ADS_1
Kemudian aku meletakkan segelas teh yang sedang ku minum, dan masuk ke dalam tenda. Aku berniat untuk mendengarkan apakah Robin akan mengigau lagi atau tidak. Semoga saja dia mengigau lagi, supaya aku tahu seperti apa isi hati yang sebenarnya, Robin.
Aku menunggu sekitar satu jam, tapi Robin tak kunjung mengigau juga. Aku jadi merasa bosan karena tak melakukan apapun, dan diam saja membeku. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar tenda, dan berkumpul bersama dengan teman-temanku, "Claude"...