
Tapi bukan Robin masalah terbesarnya untuk saat ini. Masalah terbesarnya adalah kenapa aku harus satu tenda dengan Rubby? bukan hanya dia akan tetapi orang yang harus ku hindari agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi, Yaomi!.
Semoga saja dia tidak berbuat macam-macam lagi padaku. Aku juga harus tak berkomunikasi dengannya sedikitpun, dan jika dia membuat masalah lagi padaku. Saat itu juga aku harus membalasnya, aku akan benar-benar membalasnya.
Kemudian kami semua berencana untuk mengguncangkan tubuh Robin dengan kuat agar dia terbangun dari mati surinya. Mungkin ini adalah kata-kata yang tepat untuk orang yang suka tidur seperti Robin.
Satu... dua... tiga... kami menghitung sampai hitungan ketiga, dengan begitu kamu mengguncangkan tubuh Robin dengan kuat. Hingga akhirnya Robin pun bangun dari tidurnya dengan terkejut.
"Ada apa ini!? apa terjadi gempa!? lari semuanya ada gempa!" kata Robin berlari dengan kencang keluar tenda.
Mungkin rencana ini malah semakin buruk, padahal kami ingin mendengar cerita dari Robin bagaimana bisa dia berada di tenda ini. Tapi dia malah berlari ketakutan yang mengira kalau ada gempa bumi.
Alhasil kami semua duduk terdiam sambil menunggu Robin kembali ke tenda. Kami semua merasa canggung, dan tak ada suara sedikitpun yang keluar dari kami. Karena suasananya tidak nyaman karena laki-laki, dan perempuan di satu tenda.
Lalu dari kejauhan aku melihat Robin berjalan kembali sambil menggaruk-garuk kepalanya, dan menundukkan kepalanya. Kemudian dia datang memasuki tenda dengan keadaan malu, dia langsung menutup tubuhnya dengan selimutnya.
"Hei... bangun" kata Peter menarik selimutnya.
"Eh!? a-ada apa?" tanya Robin.
"Apa kau bisa jelaskan bagaimana kau bisa ada disini lebih dulu?" tanya Peter.
"Aku bisa jelaskan... tapi kalian semua jangan menatapku seperti itu" kata Robin merasa tidak enak karena ditatap dengan tajam oleh semua orang, terlebih lagi dia dikelilingi kami.
Robin bercerita kalau saat itu, begitu kami semua turun dari bus karena sudah sampai tujuan. Robin terbangun dari tidurnya, Robin yang masih dalam keadaan terkantuk-kantuk itu segera mencari tempat untuk di tiduri.
__ADS_1
Begitu ia melihat ada rombongan anak akan dari sekolah kami. Robin mengikutinya dari jauh, tepat di depannya ada seorang hiru yang membawa setumpuk tenda yang belum di pasang, lalu satu dari tenda yang guru itu bawa terjatuh.
Kemudian Robin mengambil tenda itu, dan pergi memutar dari rombongan. Satu tenda itu sudah dilengkapi alat untuk memasang tendanya. Kemudian Robin memasuki hutan dengan sendiri, dan membuat tenda sendirian, lalu akhirnya Robin tertidur pulas.
"Apa!? jadi seperti itu ceritanya? sebenarnya ada apa denganmu hari ini? kenapa kau terus-terusan tidur seperti ini?" tanyaku.
"Karena apa ya? haha mungkin karena aku ingin hibernasi, haha" tawa Robin yang sepertinya tak memikirkan perasaan kami semua disaat doa tiba-tiba menghilang.
Tapi dilihat dari manapun juga tawanya itu seperti palsu. Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku ya? semoga saja bukan apa-apa. Lalu masalah terbesarnya adalah Yaomi yang sekarang duduk bersebelahan denganku.
"Hei Yaomi... apa trauma mu dengan Claude sudah menghilang?" tanya Rubby yang tak sengaja aku mendengar pembicaraannya.
"Yah... bisa dibilang begitu, tapi kurasa dia sebenarnya adalah orang yang baik" kata Yaomi yang sepertinya dia sengaja mengeraskan suaranya aga terdengar olehku. Tapi untuk apa dia melakukan itu semua? bukankah dia membenciku? atau...
"Hah!? bagaimana bisa kau mengatakan kalau dia adalah orang yang baik?" tanya Rubby yang tak percaya padaku.
Aku terkejut begitu melihatnya, karena seperti bukan Yaomi yang ku kenal. Yaomi yang kukenal itu sangat menyebalkan, tapi ada apa dengannya? apa dia sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak ku?.
Kalau seperti itu hanya harus lebih waspada lagi, di dunia ini tak ada yang bisa ku percaya, siapapun itu. Kemudian Yaomi menatapku lebih dekat, dengan senyuman manisnya, sial! jika seperti ini apa boleh buat.
"Iya... saat itu aku benar-benar tidak sengaja, tapi kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanyaku.
"Tuh kan benar apa kubilang, dia memang benar-benar tidak sengaja. Maaf karena aku tak mengatakannya saat itu juga, karena saat itu aku masih ketakutan" kata Yaomi yang membuat orang disekitar ku semakin percaya lagi padaku.
Syukurlah kalau seperti ini... dengan seperti ini mungkin rasa percaya semua orang padaku akan muncul kembali. Kalau begitu aku hanya tinggal mengatakannya kepada Yaomi untuk mengatakan yang sebenarnya kepada semua orang, walau sebenarnya itu sebuah kebohongan.
__ADS_1
Tapi biarpun itu hanya kata-kata palsu darinya, itu cukup membuat orang-orang percaya padaku. Asal... semuanya kembali seperti dulu, aku bisa bersekolah dengan nyaman tanpa rasa benci dari orang lain di sekitarku.
Plak! Peter menepuk pundak ku dengan keras, "Hahaha! sudah kuduga kalau kau Claude, itu adalah orang yang baik. Mungkin Yaomi bisa membantu Claude untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada semua orang" kata Peter.
Padahal aku tadi ingin membalas pukulannya, tapi karena Peter berbicara seperti itu aku tak jadi memukulnya.
"Baiklah, tapi bisakah kau kumpulkan orang-orangnya, agar aku bisa berbicara dengan mereka semua" kata Yaomi yang tak henti-hentinya menatapku dengan senyuman manisnya.
Sial aku tidak boleh terbawa suasana, sadarlah Claude, Yaomi itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk padaku, jadi kau harus waspada padanya. Tapi senyuman manisnya itu melebihi Glasya, dan cantiknya juga melebihi Glasya.
Aku tidak boleh seperti ini, karena aku sudah memiliki pacar yaitu Glasya. Hubungan kami sebagai pacar belum berakhir, walau hubungannya untuk saat ini sangat buruk. Tapi dengan penjelasan Yaomi kepada semua orang nanti, Glasya akan menjadi seperti dulu.
Mungkin ini bisa di katakan awal mulanya masalah ini selesai. Dengan begini kehidupan sekolah ku bisa kembali seperti dulu. Mungkin aku akan mendapatkan coklat dari kakak kelasku lagi, hahaha.
"Kenapa kau tertawa sendiri seperti itu Claude? apa kau sudah gila?" tanya William.
"Ah... tidak kok, hanya saja tadi aku memikirkan hal yang lucu" kataku.
"Memangnya sesuatu yang lucu seperti apa yang sampai membuatmu tertawa sendiri seperti itu?" tanya William.
"Ah sudahlah, cerewet sekali mulutmu, lebih baik kita semua keluar untuk memasak makanan" kataku pergi keluar dengan membawa makanan mentah yang ku bawa di tasku.
"Hei bung! cepat serahkan makanan yang kau punya" canda Robin yang layaknya seorang berandalan.
"Diamlah aku sedang tidak ingin bercanda. Kenapa kalian semua masih di dalam? cepat keluar, ayo kita memasak bersama" kataku dengan semangat.
__ADS_1
Lalu semuanya keluar dari tenda mengikuti perintahku. Lalu tiba-tiba kami memilih ketua dari tenda kami, seperti biasa aku yang di pilih. Padahal ini tidak ada peraturan memilih pemimpin seperti ini, karena kami semua sudah dibagikan kelompoknya sebulan sebelum berangkat berwisata seperti ini.
Sebenarnya kelompok yang dibagikan oleh wali kelasku itu kelompok untuk apa?. Apa akan ada ujian yang akan dilakukan bersama dengan kelompoknya masing-masing nanti?. Ah sudahlah lebih baik untuk saat ini aku memasak makanan saja dulu.