Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Mimpi Buruk


__ADS_3

Begitu saat aku sedang berjalan untuk memasuki kamar. Adik perempuan ku, Elia datang menghadang ku untuk lewat dengan tatapan serius. Aku pun langsung menghentikan langkah ku, dan berbicara padanya.


"Ada apa kau menghalangi jalanku? minggir aku ingin lewat" kataku.


"Tidak boleh... ada yang ingin aku tanyakan padamu" kata Elia dengan serius.


"Hei cara bicaramu keterlaluan kepada orang yang lebih tua darimu. Ah... aku tahu, yang mengajarimu cara berbicara seperti ini pasti dari Yohan kan" kataku.


Elia pun langsung terkejut, dan menundukkan kepalanya, "Umm, bagaimana kakak bisa tahu?" tanya Elia malu.


"Hah? memangnya siapa lagi yang berbicara tak sopan selain Yohan kakakmu" kataku.


"Hehe, maaf kak... tapi kenapa kakak tak pulang kemarin?" tanya Elia sedih.


"Hah? apa ibu tidak memberitahu mu, kalau kakak tak bisa pulang kemarin" kataku.


"Tidak kak, yasudah kalau begitu ayo bermain bersamaku kak" kata Elia sambil menarik tanganku dengan tersenyum.


Apa boleh buat, tatapan wajahnya membuatku harus menuruti kata-katanya. Padahal aku ingin sekali belajar dengan serius sendirian di kamar. Tapi adikku akan sedih jika aku menolaknya, dan sebenarnya aku juga sangat lelah sekali karena baru saja pulang.


"Huh, baiklah kau ingin main apa?" tanyaku dengan lesu.


"Ayo bermain petak umpet bersamaku kak!" kata Elia.


"Apa? lebih baik yang lain, kakak lelah sekali. Lebih baik kita memainkan permainan yang tidak menggunakan tenaga" kataku terduduk lesu.


"Baiklah, kalau begitu apa ya? ah iya aku tahu! bagaimana kalau kita bermain kejar-kejaran!" kata Elia.


"Apa? kau serius? kau serius bermain kejar-kejaran tidak menggunakan tenaga?" kataku.

__ADS_1


Lalu Elia melontarkan permainan berikutnya, dan aku menolaknya. Elia melontarkan permainan yang ingin di mainkannya lagi, namun lagi-lagi aku menolak karena alasan permainannya membutuhkan tenaga. Sampai pada akhirnya aku tertidur pulas, karena lelah sekali.


Kalau saja tadi Elia tidak mengajakku bermain bersamanya, sudah pasti aku tak akan tertidur. Aku pasti akan membaca buku dengan semangat, karena dengan membaca buku membuatku tidak mengantuk.


Aku sangat lelah sekali, hingga sepertinya aku sedang bermimpi buruk. Di mimpiku aku sedang berdiri di depan gerbang sekolah ku. Di mimpi itu... keadaan sekolah ku sangat-sangat buruk sekali, seperti sebuah bangunan tua yang sudah tak di tinggali.


Sekolah itu seperti sekolah mati yang tak di urus lagi. Aku melihat di sekitarku hanya ada angin, dan dedaunan yang berhembus. Hanya ada aku saja di sekolah itu, dan aku mulai berjalan memasuki sekolah.


Krieeeet... aku membuka gerbang sekolah yang sudah berkarat itu, dan dipenuhi dengan lumut. Aku berjalan masuk secara perlahan-lahan, dan melihat-lihat sekitar. Keadaan disini sangat sunyi sekali, lagi-lagi aku hanya mendengar suara angin, dan dedaunan.


Aku menghentikan langkahku karena mendengar sesuatu entah dari mana. Yang makin lama suara itu terdengar semakin jelas. Suara yang kudengar itu adalah suara jeritan, seperti kumpulan orang yang berteriak keras karena ketakutan.


Suara itu semakin keras, dan semakin keras, suara itu berdengung di telingaku. Aku pun langsung menutup telingaku, tapi suara itu semakin saja keras. Lalu tiba-tiba aku langsung terbangun dari tidurku, begitu aku terbangun aku sudah berada di kamarku.


Entah siapa yang memindahkan ku yang tadinya tidur di lorong rumahku. Lalu tiba-tiba kepalaku berdenyut, dan membuatku teringat akan mimpiku barusan. Rasanya... nyata sekali, yang membuat jantungku berdetak begitu kencang, dan berkeringat dingin.


Aku bertanya-tanya kepada hatiku, "Mimpi macam apa itu". Aku selalu bertanya-tanya, sampai akhirnya aku bisa fokus kembali, dan merasa tenang setelah sekian lamanya merenungkan mimpiku tadi.


Tok! tok! ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Lalu aku langsung beranjak bangun, dan membukakan pintu untuknya, dan ternyata yang mengetuk pintu itu adalah ibuku, dia menyuruhku turun, dan makan bersama.


Lalu aku pun pergi untuk cuci makan, dan turun ke bawah untuk makan bersama. Tapi tiba-tiba suara jeritan yang ada di dalam mimpiku terdengar lagi di telingaku walau tak sekeras yang ada di mimpiku.


"Claude... ada apa denganmu hari ini? kau terlihat sangat buruk" kata ibuku.


Aku menarik bangku, dan duduk, "Aku baik-baik saja kok bu, hanya saja aku bermimpi buruk tadi" kataku.


"Loh ibu kira kau sedang belajar, ternyata ada waktu tidur juga ya untuk seorang kutu buku, haha" canda ibuku.


"Tapi wajahmu pucat nak, apa kau benar-benar baik-baik saja?" tanya ayahku yang terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


"Sudah ku bilang aku..."


"Sudahlah ayo kita makam, tak baik berbicara di depan makanan" kata Yohan tiba-tiba, yang sedang membaca buku.


"Oh ya! ibu, ayah! aku mendapatkan juara satu dalam lomba menggambar loh!" kata Elia dengan ceria.


"Wah benarkah anakku sayang! kau hebat sekali! sepertinya kita harus merayakannya" kata ayahku.


"Memangnya apa yang kau gambar, sampai-sampai mendapatkan juara satu?" Kataku dengan tatapan meremehkan.


Karena aku juga bisa menggambar, dan pastinya lebih bagus dari Elia adikku. Apa kalian tahu kenapa aku bisa menggambar juga. Karena aku adalah orang yang jenius, tentunya orang jenius sepertiku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan, ataupun yang tak kuinginkan.


"Ini dia gambar yang ku buat" kata Elia dengan sombongnya menunjukkan gambarnya di depan wajahku.



Aku memperhatikan gambarnya dengan seksama, dan cukup mengaguminya untuk seumuran anak SD seperti dia. Gambarnya lumayan jika di bandingkan dengan anak SD yang lainnya. Sebenernya gen siapa yang diwariskan kepada keturunan kami.


Kenapa semuanya begitu jenius, tapi tetap saja aku sangat jenius hahaha. Mungkin gen yang diwariskan dari ayahku, atau mungkin ibuku. Ah aku tidak tahu mana yang benar, jika aku membanding-bandingkan, maka sama saja aku merendahkan salah-satu orang tuaku.


"Yah... lumayan, gambar cukup membuatku terkejut. Hanya sedikit, lihat tanganku, hanya sedikit" kataku menunjukkan tanganku.


"A-apa? kakak jahat sekali! aku benci kakak!" kata Elia marah.


"Claude kau tidak boleh seperti itu kepada adikmu. Kau tidak boleh merendahkannya, meskipun kau lebih pintar darinya. Tapi siapa tahu, suatu saat nanti adikmu akan melebihi mu" kata ayahku, menasehati ku.


"Iya ayah"


"Yasudah kalau begitu cukup bicaranya, cepat makan! kau juga Yohan anakku! cepat makan jangan membaca buku terus!" kataku ibuku kesal karena makanannya tidak dimakan.

__ADS_1


Lalu kami semua terkejut mendengar suara ibu yang marah, dan kami langsung cepat-cepat makan. Karena jika ibu marah, bisa saja keluarga ini akan meledak. Amarah dari seorang ibu begitu menakutkan bagi kami.


__ADS_2