Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Janggal


__ADS_3

"Nah! kalau seperti ini kan jadi lebih mudah untuk kita berkomunikasi dari rumah" kataku.


"Baiklah disini yang belum di tanyakan tentang liburannya adalah kau, Claude. Kami ingin mendengar ceritamu, tentang apa yang akan kau lakukan untuk liburan nanti?" tanya Peter.


"Seperti biasanya aku hanya akan belajar, dan tak ada waktu untuk bersenang-senang" kataku.


Lalu mereka semua terdiam, dan tatapan mereka menjadi dingin kepadaku. Aku berpikir kalau aku sudah salah bicara pada mereka. Tapi apa yang salah jika aku menggunakan waktu liburan ku untuk belajar.


Bukankah itu bahkan lebih baik dari pada menghabiskan waktu untuk hal yang tak berguna. Bagiku hal yang ingin kulakukan selama hidup ku, aku hanya ingin terus tetap bisa belajar sampai kapanpun.


Karena aku menganggap waktu itu sangatlah penting dari segala hal. Karena itu aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku untuk hal yang tidak berguna. Akan ku gunakan waktu hidupku sebaik mungkin.


Karena itulah aku memilih belajar untuk menghabiskan waktu hidupku. Karena ilmu itu sangatlah penting di dunia ini menurutku. Terkadang aku heran kepada mereka yang sering menggunakan waktunya untuk hal yang sia-sia.


Mereka menggunakan waktu mereka untuk bersenang-senang dengan orang lain. Padahal ada hal yang lebih penting untuk menggunakan waktu mereka. Rasanya, hanya aku yang menggunakan waktu sebaik mungkin.


"Hei Claude... kenapa kau tidak ingin mencoba hal yang baru?" tanya Glasya.


Aku yang sedang melamun itu disadarkan oleh Glasya, "Eh apa? hal baru seperti apa maksudmu? bukankah aku selalu melakukan hal baru?" tanyaku.


"Hah? memangnya apa yang kau lakukan?" balas Glasya bingung.


"Tentunya aku tidak membaca buku ini selalu, aku terkadang juga membeli buku baru. Itu kan yang kau maksud dengan hal baru?" tanyaku sambil menunjuk sebuah buku yang ku miliki.


Lalu semuanya terbengong karena ku, kecuali Glasya yang tersenyum manis padaku, "Ternyata kau tidak sepintar yang aku kira ya" kata Glasya.


"A-apa katamu!? aku ini adalah anak terpintar tahu, kau sudah dengarkan kata wali kelas kita" kataku.

__ADS_1


"Haha sudahlah ball girl, seberapa kali pun kau ingin menyadarkan dia. Kau tidak akan pernah bisa, karena yang akan membuatnya sadar adalah dirinya sendiri" kata Peter tiba-tiba.


"Hah? ball girl? nama apaan yang kau panggil padaku?" tanya Glasya.


"Entahlah, sepertinya itu cocok denganmu yang sangat hebat dalam bermain sepak bola. Kau melebihi dari sekian banyak pemain sepak bola yang handal" kata Peter.


Aku terdiam mendengarkan perkataan mereka berdua. Karena aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka maksud. Memangnya Glasya sedang menyadarkan ku untuk apa? sebenarnya apa yang mereka bicarakan sih.


Aku melihat William yang terdiam bengong tak berkata-kata. Sepertinya dia juga sama sepertiku, tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Hah sial! kenapa mereka selalu membuatku memikirkannya.


"Terserah kau ingin memanggilku apa... aku juga tak peduli" kata Glasya.


"Haha, kau yang bilang! akan ku sebarkan julukan mu. Seharusnya kau bangga karena mendapatkan julukan, haha" tawa Peter.


"Bangga untuk apa? tidak ada yang pernah di banggakan di dunia ini. Karena kebanggaan itu akan menghancurkan diri kita sendiri, kau mengerti maksudku kan? Peter" kata Glasya.


"Hah? kenapa kau terusan membicarakan hal yang tidak penting itu. Seolah-olah kau berpikir kalau aku tertarik dengan hal yang kekanak-kanakan seperti itu" kata Glasya.


Aku, dan William hanya terus memperhatikan mereka berbicara, dan tak mengucapkan satu katapun. Karena aku lagi-lagi tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Ternyata benar apa yang dikatakan Glasya tadi.


Kalau aku tak sepintar yang dia kira, karena buktinya aku masih tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Kalau begitu apa boleh buat, hanya ada satu cara yang bisa membuatku menjadi pintar, yaitu dengan belajar.


Aku akan semakin giat belajar, supaya aku mengerti apa yang mereka bicarakan tadi. Tapi ada satu hal lagi yang tidak ku mengerti dari pembicaraan mereka. Apa maksudnya kebanggaan itu bisa menghancurkan dirinya sendiri.


Bukankah sesuatu yang di banggakan oleh orang lain, akan membuat kita menjadi lebih bersemangat. Karena dukungan dari orang lain, tapi kenapa ya Glasya katakan berbeda dengan pemikiran ku.


Kalau kebanggaan itu bisa menghancurkan dirinya sendiri. Hah... kenapa aku semakin memikirkan hal yang seperti ini. Lebih baik aku belajar lebih giat lagi, supaya aku bisa lebih cepat mengerti apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Kemudian aku beranjak untuk pergi ke perpustakaan, "Hei Claude! kau ingin kemana? apa kau marah karena tak ikut di ajak bicara?" tanya Glasya.


"Hah? kenapa aku harus marah dengan yang seperti itu?" tanyaku.


"Setelah melihat ekspresi mu, sepertinya tidak. Tapi aku ingin pergi kemana? kenapa tidak bilang kalau ingin pergi?" tanya Glasya.


"Karena mungkin kalian tidak akan menyukainya" kataku.


"Memangnya tempat apa yang akan kau datangi? sampai-sampai berpikir kalau kami tidak akan menyukainya?" tanya Glasya.


"Perpustakaan" kataku yang membuat mereka terdiam.


"Benarkan apa kataku, kalau kalian tak akan menyukainya, kalau begitu aku pergi dulu" kataku.


Lalu aku berjalan menuju perpustakaan dengan niat memperluas ilmu ku. Semoga aku bisa memahami apa yang mereka katakan barusan dengan belajar ke perpustakaan. Aku tak ingin menjadi diriku yang dulu.


Lalu begitu aku masuk ke dalam perpustakaan, aku berpapasan dengan seseorang yang sepertinya tidak asing bagiku. Dari pakaiannya, sepertinya dia hanya orang yang ingin datang ke sekolah, karena dia memakai pakaian bebas.


Tapi kenapa ya... rasanya ada sesuatu yang janggal dengan orang tadi. Lalu tanpa pikir panjang, aku pun langsung melupakannya, dan mengembalikan niatku untuk belajar. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu saat aku berpapasan dengannya.


Rasanya... dia tersenyum padaku, tanpa menatapku, dan lagi aku tak melihat wajahnya seperti apa. Warna rambutnya coklat, dan berkulit putih, sepertinya dia tinggi badannya tak beda jauh denganku.


Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu, rasanya aku pernah mengalami hal yang sama. Ah! iya aku baru ingat! kalau orang itu adalah orang yang sama yaitu saat itu aku berpapasan dengannya di UKS untuk menemui Glasya.


Astaga! seharusnya aku menangkap dia tadi! karena saat itu dia sepertinya telah melakukan sesuatu pada Glasya. Sial! apa aku harus mencari orangnya? tapi sepertinya dia sudah pergi jauh tadi.


Argh! kenapa aku tak langsung memikirkannya saat berpapasan tadi. Sial! sebenarnya siapa orang itu, kenapa dia terlihat seperti orang yang mencurigakan, dan lagi setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu sendirian.

__ADS_1


Bukan hanya itu... entah kenapa perasaanku tidak enak saat bertemu dengannya. Seperti sebuah ancaman, yang membuat bulu kudukku berdiri. Tapi kenapa dia datang ke sekolah ku? ada urusan apa dia dengan sekolah ini?.


__ADS_2