Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Hutan


__ADS_3

"Kenapa kau membawaku ke hutan? a-apa yang ingin kau lakukan padaku?" tanya Glasya menjadi takut.


"Hah? memangnya kau pikir aku ini laki-laki mesum hah? Aku tak akan melakukan apapun padamu kok. Kau percayakan saja padaku" kataku.


"Lalu bagaimana jika ada hantu, atau binatang buas disini?" tanya Glasya.


"Kau tenang saja, hutan ini adalah hutan terjaga. Jadi kau tidak perlu takut, kalau begitu ayo cepat masuk. Aku akan menunjukkan sesuatu yang istimewa untukmu" kataku menarik tangan Glasya.


"Eh!? tu-tunggu!"


Lalu kami memasuki hutan itu, dan berjalan masuk ke dalam sampai akhir aku melihat ujung hutan itu. Persis seperti di foto yang kulihat, ada sebuah tebing yang tinggi. Lalu begitu sampai, aku menggelar tikar yang ku bawa.


"Cepat, duduklah disini" kataku menepuk-nepuk tikarnya.


"Ba-baiklah..."


"Lihatlah bintang-bintang di langit yang gelap, setiap hari aku selalu memandang langit di malam hari. Agar hatiku menjadi tenang, rasanya... aku seperti sendiri tanpa batas, dan waktu, sangat menyenangkan" kataku.


"Kau... lebih suka menyendiri?" tanya Glasya.


"Hmm... entahlah, aku juga tidak tahu... tapi di saat ada orang lain di sisiku. Aku harus menerimanya, walaupun itu terpaksa" kataku.


"Maksudmu hubungan kita ini karena kau memaksakan dirimu?" tanya Glasya murung.


"Hei kau jangan sedih seperti itu, dasar bodoh. Kau pikir pernyataan cintaku padamu saat itu karena sebuah paksaan?" tanyaku.


"Ah... benar juga, hahaha! kau terlihat sangat serius sekali. Kalau di ingat-ingat lagi, rasanya aku mau mual, haha" tawa Glasya.


"Hei sudahlah jangan membicarakan yang sudah berlalu" kataku.


"Haha, baiklah... melihat bintang-bintang itu... rasanya... aku menjadi ngantuk" kata Glasya yang mulai mengantuk.


"Hei jangan tidur disini, kalau kau sudah lelah lebih baik kita pulang" kataku.

__ADS_1


"Tidak perlu, kita baru saja sampai disini, masa iya kita harus pulang" kata Glasya.


"Tapi..."


"Aku percaya padamu..." kata Glasya meletakkan kepalanya di pahaku.


Sepertinya dia sangat lelah sekali, wajahnya yang sedang tertidur... sangat indah sekali. Bagaimana bisa ada perempuan sesempurna ini. Dia benar-benar ajaib, kemudian aku mengelus-elus kepalanya dengan lembut.


"Hei... bisakah kau nyanyikan sesuatu untukku?" tanya Glasya.


"Baiklah, aku akan menyanyikan lagu yang ku buat sendiri" kataku.


"Apa? kau bisa membuat lagu? pasti enak di dengar" kata Glasya.


"Aku mulai ya... Setiap hari dunia ini terasa kacau, sampai tiba... malam hari datang. Membuatku merasa tenang, oh langit yang gelap... janganlah engkau pergi begitu cepat..."


Aku menyanyikan laguku sampai selesai, dan akhirnya Glasya pun tertidur pulas. Namun lama-kelamaan sepertinya ada yang aneh. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh sekali, aku tidak tahu apa itu.


Tapi setelah di pikir-pikir... aku baru sadar bagaimana caraku untuk pulang!. Sedangkan Glasya tertidur pulas seperti ini, aku jadi tak tega untuk membangunkannya. Masa iya seharian kami tidur di hutan, yang benar saja.


Karena bisa-bisa aku harus berbohong kepada orang tuaku. Karena tak mungkin kan, kalau aku menceritakan yang sebenarnya. Seperti aku sedang bersama seorang perempuan di sebuah hutan, pasti mereka akan berpikir negatif terhadap ku.


Lalu aku menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang yang bertebaran. Lalu dengan bulan purnama yang menyinari kegelapan di malam hari. Rasanya... ini sebuah keajaiban bagiku, untuk bisa melihat langit di malam hari untuk sekian lamanya.


Lagu yang ku nyanyikan itu adalah isi dari hatiku. Kemudian aku membuka tasku, dan mengambil sebuah buku untukku baca. Walaupun gelap, aku masih tetap bisa membaca, aku tak ingin menggunakan lampu senter di ponselku karena takut akan membangun Glasya.


Setelah selesai membaca 3 buah buku yang cukup tebal. Aku merasa ngantuk sekali, dan rasanya ingin tidur. Kemudian sebelum aku benar-benar tidur, aku menatap langit untuk terakhir kalinya, karena setelahnya aku akan tidur, dan menatap langit siang hari.


Kemudian aku tidur dalam keadaan duduk, mungkin ini adalah masa-masa yang cukup indah bagiku. Sudah lama sekali aku tak merasa seperti ini, melihat langit di malam hari, bersama dengan... seseorang.


Lalu tiba waktunya langit berganti, hari sudah pagi, dan aku pun terbangun dari tidurku. Aku terkejut begitu aku bangun ternyata aku sedang tertidur di atas paha Glasya. Glasya sedang mengurai rambutku dengan lembut sekali.


"Kau tahu... ini adalah pengalaman yang indah bagiku. Aku tak akan melupakannya, ini akan menjadi kenangan terindah bagiku" kata Glasya yang tahu kalau aku sudah bangun dari tidur ku.

__ADS_1


"eh!? ba-bagaimana bisa kau tahu kalau aku sudah bangun dari tidur ku?" tanyaku sedikit terkejut.


"Entahlah... rasanya aku bisa tahu kapan kau tidur, dan kau bangun" kata Glasya sambil menatap hutan yang jauh lebih luas di bawahnya.


"Ah... begitu..."


"... Terima kasih untuk hari ini, aku sangat bahagia sekali. Rasanya... aku sedang memiliki sebuah keluarga yang menemaniku" kata Glasya yang matanya berkaca-kaca.


"Aku... aku tak berbuat banyak padamu, jadi aku tak pantas menerimanya" kataku.


"Kau pantas... karena kau sudah membuatku merasakan bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga. Aku belum pernah merasakan sebahagia ini" kata Glasya mulai meneteskan air matanya.


"Syukurlah kalau begitu..."


"Tapi... bagaimana menurutmu? apa hal seperti ini juga baru saja kau rasakan?" kata Glasya.


Aku terdiam sejenak, "Ah iya, aku baru saja merasakan sesuatu yang menyenangkan" kataku.


Terpaksa aku berbohong kepada Glasya, karena aku takut aku akan merusak suasananya yang sedang baik. Sebenarnya... bagiku, ini adalah hal yang biasa-biasa saja. Entah kenapa hatiku merasakan seperti itu, karena hal seperti ini pernah terjadi padaku.


"Oh... baiklah kalau begitu ayo kita pulang" kata Glasya.


"Benar juga... tunggu sebentar, rasanya seperti ada yang aneh" kataku.


"Ada apa?"


Kemudian aku melihat langit untuk mencari dimana mataharinya berada. Kemudian aku terkejut kalau mataharinya sudah berada di atas kepalaku. Yang menandakan kalau aku terbangun disaat siang hari.


"Astaga! kenapa kau tidak membangunkan ku?" tanyaku.


"Karena kau sedang tertidur... aku jadi tidak tega untuk membangunkan mu" kata Glasya.


Aku jadi teringat kata-kataku di malam hari, kalau aku juga pernah mengatakan hal yang sama di dalam hatiku saat itu. Tapi seharusnya aku harus bangun pagi, untuk pulang dari sini mengantarkan Glasya ke rumahnya, lalu aku pulang, dan belajar si kamar.

__ADS_1


Kemudian kami segera pulang dari hutan ini, di siang hari jalanan dekat hutan ini masih sangat sepi sekali. Setelah beberapa jam kemudian, kami akhirnya sampai di rumah Glasya. Setelah aku mengantarkan Glasya pulang, aku pun segera pulang ke rumahku dengan terburu-buru.


Begitu aku sampai di rumahku, orang tuaku tak menanyakan apapun padaku. Rasanya aneh sekali, kemudian aku masuk ke kamarku, dan membaca sebuah buku seperti biasanya. Begitulah hariku bersama dengan Glasya berakhir.


__ADS_2