
Di saat yang tepat setelah itu karena kecerobohan yang dilakukan Peter menguntungkan kami. Kami berhasil menyerang mereka dengan satu pukulan telak yang membuat mereka terpental. Fred jadi tidak fokus dalam pertahanannya di saat Carlo menyerang karena tiba-tiba saja Peter menelponnya.
Tubuhku masih terasa sangat sakit sekali, tapi aku harus tetap berjuang, dan tak boleh kalah. Kalau aku kalah disini... pasti semua yang ku sembunyikan selama satu tahun ini akan terbongkar semuanya karena mereka. Aku berjalan dengan terpincang-pincang menuju Peter yang terjatuh karena serangan ku.
Kemudian Peter berhasil berdiri dengan cepat sambil memegang kepalanya yang bocor karena pukulan ku tadi. Darah dari kepalanya terus menetes tiada henti, mungkin keadaan menjadi seimbang sekarang.
Sementara itu dengan Fred, akibat terpental tadi, secara tidak sengaja salah satu tangannya menyangkut di antara kawat. Carlo menghampiri Fred dengan perlahan, karena pukulannya yang saat itu masih membuat tubuhnya sakit.
"Hei... hari ini juga... kau akan mati" kataku, dan Carlo di saat yang bersamaan di tempat yang berbeda. Kemudian Carlo mengambil batu besar, dan batu itu di tumbukan ke kepala Fred hingga kepalanya bocor, dan seluruh wajahnya penuh dengan darah.
Sementara untuk Peter, sepertinya dia mulai kehilangan kesadarannya, karena dia tidak bisa berdiri dengan benar, dan terhuyung-huyung. Aku datang, dan berlari memaksakan kakiku yang sedang sakit ini, dan aku meloncat tinggi untuk menendang Peter dengan kedua kakiku ke kepalanya hingga Peter terjatuh, dan kepalanya terbentur.
Setelah serangan itu, Peter jatuh pingsan, dan tak sadarkan diri. Aku sangat kelelahan, dan juga kepalaku sakit sekali karena bantingan Peter sebelumnya. Tak lama kemudian aku ikut jatuh pingsan tepat di depan Peter.
Di saat yang sama di tempat yang berbeda, saat ini Carlo yang sedang berdiri tegak tiba-tiba saja menjadi kesakitan entah karena apa. Mungkin karena satu serangan telak yang di lancarkan oleh Fred sebelumnya.
Beberapa saat kemudian aku sudah sadarkan diri, dan begitu aku sadar aku sudah berada di dalam gedung ini. Tepatnya aku sedang tertidur di lantai 4 di kasur milikku, aku sangat terkejut, dan membangunkan badanku untuk melihat sekitar.
Ternyata tidak ada seorangpun... aku sangat takut sekali, dan sebenarnya siapa yang meletakan ku di kasurku. Tapi kalau tiba-tiba saat aku sadar disini, berarti aku di bawa ke sini oleh anggota gengku. Tapi pertanyaannya adalah, apakah mereka mencoba untuk memeriksa tubuhku.
Bagaimana kalau mereka sudah tahu tentang identitas ku yang sebenarnya sebagai laki-laki. Ini tidak boleh di biarkan, aku harus menghilangkan rasa penasaran ini secepatnya, dan bertanya kepada mereka. Aku segera menuruni tangga, dan menemui mereka.
"Hei kalian! apa kalian melakukan sesuatu padaku!" kataku yang berkeringat dingin karena takut kalau identitas ku yang sebenarnya sudah terbongkar.
__ADS_1
Lalu semuanya serentak menjawab, "Tidak nona"
"Kami hanya membawa nona, dan langsung meletakkan nona di kasur. Setelah itu kami langsung pergi begitu saja" kata salah satu dari mereka yang mengajukan diri untuk mewakili yang lain.
"Baiklah kalau begitu... bagaimana dengan dua orang yang menghajar kita habis-habisan?" tanyaku.
"Mereka masih tak sadarkan diri nona, kami sudah mengikat mereka. Lalu untuk Akai..." kata mereka yang tiba-tiba menghentikan pembicaraan, dan suasana menjadi hening.
"Apa... apa yang terjadi dengan Akai!?" tanyaku dengan khawatir.
Lalu mereka membawakan Akai dengan meja yang beroda kepadaku. Aku sangat terkejut, melihat kondisi Akai yang sangat buruk sekali. Aku tak bisa menerima ini, aku tak bisa membiarkan mereka hidup!. Karena mereka telah melukai teman-temanku, dan juga diriku.
Aku harus segera menghabisi mereka berdua, kemudian tiba-tiba saja kepalaku sakit sekali,. dan aku kehilangan keseimbangan, dan terjatuh. Kepalaku... masih sangat sakit sekali, saat aku memegang kepalaku aku terkejut begitu kepalaku yang bocor sudah di perban oleh mereka.
"Berikan aku sebuah pisau..." kata mengangkat tanganku.
"Ini dia... nona..." kata Carlo yang memberikan pisaunya di tanganku.
"Eh!? aku hampir lupa denganmu, apa kau baik-baik saja Carlo?" tanyaku.
"Iya... aku sudah baikan sekarang, walau agak sakit sedikit. Tapi kau hebat sekali nona, bisa mengalahkan salah-satu dari mereka dengan sendirian. Tak seperti ku yang di bantu oleh Akai, karena aku... akai..."
"Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, karena mereka lah yang salah atas semua masalah ini" kataku.
__ADS_1
Carlo masih merasa bersedih, dan merasa kalau Akai menjadi seperti ini karena dirinya. Karena dia berpura-pura pingsan di saat Akai sedang sibuk bertarung sendirian melawan monster ini.
Walau dulu Peter, dan Fred adalah temanku... aku harus membunuh mereka. Karena mereka telah menghajar semua temanku disini, karena aku sudah tidak lagi menganggap mereka berdua sebagai temanku. Begitu aku mengangkat pisaunya, tiba-tiba saja Fred sudah siuman.
"Ah... jadi kau ingin membunuh kami sekarang ya. Tak ku sangka kami kalah dari kalian berdua, kukira Peter akan menang melawan mu" kata Fred.
Lalu tiba-tiba saja Peter ikut berbicara, sepertinya dari tadi Peter berpura-pura pingsan, "Maaf... karena kesalahan ku, kita jadi kalah... Yudo" kata Peter.
Aku sedikit terkejut begitu aku tahu nama asli dari Fred sekarang. Sepertinya mereka benar-benar tidak mengenaliku. Mungkin ini karena penyamaran ku yang sangat sempurna. Aku jadi membanggakan diriku, setelah aku tahu nama asli dari Fred aku jadi lebih penasaran apa yang mereka sembunyikan lagi.
Niatku untuk membunuh mereka lama-kelamaan rasanya jadi menghilang karena rasa penasaran ku pada mereka. Terutama tentang Yaomi... karena dari pesan yang di sampaikan Robin padaku saat itu aku akan terkejut begitu tahu siapa Yaomi sebenarnya.
Tapi pertanyaannya adalah... bagaimana caraku bertanya mengenai hal itu. Karena bisa-bisa mereka akan mencurigai ku, dan dengan begitu mereka bisa mengetahui siapa aku. Aku harus memikirkan cara yang tepat untuk bertanya sesuatu pada mereka berdua. Agar mereka tidak mencurigai ku, salah-salah aku bisa mati karena kecerobohan ku sendiri dalam berbicara kepada mereka berdua.
Pertama aku harus, "Hei... siapa yang mengirim kalian berdua kesini?" tanyaku kepada mereka.
Namun mereka hanya diam saja, itu hanya membuatku kesal saja. Kemudian aku menodongkan pisau tepat di kepala Fred, ini hanya untuk mengancam mereka agar mereka mau berbicara.
"Ku tanya sekali lagi... organisasi seperti apa yang mengirim kalian?" tanyaku.
Namun ternyata di luar dugaan, mereka masih diam saja, dan tak mau menjawab. Mereka malah memusatkan amarahnya padaku, dengan menatapku penuh dengan kebencian terhadapku. Aku seperti tahu sedikit tentang mereka, mau ku apakah juga pasti salah satu dari mereka tidak akan menjawab pertanyaan ku.
Mungkin ini karena mereka sudah berjanji kepada organisasi tersebut. Sehingga sampai mati pun mereka tidak akan memberitahu nya, karena itu sangat rahasia. Mereka mengorbankan nyawa mereka hanya untuk organisasi busuk itu. Mereka di buat seperti boneka dari organisasi itu.
__ADS_1