
Akhirnya hari wisata yang diadakan oleh sekolah kami datang. Hari ini tepatnya, aku dan Robin sebelum berangkat, kami menyiapkan barang-barang kami terlebih dahulu di rumah masing-masing, begitu sudah siap kami berangkat bersama-sama.
"Hei apa kau sudah siap Robin?" tanyaku masuk ke rumah Robin dengan membawa tas yang besar.
"Astaga! tasmu besar sekali? memangnya apa saja yang kau bawa di tas itu?" tanya Robin yang terkejut begitu melihatnya.
"Tentu saja buku-buku berharga milikku, kau seperti tidak mengenalku saja, haha!" kataku menepuk pundak Robin.
"Baiklah kalau begitu, apa motormu kuat untuk menampung berat yang kita bawa ini?" tanya Robin yang tak yakin.
"Ah... benar juga ya, sudahlah tak ada yang perlu di khawatirkan. Kita langsung terobos saja, haha!" kataku nekat.
"Baiklah"
Lalu akhirnya kami berdua pun berangkat pergi ke sekolah. Begitu aku memasuki gerbang sekolah, banyak bus yang berbaris di lapangan sekolah yang sangat luas. Banyak orang yang berkerumun, dan berteriak-teriak karena tak sabar dengan wisatanya.
Ya! wisata kami adalah pergi ke hutan untuk camping di tengah hutan yang gelap, dan mungkin menakutkan tapi tidak denganku yang pemberani ini. Saat aku berjalan memasuki bus, aku melihat Glasya baru saja berpapasan denganku.
Tanpa sadar aku memanggilnya, "Glasya! ah..." kataku bingung ingin berkata apa padanya yang telah membuat dirinya menderita.
Namun pada akhirnya Glasya tak menoleh sedikitpun, ataupun terkejut. Dia tetap saja berjalan menuju bus nomor 4, yaitu bus yang akan dia tidak tumpangi sesuai absen yang diberikan oleh para guru.
Sedangkan aku berada di bus nomor 7, begitu juga dengan Robin, dan Peter. Kami berencana untuk duduk bertiga bersama, sedangkan bus yang akan di tumpangi William nomor 5, kami jadi jarang berbicara karena beda kelas, tak seperti saat kelas 1 dulu.
Rasanya hubungan kami secara perlahan mulau menghilang, dia juga jadi jarang berbicara kepada siapapun. Karena dia lebih sibuk untuk belajar, ada yang bilang dia berubah seperti itu karena ku.
__ADS_1
Karena dia ingin mengalahkan ku, tapi percuma saja jika dia berniat seperti itu. Karena aku tak akan membiarkan siapapun untuk mengalahkan ku, dan aku juga yakin pada diriku, kalau orang seperti dia tak akan bisa mengalahkan orang jenius sepertiku.
"Hei!" teriak Peter dengan keras yang mengejutkan kami yang sedang berbicara.
"Apa-apaan kau ini! membuat kami terkejut saja!" kata Robin marah.
"Haha! maafkan aku, soalnya kalian serius sekali mengobrolnya. Ku pikir kalian..."
"Hei bung! jaga bicaramu..." kataku menatap dengan tajam yang membuat Peter berhenti berbicara.
Kemudian Peter duduk di kursi kosong di sebelah Peter. Tepatnya saat ini aku duduk di samping jendela, dan Robin di tengah lalu Peter di pinggir. Satu baris bus ini memiliki 5 kursi, 3 di sebelah kanan, dan 2 di sebelah kiri.
Lalu datang pramuwisata yang memberikan informasi penting untuk di hutan sana, sebelum kami sampai. Yang pertama jangan bermain terlalu jauh, dan juga jangan melewati pagar pembatas yang ada di sana.
Lalu di lanjutkan dengan jangan berisik saat sampai di sana ataupun sedang dalam perjalanan. Lalu jangan bermain api, dan juga begitu sampai di sana diberitahukan kalau tidak ada internet sama sekali di hutan ini.
Tak ku sangka kalau wisata ini akan menjadi seperti ini. Kami seperti menjadi manusia purba, yang tak bisa menggunakan teknologi di sana. Sialnya lagi bagiku adalah, begitu sampai di sana bagaimana caraku untuk belajar di tempat yang gelap itu.
Aku belum pernah memakai api unggun untuk belajar, apakah akan terang? Argh kenapa informasi seperti ini baru saja diberitahukan sekarang. Kalau tahu seperti ini, seharusnya tadi aku membawa senter, atau yang lainnya.
"Hei sudah berapa lama kita berjalan?" tanya Robin yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Mungkin sekitar 5 jam" kataku yang sedang serius membaca buku karena takut begitu sampai aku tak dapat membaca buku lagi.
"Kalau begitu, tolong beritahukan aku begitu sampai ya... aku ingin kembali tidur, Hoaaaam" kata Robin menguap dengan panjang.
__ADS_1
"Baiklah... hei Peter..."
"Ya? ada apa?" tanya Peter yang sedang serius bermain game di ponselnya.
"Apa kau tidak bosan bermain game terus? kau sudah 5 jam lebih bermain game, dan tidak berhenti" kataku.
"Tidak kok, lagi pula apa bedanya denganmu yang dari tadi sudah belajar. Lagi pula saat kita sampai di sana tidak ada internet. Oleh karena itu aku harus main game sepuasnya" kata Peter.
Ternyata Peter adalah kebalikan dari ku, yang padahal dulu Peter tak seperti ini. Dia menjadi maniak game, entah siapa yang mengajarkan dia bermain game. Mungkin aku tahu orangnya, dia adalah Robin.
Lalu aku melamun sejenak untuk menghilangkan rasa penat karena belajar terus-terusan sambil menatap keluar jendela. Namun tiba-tiba entah kenapa aku teringat orang aneh yang ku temui dulu, dan juga seseorang yang satunya lagi.
Yang ku maksud adalah orang yang berkumpul dengan om-om, dan yang satunya lagi orang aneh yang tidak ku ketahui sama sekali. Kalau dipikir-pikir rasanya sudah lama sekali aku tak menemukan orang itu.
Padahal saat itu aku bertekad untuk menangkap orang itu, dan mengungkapkan kebenarannya. Tapi pada akhirnya aku tak lagi menemukan dia. Sampai-sampai aku melupakan keberadaannya, yang padahal dahulu dia selalu membuatku memikirkannya.
"Oke semuanya! kita akan sampai setengah perjalanan lagi! untuk menghilangkan rasa bosan ini, saya akan memutar lagu favorit saya!" kata pramuwisata itu tiba-tiba.
Lagu yang dia putar itu membuat telinga kami tak nyaman, karena itu adalah lagu jadul. Yang membuat semua orang berteriak keras di dalam batin mereka. Namun aku melihat ke seberang barisanku, ada seseorang yang menyukai lagunya, dan dia memainkan jarinya karena enak di dengar.
Yang tak lain dia adalah Rubby, sudah lama sekali aku tak berbicara dengannya, mungkin terakhir kali aku berbicara padanya saat aku menghajar Peter. Dia terlihat begitu suka dengan lagu yang mengerikan ini.
Kemudian Rubby sadar kalau ada seseorang yang memperhatikannya. Begitu dia sadar sia langsung malu, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sebenarnya ada apa dengannya? aku sama sekali tak mengerti soal perempuan.
Kemudian aku tetap menatapnya terus-terusan, sampai dia tak berani untuk membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Lalu tiba-tiba hatiku berkata, "Cantik" aku terkejut begitu hariku mengatakannya.
__ADS_1
Astaga! sebenarnya apa yang kupikirkan sih? kenapa tiba-tiba aku memuji perempuan lain, sementara aku sudah memiliki... ah sudahlah, mungkin sudah tidak ada harapan lagi bagiku untuk dekat dengan Glasya lagi.
Kami semakin jauh, dan semakin jauh karena ulahku yang bodoh. Aku menyesal telah mengatakannya seperti itu, kenapa saat itu aku bertindak bodoh! argh! itu semua karena aku sedang terbawa suasana.