Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Tekad Yang Kuat


__ADS_3

Hari ini aku pergi ke jalan-jalan sendiri di alun-alun setelah pulang sekolah, bukannya karena tidak ada yang mau menemaniku. Aku hanya membutuhkan waktu untuk sendiri disini, aku hanya membutuhkan waktu untuk sendiri, dan memikirkan semuanya dengan cepat.


Aku duduk di bangku taman sambil melihat langit, banyak burung-burung yang berterbangan di sore hari ini pulang ke sarangnya. Udara disini juga sangat segar karena banyak pohon besar yang terawat, dan bunga harum di sekitarnya.


Aku menghela nafas dalam-dalam dengan perlahan, lalu tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan datangnya seseorang yang tiba-tiba nongol di pandanganku. Aku sangat terkejut sekali, orang itu ada seorang perempuan yang cantik, dan menggunakan pakaian yang menawan.


"Apa mau ku temani?" tanya perempuan itu?.


"Tidak perlu, aku sudah punya pacar" jawabku dengan dingin.


"Oh... kalau begitu apa aku boleh duduk di sini?" tanya perempuan itu lagi.


"Terserah... lagi pula ini kan tempat umum" kataku.


"Ah maaf... karena aku pikir aku akan menggangu waktu sendirian mu" kata perempuan itu.


"Untuk apa kau meminta maaf? aneh..." jawabku yang malas meladeninya.


"Entahlah... kurasa aku harus meminta maaf padamu. Maaf kalau boleh tahu..." kata perempuan itu berhenti berbicara karena aku memotong pembicaraannya.


"Hentikan perkataan maaf itu, kau sama sekali tak menggangguku. Aku tidak ingin mendengarkan permintaan maaf dari seseorang saat ini" kataku dengan wajah sedih.


"Baiklah... kalau begitu, apa aku boleh tahu apa masalahmu? kulihat kau sedang kesulitan, dan merasa terbebani" kata perempuan itu.


"Apa maksudmu? aku hanya ingin menghirup udara segar di sini" jawabku.


"Terkadang mengatakan masalah mu kepada seseorang yang tak kau kenal akan membuatmu merasa lebih baik" kata perempuan itu tersenyum padaku.

__ADS_1


Sekilas tadi aku melihat wajah Eren yang sudah dewasa. Tapi itu tidak mungkin, Eren kan sudah tidak ada lagi di dunia ini... karena kesalahan ku. Tapi aneh sekali karena aku bisa melihat wajah yang sudah dewasanya. Padahal saat-saat terakhir aku bertemu dengannya masih seperti anak-anak.


"Siapa namamu?"


"Eh!? na-namaku adalah Ritsa" kata perempuan itu tersenyum manis padaku.


Aku cukup terkesima melihat senyumannya, "Ehem... namaku Claude" kataku.


"Jadi... apa sekarang aku boleh tahu apa masalahmu?" tanya Ritsa yang tak henti-hentinya menanyakan hal itu padaku.


"Hah... apa boleh buat, kau ini sangat penasaran sekali tentang hidup orang lain ya" kataku.


"Haha... maaf, karena sepertinya kulihat kau butuh bantuan seseorang" kata Ritsa.


"Huh lagi-lagi kau minta maaf... tapi perkataan mu ada benarnya. Baiklah kalau begitu, aku akan menceritakannya padamu" kataku.


Tapi aku sama sekali tak menyangka kalau aku bisa berbicara dengan tenang seperti ini kepada orang asing yang baru saja aku kenal. Mungkin karena suaranya yang terdengar sangat halus sampai aku ingin menangis, dan mengatakan semuanya.


"Jadi begitu... kalau begitu kenapa tidak kau ikuti saja apa kata hatimu?" kata Ritsa.


"Apa kata hatiku... sepertinya tidak ada, karena aku selalu mengikuti apa yang otakku inginkan" kataku yang membuat perempuan itu terkejut.


"Eh!? hmm... bagaimana ya, kalau dari cara perlakuan temanmu yang bernama Robin terhadapmu sepertinya dia benar-benar ingin menunjukkan sesuatu padaku. Kemungkinan lain juga kalau dia sepertinya ada dendam denganmu sehingga kau jadi khawatir seperti ini" kata Ritsa.


"Dendam... jadi maksudmu kalau dia sepertinya memiliki hubungan dengan Eren temanku?" tanyaku.


"Ya... itu adalah salah satu kemungkinannya karena perlakuan dia terhadapmu" kata Ritsa.

__ADS_1


"Kau benar juga... lalu... apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyaku kebingungan.


"Hah... bagaimana ya, kau ini aneh sekali karena hatimu yang masih mati rasa. Kalau begitu ada cara lain" kata Ritsa mengedipkan matanya.


"Apa itu..."


"Jalani saja apa yang ingin kau lakukan sekarang. Oh ya kalau begitu aku pergi dulu ya... sampai nanti" kata Ritsa yang segera buru-buru pergi.


Tentang apa yang ingin kulakukan... apa mungkin itu akan menjadi lebih baik lagi, atau tidak. Bagaimana jika kedepannya akan buruk, setelahnya apa yang harus kulakukan. Kalau begitu... aku harus menekan Robin untuk segera mengatakan apa maksudnya.


Tapi bagaimana jika perkataannya itu benar, dan semua perlakuannya terhadapku itu hanya kebetulan. Lalu apa yang harus kulakukan jika hal itu benar terjadi, mungkin aku akan di benci lagi oleh semua orang. Kemudian aku akan di cap sebagai orang jahat karena telah memaksa seseorang.


Aku harus bagaimana ayah... apa yang harus kulakukan saat ini? aku sangat kebingungan. Padahal ayah menyuruhku untuk melindungi teman-temanku, tapi apakah aku harus menuruti keinginan ku sekarang. Apakah kedepannya akan berdampak buruk padaku, atau tidak?.


Lalu soal jangan membenci temanku karena dia sudah cukup terluka selama ini... apa itu artinya kalau dia adalah... Robin?. Karena menurut informasi yang ku kumpulkan saat ini mengarah pada Robin. Karena dia berusaha kepadaku untuk mengingatkan ku akan masa laluku.


Ya! benar! yang ayah maksud adalah Robin kalau begitu tidak perlu bingung lagi. Aku harus segera berbicara kepada Robin sekarang, kalau tidak mau apa boleh buat. Aku harus memaksa dia untuk mengatakan semuanya yang dia tahu, apa hubungannya dengan Eren teman masa laluku.


Persetan dengan kemungkinan terburuknya, untuk saat ini aku hanya menginginkan jawaban apa yang akan dia berikan. Biarpun aku harus mengulangi kesalahan masa laluku, aku harus mengetahui jawabannya. Dari pada aku terus menderita seperti ini karena sikapnya terhadap ku.


Aku pun segera berlari menuju parkiran, dan mengambil motorku. Kemudian aku segera pulang ke rumah dengan kecepatan penuh. Begitu sampai rumah aku langsung memasukkan motorku, dan mengganti pakaianku.


"Permisi!" teriakku, lalu ibunya Robin keluar dari rumah, dan membukakan pagar rumahnya.


"Ada apa nak?" tanya ibunya Robin. Tapi entah kenapa rasanya ada yang aneh dengan gaya bicara ibunya Robin. Padahal biasanya ibunya Robin akan menyambut ku dengan hangat karena aku sudah di anggap sebagai anaknya sendiri.


Tapi kenapa hari ini ibunya Robin terlihat berbeda, dan penampilannya kacau balau. Sebenarnya apa yang terjadi, ibunya Robin terlihat seperti tidak mengenal diriku. Tapi bisa saja itu tidak benar, bagaimana pun juga kalau di lihat dari penampilannya yang kacau.

__ADS_1


Sepertinya kehidupannya semakin memburuk oleh karena itu penampilan ibunya Robin terlihat sangat buruk saat ini. Tapi entah kenapa aku merasakan ada hal yang sangat aneh. Seperti ada sesuatu yang selama ini tak ku ketahui, tapi apa ya...


__ADS_2