
Kring! jam istirahat pun tiba, aku yang sedang asik membaca buku tiba-tiba Peter, datang bersama teman-temannya. Mereka mengajakku untuk pergi ke kantin bersama, tapi aku menolak, seperti biasa aku harus belajar.
Lalu beberapa saat setelah Peter, dan teman-temannya pergi ke kantin. Ada seseorang yang datang ke kelasku, dan katanya dia sedang mencari ku. Sepertinya dilihat dari manapun dia adalah seorang kakak kelasku.
"Hei! apa di kelas ini ada murid yang bernama Claude!" teriak kakak kelas itu di depan pintu kelas.
Lalu para murid yang masih berada di kelas memberitahukan keberadaan ku. Lalu setelah itu kakak kelas itu berjalan menghampiriku. Kakak kelas itu adalah seorang perempuan, dengan badan yang bagus, dan kaki yang tinggi, dan wajah yang sempurna.
Entah sejak kapan aku jadi menilai fisik seseorang, "Ada apa kau mencari ku?" tanyaku cuek.
"Hei kalau aku sedang berbicara dengan seseorang, tatap mata lawan bicaramu, kau ini sangat tidak sopan ya" kata kakak kelas itu.
Begitu dia berbicara begitu, aku pun langsung menatap matanya dengan dingin, "Sudah, lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku, aku tak memiliki banyak waktu" kataku.
"Hah... seperti yang dibicarakan, ternyata benar kau orangnya seperti ini. Aku datang ke sini untuk menawari mu sesuatu" kata kakak kelas itu.
"Langsung saja ke intinya" kataku yang sudah malas dengan pembicaraan ini.
"Apa kau mau menjadi pacarku?" tanya kakak kelas itu tiba-tiba.
Aku pun yang sedang serius itu terkejut, begitu juga dengan yang lainnya yang dari tadi menonton pembicaraan ku. Tiba-tiba seisi kelas ini menjadi sunyi, tapi ada apa dengan perempuan ini? apa dia sudah gila.
Masuk ke kelas orang lain, dan mencari ku, lalu tiba-tiba dia mengajak ku untuk berpacaran dengannya. Aku saja belum pernah berbicara dengannya, apa lagi aku melihatnya. Sebenarnya apa yang direncanakan perempuan gila ini.
"Apa kau berpikir aku sedang merencanakan sesuatu? jika iya berarti kau salah besar. Aku hanya ingin berpacaran denganmu, tanpa alasan apapun" kata kakak kelas itu dengan senyum manisnya.
"Aku menolak! jadi bisakah kau pergi dari sini, dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi" kataku kembali membaca buku.
Dia pun tak pergi-pergi, dan tetap berdiri di depanku, namun aku tak mempedulikannya, dan tetap membaca buku ku. Lalu tiba-tiba dia membuatku terkejut, tiba-tiba saja dia memelukku dengan erat.
"Claude sayang! malam ini kau sudah berjanji kan?" kata kakak kelas itu tiba-tiba.
Apa-apaan dia!? dia benar-benar perempuan gila, kenapa dia memelukku tiba-tiba. Sial aku tak bisa melepaskan pelukannya, aku sulit bergerak. Tapi dari kata-katanya, dan gerakannya tiba-tiba.
Pasti ada sesuatu yang janggal, lalu aku mendorong tubuh kakak kelas itu dengan kencang hingga terjatuh. Begitu dia jatuh, aku melihat ke depan, aku melihat Glasya yang baru saja kembali dari lomba sepak bola.
__ADS_1
Glasya menatapku dengan wajah yang seakan-akan tak percaya apa yang telah ku perbuat. Lalu Glasya pergi berlari entah kemana, saat aku berniat untuk mengejarnya. Kakak kelas ini menarik kakiku dengan sangat kuat hingga aku terjatuh.
Aku sama sekali tak bisa bergerak di buatnya, kemudian aku berteriak minta tolong kepada murid di kelasku. Lantas mereka semua yang menonton, dan terkejut melihat hal yang aneh, mereka pun langsung membantuku melepaskan dari perempuan gila ini.
Begitu aku bisa lepas darinya, aku berpesan kepada orang-orang di kelasku untuk mengikat dia, karena sepertinya dia memiliki gangguan mental. Karena dari wajahnya, dan tatapan matanya, aku bisa mengetahui kalau kakak kelas itu memiliki gangguan mental.
Setelah itu aku berlari keluar kelas, dan melihat ke sekeliling ku untuk mencari Glasya pergi. Aku sangat kebingungan, dan berlari saja tanpa arah, sambil bertanya-tanya apa ada yang melihat Glasya berlari kemana.
Ada seseorang yang memberitahuku kalau Glasya pergi keluar sekolah. Aku pun langsung berlari keluar sekolah, aku melihat sekeliling ku untuk mencari Glasya. Akhirnya aku dapat menemukan Glasya, dia sedang duduk bersandar di pohon besar.
Kemudian aku menghampirinya secara perlahan, dan duduk di sebelahnya. Seketika daun-daun yang rimbun itu tertiup angin, dan pada berjatuhan. Yang membuat suasana ini menjadi lebih begitu tenang, dan damai.
"Glasya... apa kau menangis?" tanyaku dengan lemah lembut.
"Ti-tidak..." kata Glasya yang terdengar menahan suara tangisnya.
"Kalau kau ingin menangis, menangis lah di pelukan ku" kataku.
Lalu Glasya langsung memelukku, dan menyenderkan kepalanya di dadaku. Kemudian dia menangis dengan kencang, beberapa saat kemudian dia mulai berhenti menangis, dan melontarkan beberapa pertanyaan padaku.
"Apa yang kau lakukan bersama dia tadi?" tanya Glasya yang suaranya berat karena habis menangis.
"Syukurlah kalau begitu..."
"... Haha memangnya kenapa? apa kau menyukai ku?" tawaku.
"Kau juga kan..." kata Glasya yang membuatku terdiam.
Aku terdiam sejenak, dan memikirkan perkataan yang dilontarkan Glasya padaku. Aku memikirkannya berulang-ulang kali, apa benar aku menyukainya. Tapi... kurasa... yang dia katakan... itu ada benarnya, aku menyukainya.
"Jawab aku... apa benar kau juga menyukai ku?" tanya Glasya membesarkan pipinya.
Lalu tiba-tiba tanpa sadar aku langsung memeluknya, dan mengelus kepalanya dengan lembut. Entah kenapa untuk kali ini aku tak bisa membantah pikiran ku. Hatiku menginginkannya, hati sangat menginginkan perempuan ini.
"Kau benar... aku benar-benar menyukaimu, akhirnya aku tahu tentang perasaanku. Kalau aku, menyukaimu, bukan... akan tetapi sangat menyukai mu" kataku yang tak berhenti memeluknya, dan mengelus kepalanya.
__ADS_1
"Ah... bi-bisa, kau hentikan ini sebentar..." kata Glasya menundukkan kepalanya.
Lalu aku melepaskan pelukan ku, dan memegang kedua pundaknya, "Tatap lah mata lawan bicaramu saat kau sedang berbicara. Seperti bukan dirimu yang dulu saja, hahaha!" tawaku.
"Huh... kau ini... benar-benar tidak tahu situasi ya, haha" kata Glasya ikut tertawa dan mengangkat kepalanya dengan senyuman manisnya.
"Kau orang yang telah membuatku berubah, terima kasih" kataku tersenyum.
"Ah..."
"Ada apa?"
"Hanya saja sepertinya ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum. Aku agak sedikit terkejut" kata Glasya.
"Kan sudah kubilang, kalau aku adalah orang yang telah berhasil merubah ku, walau tak sepenuhnya" kataku.
"Apa!?" kata Glasya terkejut.
"Ya... belum sepenuhnya, masih ada bagian hatiku yang tertutup. Kau hanya membuka sedikit dari bagian hatiku yang tertutup, tapi aku sangat bersyukur" kataku.
"Huh... ku kira kau benar-benar berubah" kata Glasya cemberut.
"Glasya..."
"Ya?"
"Apa kau mau menjadi pacarku" kataku membungkuk di hadapan Glasya, seolah aku sedang menghadap raja.
"Hahaha! apa-apaan kau! hahaha, kau sedang apa" tawa Glasya dengan kencang.
Kemudian aku memegang kedua tangannya dengan tatapan serius, dan seketika Glasya langsung terdiam.
"Apa kau mau menjadi pacarku..." tanyaku sekali lagi.
"A-aku... aku mau" jawab Glasya dengan malu-malu, dan tersenyum manis.
__ADS_1
Begitulah hubungan ini dimulai, kami sangat bahagia satu sama lain, dan kami berjanji untuk menyembunyikan hubungan ini dari orang lain. Seseorang yang dapat merubahku, lebih tepatnya orang kedua yang dapat merubah ku menjadi lebih baik.
Walau dia belum sepenuhnya dapat merubah hatiku yang sangat keras ini. Tapi aku percaya padanya, dan mengharapkannya, kalau suatu saat nanti dia benar-benar dapat merubahku sepenuhnya, menjadi yang terbaik untuk dirinya, dan siapapun itu.