Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Kencan


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu begitu saja, sesuai janji kami, untuk menjaga rahasia ini. Agar orang lain tidak akan pernah tahu kalau kami menjalin hubungan. Rahasia ini berjalan lancar, tak ada seorangpun yang tau kalau kami sebenarnya pacaran.


Kami melakukannya secara diam-diam, dan setelah pulang sekolah. Hingga pada saatnya liburan semester ke dua akan tiba besok, dan hari ini kami berempat sedang berkumpul membicarakan hal yang sama seperti sebelumnya.


"Hei tak terasa ya kalau sebentar lagi hari libur akan tiba, dan kita semua naik ke kelas 2. Semoga saja kita satu kelas lagi" kata Peter.


"Haha iya aku juga tidak menyangka kalau waktu berlalu begitu cepat" kataku.


"Oh ya saat liburan nanti kalian ingin kemana?" tanya Peter.


"Mungkin aku hanya akan belajar seperti biasanya" kataku.


"Ah... baiklah, bagaimana dengan yang lain? apa ada yang ingin kalian lakukan?" tanya Peter.


"Mungkin aku akan merubah sedikit liburan untuk kali ini" kata Glasya.


"Kalau aku mungkin hanya belajar di rumah, yah tapi kalau ada yang mengajak bermain denganku. Aku tak akan menolaknya" kata William.


"Untuk liburan kali ini waktu luang ku menjadi berkurang. Jadi kumohon saat aku ingin bermain bersama kalian, kalian ikut ya" kata Peter dengan wajah memelas.


"Entahlah" kata kami serentak.


"Hah? jahat sekali kalian... haha, tapi sebenarnya aku juga tak peduli kalian ingin datang atau tidak. Karena aku... ah tidak jadi" kata Peter.


Pembicaraan kami pun akhirnya selesai sampai sini. Waktu pulang sekolah pun tiba. Aku, dan Glasya merencanakan untuk kencan di suatu tempat yang belum kami pastikan dimana tempat yang terbaik untuk dua sejoli.


Hahaha mungkin terdengar aneh sekali ya, dengan sikapku yang saat ini. Tapi tenang aku tak banyak berubah, aku masih sama seperti dulu. Aku masih tergila-gila untuk belajar, dan menyendiri di kamarku.

__ADS_1


Lagi pula aku melakukan ini tidak setiap hari kok, hanya jika aku ingin bertemu Glasya saja kami pergi bersama. Jika tidak, yasudah seperti biasanya aku belajar di rumah. Oh ya, tentang pertempuran dengan adikku, Yohan.


Kami menjadi sering bertengkar, untuk menunjukkan kepada orang tua kami, kalau iami adalah anak yang terbaik. Sedangkan Elia yang masih kecil tidak tahu apa yang kami ributkan, dan dia hanya bermain bersama dengan boneka miliknya.


Lalu... ayahku juga jadi jarang pulang ke rumah, dengan alasan kerja lembur. Sebenarnya selama ini aku tidak tahu ayah kerja sebagai apa, saat aku tanya ke ibuku ayah bekerja sebagai apa, ibu menjawab tidak tahu.


Sebenarnya apa yang ayah kerjakan selama ini, dari penghasilannya sudah lebih dari cukup. Ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga, dia juga adalah ibu terbaik bagi kami. Kalaupun ayah pulang ke rumah, dia hanya langsung pergi ke kamarnya, dan tertidur pulas.


Setelahnya di esok hari, dia sudah tidak ada karena sudah berangkat kerja lagi. Oh ya, sebentar lagi aku akan naik kelas 2 SMA, mungkin di hari libur ini. Aku harus meluangkan waktu untuk menyendiri di tempat lain.


"Hai Claude! hari ini jadi tidak?" tanya Glasya lewat chat.


"Jadi kok, aku sedang siap-siap kau tunggu saja dulu. Aku akan menjemputmu" kataku.


"Oke baiklah, aku akan menunggumu"


Sejak pertama kali aku berpacaran dengan Glasya, akhirnya dia menunjukkan rumahnya. Begitu aku tahu dia tinggal dimana, aku menjadi sedih. Karena dia tinggal di tempat yang tak layak untuk seorang manusia.


Tapi sedikit demi sedikit aku menjadi semakin tahu apa yang membuatnya ceria, dan selalu semangat. Itu semua karena berkat dukungan dari tetangga-tetangganya. Aku turut bersyukur karena Glasya memiliki tetangga yang baik.


Terkadang Glasya di ajak makan bersama dengan tetangganya, dan juga sering di berikan hadiah berupa makanan, atau barang. Tapi aku masih dapat melihat jelas dari tatapan matanya, kalau dia masih merasakan ada yang kurang terhadap hidupnya.


Dan aku tahu itu apa... yaitu sosok keluarga, karena Glasya tak pernah merasakan cinta, dan kasih sayang seorang keluarga. Tapi jika dia bertemu denganku, dia selalu tersenyum dengan ceria, agar aku tak khawatir padanya.


Tapi percuma saja jika dia seperti itu, karena aku tahu apa yang dia rasakan. Itu juga berkat William, aku mengajak William untuk mendeskripsikan wajah, dan tatapan Glasya diam-diam.


Karena aku tahu kalau William memiliki pengamatan yang baik dalam kehidupan. Mungkin dia berbakat untuk menjadi dokter psikologis, dengan kemampuannya yang dapat mencerna perasaan orang lain.

__ADS_1


William juga semakin hari menjadi semakin pintar. Di ujian semester kedua ini, dia memasuki ranking sepuluh besar. Kami semua masuk ke ranking sepuluh besar, seperti sebelumnya aku mendapatkan ranking pertama, sedangkan Peter mendapatkan ranking kedua.


William sangat berbeda dengan yang dulu, padahal dia yang dulu memasuki ranking terbawah di kelas kami. Hingga pada saat itu juga dia merasa terpukul, dan malu karena mendapatkan ranking terbawah.


Oleh karena itu dia mengurungkan niatnya untuk belajar, dan menjadi yang terbaik. Sekarang dia mendapatkan ranking ke 7, sedangkan Glasya masuk ke rangking 9. Aku tak menyangka dia akan berbuat sejauh ini.


...*****...


Akhirnya aku sampai di depan rumah Glasya, dan dia terlihat sedang menungguku di luar rumahnya, "Maaf sudah membuatmu menunggu" kataku.


"Tidak apa kok, aku tak masalah dengan itu. Asal kau ada disini, dan menepati perkataan mu saja aku sudah senang" senyum Glasya.


"Baiklah kalau begitu, ayo cepat naik... aku menemukan sebuah tempat yang indah, yang cukup jauh dari sini" kataku.


"Baiklah, tapi kenapa kau membawa tikar, dan tas? apa isi tas itu?" tanya Glasya.


"Kau akan tahu nanti, isi tas ini hanya tumpukan buku, dan barang-barang yang diperlukan" kataku.


"Apa kau tidak bisa memberitahu ku sekarang ya?" tanya Glasya yang sangat penasaran sekali.


"Tidak boleh, nanti kau tidak akan terkejut" kataku.


"Argh, baiklah kalau begitu"


Lalu kami memulai perjalanan kami, aku awalnya mencari di internet tempat-tempat yang indah untuk kencan. Kebetulan sekali tempat ini juga sesuai denganku, tempatnya sangat sepi, dan hampir tak ada seorangpun yang datang karena tempatnya mengerikan.


Tapi aku tak mempedulikan apa kata orang-orang, asal tempat ini bagus, dan sesuai cukup membuatku tertarik untuk datang ke sana. Perjalanan ini sampai pada malam hari, sekitar jam 7 malam kurang.

__ADS_1


Kami berhenti di suatu tempat yang gelap, yang hampir tak ada seorangpun yang berlalu-lalang. Inilah tempat yang ku maksud, sebuah hutan kecil, yang terdapat pemandangan indah jika di telusuri lebih lanjut ke dalam.


Aku melihat beberapa foto tentang hutan ini, kondisi hutannya masih terjaga, dan tak ada bintang buas disini. Yang paling membuatku tertarik adalah, ada sebuah tebing yang tinggi di dalam hutan ini, tempat itulah yang akan ku gunakan untuk melihat bintang di langit bersama Glasya.


__ADS_2