Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Keributan


__ADS_3

Argh! apa yang sedang kau pikirkan Claude! sadarkan dirimu. Kau itu tidak akan pernah tertarik pada wanita, sampai pada waktunya saat aku sukses nanti. Apa ini yang dikatakan Glasya saat di sekolah tadi.


Kalau ada sesuatu yang lebih menarik perhatianku dari pada buku-buku ini. Tunggu! jangan pikirkan lagi, lebih baik aku fokus belajar sampai di terbangun. Begitu dia sudah bangun dari tidur, aku akan menyuruhnya pergi.


"Kakak! buka pintunya... aku lapar mau makan" kata adikku.


Ah sial, sepertinya adik-adikku sudah pulang dari les, tapi kenapa ibu tak membuatkan makanan sebelum pergi. Ini gawat sekali, apa yang harus kulakukan jika adik-adikku melihatku dengan seorang perempuan di kamar.


Bisa-bisa aku mengotori pikiran mereka yang masih polos. Argh! cepatlah berpikir Claude! ah benar juga. Aku langsung beranjak untuk mengambil selimutku, dan menutupi Glasya dengan selimut.


Padahal ini selimut kesayangan ku, tapi malah di pakai oleh orang lain. Aku pun langsung membuka pintu, dan melayani adik-adikku. Jangan kalian kira karena aku kutu buku, aku jadi tidak bisa memasak.


Aku ini pandai dalam segala hal, karena yang ku baca bukan hanya buku pelajaran. Akan tetapi semua buku, pasti di setiap buku ada manfaatnya yang dapay di ambil. Bahkan terkadang aku sering menggantikan ibu memasak.


"Kalian mau makan apa, hahaha?" kataku tak bisa mengontrol diri yang sedang panik.


"Kakak kenapa tertawa?" tanya adikku yang pertama, namanya Yohan.


"Hei... sepertinya kakak sedang sakit hari ini" bisik adikku yang kedua, namanya Elia.


"Dasar anak kecil, aku mendengarnya tahu, dan aku tidak sedang sakit. Tapi aku sangat panik sekarang" kataku dalam hati.


"Eh kakak? yang ada di dalam kamar kakak itu apa? yang di tutupi selimut itu loh" kata Yohan.


"Apa jangan-jangan..."


"Ja-jangan jangan apa?" kataku panik.


"Kakak ingin memberi kami hadiah ya? sampai mengunci pintu kamar kakak?" kata Elia.


"Hah? masa iya kakak akan memberi kita hadiah Elia, dia kan pelit, dan suka mengurung diri di kamar" kata Yohan.


Aku berpikir mungkin ini adalah kesempatan ku untuk membohongi adik-adikku, "A-apa!? dasar kau Yohan, tapi apa yang dikatakan oleh adikmu itu benar loh" kataku berbohong.


"Hore! akhirnya kakakku yang pelit berubah menjadi dermawan" kata Elia senang.


"Apa-apaan itu" kataku dalam hati.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita cek hadiah apa yang akan kakak berikan pada kita, Elia" kata Yohan.


Aku pun langsung berlari, dan menahan adik-adikku, "Berhenti!" kataku.

__ADS_1


"A-ada apa kak? mengagetkan saja" kata Yohan.


"Kakak kan belum bilang ingin memberikannya sekarang, haha" kataku.


"Tapi apa hadiah yang di tutup selimut itu?" tanya Yohan.


"I-itu... sebuah boneka untuk kalian berdua, haha" kataku.


Kemudian tiba-tiba selimutnya bergerak, dan membuat adik-adikku terkejut. Mereka langsung memelukku di belakang. Aku semakin panik, apakah Glasya sudah bangun? tapi sepertinya dia hanya berpindah posisi tidur.


Keadaan disini semakin gawat, "Kata kakak hadiahnya boneka, tapi kenapa bergerak?" tanya Elia.


"Maksud kakak, boneka yang bisa bergerak haha" kataku.


"Tapi kenapa hadiahnya hanya selera Elia kak? aku laki-laki mana suka boneka" kata Yohan.


"Ah sudahlah kalian jangan ribut, lebih baik kita makan. Kakak akan masak makanan yang enak" kataku.


"Masakan kakak kan lebih enak dari ibu" kata Yohan.


"Iya itu benar"


"Hush, kalian tidak boleh berbicara seperti itu ya, terlebih lagi saat ada ibu" kataku.


Karena saat itu ayah pernah berbicara diam-diam padaku. Kalau masakan ku lebih enak dari pada masakan buatan ibu, dan lagi ayah menyuruhku untuk mencari cara supaya aku saja yang memasak makanan.


Kemudian aku pergi ke dapur bersama adik-adikku. Aku membuat makanan yang biasa aku buat, yaitu tumis kangkung, dan semur ikan. Bukan karena aku tak bisa memasak yang lain, tapi karena pembuatannya tidak memakan banyak waktu, dan bisa belajar lagi.


Kemudian kami semua duduk di meja makan begitu masakan ku sudah jadi, "Asik! makanan terlezat di dunia sudah jadi!" teriak Elia dengan girang.


"Haha, apaan sih" kataku.


Kemudian aku terkejut begitu melihat ada seseorang yang datang ke arah meja makan. Yang tak lain dia adalah Glasya, dia masih terkantuk-kantuk berjalan ke sini. Aku sangat terkejut, dan apa yang harus kulakukan.


"Eh!? ka-kakak i-itu siapa?" tanya Elia.


"D-dia... m-mungkin temanku... yang masuk ke rumah kita, tiba-tiba... hahaha" kataku panik.


"Hmm... harum sekali baunya, sampai membuatku terbangun dari tidur" kata Glasya yang tidak tahu malu.


"Kakak, apa perempuan ini tidak waras ya?" tanya Elia ketakutan.

__ADS_1


"A-apa!? tidak waras katamu! hei apa yang kau ajarkan pada adikmu Claude!" kata Glasya.


Aku hanya terdiam membeku, dan tak dapat berkata-kata. Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, memikirkannya saja membuatku panik. Jantungku berdetak kencang karena ketakutan.


"Kakak, usir orang ini!" kata Yohan.


"Kakak kenapa diam saja... apa yang sudah dia lakukan pada kakak" kata Elia.


"Oh ya, ngomong-ngomong siapa yang menutupiku dengan selimut tadi?" tanya Glasya.


"A-apa!?" serentak adik-adikku.


Dasar Glasya sialan, kau sudah kelewatan, aku harus bagaimana ini. Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu, seolah-olah dia tidak tahu situasinya. Apa sebenarnya dia sengaja seperti itu padaku.


"Ka-kakak... apa jangan-jangan, yang di balik selimut itu adalah perempuan ini?" tanya Elia.


Dan akhirnya aku bisa berbicara walau hanya sedikit, "Tidak" kataku.


"Kalau begitu aku akan pergi melihatnya, untuk memastikan" kata Elia turun dari kursi.


"Tunggu!" teriakku.


"Ada apa kak? kakak benarkan menyimpan perempuan ini?" kata Elia.


"Apa-apaan itu perkataannya?" kata Glasya dalam hati.


"Hohoho... ternyata kakakku sudah bukan perjaka lagi" kata Yohan.


"Hei! apa-apaan kata-katamu barusan? kau tau dari mana kata-kata seperti itu! lagi pula kau masih kecil, mana ngerti kata-kata seperti itu" kataku.


"Memangnya aku tidak tahu, kakak sudah melakukan... hmmp" kata Yohan yang tak bisa berbicara karena mulutnya ku tutup.


"Kau bisa diam tidak... adikmu yang masih polos ini bisa tercemar karena mu" kataku.


Kemudian di tengah keributan itu, Glasya tertawa terbahak, "Hahaha... dasar kalian, haha sampai membuatku menangis. Ternyata hubungan kalian itu dekat sekali ya" kata Glasya.


"Ada apa dengan dia?" tanya Elia.


"Baiklah kalau begitu, karena aku yang menjadi biang masalah disini. Aku akan meluruskan kesalahpahaman ini, jadi dengarkan adik ipar ku" kata Glasya.


Kemudian masalah yang terjadi disini akhirnya telah terselesaikan karena perkataan Glasya untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Akhirnya adik-adikku percaya tentang apa yang kami lakukan.

__ADS_1


Tapi apa-apaan kata dia? adik ipar? sekarang dia berharap untuk menjadi istri ku di masa depan. Dasar Glasya, dia terus-terusan saja mengganggu kehidupan ku. Lalu tiba-tiba, ayah, dan ibuku sudah pulang, dan lagi-lagi aku terkejut melihat ayahku melongo.


__ADS_2